
Setelah sampai rumah Divandra, aku di sambut hangat oleh Ibunya dan kakak perempuannya dengan pelukan hangat. Seperti Diva saat berkunjung ke rumah disambut pelukan hangat oleh Papa.
Kemudian aku mencium tangan mereka dengan hormat sembari membawakan oleh-oleh dari rumah. Request an Divandra. Spageti ayam dengan porsi banyak.
"Wihhh bocil, nggak salah pilih calon istri nih. Safira cantik banget" kata kak Viva yang sukses membuatku dan Diva langsung salah tingkah.
"Dia memang cantik Va, pintar masak lagi" Ibu Diva menambahi.
Aku tersenyum malu-malu,"Ibu sama Kak Viva bisa saja nih" ucapku yang masih tersipu.
Dari arah kamar depan dekat ruang tamu, muncul Kak Dafi. Kakak tertua Diva.
"Hy, ini pasti Safira ya" sapa Kak Dafi padaku sembari menjabat tangan.
Aku mengangguk dan membalas menjabat tangan Kak Dafi,"Hy Kak. Salam kenal" balasku dengan senyuman,"Oh iya. Mama sama Papa titip salam buat Ibu, Kak Viva dan Kak Dafi. Sebenarnya mau ikut kesini, cuman lagi sibuk" aku menyampaikan salam dari kedua orangtuaku.
"Oh iya Fira, tidak apa-apa. Semoga lain kali bisa bertemu ya" ucap Ibu Diva.
"Iya Bu, aamiin" responku.
"Gimana, sudah kenal sama kakak-kakakku kan?" tanya Diva yang tiba-tiba duduk disebelahku dengan tersenyum.
"Sudah Yang, mereka ramah sekali dan disini juga rame" ucapku dengan anggukan.
"Sepertinya Safira mulai cocok denganku" timpal Kak Viva dengan senyuman meledek kearah Diva.
"Awas aja kalo diajakin yang nggak-nggak" ancam Diva pada kakak perempuannya.
"Yee, emang Gue ngajarin apa coba ke Safira cil. Baru ketemu ini juga" balas Kak Viva meledek Diva.
"Hihh, Kak Viva ini. Aku udah gede dan kesini bawa cewek, kenapa masih dipanggil cil aja sih" sungut Diva kesal pada Kakak perempuannya.
Sementara Kak Dafi hanya geleng-geleng kepala sembari tepok jidat melihat kedua adiknya mulai perang,"Yang perang mulut mereka. Gue yang malu. Padahal Diva lagi ada ceweknya" gumam Kak Dafi.
"Maaf ya Fir, memang begitu mereka berdua kalo ketemu. Padahal kalo lagi jauhan ditanya kapan pulang" cerita Kak Dafi dengan tertawa.
Aku membalas dengan tersenyum geli,"Nggak apa-apa Kak, malah seru kalo kayak gini ini" balasku yang masih merasa geli melihat Diva yang suka bertengkar dengan Kak Viva.
"Iya Fira, jangan kaget dengan sikon disini ya. Mereka memang suka bertengkar" sambung Ibu Diva padaku dan menegur kedua saudara tersebut.
"Nggak apa-apa Bu, rame jadinya" senyumku langsung merasa cocok dengan kedua Kakak-Kakak Diva.
"Safira, nanti kalo sudah berumah tangga banyakin sabar ngadepin anak bungsu Ibu ya" ucap Ibu Diva yang membuatku semakin salah tingkah.
"Justru seharusnya Divandra orang yang paling sabar menghadapi Safira Bu" jawabku malu-malu.
Diva terlihat salah tingkah saat aku berkata demikian,"Aku sama kamu masih belajar untuk bersabar Sayang. Kamu orang yang paling pengertian" balas Diva sembari tersenyum kearahku.
"Ibu jadi nggak sabar lihat kalian berumah tangga" ungkap Ibu Diva.
Mendengar ungkapan Ibunya, aku dan Diva saling pandang dan pastinya salah tingkah.
"Sabar dong Bu, nanti juga ada waktunya sampai sana" ucap Diva pada Ibunya dengan tersenyum.
"Doakan hubungan kami ya Bu" sambungku dengan perasaan lega, karena Ibu Diva memberi ruang untuk menyambutku dengan tangan terbuka.
Ibu menggangguk dengan tersenyum,"Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Dan untuk Dafi serta Viva juga."
"Aku liat dari awal memang Safira cocok banget sama Diva" sambung Kak Dafi.
Kak Viva juga mengangguk setuju,"Gue juga setuju si bocil sama Safira" ucap Kak Viva.
__ADS_1
"Terus-terusin aja Loe manggil Gue bocil" sewot Diva sembari melirik kesal kearah kakak perempunnya.
Kak Viva tertawa terpingkal-pingkal karena membuat si bungsu sewot dan sesekali menyolek pipinya. Aku hanya tersenyum geli melihat ekspresi Diva berubah menjadi ngambek karena ulah Kak Viva.
"Vivaaaa" tegur Ibu pada Kak Viva,"jangan begitu kamu, adikmu sudah besar" ucap Ibu.
"Tauk tuh, dimana-mana sih cewek kalem gitu. Lha ini bar-bar" cerocos Kak Dafi sembari menggelengkan kepala heran dan melirik Kak Viva.
Mendapatkan teguran dari Ibu dan Kak Dafi, Kak Viva hanya melemparkan cengiran tanpa dosa.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Seperti biasa, pagi ini setelah kuliah di jam pertama dan menunggu kuliah di jam selanjutnya. Aku, Tasya, Boris dan Maron berkumpul di gazebo sembari mengerjakan tugas untuk besok pagi yang kebetulan kelompok tugasnya dengan mereka.
"Pembagian tugasnya, Gue sama Fira yang ngetik. Kalian yang mencari materi di perpustakaan" ucap Tasya padaku, Boris dan Maron.
"Siap, nanti kita cari materinya" angguk Boris setuju.
Maron juga langsung mengangguk setuju dengan ucapan Tasya,"Oke, nanti Baron cari materi buat BAB II & BAB III nya. Sementara Gue nyari materi untuk BAB IV nya" sambung Maron.
"Oya, nanti kalo ada yang nggak nemu materinya konfirm ya. Biar Gue yang nyariin bukunya" ucapku.
Kami langsung menyusun mengerjakan soal. Ditengah-tengah kesibukan mengerjakan soal, aku teringat Diva lalu segera kuberi kabar by WA.
'Sayangg, jgn lupa makan siang yaaa😉🥰' aku mengirim pesan pada Diva.
Tak butuh waktu lama menunggu balasannya, langsung ada pesan baru dari Diva. Dia mengirim pesan foto bakso komplit masih utuh dan segelas lemon tea ice lalu dibawahnya ada caption'nunggu disuapin Ayang Safira 😘😘'.
Aku tersenyum geli, lalu mengirim stiker teddybear menyuapi makanan ke panda. Tak lupa dibawahnya kuberi keterangan'tuh,udah aku suapin Yang. Makan yg lahap ya 😗😗'.
Diva membalas lagi,'Bener2 ya kamu Yang 😭😭😭😭... tega sama aku😏. Disuapin virtual beneran dong 😌'.
Aku membalas lagi dengan memberikan stiker tertawa pada Diva dan dibawahnya kuberi pesan'sabarr Sayangku, tugasku lagi numpuk. Kalo sudah selesai, nanti kita makan bareng di luar 😘😘😘😘'.
'🥰😍😘' hanya itu balasanku untuk Diva, entah kenapa aku salah tingkah sekali kali ini. Benakku langsung traveling saat malam pertama nanti dengan Diva setelah acara pernikahan kami, setelah sadar aku langsung beristigfar berulang-ulang kali. Lalu aku mulai memfokuskan tugas kelompok dan berdiskusi dengan Tasya sembari menunggu buku materi.
Sementara di kantin kampus. Diva beserta ketiga temannya Candra, Aryo dan Bagas sedang melahap bakso sembari ngobrol satu sama lain.
"Tumben nih, cewek Loe nggak ikutan makan bareng kesini?" tanya Aryo pada Diva.
"Lagi ngerjain tugas kelompok bilangnya" jawab Diva sembari mengunyah bakso.
"Ohh, pantesan" respon Candra sembari manggut-manggut.
"Tadi juga barusan nyuruh aku makan" cerita Diva dengan ekspresi salah tingkah.
"Keliatan sih kalo kalian saling cinta dan sayang. Semoga kalian langgeng ya" ucap Bagas sembari menyupport Diva.
"Aamiin, makasih Gas. Gue berharap dia yang pertama dan terakhir" ucap Diva sembari membayangkan wajah manis milik Safira.
"Divandraaaa" sapa Nadin memecahkan lamunan Diva tentang Safira.
Diva langsung mendengus kesal,"Mau apa Loe?" jawab Diva ketus.
"Ihh Diva kok gitu" ucap Nadin manja sembari duduk diantara Diva dan Candra.
"Nggak usah cari gara-gara ya" ucap Diva kesal sembari bangkit dari tempat duduknya.
Sementara semua orang mulai mengarah ke Diva dan Nadin. Tapi Nadin semakin menjadi sembari memegang lengan Diva dan bergelayut manja, langsung Diva melepaskan pegangan tangan Nadin kemudian menjaga jarak. Nadin semakin mempererat pegangan lengannya, kemudian Candra memaksa Nadin melepaskan tangannya tapi ditampik. Bagas dan Aryo juga melakukan hal yang sama tapi tetap saja ditampik Nadin.
"Loe-Loe apaan sih? Divandra punya Gue!!!" ucap Nadin dengan lantang.
__ADS_1
"Lepasin nggak!!!!" pinta Diva mulai emosi dengan sikap Nadin dan melepaskan genggaman tangan Nadin.
"Gue nggak akan nglepasin Loe demi pacar Loe. Cewek Loe aja nggak ada cantik-cantiknya sama sekali" cibir Nadin.
Diva berhasil melepaskan tangan Nadin lalu mendorongnya," Loe tahu apa soal dia? Loe tahu apa soal hubungan Gue dengannya?? Loe kesini menambah masalah dalam hubungan Gue dan Safira!!" balas Diva terdengar emosi,"Gue nggak respon perasaan Loe karna Gue sudah punya cewek. Kenapa Loe masih aja maksa" ucap Diva sangat marah.
Tampak dari jauh Marinka dan Deby melihat Diva sedang emosi dengan Nadin, lalu mereka menuju kantin untuk melerai keduanya.
"Hehh! Muka tembok!!!" panggil Deby pada Nadin,"harusnya Loe sadar diri, bahkan harus terima kenyataan bahwa memang Divandra sudah milik oranglain" maki Deby tanpa ampun.
"Div, mending Loe dan ketiga temen Loe pergi dari sini sebelum Nadin makin gila. Gue yang urus Nadin" perintah Marinka pada Diva.
Diva mengangguk dan mengikuti perintah Marinka."Thanks Ka, urusin baik-baik temen busuk Loe itu" balas Diva masih terdengar emosi.
Marinka hanya mengangguk dan mendekati Nadin,"Loe..." tunjuk Marinka kearah Nadin,"masih belum kapok merusak kebahagiaan oranglain. Sudah sampai mana? Berhasil nggak?" Marinka melanjutkan ucapannya sembari mendorong pundak Nadin dengan kesal.
"Loe masih belum puas menghancurkan hubungan seseorang?" ucap Deby dengan nada emosi.
"Terserah Gue lah, kenapa kalian sewot?" balas Nadin dengan ekspresi menantang.
"Karna Loe... hubungan Gue dan mantan gebetan jadi renggang" ucap Deby,"dan karna Loe juga. Hubungan Marinka dengan cowoknya putus!!!!" sambung Deby dengan nada emosi.
"Seharusnya, dari kejadian itu Loe ambil hikmahnya. Bukannya malah makin menjadi" Deby melanjutkan ucapannya.
"Menjadi gila" sambung Marinka sembari menertawakan Nadin.
Nadin semakin emosi lalu ingin membalas caci maki dari Deby dan Marinka dengan menampar mereka, tapi tangan Deby dengan sigap langsung menahan tangan Nadin yang ingin mulai menampar mereka.
"Ringan sekali tangan cantik Loe yang penuh warna itu" cibir Deby sembari melirik kuku warna warni Nadin.
Marinka mendorong kasar pundak Nadin,"Loe hidup nggak guna banget ya. Loe itu serakah! Harusnya Loe sadar kenapa semua orang nggak mau temenan sama Loe" ucap Marinka dengan kata-kata menohok.
"Loe nggak perlu ikut campur. Gue mau naksir siapa aja bukan urusan kalian. Termasuk Divandra!!" balas Nadin dengan ekspresi menantang.
"Tapi sayangnya Divandra tidak pernah membalas perasaan Loe Sayanggg" ledek Deby.
Nadin sangat emosi lalu mendorong Deby sampai terjatuh, Deby mencoba untuk bangkit tapi Nadin menendangnya dan menjambak rambut Deby tanpa ampun. Marinka shock melihat Deby mendapatkan perlakuan tak menyenangkan dari Nadin.
Lalu Marinka menarik tangan Nadin untuk menghentikan perbuatan begisnya.
"Loe apa-apaan Begooo!!"marah Marinka menyerang Nadin dengan menjambak rambutnya,"Loe pikir dengan menjambak dan menendang Deby, orang-orang yang liat akan simpatik dengan Loe? Loe itu wanita jahanam!!!" cerocos Marinka terlihat emosi yang masih menjambak rambut Nadin, terlihat Nadin menyernyit kesakitan.
Kejadian tersebut membuat orang-orang sekitar yang melewati koridor kampus mengerumuni mereka.
"Stop!!!" ucap seseorang yang tak lain adalah Boris dan Maron saat melewati depan ketiganya melerai pertengkaran tersebut.
Boris mengamankan Nadin, sementara Maron mengamankan Marinka.
Marinka melepaskan kegiatan menarik rambut Nadin, sementara Deby berusaha berdiri tapi di sekujur tubuhnya masih merasakan kesakitan.
"Thanks, Gue nggak kenapa-kenapa. Temen Gue yang kesakitan" ucap Marinka pada Maron sembari menunjuk kearah Deby.
Maron mengangguk dan berjalan kearah Deby.
"Gue bantu Loe bangun..." ucap Maron sembari membantu Deby bangun.
"Ssshh" rintih Deby menahan sakitnya.
"Udah, pelan-pelan aja berdirinya" ucap Maron lagi sembari memapah Deby.
"Cemen kalian! Awas aja, tunggu pembalasanku!" ucap Nadin sembari dengan nada mengancam lalu tak lupa memberi jari tengah kearah Marinka dan Deby lalu meninggalkan mereka.
__ADS_1
Melihat manusia bar-bar di depan mata, Boris hanya menggelengkan kepala saja lalu membantu Maron memapah Deby. Marinka ikut di belakang ketiganya.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇