
Jam istirahat berbunyi, saatnya kami mengistirahatkan pikiran setelah di gempur pelajaran materi persiapan UAN.
Kelas yang masih tampak ramai, berbondong-bondong keluar kelas dan menyisakan beberapa orang saja di kelas.
"Fir, istirahat yokk. Laperrrr" rengek Fiki sembari menarik tanganku.
"Lagi nggak pengen ke kantin" jawabku sembari meringis.
"Dihh, bilang aja mau nemenin ayang Diva" cibir Falen padaku.
"Kenapa Len, pengen juga ditemenin. Sini...sini..." balas Diva sembari tangannya melambaikan tangan ke arah Falen.
Aku hanya tertawa saat Diva membalas Falen seperti itu.
"Dihh, ogahhh" balas Falen langsung melarikan diri.
Diva langsung terpingkal-pingkal. Baru beberapa detik Falen, Fiki dan Fay ke kantin, tiba-tiba....
"Hey Divandra Ilyas, Loe ngajakin Gue berantem ya"ucap Rangga langsung mau meninju Diva.
Aku, Diva, dan Rio terkejut mendengar suara lantang dari Rangga yang masuk ke kelas kami
Tapi lagi-lagi tangan Diva menahan tinjuan Rangga."Apa Loe, tiba-tiba ngajakin berantem" tantang Diva.
"Loe kan yang bikin laporan biar Gue di scors" bentak Rangga.
"Ohhhh" ucap Diva santai,"kalo iya emang kenapa??" Diva membalas dengan bentakan juga.
"Yang, udah. Nggak usah gubris dia" bisikku pada Diva.
"Nanggung..."jawab Diva ketus.
Rio menghampiri Diva dan Rangga yang hampir baku hantam."Loe minggir dulu Fir, ini urusan cowok" ucap Rio sembari menyuruhku duduk dibangkunya sementara.
"Tauk ahh...." ucapku kesal sembari keluar dari kelas dan menyusul ketiga temanku ke kantin
Aku kesal pada Diva, tak biasanya dia berbicara se ketus itu padaku. Padahal niatku untuk mencengah baku hantam di kelas, tanpa sadari aku bergumam pada diri sendiri sampai kantin
Aku segera mencari mereka, tampak Fiki melambaikan tangan kearahku. Segera ku temui mereka yang sedang menikmati semangkok bakso dan es jeruk.
"Kenapa Lu?" tanya Falen melihat ekspresi wajahku yg tiba-tiba cemberut.
Sebelum aku bercerita, aku memesan bakso komplit dan es jeruk juga.
"Tau ahh, aku BETE...." balasku sekenanya.
"Kenapa sih Fir, cerita lah...." desak Fay.
"Rangga??" tebak Fiki.
"Kenapa lagi dia...." geram Fay sembari kedua tangannya membentuk kepalan.
Aku masih terdiam sembari membuang nafas kasar,"Bukan. Tapi Diva..." balasku akhirnya.
"Whatttt? Divaaa?" kejut mereka secara bersamaan.
Aku menceritakan kejadian barusaja di kelas tanpa sadari mataku berkaca-kaca. Tidak biasanya Diva berkata ketus atau kasar kepadaku, baru kali ini aku tersinggung oleh ucapannya.
Sementara di kelas, Diva dan Rio baku hantam dengan Rangga di kelas. Tampak Rangga sudah tak bisa berkutik.
"Loe, kalo mau ganggu Fira sama Fay hadapin Gue!" ucap Diva terlihat emosi.
"Gue juga ikut habisin Loe Rangga" sambung Rio.
"Hahh, Gue nggak akan pernah takut sama kalian-kalian" balas Rangga menantang sembari menunjuk Diva dan Rio.
"Mau Gue hantam lagi" ucap Diva sembari menyodorkan kepalan di depan Rangga.
"Loe itu maunya apa?" Rangga bangkit dan mencengkeram kerah seragam Diva.
"Loe itu yang cari masalah duluan" ucap Diva sembari mendorong Rangga hingga cengkeram di kerah seragam Diva terlepas.
Melihat kegaduhan semakin tak terkendali, Rio melerai Diva dan Rangga"Diva stop! Rangga kalo kamu gituin makin menjadi, dia nggak akan pernah mau kalah" ucap Rio.
Diva langsung menjauhi Rangga. Sementara Rio mendekati Rangga"Ngga, Loe itu nggak akan pernah punya temen kalo dikit-dikit diajakin berantem. Nggak kapok apa dikit-dikit berurusan dengan BK dan mendapat surat teguran. Udahlah, jangan bikin ulah lagi. Atau ngurusin masa lalu terus. Diva, Fira dan Fay butuh ketenangan. Sekali lagi Gue lihat pemandangan seperti ini di depan mata, Gue nggak ada sungkan langsung tinju wajah Loe habis-habisan" ucap Rio memberi peringatan.
Rangga terdiam dan langsung keluar meninggalkan kelas XII 4 . Tatapan Rangga berubah tajam dan sinis ketika melihat Diva mulai duduk dibangkunya.
Diva yang akan keluar kelas untuk mencuci muka, teringat seseorang. Kemudian kegiatan cuci muka diurungkan untuk menemui seseorang tersebut.
"Safiraaaaa" gumam Diva sembari berlari menuju kantin.
Tapi nihil, yang di cari tidak ada disana. Saat itu juga Diva berjalan dengan lemas menuju kelasnya.
Aku yang akan masuk kelas bersama ketiga temanku tertahan karena ada seseorang yang menahan tanganku.
"Yangg....." panggil Diva padaku.
Aku masih belum merespon panggilannya, lalu Diva memanggil sekali lagi dan kali ini sudah di depanku sembari tanganku membentuk kata maaf.
Belum sempat aku balas, bel istirahat berbunyi"Denger kan itu suara bel apa?" ucapku terdengar tak menyenangkan.
Diva membalas"Tunggu jam pulang sekolah, aku akan menjelaskan semuanya."
Aku masih tampak acuh saat Diva mengatakan tersebut. Langsung saja aku berjalan ke bangku, tepatnya pindah tempat duduk sebelah Fay sampai pelajaran selesai.
__ADS_1
"Gue bareng Loe ya Fik" pintaku saat jam pelajaran berakhir.
"Tapi Diva?" tanya Fiki.
Falen menutup mulut Fiki,"Gimana sih Fik, kan Fira lagi ngambek sama Diva" bisiknya pelan.
"Oh iya, sorry Fir" Fiki menepok jidatnya.
"Bakal susah keluar kelas ini" bisik Fay saat melihat Diva masih berada di depan kelas.
"Yasudah, nunggu Diva sampai parkiran motor" ucap Falen.
"Mana bisa? Diva orangnya nggak segampang itu menyerah" ucap Fiki.
Entah?? Hatiku masih sakit saat mengingat kejadian tadi siang, seorang Divandra bisa berbicara ketus padaku.
"Udahlah, cuek aja sama dia. Kita tinggal lewatin aja kok" ucapku langsung memutuskan melangkah keluar kelas, disusul ketiga temanku.
"Safiraaa..." panggil Diva dengan menahan tanganku,"aku ingin bicara sama kamu" pinta Diva.
Tampak ketiga temanku mundur dan memberi ruang Diva untuk berbicara denganku.
"Fira pulang sama aku, jadi kalian tinggal aja" ucap Diva.
"Whattttt???" protesku kesal.
Mereka langsung meninggalkan kami berdua di depan kelas.
"Nggak perlu pulang bareng kamu juga bisa kok" responku dengan nada ketus.
"Yang, aku minta maaf. Tadi siang sudah emosi dan ingin sekali menghajar Rangga" Diva langsung menjelaskan.
"Kamu tahu nggak, ucapanmu bikin aku sakit hati" responku yang tanpa sadar menahan tangis.
Diva mengangguk," Ya aku tau Yang, makanya disini aku minta maaf" ucap Diva dengan raut wajah menyesal,"nggak seharusnya aku nurutin emosi ini" tambah Diva menjelaskan.
"Plisss, ayolah maafin aku" mohon Diva.
Aku melihat dari sorot mata dan kesungguhannya, Diva benar-benar menyesali perbuatannya.
"Memang kalo aku belum maafin kamu atau sudah maafin mau dikasih pajak apa?" responku menahan senyum sembari mengusap airmata yang masih tertahan.
"Sebagai tebusannya, aku ajak Princess Safira jalan-jalan keliling kota" ucap Diva sembari tersenyum jahil.
Melihat Diva tersenyum jahil, aku tidak bisa menahan diri untuk reflek tertawa.
"Ahh, reseee... kenapa sih nggak bisa marah lama-lama sama kamu" responku mulai nggak bisa menahan senyum dan mencubit lengan Diva sebagai hukumannya .
Diva tersenyum lega saat aku berhenti mendiamkannya siang ini.
"Kemana nih??" tanyaku sambil memakai helm juga.
"Buruan Sayangg, pake helm berat nih" keluh Diva yang dari tadi tidak mencopot helm nya.
"Salah sendiri dari tadi nggak di copot helmnya" sewotku yang nggak bisa menahan ketawa karena Diva.
Yupp, aku memang tidak bisa mendiamkannya terlalu lama. Ada saja tingkah laku dan ulahnya yang buat aku tersenyum sampai tertawa.
Sementara dari parkiran sekolah. Tampak Fiki, Falen dan Fay memantau dari dalam mobil.
"Kok mereka cepet banget akurnya" kejut Fiki.
"Sepertinya Diva memang menyayangi Fira. Tulus banget, terlihat dari perlakuannya" sambung Falen.
Fay mengangguk seakan menyetujui ucapan Falen,"Benar Guys, Diva sayangnya nggak main-main."
"Udah yuk, pulang. Misi memantau Diva selesai. Ternyata memang mereka saling sayang" ucap Fiki sembari menyalakan mobil dan menuju gerbang sekolah untuk pulang.
Ternyata Diva benar-benar menjanjikanku mengajak keliling kota, walau jarak dari sekolah lumayan jauh. Tapi tetap Diva tempuh untuk memenuhi janjinya.
"Gimana Yang, udah nggak bete sama aku kan?" tanya Diva sembari mengencangkan suaranya.
"Nggak, tapi kalo kamu ngulangin lagi. Aku diemin kamu seminggu Yang" ancamku sembari mengencangkan suaranya juga.
"Jangan dong Yang, aku nggak mau kamu ngambek lagi" ucap Diva merasa bersalah.
"Ya tergantung nanti gimana" jawabku asal tapi aku langsung tertawa.
"Awas ya kamu..." Diva langsung mempercepat laju motor nya.
"Divandraaaaaaaaa" teriakku kesal karena ketakutan saat motornya Diva melaju kencang.
Diva kini berganti menertawakanku, sangat puas. Kemudian laju motor dinormalkan lagi.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
'Membutuhkanmu, dalam hidupku....Karna kau cahaya kalbu....Bagai melangkah di ruang tersempit, didunia tanpa hadirmu.....Dirimulah...keajaiban, ciptakan surga di dunia.....Beri aku nafas cintamu, kan kuhirup sampai mati'.
Saat bagian reff lagunya, Diva menyanyikan penuh penghayatan"persembahkan, cinta sempurna...kekal abadi, selamanya.Dekap aku, dan peluk mesra. Genggam jiwaku, jangan kau lepas...'.
Lagu ADA Band yang berjudul Cinta Sempurna sukses membuat Diva kembali mengingat pertemuannya dengan Safira. Gadis yang kini ia pacari sampai detik ini. Banyak kenangan yang mereka lewati. Benar-benar manis.
Sampai tak sadar bahwa handphone Diva berdering, lalu Diva beranjak dari tempat tidur dan mengambil handphone tersebut , alangkah terkejutnya saat mengetahui siapa yang menelepon...My Safira 💕 .
"Kok dia tau aja kalo lagi dipikirin" gumam Diva dengan senyuman salah tingkah sembari panggilan telepon itu diangkat.
__ADS_1
"Hallo Sayangg" telepon Fira.
"Hay cantikku, kenapa nih malem-malem telepon" respon Diva.
"Nggak apa, cuman pengen telepon aja. Biasa, di rumah nggak ada orang. Sepi" cerita Fira," Mama study tour sama murid-murid nya... Papa lembur kerjaan di kampus" Fira menjelaskan.
"Kirain udah kangen aku aja" ucap Diva.
"Ngapain kangen, tiap hari kan di kelas ketemu terus" jawab Fira.
"Ohh gitu..." respon Diva pura-pura ngambek.
"Lho kok ngambek, yang PMS kan aku Yanggggg" Fira ngambek beneran.
"Ya jangan ngambek dong Yang, kan aku tadi pura-pura" Diva semakin serba salah,"maaf...maaf...." ucap Diva mengalah.
"Kamu mau cerita apa Sayang? sini cerita aja. Aku siap dengerin" ucap Diva.
Fira langsung cerita panjang lebar. Tentang kejadian di kantin tadi siang.
Aku menceritakan kejadian tadi siang di kantin, ternyata selama ini Rio diam-diam suka sama Fay. "Gilakk, satu kantin pada heboh karna Rio" ceritaku sembari tertawa.
"Wait...waitt... maksudmu Rio nembak Fay??" kejut Diva,"wehh gila dia, sejak kapan ya kira-kira??" Diva semakin heboh menanggapi ceritaku.
"Katanya semenjak kita liburan di villa itu Yang" aku menjelaskan.
"Cakep bener dia. Sukanya main bersih. Terus..terus... udah dijawab Fay??" tanya Diva semakin penasaran.
"Fay sih butuh waktu buat kasih jawaban" ceritaku sembari tertawa.
Diva juga tertawa karena mendengar ceritaku yang menurutnya konyol. "Besok pagi aku godain ahh" Diva membuat rencana jahil.
Aku dan Diva serentak tertawa dalam handphone, cerita tadi siang benar-benar membuatku tidak merasa kesepian di rumah.
"Yahh, ujung-ujungnya telepon kali ini ghibahin temen-temen deket kita" ucapku disela tertawa.
"Kamu sih yang mulai. Coba kalo dari tadi bahas kita berdua" respon Diva jahil,"bahas tentang masa depan kita berdua" Diva melanjutkan.
"Aku percaya sama kamu Yang..." aku meyakinkan Diva,"semoga kita berjodoh sampai pelaminan" doaku.
"Aamiin Sayang, aku juga berdoa seperti itu. Aku akan perjuangkan sampai kita menjadi pasangan halal" janji Diva.
"Aamiin...tapi masih panjang Sayang. Kita belum lulus SMA lhoh, terus bentar lagi kuliah juga" ucapku sembari merasakan detak jantung sedang berlompat-lompat kegirangan,"waktu kerja, kamu datanglah kepada kedua orangtuaku untuk minta restu hubungan yang lebih serius" aku melanjutkan.
"Siap Princess Safira. Aku Divandra Ilyas bisa memenuhi janji. Jaga hatimu baik-baik ya" balas Diva.
"Jaga hatimu juga baik-baik" balasku,"oya Sayang, aku mulai ada pandangan besok masuk di jurusan apa waktu kuliah" ceritaku mengalihkan topik lagi.
"Wah, apa itu Yang?" respon Diva yang selalu antusias mendengarkan ceritaku.
"Kepikiran aja sih pengen masuk kuliah jurusan kesehatan" jawabku.
"Wah, bisa jadi kita satu Fakultas Yang" girang Diva,"aku Insya Allah ambil jurusan Keperawatan" ucap Diva.
"Semoga cita-cita kita masuk jurusan yang kita pilih sesuai ya Yang" doaku.
"Aamiin Sayang, semoga kita jadi satu Fakultas" Diva mengamini doaku.
Ya beginilah caraku dan Diva ber quality time di malam hari, masih panjang bahasan kami kali ini sampai tak sadar sudah menunjukkan pukul 23.00 .
"Yanggg, udah malem. Besok kita masih masuk sekolah" ucapku mengingat besok masih hari Jumat,"terima kasih sudah nemenin aku malem ini Yang. Tidur gih, besok bangunmu kesiangan lagi" aku menyudahi panggilan telepon malam ini.
"Sama-sama Sayang, terima kasih untuk semua kepercayaanmu padaku" balas Diva.
Kami mengucapkan salam perpisahan dan mengakhiri telepon.
Aku yang ingin tidur, ternyata bertepatan Papaku baru saja sampai rumah. Karena mendengar suara mobilnya.
Aku segera turun kebawah untuk membuka gerbang rumah. Beliau tampak terkejut saat mendapatiku belum tidur. Setelah memarkir mobilnya, beliau langsung turun dari mobil.
"Lhoh, kamu belum tidur?" tanya Papaku sembari membelai rambutku.
"Belum dong Pa, kan Papa belum pulang. Nanti siapa yang buka gerbang" responku.
"Nggak apa-apa. Kan Papa bisa buka gerbang sendiri" ucap Papaku.
"Jangan dong, Papa kan capek" balasku,"tadi sore aku masak ayam kecap" ceritaku bersemangat.
"Nggak perlu diragukan lagi masakanmu Fir, rasanya sama kayak masakan mama" puji Papa sembari tersenyum.
"Terima kasih Pa" senyumku,"Mama pulang kapan sih Pa?" tanyaku dengan muka cemberut.
"Lho kamu ini sudah gede, kan tidak apa-apa kalo ditinggal sendirian di rumah. Mau masuk kuliah kan tahun depan?"
Dengan ekspresi cemberut, aku mengangguk dan tanpa di sadari menguap lebar.
"Sana tidur dulu, Papa kan masih belum mandi juga. Besok pagi kita cari sarapan dulu sebelum kamu berangkat sekolah" ucap Papa.
"Asyikk, besok pagi cari sarapan bubur ayam ya Pa" girangku sembari memeluk Papa.
Papa mengangguk dan tersenyum kearahku,"Kamu itu sudah punya pacar tapi masih manja sama Papa ya...Gadis kecil Papa yang sudah ABG" Papa mengusap-usap punggungku
Yaa begitulah,resiko anak satu-satunya di rumah. Walau kedua orangtuaku sibuk tak membuatku akan haus kasih sayang mereka. Aku sangat manja pada mereka.
Dulu aku menerima cinta Diva, karena semua yang ada pada Diva mirip sekali dengan Papaku. Atau Papa yang mirip Diva. Sifat dan wataknya.
__ADS_1
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇