
BLAMM!!!
Pintu tertutup dengan kasar, persis di depan hidung Cheryl.
Cheryl termangu, rasanya seperti pelakor yang tertangkap basah oleh istri sah. Cheryl menghembuskan napas, bersyukur gadis bernama Keysia tadi tidak menjambak rambutnya.
Dia membalikkan badan, berjalan menuju ke kost mahasiswi. Tak apa, bukankah tadi dia memang berniat keluar dari kamar Dimitri dan kembali ke kost-nya sendiri. Hanya saja dia sedikit lamban, sehingga cara pulangnya harus seperti ini 'diusir dengan tidak hormat'.
Harapannya adalah perasaan dan pikirannya akan lebih baik setelah mandi dan berganti baju, ternyata sama saja. Seperti ada batu besar menindih hatinya, berulang kali dia menghembuskan napas tapi tetap saja terasa sesak.
Cheryl melirik jam weker kecil warna biru di meja kayunya, sudah hampir jam sebelas. Waktu yang paling tepat untuk makan pagi sekaligus makan siang.
Mungkin saja setelah dia mengisi perutnya, perasaannya akan lebih baik. Cheryl membuka lemarinya, mengambil sebuah indomie. Indomie rasa kari ayam, satu-satunya stock yang tersisa untuk bulan ini.
Semoga saja indomie itu mampu bertahan hingga cafe tempatnya bekerja mengeluarkan jatah makan malamnya.
Sebenarnya masih tersisa dua butir telor disana, tapi Cheryl memilih untuk menyimpannya untuk membuat nasi goreng.
Maybe a bowl of spicy noodle can change my mood.
(Mungkin semangkuk mie pedas bisa mengubah mood-ku.)
Cheryl menyeret kakinya yang juga terasa berat menuju dapur, tangannya menggenggam indomie. Sebelum masuk ke dapur, dia memetik tiga buah cabai dari pohon cabai yang ada di dekat dapur.
Sambil menunggu air mendidih, Cheryl termenung. Matanya menatap kosong ke arah beberapa laki-laki yang mondar mandir di kamar seberang dapur. Nampaknya mereka sedang memperbaiki sesuatu di kamar itu, atau mungkin memasang sesuatu disana.
Tak mau ambil pusing, Cheryl melanjutkan kegiatannya. Dia menuang sebagian air yang sudah mendidih ke mangkok dan memasukkan indomie ke dalam sisa air rebusan di panci. Sambil menunggu mie empuk, Cheryl mencampur air panas dengan bumbu - bumbu serta potongan lombok di dalam mangkuknya.
Cheryl melakukan semua itu dalam mode otomatis. Pikirannya melayang kemana - mana, memikirkan perasaan dan nasib hubungannya dengan Dimitri.
Seperti biasa, begitu mie matang Cheryl membuang air rebusan pertamanya. Setelah itu baru memasukkan mie ke dalam kuah yang sudah disiapkan.
"Waaaah, yummy!" Komentar Lianita begitu masuk dapur.
"HUAAAA!" teriak Cheryl kaget.
Ups! Astaga! Mie-nya meluncur keluar dari panci.
Eits! Salah satu tangannya yang kosong dengan lincah berusaha menangkap mie itu.
Haduh! Ouch! Panas sekali.
__ADS_1
Yaaah.... mie-nya lepas, jatuh deh.
"NO!" teriak Cheryl histeris.
Akhirnya, misi penyelamatan indomie-nya gagal. Satu-satunya harapan untuk mengisi perutnya yang keroncongan sudah mendarat manis di wastafel.
Matanya menatap pilu indomie yang teronggok tak berdaya. Lianita menutup mulutnya, tak menyangka Cheryl bakal kaget dan menjatuhkan indomie-nya. Dia tahu betapa berharganya sebungkus indomie bagi anak kos seperti mereka di akhir bulan begini.
"Lah kamu ngelamun sih." keluh Lianita ikut menyesali.
Cheryl hanya bisa berdecak kesal. Mau marah tapi dia tahu Lianita hanya bermaksud menyapa, sama sekali tak ada niat untuk mengagetinya. Salahnya sendiri melamun sambil masak.
Lagipula, Lianita adalah teman pertamanya di kos ini. Tidak lucu kalau mereka bertengkar hanya karena indomie.
"Cuci aja, trus direbus lagi." Usul Lianita terdengar ngawur di telinga Cheryl.
Cheryl mendengus, bisa-bisa indomie-nya mekar dan lembek. Sungguh usul yang luar biasa 'cerdas'.
Dengan terpaksa Cheryl mengangkat indomie dan menyiramnya dengan air panas kemudian menambahkan air panas untuk kuah dan mencampurnya dengan bumbu yang sudah disiapkan. Sudahlah, lupakan higienis untuk hari ini. Dia membutuhkan energi untuk kuliah dan kerja part time hari ini.
"Eh, kira - kira siapa yang bakal masuk ke kamar itu ya?" Tanya Lianita saat mereka sudah duduk dan menikmati makan pagi sekaligus makan siang masing - masing. Dia menunjuk kamar di seberang dapur yang sepertinya sedang direnovasi.
Selesai kuliah, Cheryl lanjut ke cafe untuk kerja part time. Fokusnya sedang ada di titik nol. Setiap kali pintu cafe terbuka, kepalanya langsung menoleh. Tapi tentu saja yang diharap - harapkannya tak akan pernah muncul, Dimitri baru saja sembuh mana mungkin langsung kerja part time.
Nampaknya dia harus bersabar menunggu sampai Dimitri muncul dan menyelesaikan masalah mereka.
"Non, itu piringnya sudah mengkilap, Non."
Ha? Cheryl gelagapan.
Alex nyengir, tangannya menunjuk ke piring yang sedang di cuci oleh Crystal. Cheryl menunduk, melihat tangannya. Benar juga. Piring itu sudah bersih dari noda dan minyak. Mengkilap seperti kaca.
"Oh, iya... " Pipi Cheryl semburat warna pink, dia malu ketauan sedang melamun.
"Sini aku bantu. Dimitri kirim pesan, katanya kamu kurang tidur semalam. It's okay. Kamu balik kos aja!" Alex menyerobot piring itu sebelum Cheryl sempat menolak.
Ada yang berdesir di hati Cheryl, biar bagaimana pun Dimitri masih memperhatikannya. Dia pasti lapor ke Alex tentang kejadian semalam.
Tapi, mana mungkin Cheryl tega meninggalkan Alex sendiri, sedangkan Dimitri saja tidak masuk. Bisa - bisa dia kewalahan. Tanpa banyak bicara, Cheryl mengambil lap dan membersihkan meja di cafe.
Alex hanya bisa mengangkat bahunya. "Terserah."
__ADS_1
Pulang kerja, Bu Budi langsung menyongsongnya. Sepertinya dia sengaja menunggu Cheryl di dekat pos satpam.
"Non... , kemana saja? Ditelpon kok mati HPnya." Bu Budi menepuk bahunya pelan.
"Kuliah trus langsung kerja, Bu. Trus lupa bawa charger." jawab Cheryl sambil meringis.
Hatinya bertanya - tanya, tumben sekali Bu Budi menunggunya pulang. Apa ada hubungannya dengan Dimitri lagi?
"Non, ada telepon dari Pak Salim." Bu Budi seakan menjawab pertanyaan Cheryl.
Om Salim? Tumben, ada apa ini? Perasaan tak enak langsung menyergapnya. Sejak dia di kota ini, keponakan Nenek itu tak pernah lagi menghubunginya. Beliau hanya menelponnya sekali, saat memberinya pekerjaan di Alex.
"Ada apa Bu?" tanyanya sedikit gugup.
"Katanya Neneknya Non Cheryl masuk Rumah Sakit. Di ST. Elizabeth Semarang, Non."
Cheryl terkejut. "O'ya?"
"Katanya Nona disuruh segera kesana." Wajah Bu Budi nampak prihatin.
"O'ya?"
"Besok subuh saja Non Cheryl berangkat. Ya?" Bu Budi mengusap lembut punggung Cheryl. "Lagian jam segini sudah nggak ada bus lho Non. Bahaya anak gadis pergi malam-malam."
"Ooo... iya, Bu." Cheryl mengangguk patuh.
Cheryl hanya bisa ber o'ya dan o'ya. Bahunya meluruh, ada apa dengan hidupnya. Is it a bad luck?
(Apakah ini nasib buruk?)
"Tak tahu diri! Aku doakan hidupmu sengsara sampai tua. Kamu tidak akan pernah merasa bahagia. Dasar anak sialan!"
Umpatan Papanya kembali terngiang. Mungkinkah saat ini Tuhan sedang mengabulkan doa Papanya? Air mata Cheryl meleleh, meratapi peristiwa demi peristiwa yang baru saja dialaminya.
Bersambung ya....
NOTE :
Nama kota yang dipakai adalah Semarang, Salatiga dan sekitarnya. Background mungkin lebih condong ke ingatan Author di masa lalu. Tapi technology-nya di sesuaikan jaman sekarang.
Maapkeun, kalau ada yang sudah berubah dan research saya kurang.
__ADS_1