Cinta Sempurna

Cinta Sempurna
Bab 13


__ADS_3

Pagi ini saat aku dan Diva baru saja sampai sekolah. Kami jalan menuju kelas, otomatis melewati ruangan BK. Kebetulan Bu Nita sedang di depan sembari memantau murid-murid yang lain.


"Pagi Bu..." ucapku dan Diva serentak menyapa Bu Nita penuh senyum lalu mencium punggung tangan beliau dengan hormat.


"Pagi juga Safira...Divandra..." balas Bu Nita penuh senyum juga.


Lalu Bu Nita menghampiri kami, "Divandra" panggil Bu Nita.


"Iya Bu, ada apa?" respon Diva langsung.


"Masuk ruangan saya dulu, nanti bicaranya di dalam" ucap Bu Nita mempersilakan kami masuk.


Aku dan Diva mengangguk lalu masuk ke ruangan beliau.


"Begini Divandra, saya akan menawarkanmu pendaftaran jalur beasiswa berprestasi. Jika berminat besok kamu bisa langsung mendaftar" ucap Bu Nita sembari memberikan brosur dan form pendaftarannya kepada Diva.


Ekspresi wajah Diva tampak bahagia saat menerima brosur dan form pendaftaran di kampus yang dia idamkan.


"Alhamdulillah, kalo memang sudah rejekinya pasti Allah kasih jalan" ucapku ikut tersenyum.


Ekspresi Diva benar-benar bahagia,"Terima kasih Bu" ucap Diva.


"Sama-sama Divandra, semoga cita-citamu tercapai ya" doa Bu Nita.


"Aamiin Bu..." jawab Diva.


"Oya, kalo Safira mau ambil kuliah jurusan apa?" tanya Bu Nita beralih padaku.


"Insya Allah, Saya ambil jurusan Kesehatan Bu" ucapku mantab.


"Jangan lupa berdoa dan belajar supaya apa yang kalian cita-citakan terkabul" support Bu Nita.


"Aamiin Bu, terima kasih doanya dan support nya Bu" ucapku.


Melihat jam hampir menunjukkan pukul 07.00, kemudian aku dan Diva pamit menuju kelas


Tapi saat keluar ruangan BK, tampak Rangga melirik kami dengan tatapan tidak suka.


"Apa ini?" ucap Rangga sembari mengambil form pendaftaran dan brosur dari tangan Diva.


Kali ini Diva tidak melawan karena memang posisinya sangat susah untuk merebut form pendaftaran dan brosurnya. Aku yang akan merebutnya kembali juga tidak bisa, karena ditahan Diva.


"Balikin nggak?" pinta Diva dengan nada pelan.


Rangga tampak mengacuhkan permintaan Diva."Ohh form pendaftaran" ucap Rangga sembari membaca form tersebut dan membolak balikkan halaman selanjutnya.


"Rangga, balikin!!!!!!"tegurku dengan nada sedikit keras.


Rangga masih menulikan pendengerannya, form tersebut masih dibolak-balik halamannya. Kemudian dia tertawa"Haha, apa?? Pendaftaran beasiswa???" Suara Rangga terdengar tertawa meledek,"ehh Fira. Long time no see" ucap Rangga lagi sembari menyolek pipiku.


"Kembalikan Rangga!!!!!!!" ucapku tak terima sembari menepis tangan Rangga.


"Hahaa, MISKIN. Masa daftar kuliah pake beasiswa" ucap Rangga menghina Diva sembari melempar form pendaftaran tersebut ke wajah Diva hingga sobek.


"Upsss, sobek. Sorry SENGAJA" gelak Rangga semakin meledek Diva.


Kali ini Diva habis kesabaran, ditampar pipi Rangga sampai memerah."Gue diem karna ocehan Loe hanya angin lalu. Tapi Loe!!!!" marah Diva sembari menunjuk Rangga,"Loe merusak mimpi Gue. Cita-cita Gue!!!" Diva melanjutkan ucapannya yang terdengar emosi sembari memberi tinjuan kearah Rangga.


Dalam sekejap, Rangga tak berkutik.

__ADS_1


"Dan satu lagi. Mendaftar menggunakan beasiswa bukan berarti orang tersebut miskin" tambah Diva dengan nada ketus.


Bu Nita keluar ruangan karena mendengar keributan persis di depan ruangannya.


"Rangga!!!!! Ikut Saya keruangan BK" perintah Bu Nita terlihat marah sembari menuntun Rangga masuk ruangan BK.


Sementara Diva terlihat shock saat mengetahui form pendaftarannya sobek di depan mata,"Harapanku sirna, nggak ada lagi kesempatan untuk mendaftar jalur beasiswa berprestasi lagi" ucap Diva terdengar putus asa.


"Masih banyak kesempatan untuk bisa mendaftar di jalur itu Yang" ucapku memberi semangat pada Diva sembari memeluknya.


"Tapi Yang, itu kampus yang aku idamkan selama ini" ucap Diva masih terdengar sedih.


"Yang, dengerin aku" aku mulai memberi penjelasan,"setahuku dikampus itu membuka kesempatan 2-3 kali untuk mendaftar jalur beasiswa berprestasi, kamu jangan pantang menyerah. Mungkin ini kamu gagal mendaftar, tapi untuk kesempatan berikutnya pasti kamu lolos" ucapku memberikan semangat untuk Divandra.


"Terima kasih Sayangku untuk support nya" senyum Diva akhirnya.


"Sama-sama Sayang"aku mengangguk lalu tersenyum,"yuk masuk kelas. Kita pasti ketinggalan banyak materi nih" ajakku pada Diva


Diva mengangguk dan berjalan tepat disebelahku.


◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇


Rejeki tidak kemana, tepat 3 minggu setelah insiden form pendaftaran di sobek Rangga. Diva mendapatkan kesempatan lagi untuk mendaftar jalur beasiswa ber prestasi, karena ada teman sekelas kami yang mengundurkan diri sebagai peserta calon mahasiswa baru karena ada pertimbangan untuk kuliah ditahun ini.


"Aku tidak tahu lagi untuk mendaftar kuliah di tahun berapa, aku mau fokus kerja dan merawat ibuku yang lagi sakit keras" cerita pilu dari Ayu teman sekelas kami,"makanya form pendaftaran ini buat Diva saja. Aku tau kok dikelas ini yang mendaftar orang-orang terpilih, tapi sepertinya Diva sangat membutuhkan juga. Oya, pendaftarannya di perpanjang sampai akhir bulan. Mendaftarlah" ucap Ayu sembari memberikan form pendaftaran dan brosurnya.


"Serius ini buat aku???" ucap Diva saat menerima form pendaftaran dan brosur itu dengan tangan bergetar.


Ayu mengangguk dan tersenyum,"Ambillah kesempatan itu Div. Semoga cita-citamu jadi perawat berhasil ya" ucap Ayu tulus.


"Yu, makasih ya. Semoga kamu sukses selalu dan ibumu lekas sembuh" ucap Diva tersenyum sembari menberikan doa untuk ibunya Ayu.


"Makasih ya Yu, semoga ada rejeki untuk kamu melanjutkan kuliah" ucapku juga.


Ayu tersenyum padaku,"Sukses juga buat Fira" ucap Ayu.


Setelah itu Ayu meninggalkan kami berdua.


"Alhamdulillah Ya Allah...." ucap Diva sembari sujud syukur.


Aku tersenyum dan bersyukur, akhirnya Diva bisa mengejar cita-citanya.


"Sayanggg, aku masih dapat kesempatan" girang Diva sembari memelukku.


Aku tersenyum melihat Diva bisa ceria lagi,"Alhamdulillah Yang, semoga lolos ya" doaku.


"Aamiin..." ucap Diva mengamini doaku.


"Kamu mau apa? Aku traktir hari ini" ucap Diva penuh senyum.


Aku bergantian tertawa saat Diva mengatakan itu,"Bukannya selama ini kamu yang traktir aku yaa".


Diva mengingat dan berakhir tertawa,"Oh iya juga Yang" ucap Diva sembari nyengir,"Sayang, hari ini aku akan mengenalkanmu pada seseorang" Diva melanjutkan ucapan.


Deg! Perasaanku tak karuan lalu aku menepis,"Jangan su'dzon dulu Fir. Mungkin Kakak-kakaknya atau saudaranya yang lagi nginep di rumahnya" batinku berpositive thinking.


"Kok bengong..." ucap Diva membuyarkan lamunanku " udah ikut saja" Diva menggandeng tanganku.


Aku langsung mengangguk dan mengikuti Diva dari belakang.

__ADS_1


Sesampainya di tempat yang Diva maksud, aku berhenti saat mengetahui tempat yang dimaksud Diva adalah pemakaman umum.


"Ayo Yang" ajak Diva.


Aku mengangguk dan ikut masuk kedalam pemakaman umum tersebut. Sesampainya di makam yang bertuliskan BONDAN PRANA ILYAS kami berhenti lalu posisi kami berubah bersimpuh.


"Ini makam Ayahku Yang" ucap Diva memperkenalkan makam Ayahnya padaku sembari mengusap nisan,"beliau yang memotifasiku untuk ikut kegiatan PMR dan masuk jurusan Keperawatan" cerita Diva dengan mata berkaca-kaca.


Aku mengusap-usap punggungnya sembari memberi kekuatan,"Ayahmu bangga pastinya disana Yang, punya anak sebaik dan sepintar kamu" ucapku yang tanpa sadari juga meneteskan airmata.


Hatiku ikut patah saat Diva menceritakan tentang Ayahnya semasa hidup. Sudah 5 tahun Ayahnya meninggal karena sakit. Dibalik sifatnya yang usil, romantis dan menghargai wanita, sisilain dari Diva sangat rapuh setelah ditinggal Ayah kesayangannya untuk selamanya.


"Yah, Diva kangen. Tapi tenang, Ibu sama Kak Viva dijaga ketat sama Diva dan Kak Dafi. Ayah yang tenang disana yaa" ucap Diva pada nisan sang Ayah,"Yah, Diva udah gede sebentar lagi mau kuliah. Disini Diva bawa cewek cantik, namanya Safira. Kalo Ayah masih ada, pasti Ayah akan meledek si bocil ini kok pacaran hehee" Diva melanjutkan ceritanya.


Aku merasa pipiku merona saat Diva bercerita demikian, di sisilain juga aku sangat beruntung jadi separuh jiwanya dia sekarang.


Lalu aku dan Diva mengirimkan bacaan AlFatihah untuk almarhum Ayah Diva. Setelah itu kami meninggalkan makam lalu Diva mengantarkanku sampai rumah.


Sesampai di rumahku, tampak Diva ingin mampir sejenak ke rumahku.


"Yang.." panggil Diva sembari mencopot helmnya,"aku haus nih. Mampir dulu yaaa" pinta Diva .


Aku tersenyum lalu mengangguk,"Sebentar ya, aku ambilkan dulu minum di kulkas" ucapku sembari masuk ke dalam rumah untuk mengambil air putih dan camilan di kulkas.


Diva mengangguk dan memainkan handphone nya


Setelah mengambil minuman dan camilan, Diva langsung meletakkan handphone nya dan segera menegak air di botol.


"Haus banget ya? Sampe satu liter air habis" tanyaku dengan ekspresi geli.


Diva langsung nyengir dan meletakkan botolnya," Iya Yang, di jalan panas banget" angguk Diva.


Untungnya aku mengeluarkan 2 botol air yang berisi 1 liter, aku tahu Diva memang tidak tahan kalo lagi haus berat.


"Sayang, kamu merasa malu nggak sih pacaran sama aku?" tanya Diva tiba-tiba merasa minder.


"Kenapa kamu tanya begitu Yang, kita udah jalan setahun lho dan kamu menanyakan seperti itu ke aku" jawabku,"sedikit pun dari hati, aku nggak pernah malu berpacaran denganmu" aku melanjutkan ucapanku.


"Kamu itu lucu Yang, padahal bilang sendiri sama Fay kalo suka sama orang udah satu paket kejelekan dan kekurangan. Tapi yang ngomong gitu malah minder" jawabku dengan ekspresi geli,"kamu aja berhasil mencuri hatiku kok. Kenapa malah malu" ucapku jujur.


Diva mengembangkan senyumannya,"Justru aku mulai suka kamu saat kamu masih pacaran dengan Rangga" tawa Diva membuatku ikut tertawa.


"Jangan salah, aku mulai suka kamu saat masih jadi pacar Rangga" jawabku,"habis dia nggak pernah kasih aku perhatian sama sekali" aku melanjutkan.


"Kan sudah aku obatin lukanya" ucap Diva sembari menunjukkan lututku.


Aku tertawa,"Iya, aku waktu itu jatuh terus kamu obatin eh malah hatiku juga kamu obatin".


"Dasarrrr...." senyum Diva sembari mencolek hidungku dengan gemas.


Setelah itu kami terdiam dan mendadak canggung.


"Kenapa ya kita nggak pacaran dari dulu aja" ucap Diva memecahkan kecanggungan kami berdua.


"Dulu kita belum terlalu kenal, ya aku tahu itu kamu anak PMR. Tapi hanya sekilas tahu orangnya bukan namanya" ceritaku,"tapi, saat aku lagi ke UKS kenapa saat itu kamu yang sering jaga" kenangku dengan ekspresi tersenyum.


"Udah takdir Yang. Kita ketemunya di UKS, harusnya kita buat FTV sendiri judulnya Cintaku Nyangkut di UKS" respon Diva yang membuatku tertawa terpingkal-pingkal.


Diva juga tertawa terpingkal-pingkal karena ucapannya sendiri.

__ADS_1


◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇


__ADS_2