
Hari kelulusan tiba. Hari mendebarkan menunggu detik-detik kelulusan yang akan diumumkan setengah jam lagi oleh Bu Nita, Guru BK. Yang kebetulan Pak Batara selaku Kepala Sekolah kami berhalangan hadir. Tampak semua para Guru lainnya juga berbaris rapi di tempat teduh.
Kami semua sudah berkumpul di lapangan sembari menunggu pengumuman dibacakan. Kini Bu Nita sudah berdiri di mimbar lapangan upacara untuk memberi sambutan"Selamat Pagi anak-anakku Sayang di SMA Manunggal Jaya. Saya berdiri disini mewakilkan Pak Batara sebagai Kepala Sekolah akan mengumumkan hasil ujian kalian semua" ucap Bu Nita memberi sambutan,"sebelumnya kalian ingin lulus nggak sih? Atau masih betah sekolah disini?" Bu Nita melanjutkan.
"Ingin lulus Buuuuu" respon kami semua.
"Baik, Saya umumkan untuk kelulusan tahun 2013-2014 ini. Dari 456 siswa, yang lulus...." ucap Bu Nita.
Aku, Diva, Fay, Rio, Fiki, Falen dan Dimas saling berpegangan tangan satu sama lain.
"Yang lulus sejumlah 456 siswa. Selamat!! Kalian LULUS 100% anak-anakku" Bu Nita melanjutkan ucapannya dengan senyuman merekah.
Langsung aku, Diva, Fay, Rio, Fiki, Falen dan Dimas serentak berpelukan,"Yeyyy, lulus" seru Falen.
"Alhamdulillah" ucapku dan yang lain juga
Setelah memberi selamat satu sama lain, kami tak lupa juga mengucapkan terima kasih kepada para Guru pengampu mata pelajaran dengan cara bersalaman. Setelah kami bersalaman dengan para Guru aku dan semuanya merayakan kelulusan sederhana di kantin SMA.
"Welcome to realita guys" ucap Rio,"semoga setelah ini kita diterima di Universitas impian masing-masing" doa Rio.
"Aaaamiiiin" respon kami serentak.
"Oya Div, btw kemarin hasil mendaftar jalur beasiswa berprestasi gimana hasilnya?" tanya Dimas.
"Belum tahu ini, belum ada pengumuman" respon Diva yang terlihat tegang.
"Optimis, aku yakin kamu di terima Yang" support ku untuk Diva.
"Aamiin, terima kasih Sayang" ucap Diva untukku.
"Memang di kelas kita yang ikut daftar beasiswa berprestasi siapa aja?" tanya Diva pada Dimas.
"Setahuku sih. Kamu, Prima, Dani, Laras, Ayu,...." respon Dimas sembari mengingat.
"Nah, justru punya Ayu itu dikasihkan Diva" ceritaku meralat balasan Dimas,"ada hal lain yang membuat dia tidak bisa berkuliah tahun ini" aku melanjutkan ceritaku.
"Kok bisa?" respon Dimas terkejut.
"Disobek sama Rangga" ceritaku lagi dengan ekspresi sebal dan Diva mengangguk tanda membenarkan ucapanku.
Dimas hanya merespon manggut-manggut saja,"Gue juga heran sama Rangga. Diva diajakin berantem, kemarin sebelum ujian aku juga lihat dia ajak berantem Rio" cerita Dimas.
"Whattt???" aku dan Diva terkejut
__ADS_1
Dimas mengangguk lalu menceritakan kejadian yang sebenarnya saat Rangga mengajak bertengkar Rio.
Suaraku dan Diva mengangetkan Rio dan Fay yang sedang berbincang-bincang.
"Fir, Div. Apaan sih, kalian berisik" omel Fay.
Dimas langsung menutup mulutnya, sementara aku dan Diva hanya melempar cengiran saja pada mereka. "Sorry gaes, ganggu kalian mojok" ucapku sembari melempar tanda V pada Fay dan Rio
Diva tertawa,"Tenang Gaes, habis ini aku dan Fira juga kencan. Nggak mau kalah sama kalah" ucap Diva sembari menjulurkan lidah kearah Rio.
"Cieeee......" sorak Fay, Falen, Fiki, Rio dan Dimas.
Aku dan Diva tersenyum tersipu malu, lalu Diva tersenyum kearahku yang selalu membuat jantungku berdebar kencang.
Saat kami semua sedang berkumpul di kantin, ada seseorang yang menghampiri kami. Tak lain adalah"Rangga..." kejut kami serentak.
Rangga tersenyum menyapa kami, "Hay kalian. Maaf ya merusak acara kumpul-kumpul semua", ucap Rangga membuka suara.
Lalu memeluk Diva, Rio, dan Dimas sebagai tanda permintaan maaf. Rangga juga minta maaf padaku, Fay, Fiki dan Falen karena selama sekolah sering membuat onar.
"Gue berdoa, kalian sukses semuanya ya Guys" ucap Rangga terdengar sangat tulus,"maafin Gue sebesar-besarnya selama ini. Semoga kalian berkenan maafin Gue" Rangga melanjutkan ucapannya.
"Gue dan Safira udah maafin Loe jauh-jauh hari sebelum Loe minta maaf" ucap Diva penuh senyum,"semoga dengan ini Loe bisa berubah 100% jadi lebih baik" Diva melanjutkan ucapannya.
"Sama-sama" angguk Diva membalas pelukkan hangat Rangga,"Gue juga minta maaf sering bikin Loe bonyok. Haha" Diva melanjutkan ucapannya dengan diakhiri tawa.
Aku lega, tidak melihat kebencian pada Rangga sama sekali dimata Diva.
Lalu pandangan Rangga beralih padaku dan Fay.
"Fir...Fay....Gue minta maaf ya. Udah sempat menorehkan luka di hati kalian" ucap Rangga.
Aku dan Fay mengangguk serentak.
"Seperti yang disampaikan Diva tadi. Gue maafin Loe jauh-jauh hari sebelum Loe minta maaf" ucapku dengan tersenyum.
"Nggak apa Ngga, Gue juga udah maafin Loe. Semoga dengan ini Loe bisa jadi lebih baik lagi" ucap Fay dengan tersenyum juga.
Suasana siang ini bahagia bercampur haru, dengan besar hati Rangga datang pada kami untuk meminta maaf. Pemandangan indah yang pasti sangat membekas dihati.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Ternyata, siang ini setelah acara pengumuman kelulusan. Diva mengajakku ketempat kafe dengan view yang bagus.
__ADS_1
Taman dipinggir danau dengan suasana yang memanjakan mata.
"Yangg...." kagumku setelah sampai di tempat yang Diva janjikan,"tempatnya keren."
Diva tersenyum saat aku mengagumi tempatnya,"Kamu suka?" tanya Diva.
Aku mengangguk mantab,"Suka lah Yang" ucapku yang masih mengedarkan pandangan ke sekelilingnya,"jadi ini yang kamu maksud hadiah kelulusan?" tanyaku pada Diva.
Diva menggangguk dan tersenyum kearahku,"Iya Sayang" jawab Diva,"maaf ya, aku cuman bisa kasih tempat kayak gini Yang dan ini" ucap Diva sembari memberikan kado special untukku.
"Kok kamu bilang gitu sih, aku suka tauk Yang tempatnya" senyumku,"ah, apa ini?. Oya lupa, aku juga sudah menyiapkan sesuatu yang special buat kamu"ucapku sembari membuka tas ranselku.
Setelah itu, kami membuka kado pemberian masing-masing. Aku mendapatkan slingbag dengan warna pink abuabu, sementara Diva kuberi kado jam tangan dengan hiasan foto kami di dalam jam tersebut.
"Sayang, ini jam tangannya kemahalan" ucap Diva dengan ekspresi terharu.
Aku tersenyum,"Buat orang special, apa sih yang nggak? Kamu orang yang selalu bilang IYA saat aku mau apa saja Yang" ucapku yang tanpa sadari mengeluarkan airmata haru juga,"terima kasih Divandra. Orang setulus kamu akan terkenang dihati" aku melanjutkan ucapanku.
"Sebentar lagi kita masuk jadi mahasiswa dan masuk usia dewasa. Aku ingin hubungan ini terjaga sampai aku siap halalin hubungan kita Yang" kata Diva sungguh-sungguh,"entah nanti kita kuliah dan kerja dimanapun. Kamu tetap tersimpan dihatiku. Jaga hati ya" pinta Diva.
Aku mengangguk,"Pasti aku jaga hati buat kamu, dihatiku udah full sama namamu. Satu lagi, aku nunggu kamu menemui kedua orangtuaku" ucapku.
Diva mengangguk,"Aku janji Sayang". Lalu Diva tiba-tiba memelukku sangat erat,"Hal yang aku takutkan datang. Berpisah dengan orang tersayangku" ucap Diva yang masih memelukku.
Tanpa terasa, aku menitikkan airmata."Semua akan baik-baik saja Sayang, kamu jangan khawatir" bisikku sembari menenangkan Diva
Diva melepaskan pelukannya, tangannya yang besar memegang wajahku"Terima kasih Sayang" sembari wajahnya Diva didekatkan denganku.
Jarak bibir kami sangat dekat, lalu aku mendorong tubuh Diva."Jangan lakukan itu Yang. Aku nggak siap" ucapku jujur lalu memalingkan wajah yang sudah merasakan panas.
"Sorry Yang..." balas Diva melepaskan tangannya dari wajahku,"sorry banget aku nyaris kelepasan" ucap Diva merasa bersalah dan wajahnya juga memanas. Yup, aku dan Diva hampir saja berciuman. Tapi aku menolaknya, karena Diva pasti minta lebih dari itu.
Lalu kami terdiam lama dan merasa canggung, tak lama kemudian perutku berbunyi pertanda lapar datang. Aku dan Diva tertawa.
"Udah ah Yang, makan aja yuk" ajakku yang masih tertawa sembari menarik tangan Diva.
Terdengar Diva masih tertawa terpingkal-pingkal,"Baru juga mau dicium, malah jadi laper gini" ucap Diva dengan ekspresi geli,"Untungnya tadi aku bisa menahan nafsuku. Coba nanti kalo udah jadi suami istri aku terkam kamu Yang" bisik Diva genit.
Aku melemparkan kepalan tangan kearah Diva,"Aku kasih ini dulu yaa" balasku dengan ekspresi galak.
Bukannya Diva ketakutan, malah dia semakin tertawa.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
__ADS_1