Cinta Sempurna

Cinta Sempurna
Bab 23


__ADS_3

Semenjak putus dari Safira, Divandra mencoba untuk membuka hati untuk yang lainnya. Tapi masih belum menemukan yang cocok, bahkan saat Nadin mendekati juga sama sekali tidak tertarik.


Di lain sisi, hatinya semakin dilema saat Safira berusaha untuk mengajak komunikasi lagi lewat WA, tanpa disadari jantung Diva berdebar kencang. Sementara benaknya mengingatkan lagi saat Safira meminta putus.


"Kenapa? Loe sepertinya memikirkan Safira" ucap Candra sembari membuyarkan lamunan Diva.


"Ah, eh nggak juga" tampik Diva dengan perasaan salah tingkah.


Candra tersenyum geli,"Lalu cewek gimana lagi yang akan Loe cari?" tanya Candra.


Diva mengendikkan bahu,"Entah, Gue belum nemu yang cocok. Dan hati ini entah untuk siapa" jawab Diva.


"Tapi menurut Gue, Safira tidak akan pernah melakukan itu" ucap Candra,"dari caranya dia menangis dan kehilangan Loe itu udah kelihatan" Candra melanjutkan ucapannya.


"Udah deh, Loe nggak usah bahas Safira lagi. Hati Gue masih sakit" Diva menampik perasaannya, padahal dari dalam hati masih belum bisa melupakannya.


"Gue sekarang cuman bisa dukung apa keputusan Loe" support Candra,"tapi feeling Gue kemungkinan WA Safira di bajak orang, tapi entah deh kata hati Loe gimana menyikapinya" ucap Candra sedikit memberi nasihat.


"Thanks Cand. Iya, Gue ngerti" jawab Diva dengan senyuman.


Siang harinya setelah selesai perkuliahan Divandra berpapasan lagi dengan Safira setelah beberapa bulan berpisah, tapi Divandra pura-pura tidak melihat kehadirannya.


Langkah Diva tertahan saat aku memegangi lengannya.


"Kamu mau sampai kapan menghindariku terus?" tanyaku pada Diva.


Diva enggan menjawab, bahkan langsung membuang muka saat kami berpapasan dan tanganku langsung ditampik saat aku memegangi lengannya.


"Yasudah, terserah kamu saja mau percaya sama aku atau tidak. Intinya aku sedikitpun tidak pernah meminta kita berpisah. Aku sayang kamu dan semoga kamu selalu baik-baik saja" ucapku sembari menahan airmata lalu berbalik arah dan meninggalkan Diva.


Saat berjalan menuju ruang kuliah, tangisanku pecah. Hatiku sesak dan aku merasa perasaanku sudah mati rasa.


Jauh setelah Safira meninggalkan Divandra dengan keadaan menahan airmata, hati Divandra terasa sakit. Bahkan teringat wajah orang tersayangnya sedang menahan luka di hati. Sampai rasanya Divandra ingin memaki dirinya sendiri karena sampai tidak percaya dengan kekasihnya."Kenapa aku seperti ini?" gumam Divandra yang tanpa sadar menangis,"harusnya aku percaya bahwa Safira tidak pernah mengatakan putus padaku, justru aku malah memutuskannya. Aku menyesal sudah membuatnya benci padaku" sesal Divandra dengan debaran nyeri di dada.


Candra yang melihat itu hanya bisa menguatkan Divandra,"Gue harap hubungan Loe bisa diperbaiki lagi Div" pesan Candra.


Divandra mengangguk,"Thank Cand, Gue harap begitu."


◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇


Patah hatiku kali ini benar-benar dalam, bahkan rasanya lebih sakit saat berpisah dengan Rangga dulu sewaktu SMA.


Mana mungkin aku bisa 100% move on dari seorang Divandra yang selalu memberikan sejuta warna kenangan indah, bahkan saat hatiku menyebut namanya pun jantungku masih merasakan debaran kencang. Tapi aku berusaha membunuh rasaku kali ini.


"Gue harus bisa move on!" ucapku penuh tekad.


Seiring berjalannya waktu juga. Aku mulai disibukkan dengan tugas-tugas kuliah yang semakin bejibun, praktikkum, kegiatan KKN, bahkan puncak sebagai mahasiswa. Skripsi.


Aku sekarang lebih giat mengisi waktu luangku dengan membantu ketiga sahabatku Tasya, Maron dan Boris mencari materi untuk skripsian.


"Nggak terasa ya kita temenan udah hampir lulus gini. Sedih deh bakal pisah sama kalian" ucapku pada mereka.


"Jangan sedih mulu Loe, nanti kita setelah wisuda hangout bareng yuk. Kemana gitu. Safira wajib ikutan" usul Tasya sembari memelototiku.


Aku tersenyum singkat,"Kalian saja yang berangkat."


"No..No...Safira Wijaya harus ikut!" ucap Tasya memaksaku.


"Iya Fir, kalo kamu nggak ikut jadi batal dong" respon Maron.

__ADS_1


Tiba-tiba Julian menggabung kami, aku memutar mata malas."Eh kalian mau kemana sih? Ikutan dong" pinta Julian sembari mengerlingkan mata genit kearahku.


Bukannya aku terpesona, malah semakin mual melihat mata genit Julian.


"Ohh, nggak jadi kok. Safira nggak bisa" ucap Boris.


"Yahh, sayang dong. Padahal aku mau PDKT sama Safira lhoh" ungkap Julian terang-terangan


Deg! 'Sepertinya memang Julian yang bajak WA ku, keliatan sekali setelah mengetahui aku dan Diva putus. Dia orang yang sangat senang mengetahui berita tersebut. Hanya saja aku selalu menolaknya' batinku mencurigai gerak-gerik Julian.


"Nggak usah banyak ngarep Loe Jul, Gue sama sekali nggak suka Loe. Jadi kubur semua impian Loe bersanding dengan Gue!"jawabku tidak lagi merasa takut melawan Julian.


"Kenapa Loe nggak mau merespon perasaan Gue sih" protes Julian,"kenapa? Loe belum bisa move on dari Divandra?" sindir Julian.


Aku kesal saat Julian menyindirku seperti itu, lalu mendorong kasar pundak Julian,"Bukan urusan Loe juga kan? Kenapa Loe sewot?" ucapku langsung tersinggung.


Julian langsung bangkit dari duduknya lalu pergi.


Maron mengusap pundakku,"Nggak usah panik gitu Fir, selama ada Gue dan Boris. Julian nggak bakal bisa deket sama Loe" bisik Maron yang langsung tahu isi hatiku.


Aku mengangguk,"Iya, Gue percaya sama kalian" balasku dengan tersenyum.


"Gue seneng, liat Loe senyum lagi Fir" ucap Boris yang mendapat anggukan dari Tasya juga.


"Thanks kalian, Gue bisa bertahan sampai saat ini" ucapku penuh senyum.


"Sama-sama Fir, yang penting sekarang Loe udah lebih baik dari kemarin-kemarin" balas Tasya.


"Yaudah yuk, makan aja di kantin. Gue laper" ajak Boris.


"Let's gooo" aku langsung menyetujui ajakan Boris karena memang sudah lapar juga.


"Dasar, manusia-manusia kelaparan" respon Maron dengan ekspresi geli.


Aku berusaha mengabaikan keberadaan Diva yang duduk dibangku depan tempat kami singgah


Ternyata sikap acuhku di perhatikan oleh Diva, aku mencoba mengalihkan pandangan kepada ketiga temanku.


"Makan apa nih?" tanya Tasya pada kami bertiga.


"Bakso..." jawabku dan Maron serentak.


Lalu aku dan Maron menertawakan diri sendiri


"Kalian yaa bener-bener" gelak Boris.


"Okee deh, bakso juga kayaknya seger nih. Cocok sama hawanya yang panas gini" Tasya juga memesan bakso.


Aku tertawa karena Tasya juga memilih bakso untuk menu siang ini.


Terlihat dari jauh Diva mengamatiku dengan tatapan cemburu, aku mengacuhkan tatapan tidak suka pada Diva.


◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇


Di rumah, tepat dikamar Diva. Perasaan Diva semakin sesak, baru kali ini merasakan putus cinta. Walau rasanya sudah tidak peduli, tapi mata tidak bisa lepas saat mereka berpapasan, apalagi saat melihat Safira dekat dengan salah satu temannya cowok. Rasa cemburu masih terbakar di dadanya.


"Aku lihat dari sorot matanya yang terakhir saat berpapasan dengannya, dia tidak berbohong. Tapi kenapa rasanya sesakit ini" ucap Diva sembari mengacak rambutnya dengan frustasi.


Ingin rasanya menjawab semua pesan Safira, tapi rasanya masih ragu.

__ADS_1


Diam-diam Diva menyelidiki pesan terakhir Safira yang dikirim sebelum terjadi pertengkaran,"Apa benar hp Safira dibajak? Siapa ya yang kira-kira ingin menghancurkan hubunganku dan Safira?" gumam Diva sembari mengecek pesan terakhir Safira dan berpikir siapa pelakunya. Setelah dicek, ternyata bahasanya hampir sama. Diva sendiri tidak bisa membedakan. Tanpa di sadari airmata Diva tumpah saat membaca semua pesan dan panggilan tak terjawab dari Safira,"Gue kangen Loe Safira" Diva bersuara lirih, ada rasa penyesalan dalam dirinya.


◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇


"Bang, kok Gue lihat Safira dan Divandra tidak sama-sama lagi?" tanya Nadin sembari menyeruput es teh di kantin kampus.


"Kan Gue ikutin saran Loe" jawab Julian santai.


"Hahh? Saran apaan?" tanya Nadin dengan terkejut.


Julian menceritakan kejadian sebenarnya."Gue yang bajak WA Safira dan meminta putus. Divandra percaya begitu saja dan mereka akhirnya putus. Gue seneng banget liatnya, tapi Safira masih tidak mau Gue deketin" ungkap Julian.


Nadin bersorak," Whatt? Hahaaa. Kok Gue jadi suka sama ending kisah mereka Bang" respon Nadin dengan tertawa,"Gue pasti akan dapatkan Divandra" tekad Nadin.


"Semoga Divandra mau" kelakar Julian meledek Nadin.


"Abanggggg" dengus Nadin kesal.


Tanpa disadari Maron mendengar percakapan ini. Telinganya panas dan hatinya mendidih, dengan tangan dikepal, langsung saja menghampiri kedua kakak adik tersebut dengan perasaan emosi saat mendengar pengakuan tak terduga ini.


"BRAKK!!!!"


Maron menggebrak meja tempat duduk sepasang kakak adik ini. Keduanya terkejut.


"Ternyata kalian pelakunya ya!!" marah Maron terlihat sangat emosi dan mencengkeram kerah baju Julian.


Terlihat Julian tidak berkutik saat Maron menatapnya dengan tatapan tajam,"Coba ulangi lagi pengakuan Loe tadi" pinta Maron dengan nada halus.


Julian masih saja diam dan belum membalas ucapan Maron. Sementara Nadin sangat takut melihat tatapan tajam Maron.


"BISA ULANGI LAGI TADI APA YANG LOE DAN NADIN BAHASSSSSSS!!!" teriak Maron mulai emosi,"JADI LOE DAN NADIN YANG MERENCANAKAN INGIN MENGHANCURKAN HUBUNGAN SAFIRA DAN DIVANDRAAA!!!!!" Maron mengulangi ucapannya lalu menghantam perut Julian tanpa ampun.


Nadin sangat terkejut sembari ketakutan melihat sang kakak di hajar habis-habisan oleh teman sekelasnya.


Saat Maron ingin menghantam sekali lagi, Nadin menghalangi"Jangan lakukan itu lagi" teriak Nadin.


Maron menghentikan kegiatannya.


"Loe!! Cewek licik. Harusnya habis juga siang ini bersama dengan kakak bajingan Loe ini" maki Maron sembari mendorong kasar Nadin.


Nadin menangis,"Gue minta maaf" ucapnya sembari bersimpuh di kaki Maron.


Sementara Julian yang bersusah payah bangun juga melakukan hal yang sama.


"Gue khilaf..." lirih Julian sembari menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


"Kalian harusnya meminta maaf pada Safira dan Divandra. Jangan sama Gue!" ucap Maron tegas,"Gue beri waktu untuk kalian minta maaf ke mereka. Kalo tidak segera, bersiap-siaplah ada undangan dari Kepolisian terkait pembajakkan hp" ancam Maron sembari meninggalkan mereka berdua.


Julian dan Nadin saling pandang, takut membayangkan seandainya mereka benar-benar ada di dalam penjara.


"Gimana ini Bang? Gue nggak mau di penjara" ucap Nadin dengan panik.


"Nah Loe ngapain nanyain hal ini ke Gue? Kan Gue cuman menjalankan perintah Loe" balas Julian dengan nada kesal.


"Ck.... siallll!!!" umpat Nadin sembari meninggalkan sang Kakak sendirian di kantin.


Sementara dari jauh tampak Marinka dan Deby merekam pengakuan tak terduga. "Mampus kalian, semoga dengan ini mereka jera" ucap Deby.


"Iya, Divandra harus tau" sambung Marinka.

__ADS_1


Setelah merekam, mereka berdua segera meninggalkan tempat persembunyiannya.


◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇


__ADS_2