Cinta Sempurna

Cinta Sempurna
Bab 7


__ADS_3

Minggu pagi memang waktunya untuk bersantai ria setelah beberes rumah dan memasak Zupa Soup untuk sarapanku dan kedua orangtuaku sebelum pergi luar kota untuk acara seminar, seperti pagi ini aku sedang mendengarkan lagu kesukaanku. Yang pasti ADA BAND dong. Ku setel lagu berjudul MIMPI. Tepat di putaran kedua, sang vokalis mengulang lagi liriknya lalu ku ikuti "Rona merah langit pagi, bagai tersipu malu. Melihat tingkahku sedang tergila-gila kepadamu. Mentari mulai menampakkan, sinar keindahan. Andai rasa penasaran ini berakhir dengan bahagiaaaa."


     Memori otakku flashback jaman masih awal-awal naksir Divandra. Aku sering melihatnya saat mengikuti kegiatan PMR, tetapi belum mengetahui namanya. Karena sering jaga piket di UKS.


Suatu hari aku yang tergesa-gesa masuk sekolah karena gerbang mau ditutup satpam. Tiba-tiba terjatuh yang disebabkan tali sepatu lepas. Satpam sekolah segera membantuku untuk bangun dan menalikan tali sepatuku lagi.


       "Nggak apa-apa kan Neng Fira?" tanya Pak Wiro Satpam sekolah.


       "Nggak apa-apa Pak" senyumku sembari bangkit.


         "Lain kali hati-hati ya neng. Lhoh, Mas Rangga kemana Neng?" ucap Pak Wiro lagi.


         "Siap Pak, terima kasih. Masih tidur mungkin Pak" anggukku langsung berjalan ke halaman sekolah.


Pak Wiro melihat jam sembari geleng-geleng kepala.


Tanpa sadari aku merasa lutut dan siku terasa sakit.


         "Berdarah tuh" ucap cowok yang berjalan sebelahku,"kenapa?" tanyanya.


        "Eh, oh iya benar. Pantesan rasanya sakit sekali. Tadi jatuh" ucapku.


       "Ayo ikut aku bentar ke UKS, harus diobatin tuh biar nggak infeksi" ucap si cowok tersebut.


Aku menurut saja karena memang sakit sekali. Sesampainya di UKS, cowok tersebut dengan cekatan mengeluarkan obat dari kotak P3K.


Aku yang dari tadi berdiri di depan pintu UKS akhirnya di suruh duduk di ranjang. Aku mengangguk dan menuruti perintahnya. Langsung cowok itu mengobati dan terakhir diberi plaster pada bagian siku dan lutut ku.


           "Sshh, aduhh. Perih banget" rengekku tanpa disadari.


Cowok tersebut hanya tersenyum saat mendengarkanku merengek kesakitan,"Lain kali jangan berangkat kesiangan. Telat deh" ucapnya."satu lagi pesanku, jangan lari-lari" dia melanjutkan.


            "Iyaa, karna cowokku sih aku jadi telat" ceritaku.


           "Intinya hati-hati aja" responnya dengan tersenyum lagi.


     Entah kenapa saat melihat dia rasanya nyaman di hati. Padahal posisi aku masih berpacaran dengan Rangga. Bahkan selama aku berpacaran dengannya aku tidak pernah sedikit pun diperlakuan seperti ini cowok. Tanpa sadari juga hatiku menjadi berdebar kencang, sadar aku sedang salah tingkah dengan orang yang tak tepat. Aku langsung saja izin ke itu cowok untuk kembali ke kelas lagi dan tak lupa mengucapkan terima kasih.


  Lamunanku buyar, aku menyadari dulu sebelum Rangga dan Fay berselingkuh. Aku hampir saja naksir Diva. Tapi rasa itu sempat hilang dan tumbuh lagi saat dipertemukan sekelas padanya di kelas XI ini.


      "Ya, aku bahagia menjadi bagian dari hidupnya"ucapku yang tak bisa menyembunyikan senyumku pagi ini.


Saat lagu selanjutnya berputar, terdengar dari bawah suara teman-temanku. Fay, Falen dan Fiki.


      "Hayyyy" sapaku dari balkon kamar atas.


Kemudian segera menuruni anak tangga dan cepat-cepat menyambut mereka.


    "Akhirnya kalian main kesini lagi ya" aku langsung memeluk mereka bertiga,"masuk yuk. Kita ke kamarku aja" ajakku pada mereka.


    "Kamu sendirian di rumah Fir?" tanya Fiki yang berjalan di belakang Falen dan Fay.


    "Iya Fik, biasalah anak tunggal nggak pake pembantu dan orangtuaku pergi semua" aku menjelaskan.


     "Iya ya Fir, tapi kamu merasa nggak kesepian seperti yang kulihat Fir" ucap Fiki.


Aku tersenyum," Walau aku sering di rumah sendiri tapi aku membuat rumah supaya tidak merasa sendiri."


    "Wah, ada hikmahnya juga kita samperin ke rumah Fira minggu ini" Falen menimpali.


      "Memang kalian darimana sih?" tanyaku.


      "Ya kan memang kita mau ke rumahmu Minggu ini Fir" Fay menerangkan,"bukannya kemarin kamu cerita kalo hari ini kamu di rumah sendirian?" Fay mengingatkanku.


     "Oh iya, aku ingat Fay " jawabku sembari menyengir kearah Fay.


Falen dan Fiki langsung tepok jidat karena aku melupakan cerita kemarin siang.

__ADS_1


Akhirnya kita melakukan nobar, karaoke, sampai saling mencurahkan hati masing-masing.


     "Senangnya ada kalian, aku jadi ada temannya di rumah" girangku.


      "Udah lama sekali nggak nglakuin gini di rumah Fira" ucap Fiki.


       "Kan sekarang Fira sibuk ngedate sama ayang Diva" cibir Falen dengan ekspresi lucu.


Aku dan Fay tertawa mendengar cibiran Falen yang memperlihatkan ekspresi lucu.


     "Oya, Diva nggak kesini Fir?" tanya Fay.


      "Futsal dia sama Rio dan Dimas " jawabku, "lagian mana berani Diva kesini sendirian kalo nggak ada ortuku di rumah" lanjutku.


     "Dia memang anak baik Fir, nggak berani macem-macem" ucap Fiki.


Aku mengangguk setuju,"Memang Fik, kenapa aku jatuh hati sama dia" ucapku dengan perasaan jujur.


     "Cieee Firaaa" ledek Fay melihatku salah tingkah.


Kini giliran Falen dan Fiki menertawakanku. Langsung pipiku memerah seperti kepiting rebus.


                          ◇◇◇◇◇◇◇◇◇


      "Sayang, kamu sudah ada gambaran belum sebentar lagi mau kuliah kemana?" tanya Diva sembari menyantap batagor di kantin sekolah.


      "Belum ada gambaran" ucapku bimbang,"kalo kamu?" tanyaku balik.


       "Sepertinya ambil jurusan keperawatan aja Yang" jawab Diva mantab,"Tapi entah lah, liat dulu kedepannya gimana? Disisi lain aku nggak mau membebani Ibuku dengan sikon ekonomi yang seperti ini" cerita Diva.


     "Ya semenjak Ayah meninggal, Ibu selalu banting tulang cari nafkah untuk aku bisa lanjut sekolah dan kakakku ada yang masih kuliah. Kadang kakakku pertama juga memberi sedikit rejeki untuk kebutuhan kami" cerita Diva lagi.


Mendengar cerita Diva, hatiku sakit. Gimana tidak? Dia anak terakhir di keluarganya. Dia bersusah payah untuk bisa melanjutkan sekolah. Sementara aku, orangtua masih lengkap dan pekerja semua pula. Ditambah aku juga anak tunggal. Pasti semuanya untukku seorang. Aku beruntung orangtuaku mendukung semua yang aku lakukan di sekolah, pendapatku tentang ini itu termasuk hubunganku dengan Diva.


Mereka memberi pintu lebar untuk menyambut Diva.


  "Terima kasih Sayang untuk dukungannya. Pasti aku akan berusaha" senyum Diva penuh optimis.


   "Jangan kecewa in aku ya Sayang"pintaku.


Diva mengangguk sembari tersenyum,"Aku ingin kejar beasiswa supaya mendapat masuk kuliah tanpa biaya" ucap Diva optimis.


   "Semangat Sayang, kamu bisa" aku memberi support.


Malam harinya, aku merenung bukan tentang hubunganku dengan Diva tapi semangatnya Diva untuk meraih apa yang dia cita-citakan. Aku bimbang ingin mengambil jurusan apa saat kuliah nanti.


Kuraih hp di meja belajarku. Mencari nomer ketiga temanku untuk mendiskusikan hal tersebut


     "Guys, kalian udah kepikiran belum sih 1,5 tahun lagi kuliah dimana dan jurusan apa?" tanyaku pada mereka.


     "Hahh, nggak salah nih tiba-tiba kamu bertanya mau kuliah dimana?" kaget Falen.


     "Masih lama, udah lah fokus ke Ujian Kenaikan Kelas dulu. Sebulan lagi tauk" sambung Fay.


    "Ya bagus dong, berarti usulan Fira mendorong kita buat mikir masa depan. Kita memang harus mikir jauh-jauh hari nanti kuliah di jurusan apa" Fiki menyetujuiku.


    "Nah itu, gara-gara tadi siang di kantin Diva nanyain aku mau kuliah mana. Padahal aku belum ada gambaran mau kuliah mana" ceritaku,"ya dari background ortu ku yang sama-sama pengajar. Apakah aku harus mengikuti jejak mereka?" aku meminta pendapat pada mereka.


   "Keren bener pemikiran Diva, mikirin masa depan jauh-jauh hari. Kuliah aja di pikirin, apalagi masa depan sama Fira" celetuk Falen sambil tergelak dalam videocall.


    "Pantesan ya semenjak jadian sama Diva vibes mu agak beda Fir" sambung Fiki ikut tertawa.


    "Woyyy, apaan sih ini kalian. Masih lama juga mikir sampe sana" balasku tersipu.


    "Tapi bener lho Fir, aku lihat sendiri" Fay meng'iya'kan ucapan Falen dan Fiki.


     "Ciee Fira salah tingkah..." ledek mereka bertiga.

__ADS_1


      "Aku matiin nih videocall nya" ancamku dengan memasang ekspresi cemberut dengan menyembunyikan salah tingkah.


Mereka bertiga langsung menertawakanku.


     "Hobi bener bikin aku salting ya" omelku lagi.


Tampak Falen dan Fay tertawa saat melihatku mengomel.


     "Tapi setiap orang punya pandangan masa depan yang berbeda-beda. Ada yang dari kecil cita-citanya apa kerjaan nggak sesuai jurusan kuliah" ucap Fiki mendadak serius dengan bahasanku. 


Saat sedang seru membahas tentang jurusan perkuliahan, tiba-tiba ada notif panggilan telepon masuk dari "My Divandra ❤".


Aku terkejut lalu menyudahi obrolanku dengan mereka. "Kita lanjut besok deh di kelas. Janji" ucapku.


    "Why??" tanya Fiki polos.


    "Ihhh, kayak nggak tau aja sih" jawab Falen sambil tergelak.


Aku menjulurkan lidah ke mereka bertiga,"Byeee."


Langsung kuangkat panggilan masuk dari Diva. Belum sempat menjawab sudah di respon"Kalian kalo videcall an suaranya kenceng banget. Sampe bawah tauk."


Deg!! "Kok Diva tau ya" batinku dengan perasaan salah tingkah.


     "Turun gih, aku tunggu di ruang tamu ya" ucap Diva dari dalam telepon.


'Whattt? Diva kesini, kok aku nggak tau sih' batinku dengan perasaan tidak karuan.


    "Oke, jangan pulang dulu. Aku mau ganti baju dulu" ucapku dengan perasaan panik.


     "Siapp Putri Safira, Pangeran Divandra menunggu di ruang tamu" Diva tiba-tiba menggombal.


     "Dihh, gombal" cibirku dengan perasaan salah tingkah lalu mematikan telepon dari Diva.


Segera ku pilih baju yang layak untuk menemui tamu specialku malam ini. Sekitar 5 menit aku langsung menuju ruang tamu. Aku lihat penampilan Diva malam ini rapi sekali, jadi makin terpesona.


Ternyata Diva datang ke rumah yang sudah ditemani Mama Papa ku.


        "Kok nggak bilang-bilang kalo mau kesini" protesku melihat Diva sedang mengobrol dengan kedua orangtuaku.


         "Dihhh, siapa juga yang mau ngapelin kamu" cibir Diva,"aku kesini ketemu Papa mu kok. Iya kan Om?" lanjut Diva menoleh kearah Papaku.


   Papa membalas dengan anggukan sembari tersenyum jahil kearahku,"Modus dia aja bilang gitu" bisik beliau membuatku tertawa geli.


        "Hmm.... yaudah kalo mau ketemu Papa aku naik lagi nih" ucapku pura-pura cemberut.


         "Safira kok begitu..." ucap Mama ku.


         "Ihh, habis Diva nyebelin Ma" balasku sembari menjewer pelan telinga Diva.


Yang aku jewer hanya tersenyum jahil kearahku,"Jangan lupa, aku calon menantu Mama Papa kamu lho. Kesayangan pula" Diva senang karena dibela kedua orangtua ku.


       "Kan masih lama. Kita masih kelas XI SMA Divandraaaa" ucapku sembari dalam hati mengaminkan doa Diva.


         "Cepet kok. Kita SMA cuman tinggal 1,5 taun lagi. Ditambah kuliah 4 tahun plus kerja 2-3 tahun" senyum Diva puas.


"Ihhh, rese bener dia lama-lama. Menang banyak" batinku menggerutu tapi hati senang.


       "Sebenarnya Papa yang mengundang Diva datang kesini. Karena ada job sambilan asisten pribadi untuk membantu koreksi ujian mahasiswa-mahasiswa Papa di kampus" cerita Papaku akhirnya.


      "Ohh..." jawabku singkat, "Ha? Jadi asisten pribadi?" kejutku.


     "Iya, Papa mu nawarin aku kerja sambilan. Lumayan kan bisa aku tabung dan bantu keuangan ibuku" angguk Diva memberi penjelasan.


     "Alhamdulillah" ucapku syukur mendengar berita baik tersebut.


                       ◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇

__ADS_1


__ADS_2