Cinta Sebatas Waktu

Cinta Sebatas Waktu
Bab 16 -- Pasar Malam


__ADS_3

Cheryl tak bisa menyembunyikan perasaan senangnya karena diajak pergi ke pasar malam oleh Dimitri. Entahlah rasa senang itu karena orang yang mengajaknya atau tempat yang akan ditujunya. Yang pasti, Cheryl tak sabar ingin melihat pasar malam, terakhir kali dia kesana saat masih kecil bersama Nenek.


Salatiga adalah kota kecil, jarak tempuh dari satu tempat ke tempat lain tidaklah jauh. Mereka hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk sampai di pasar malam, itu pun karena Dimitri sengaja mengendarai motornya pelan - pelan. Dia ingin menikmati waktu bersama Cheryl.


Dimitri mengikuti petunjuk arah dari tukang parkir yang ada disana. Ada sebuah lahan kosong tempat dimana para pengunjung memarkirkan kendaraan mereka. Beberapa mobil sudah berjejer disana, tapi deretan sepeda motor lebih banyak lagi.


Pengunjung yang datang berasal dari berbagai kalangan, dari tua sampai muda, anak - anak kecil hingga bayi, mahasiswa mau pun pekerja yang baru pulang dari kantor. Mereka semua harus berjalan beberapa meter dari lapangan parkir menuju pasar malam.


Lapangan yang biasa dipakai untuk sepak bola, kini disulap menjadi sebuah karnaval. Tenda berwarna warni tersebar di berbagai sudut, wahana permainan murah meriah dan cocok untuk kantong mahasiswa menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.


Pedagang asongan mondar mandir menawarkan dagangan. Aroma manis menguar dari sebuah stall yang menjual kapas warna warni nan lembut itu. Salah satu kios yang ramai pengunjung.


Gelembung bening bubble sabun besar dan kecil berterbangan dan tak lama meletus di udara. Bunyi telolet dan kereta api mini anak - anak semakin menyemarakkan suasana.


Cheryl terpana melihat semua ini. Baginya tempat ini memiliki kemewahannya tersendiri. Bola matanya berbinar - binar takjub, seperti baru pertama kali menginjakkan kaki di pasar malam. Yes. The introvert go out from her shell.


Lampu - lampu terang berwarna warni membuat pasar malam itu terasa seperti siang hari. Cheryl dan Dimitri berjalan diantara kios pakaian dan pernak pernik lainnya.


Para penjual bersemangat menjajakan dagangannya.


"Kaos kaki ceban tiga. Murah tapi nggak murahan!"


"Ayok, ayok, ibuk - ibuk, bapak - bapak!"


"Balon! Balon!" Telolet telolet!


Ciap ciap ciap...


"Yuhu! Pitike rainbow! Monggo, Mas, Mbak!"


"Aw! Lucunyaaaa... " pekik Cheryl.


Dia berlari kecil menghampiri sebuah kotak kayu besar yang berisi anak - anak ayam yang bulunya berwarna warni. Mereka ramai berjalan kesana kemari dan berciap - ciap.


"Merah ijo kuning biru, warna warni. Dipilih! Dipilih!" Seorang bapak bertopi bundar makin bersemangat menawarkan saat melihat Cheryl mendekat, berharap Cheryl mengadopsi salah satu anak ayam itu.


Cheryl berjongkok memperhatikan kawanan anak ayam yang lincah itu. Bulunya di cat dengan pilok. Dimitri diam - diam memperhatikan sekitarnya, waspada. Biasanya tempat yang ramai seperti ini, tidak hanya menarik para pengunjung tapi juga pencopet.


Dimitri sengaja berdiri di belakang Cheryl supaya gadis itu aman, apalagi tasnya di selempang begitu saja di belakang punggung.


Cheryl menanyakan beberapa hal kepada penjual, di dekatnya ada beberapa anak yang berusaha menangkap anak - anak ayam yang berlarian, berusaha menghindari tangan - tangan kecil mereka.


Akhirnya setelah harga disepakati, Cheryl bergabung dengan anak - anak, berusaha menangkap anak ayam untuk dibawanya pulang.


"Kamu mau beli?" Tanya Dimitri.


Cheryl mengangguk dan tersenyum. "Iya. Aku belum pernah punya hewan peliharaan. Anjing dan kucing mahal perawatannya. Ya udah, ini saja." Cheryl mengangkat keranjang kawat berisi anak ayam gendut berwarna pink. "Lucu kan?"


Melihat tingkah Cheryl yang kegirangan seperti anak kecil, Dimitri tersenyum. "Beli satu lagi, biar couple."


"O'iya!" Cheryl menepuk jidatnya. "Biar dia ada temannya ya Kak? Kasihan kalau sendirian."

__ADS_1


Kemudian dia berseru pada penjual ayam. "Pak, mau yang cowoknya dong. Warna biru, biar sepasang."


"Siap, Non!"


Tak lama kemudian, Cheryl dan Dimitri sudah kembali menyusuri lorong - lorong kios dengan masing - masing tangan menenteng keranjang berisi anak ayam.


Senyum dan tawa Cheryl tak pernah bisa lepas dari wajahnya. Berkali - kali dia memekik "Lihat, Kak Dimi!" Tangannya sibuk menunjuk pemandangan atau sesuatu yang menarik perhatiannya. Matanya berkilat setiap kali melihat pernak pernik lucu yang dipajang di kios - kios aksesories.


Dimitri mengikuti kemana saja Cheryl berjalan, seperti seorang kakak yang sedang menemani adik kecilnya bermain..


"Mau lihat pertunjukan?" Tanya Dimitri.


"Pertunjukan apa?"


"Hmm... tak tahu sih. Tapi biasanya ada pertunjukan di pasar malam seperti ini."


Oh, ternyata loket tempat pertunjukan penuh sesak. Para cewek berdandan menor dan cowok - cowok dengan jeans belelnya. Dimitri mendadak merasa tak nyaman.


"Hey, disini terlalu ramai. Kita cari tempat yang lebih sepi saja. Ya?" Dimitri menggandeng Cheryl menjauh dari kerumunan.


Cheryl mengangguk dan mengikuti Dimitri.


Tertarik pada orang - orang yang berkerumun menonton seorang pemuda sedang menembak, Dimitri menunjuk ke gerombolan anak muda di depan kios tembak kaleng.


"Eh, Cheryl. Mau lihat itu?"


"Ooooh... " Penonton koor, kecewa karena pemuda tadi gagal menembak kaleng - kaleng yang sudah disusun sedemikian rupa.


"Kamu mau apa?" tanya Dimitri.


Dia memegang senapan angin dan ingin tahu hadiah apa yang diinginkan oleh Cheryl.


"Aku mau itu!" Cheryl menunjuk sebuah boneka bear. "Bear yang paling besar."


"Siap, Bossque." Dimitri menarik napas, dia menatap hadiah itu lekat - lekat. Bersiap membidik.


Cheryl sampai menahan napas, ketika Dimitri melepaskan tembakannya dan mengenai salah satu kaleng di deretan nomer tiga.


"Wow! Kak Dimi memang keren!" ucap Cheryl dia bertepuk tangan dan melonjak senang.


Dimitri tersenyum lebar.


Penjaga kios memberikan hadiah berupa tiga buah indomie yang diikat dengan karet warna hijau. Senyum Cheryl memudar, dan bahunya meluruh.


Dimitri bergegas merogoh kantongnya. "Sekali lagi, Pak." Kemudian dia menoleh kepada Cheryl. "Aku akan mendapatkan bonekanya untukmu."


Dimitri berjanji dalam hati akan selalu membuat Cheryl tersenyum. Kalau dengan sebuah boneka bear, gadis itu bisa bahagia maka dia harus mendapatkannya.


Ouch!


Tembakan kedua dan ketiga pun gagal. Cheryl hanya mendapatkan hadiah berupa tissue dan minuman kaleng. Boneka yang diidam - idamkan justru belum ditangan.

__ADS_1


"Lagi, Pak!" Dimitri mengeluarkan uang dan sekali lagi menukarnya dengan tiket.


Dia sekarang jadi penasaran, kenapa senapan anginnya tak mau patuh. Penjaga kios tersenyum - senyum, karena pemasukannya kian bertambah. Orang - orang berkerumun, melihat seorang pemuda tampan sedang main tembak - tembakan.


"Once again! Ready... GO!"


DORRR!


Senapan meledak dan peluru meluncur dari moncong senapan, diikuti tatapan tajam Dimitri yang fokus pada hadiah utama. Boneka bear besar.


TRANG!


Kaleng susu paling atas di deretan nomer satu akhirnya jatuh.


"YES!" Cheryl melonjak kegirangan, refleks memeluk Dimitri.


Dimitri menyambut pelukan Cheryl, berdua melonjak - lonjak merayakan kemenangan. Penjaga kios memberikan hadiah boneka besar kepada Cheryl. "Ini hadiahnya, Non. Terima kasih."


"Terima kasih, Pak." ucap Cheryl tulus. Dimitri menganggukkan kepala, berpamitan pada penjaga kios.


"Indomie ini gimana Kak?"


"Buat kamu aja."


Cheryl menggeleng. "Ini kan pakai duitnya Kak Dimi, dan kerja kerasnya Kakak juga."


Dimitri terkekeh. "Kerja keras apaan. Yuk, cari makan dulu."


"Kita pulang kos aja yuk?


"Lho? Kamu tak mau mie ayam?"


Cheryl menggeleng. "Kita makan di kos aja, Kak. Sayang duitnya." ucap Cheryl sambil terkekeh. Dia merasa sudah terlalu banyak menghamburkan uang malam ini.


Bersambung ya...


Beginilah kencan ala anak kos 😆😆


Note :



Introvert : sifat yang cenderung menarik diri, pendiam, suka menyendiri.


Go out from her shell \= keluar dari cangkangnya


Pitik : ayam


Monggo \= Silahkan


__ADS_1


__ADS_2