Cinta Sebatas Waktu

Cinta Sebatas Waktu
Bab 7 -- Selamat Jalan


__ADS_3

Setelah makan dan berbicara dengan Dimitri, Cheryl kembali ke rumah sakit dan menuju ke lantai dimana ruang ICU berada. Om Salim dan Tante Merry masih disana, seperti biasa Papanya entah kemana.


Berada di ruangan itu terasa sangat menyiksa, terutama ketika salah seorang suster keluar dan memanggil nama keluarga pasien. Berulang kali, Cheryl ikut menahan napas setiap kali Suster menyampaikan sesuatu kepada keluarga yang bersangkutan.


Sudah ada dua orang pasien yang dikabarkan telah berpulang. Cheryl sampai merasa dirinya jahat saat dia merasa lega setiap kali mendengar kalau panggilan maut itu bukan untuk keluarganya. Lebih tepatnya, bukan tentang Nenek.


Malam itu juga, Nenek bangun. Wajah Om Salim dan Tante Merry tampak begitu lega dan mereka bergegas menemui Dokter begitu ijin besuk keluar. Hal pertama yang disampaikan kepada mereka adalah menitipkan Cheryl, cucu kesayangan dan satu - satunya. Harapannya adalah Cheryl bisa terus sekolah dan kelak bisa mendapatkan pekerjaan yang baik. Hidup mandiri dan berbahagia.


Cheryl terdiam begitu mendengar kalimat - kalimat yang disampaikan oleh Nenek. Dia pernah mendengar, ketika seseorang akan pergi, biasanya dia akan meninggalkan pesan terakhir. Mungkinkah ini pesan terakhir Nenek untuknya?


"Kakekmu sudah menunggu Nenek, Cheryl. Berdoalah dan berusaha terus. Tuhan akan selalu menolongmu." bisik Nenek. Dia seperti tak punya tenaga tapi tetap berbicara sambil tersenyum lembut padanya


Hal yang menyayat hatinya adalah saat nenek menyebut kakek. Bukankah kakek sudah lama meninggalkan mereka untuk selamanya? Ya Tuhan, Cheryl hanya bisa mengangguk dengan air mata terus meleleh.


Cheryl tak akan melupakan wajah Nenek yang begitu cantik dan seperti bersinar karena setelah itu, Nenek kembali tertidur dan tidak bangun lagi. Kondisinya melemah, dan tidak pernah kembali ke ruang rawat.


Keesokan pagi, siang hingga kembali menjadi malam, beliau tak juga sadarkan diri. Cheryl hanya bisa menangis dan membisikkan harapan supaya beliau bangun setiap kali menjenguknya.


Setiap kali suster keluar, Cheryl menahan napas dan berdoa semoga panggilan itu tidak ditujukan kepadanya. Namun meski panggilan itu tidak ditujukan padanya dan keluarga, dia tak juga bisa menghembuskan napas lega. Hati Cheryl tetap tak bisa tenang. Dia bahkan terjaga sepanjang hari dan malam diluar ruang ICU.


"Cher, kamu yakin nggak mau beristirahat? Aku bisa mengantarmu pulang ke rumah Om Salim untuk beristirahat sebentar." tanya Dimitri yang dari kemarin terus menemaninya.


Cheryl sudah menyuruh Dimitri untuk meninggalkannya, tapi pemuda itu keukeuh pada pendiriannya. Katanya dia ingin, setidaknya memastikan Cheryl makan dengan teratur. Terlalu lelah untuk berbantah, Cheryl membiarkan saja apa pun mau Dimitri.


"Aku masih mau di sini." jawab Cheryl pelan.

__ADS_1


Dimitri tak bisa berkata apa - apa, dia hanya bisa memandang Cheryl dengan prihatin. Kemudian mendesah pelan dan duduk diam di sebelah Cheryl.


Sekali lagi, pintu ruang ICU terbuka dan seorang perawat keluar. Dia memanggil keluarga Nenek Fatima. Jantung Cheryl nyaris berhenti berdetak. Nyaris!


Serentak Om Salim dan Tante Merry berdiri dan mengikuti Suster, Cheryl pun bergegas membuntuti mereka. Dengan wajah penuh tanya dan cemas, mereka berdiri di sekeliling tempat tidur Nenek.


"Silahkan berdoa untuk pasien. Dokter akan segera datang." ucap Suster tersebut.


"Berdoa? Maksud Suster?" tanya Om Salim.


Wanita itu tersenyum, "Maaf. Biar dokter yang menjelaskan kondisi pasien, saya tidak mempunyai kapasitas untuk mengatakan apa pun." Kemudian Suster itu memeriksa setiap selang dan memperhatikan layar.


Cheryl ikut memperhatikan layar monitor, ada satu angka yang terus menurun. Dia tak tahu apa artinya, tapi yang jelas firasatnya berkata kalau sesuatu yang buruk akan terjadi.


Dan lagi, suster menyuruhnya berdoa. Berdoa? Bukannya Cheryl tak percaya Tuhan. Tapi kata berdoa saat ini diartikannya sebagai tanda menyerah, pasrah dan tak bisa berbuat apa pun. Hanya Tuhan yang punya kuasa. Astaga! Mendadak saja Cheryl tak menyukai kosakata itu. Please, lakukan sesuatu untuk Nenek.


Cheryl terpaku ditempatnya, memandang angka di monitor yang justru membuatnya semakin ketakutan. Tangannya gemetar dan dingin, lidahnya kelu.


Seorang pria berjubah putih datang dengan tergesa - gesa, kemudian memeriksa kedua mata dan pergelangan tangan Nenek. Dia meletakkan jari di leher Nenek. Dengan stetoskop, dia memeriksa daerah dada. Dua orang suster menatapnya dengan penuh arti.


Pria itu mundur selangkah dari ranjang dan menghembuskan napas berat, lalu menatap satu per satu orang - orang di sekitar ranjang dengan tatapan bersimpati. Dia melirik jam tangannya.


"Pasien Ibu Fatima telah meninggal dunia tepat pada pukul tiga lima belas dini hari." ucapnya.


Om Salim menutup wajahnya dan menangis tanpa suara. Tante Merry mengusap air mata yang menetes dari sudut matanya, kemudian memeluk suaminya. Dimitri segera merangkul Cheryl yang meraung - raung memanggil Neneknya.

__ADS_1


"Bagaimana dengan formalinnya?"


"Kapan almarhumah akan di makamkan?"


"Mau dibawa kemana jenasahnya?"


Suara suster menanyakan beberapa pertanyaan mengenai Nenek seakan terdengar seperti dengungan lebah di telinga Cheryl.


Dia tak dapat dan tak mau mendengar apa pun saat ini. Jangan katakan padanya untuk berhenti menangis, karena yang meninggal adalah orang yang di kasihinya. Tak usah pula memberitahunya, kalau orang yang meninggal akan tetap hidup sebagai kenangan di hati mereka yang hidup.


Bagi Cheryl, semua itu adalah omong kosong. Karena yang hidup di hati adalah kenangan indah saat bersamanya, dan bukan nenek. Rasanya sangat menyakitkan saat mengenang untuk melepaskan.


Saat ini, Cheryl hanya ingin mendengar bagaimana caranya bertemu dengan Nenek kalau suatu hari dia merindukannya. Tanpa Nenek, semua tak akan pernah sama.


Semua berjalan begitu cepat, Cheryl tak tahu bagaimana prosesnya. Yang jelas peti mati, tempat untuk jasad nenek di pemakaman umum bahkan ambulans sudah siap untuk mengantar jenasah dari rumah Om Salim menuju ke tempat peristirahatan terakhir.


"Apa kamu puas?" tanya sebuah suara. Terdengar begitu jelas dan penuh kebencian. Semua menoleh kearah Handoko dan kemudian ke arah Cheryl.


Cheryl hanya menghembuskan napas, lelah. Dimitri yang setia mendampingi hanya bisa menggenggam tangan Cheryl, berharap Handoko tidak sampai bersikap berlebihan.


"Sudahlah, Han." ucap Om Salim lelah. Dia mencoba menengahi.


"Tak bisa, Salim. Kalau saja anak sial ini tak kabur dari rumah, pasti Mama tak akan kepikiran. Pasti beliau masih hidup. Kalau saja dia menurut padaku untuk menikah, Mama pasti tak banyak pikiran dan jantungnya baik - baik saja."


Kemudian Handoko menoleh pada Cheryl. "Kamu sengaja membuatnya meninggal supaya kalau beliau meninggal, asuransinya jatuh ke tanganmu. Iya kan?" bentak Handoko penuh emosi.

__ADS_1


Bersambung ya....


__ADS_2