
Pagi ini, aku sengaja berangkat lebih pagi karena ingin mencari materi di perpustakaan fakultas.
Buku yang dicari ketemu juga, tapi ada yang mengambil lebih dahulu.
"Saa..fira" kejut seseorang yang tak lain adalah Divandra.
Aku ikut terkejut karena masih pagi bertemu dengannya. Menghindar pun sia-sia, ujung-ujungnya bertemu dia lagi.
Aku tak meresponnya lalu beralih mencari buku lainnya yang hampir sama judulnya.
"Kenapa? Buku ini mau Loe pake?" tanya Divandra sembari menyodorkan buku materi di depanku.
Aku masih acuh dan tak mempedulikannya.
"Boleh kita ngobrol, skripsi Loe sampe mana?" pinta Diva sembari menanyakan skripsiku.
Aku masih diam lalu berjalan menuju meja yang ada laptopku disana. Saat langkah kaki pelan-pelan meninggalkan perpustakaan, tanganku di tahan Diva.
"Lepasin!!" pintaku sembari menepis tangan Diva.
Tapi Diva tetap memegangi tanganku,"Ada yang ingin aku tanyakan" ucap Diva dengan nada halus.
Aku mencoba untuk menarik tanganku,"Sorry, Gue sibuk!!!!" jawabku dengan nada ketus dan yang pasti menahan rasa sakit hatiku.
"Plisss, kali ini saja" pinta Diva dengan memohon.
Aku membuang nafas kasar,"Nggak ada waktu untuk Loe!!!" jawabku sembari menahan airmata,"bukannya Loe udah mutusin Gue!! Mau apalagi sekarang?" ucapku ketus sembari menatap sengit kearah Divandra.
Divandra terdiam beberapa detik lalu menjawab,"Bisa dijelaskan kenapa hubungan kita jadi seperti ini?"
Aku mendengus kesal,"Kenapa Loe baru menanyakan sekarang? Kemana aja kemarin-kemarin" jawabku masih ketus. Walau sebenarnya lidahku sudah merasakan pahit saat berbicara ketus pada Divandra.
"Apa benar WA website Loe dibajak?" tanya Divandra dengan hati-hati.
"Basi!! Baru nanyain sekarang. Udahlah Gue sibuk mau lanjutin skripsi" jawabku sekenanya lalu pergi meninggalkan Divandra yang masih saja mematung di depanku. 'kenapa kamu datang lagi disaat aku sudah membunuh rasa sayangku ke kamu Divandra' batinku dengan perasaan kacau dan pasti aku sudah menangis.
Aku berlari keluar perpustakaan menuju kamar mandi. Sampai di wastafel kamar mandi, aku menangis sejadi-jadinya. Apakah dia sadar kalau perlakuannya ini membuat luka dihatiku, aku membiarkan airmata tumpah sebanyak-banyaknya agar perasaanku jauh lebih lega. Hati yang susah payah move on dari Divandra, tiba-tiba dicuri lagi. Lalu aku mengambil hp dan menyambungkan videocall pada ketiga sahabatku Fiki, Fay dan Falen. Sebelumnya menghapus airmataku terlebih dahulu.
Melihat penampilanku yang acak-acakkan dengan mata sembab, membuat mereka khawatir seketika.
"Fir, kamu kenapa?" kejut Falen dari seberang sana.
"Aku putus dari Diva..." ceritaku yang masih dengan isakkan tangis.
"What?? Putus??" kejut mereka serentak.
Aku mengangguk lalu menceritakan kejadian yang sebenarnya pada mereka.
"Seriusan Loe, pemikiran Diva sedangkal itu?" respon Fiki yang masih tak percaya.
"Nggak tau, aku capek di posisi ini. Udah hampir satu setengah tahun ini kami pisah. Lalu baru saja bertemu dengannya di perpustakaan, kemudian Diva menanyakan tentang hubungan kami" ceritaku yang masih merasa sesak di dada.
"Ya Allah Fir, kok sampai seperti itu. Harusnya Diva percaya dong bahwa kamu tidak memutuskan hubungan" Fay merasa geram dengan ceritaku.
"Entahlah Guys, aku juga nggak bisa banyak berharap dengan hubungan ini" jawabku terdengar lirih.
"Nanti malam, Gue telepon itu anak. Bisa-bisanya nggak percaya sama Loe Fir, pacar sendiri" ucap Fay berapi-api,"Gue ceramahin kalo perlu" Fay menambahkan ucapannya.
Fiki langsung mengangguk,"Nah, aku setuju denganmu Fay. Harus di kasih paham dia" ucap Fiki dengan antusias.
"Terus pelaku pembajakan WA Website mu udah ketangkep?" tanya Falen masih penasaran.
Aku menggeleng,"Belum, tapi feelingku kemungkinan temen sekelasku" ceritaku,"karena di kampus ada yang sengaja ingin merusak hubunganku dan Diva" aku melanjutkan cerita lagi.
"Bentar...bentar...."Fiki memotong ceritaku,"ada yang ingin merusak hubungan kalian? Berarti kemungkinan ada dua orang yang terlibat di dalamnya" tebak Fiki menerka ceritaku.
"Maybe" ucapku singkat sambil mengendikkan bahu,"tapi jujur, aku belum bisa 100% move on dari Diva Guys" ceritaku yang tanpa sadar ada air yang menetes di pipi lagi.
"Tenang Fir, jodoh itu tidak kemana. Sejauh kamu dan Diva terpisah dimanapun berada, kalo kalian berjodoh akan bersatu lagi" hibur Fiki untukku.
Falen dan Fay juga mengangguk membenarkan ucapan Fiki. Kini perasaanku jauh lebih lega setelah menghubungi mereka, mencurahkan segala isi hati yang terganjal dibenakku. Dengan mereka, aku mulai kembali tersenyum bahkan tertawa.
Hampir 4 jam aku video call dengan Fay, Fiki dan Falen. Lalu membahas tentang perkuliahan kami masing-masing.
Walau kami berempat berjauhan, komunikasi kami tidak putus begitu saja. Aku bersyukur, mereka akan menjadi sahabat terbaikku.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Alhamdulillah, hari ini saatnya aku sidang skripsi. Walau mengerjakan skripsi ditengah-tengah perasaan patah hati yang luar biasa. Tapi aku bisa melewati semuanya.
Setelah aku mempresentasikan skripsiku di depan para dosen pengujiku dengan lancar, mereka memberi tanda jempol. Lalu aku dengan lancar menjawab pertanyaan dari mereka.
"Hasil sidang skripsi Safira Wijaya dinyatakan LULUS dengan nilai A+ dan tanpa revisi" ucap Bu Rati dengan senyuman merekah.
"Alhamdulillah..." ucapku penuh haru sembari sujud syukur dan menyalami mereka sebagai tanda terima kasih.
"Safira, Saya tertarik dengan judul skripsimu. Sebagai ucapan yang pernah saya janjikan, Saya akan memberikan hadiah beasiswa untuk melanjutkan S2 di Kota Padang" ucap Bu Rati sembari menyebutkan nama Kampusnya. Ternyata Kota tersebut jauh sekali dari kedua orangtuaku dan teman-temanku. Tanpa pikir panjang, aku menyetujui tawaran Bu Rati.
Dan di hari yang sama. Tasya, Boris dan Maron lulus di hari ini juga.
"Guysss, Gue LULUS " girangku pada mereka.
"Aaaa, Gue jugaa" heboh Tasya.
Boris dan Maron memperlihatkan hasil sidangnya juga. Lalu kami berpelukan.
Kami foto berempat dengan background nama fakultas kami menggunakan baju putih, rok atau celana hitam beserta jas almamater. Setelah itu, aku mengupload di sosmed dengan caption"best friend forever 🥰"
"Guys, kemungkinan setelah wisuda Gue ke Padang. Melanjutkan kuliah S2 disana. Kalian jaga diri baik-baik yaaa"ceritaku sembari berpamitan dengan mereka.
"Whatt??" kejut Tasya, Boris dan Maron serentak.
Aku mengangguk dan tersenyum,"Bu Rati kasih Gue kesempatan kuliah S2 jalur beasiswa prestasi. Apa boleh buat, Gue harus kejar mimpi itu. Nanti malam Gue diskusikan lagi pada kedua orangtua juga" aku menjelaskan secara detail pada mereka.
__ADS_1
"Yahh, jauh amat sih Fir....." ucap Tasya dengan ekspresi sedih.
"Kan ada videocall. Sering-sering sajalah lah kita video call an ya" responku yang tanpa sadar membuat airmataku tumpah.
"Loe juga jaga diri baik-baik disana Fir. Semoga kamu sukses kedepannya" ucap Boris.
Aku mengangguk,"Aamiin, doa yang sama buat kalian semua."
"Oh iya, Gue mau ngasih tau" ucap Maron membuka suara,"Ternyata yang membajak WA Website Safira meminta putus ke Divandra itu Julian, ini semua ide licik dari Nadin" cerita Maron.
Aku, Tasya, dan Boris terkejut mendengarkan ucapan Maron.
"Apa? Julian dan Nadin?" seru kami serentak.
Maron mengangguk dan menceritakan kejadian sesungguhnya pada kami.
"Feelingku benar. Yang menghancurkan hubunganku dan Divandra adalah mereka" ucapku sembari merasakan sakit hati lagi, sepintas bayangan Divandra muncul.
"Jadi Loe sudah tau?" kejut Maron,"kenapa tidak cerita pada kami?" ucap Maron dengan nada kesal.
Tanpa disadari, aku menangis. Teringat pertengkaranku dan Divandra lagi. Hubungan kami kandas karena fitnahan kejam dari pasangan kakak beradik tersebut.
Maron terkejut, dia menyesali ucapannya baru saja yang membuatku menangis,"Oh Sorry Safira. Bukan maksud Gue begitu tadi, Gue khawatir sama hubungan kalian kalo tidak bisa diperbaiki lagi" sesal Maron sembari mengusap pundakku.
"Gue juga nggak yakin hubungan Gue dengan Divandra bisa lagi atau nggak" jawabku pilu.
"Coba gih, ngomong baik-baik sama dia" ucap Tasya menyymupport ku.
"Nggak semudah itu Sya, Gue semakin sakit kalo mengingat dia mutusin Gue dan tidak mempercayaiku" jawabku lirih,"belum tentu Divandra percaya sama Gue lagi. Gue harus bisa merelakan dia" aku melanjutkan ucapanku walau sebenarnya hatiku masih sangat mengharapkan Divandra.
"Oh Sorry Safira, kalo Loe sedang di fase move on dari Divandra" ucap Tasya merasa bersalah.
"It's oke Sya, Loe nggak perlu merasa bersalah. Mungkin memang takdir Gue dan Divandra sampai sini" ungkapku dengan perasaan sedih.
"Jangan sedih Fir, suatu saat kalo kalian berjodoh pasti bertemu lagi" kata Boris mendukungku.
Aku tersenyum kecut kearah Boris,"Gue nggak ingin terlalu berharap lebih."
Tampak Boris, Maron dan Tasya memelukku. Dalam pelukan mereka tangisku pecah, otakku kembali memutar kenangan indah bersama Divandra.
"Menangislah Fir, kalo buat hati Loe lega" bisik Maron.
Aku mengangguk sembari sesenggukan menangis.
"Udah, Gue nggak mau nangis lagi di hari bahagia kita Guys" ucapku sembari tersenyum dan mengusap airmata.
Lalu aku mengajak mereka makan bersama untuk merayakan kelulusan kami.
Bahagia sekali hari ini, karena menunggu jadwal wisuda sebulan kemudian.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Saat acara wisuda, hatiku mulai sedih lagi. Harusnya aku dan Diva memakai toga bersamaan di hari yang sama sembari foto berdua, takdir berkata lain. Aku melihat Diva sedang foto bersama teman-temannya dan aku melihat pendamping wisuda Diva adalah Ibu dan kedua Kakaknya.
Kulihat Mama terharu saat aku memakai toga dengan selendang cumlaude.
"Iya Ma. Papa juga bahagia berada di moment ini" sambung Papa.
"Ma...Pa... Safira sudah dewasa, dan mungkin sebentar lagi akan jauh dari kalian" ucapku juga dengan perasaan terharu.
"Papa dan Mama selalu mendukung apa yang Safira cita-citakan. Kejarlah Nak selagi kamu bisa dan mampu" nasihat Papa.
"Iya, kejarlah cita-citamu setinggi-tingginya Sayang. Doa kami selalu mengiringi langkahmu" ucap Mama juga.
Yaaa, Mama dan Papa mendukungku untuk melanjutkan kuliah S2 jalur beasiswa di Poltekes Negeri Padang. Rencana pemberangkatan 3 hari setelah acara wisuda. Sementara hari tersebut pengambilan ijazah di kampus, aku sudah menitip Tasya untuk diambilkan ijazahnya.
Setelah acara wisuda, aku mengajak ketiga sahabatku untuk foto bersama.
Tampak dari barisan yang sangat jauh, seseorang mengamati Safira. Lalu diam-diam memotretnya dan tersenyum,"Happy Graduation My Safira..." ucap Divandra dengan suara bergetar.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Hari pemberangkatan tiba, Papa dan Mama mengantarkanku hari ini ke Bandara karena pesawat berangkat pukul 10.00 pagi.
Sesampainya di Bandara, hatiku langsung sedih. Pertama kalinya berpisah dengan kedua orangtuaku.
"Nak, jaga diri baik-baik ya disana" pesan Mama.
"Hati-hati dan jangan lupa makan yang teratur juga" pesan Papa juga.
"Siap Paduka Raja dan Ratu. Ananda Safira Wijaya akan jaga diri baik-baik" ucapku dengan senyuman.
Papa dan Mama tertawa saat aku berkata demikian, sebelum berpisah pada mereka aku sempatkan bersenda gurau pada mereka. Sebagai anak satu-satunya di rumah, aku termasuk anak yang dekat dengan mereka.
Tampak dari jauh terlihat Tasya, Boris dan Maron memanggilku dengan lari-lari."Safiraaaaaaaa" panggil mereka serentak.
Aku menoleh dan tersenyum melihat ketiga sahabatku semasa kuliah datang ikut menghantarkanku di Bandara juga. Mereka langsung mencium punggung tangan Mama dan Papa dengan hormat secara bergantian.
"Ahh kalian..." ucapku sembari memeluk mereka satu persatu,"makasih ya udah ngeluangin waktu buat nganter ke Bandara" aku melanjutkan ucapanku dengan perasaan haru.
"Yaelah, mau ditinggal Safira jauh sekali" balas Maron memelukku erat sekali.
"Iya nih, padahal rencana kita mau liburan bareng lhoh" sambung Tasya dengan ekspresi sendu.
"Take care ya Fir, jaga diri baik-baik disana" ucap Boris sembari mengusap pundakku.
"Kalian..." aku memeluk mereka sekali lagi,"pasti bakal kangen kumpul berempat deh" ucapku yang tanpa sadar menitikkan airmata.
"Take care juga ya buat kalian, semoga kita bisa sukses bersama" doaku untuk ketiga sahabatku.
"Aamiin......" ucap mereka serentak.
Setelah itu, pesawat yang aku tumpangi segera berangkat. Aku berpamitan pada semuanya. "Selamat tinggal kota kelahiran, selamat tinggal orangtuaku dan ketiga sahabatku, dan selamat tinggal Divandra. Semoga kamu selalu dalam lindunganNya. Hari ini aku pergi sementara di kota orang untuk sementara waktu" ucapku dalam hati yang tanpa sadar menitikkan airmata lagi.
__ADS_1
Di hari yang sama dan tempat yang berbeda. Diva sudah sampai kampus untuk mengambil ijazah dan pengembalian toga. Tak butuh waktu lama, karena pelayanan akademik kampus sangat cepat.
Diva tidak menemukan Safira disana, seharusnya Diva tidak ingin banyak tahu tentang Safira. Tapi karena penasaran dia mencari tahu lewat teman-teman sekelasnya dan hasilnya nihil, teman-teman sekelas Safira tidak mengetahui sama sekali.
Tapi saat melewati beberapa teman sekelasnya, Diva mendengar sesuatu.
"Heran Gue sama duo kakak adik ini, licik bener" respon Sani teman sekelas Diva saat melihat video kiriman group kelasnya.
"Iya bener. Keterlaluan" sambung Roy juga merasa kesal.
"Eh, ini ada apa sih?" Diva menggabung pembicaraan mereka.
"Nah ini tokoh yang lagi di bahas" balas Sani sembari melirik kearah Diva.
"Hahh? Gue??" respon Diva dengan ekspresi terkejut.
Sani dan Roy mengangguk serentak, kemudian Roy memperlihatkan video tersebut pada Divandra. Setelah melihat video tersebut Divandra sangat terkejut, bahkan sampai flashback memarahi Safira yang benar-benar tidak tahu tentang kejadian ini. Rasa menyesal semakin menggerogoti hatinya, bahkan dirinya merasa bodoh dan tidak mempercayai Safira sembari mengingat-ingat perkataan Safira sewaktu bertemu terakhir di perpustakaan, di sisilain sangat marah dengan Julian dan Nadin. "MEREKAA KETERLALUAN!!" marah Divandra tak tertahankan.
Saat emosi itu meledak, Julian dan Nadin kebetulan baru saja datang untuk menggabung teman-temannya.
Tanpa pikir panjang, Divandra langsung meninju Julian tanpa ampun.
"Abang...." kejut Nadin mengetahui Divandra meninju sang Kakak.
Tapi tinjuan itu semakin menjadi. Terlihat sekali wajah emosi Diva saat ini.
"Divandra Stoppp!!" teriak Nadin dengan ekspresi kesal.
Divandra langsung menghentikan tinjuannya,"Apa Loe?" jawab Diva bergantian mendorong kasar pundak Nadin.
Nadin langsung terdiam tanpa melawan, kemudian Diva memperlihatkan video yang berisi perbincangan kedua kakak adik tersebut,"Gue tanya sama kalian!! Maksud video ini apa??" tanya Diva dengan nada kesal.
Julian dan Nadin terkejut lalu terdiam. Mereka tampak melihat satu sama lain.
"Masih nggak mau jawab, ini bogem bisa matahin hidung Loe Julian!!" ancam Diva masih diselimuti perasaan emosi,"ternyata kalian bener-bener licik. Ingin sekali memisahkan Gue dan Safira. Sekarang impian kalian terwujud sobat. Selamatt!" Diva melanjutkan ucapannya dengan kalimat menyindir.
"Gu..Gu..Gue dan Nadin minta maaf Divandra. Tapi ini semua ide Nadin yang ingin sekali mendapatkan Loe. Sementara Gue naksir Safira" ungkap Julian dengan nada terbata.
Diva langsung terkejut mendengar pengakuan dari Julian,"Begini cara Loe dan Nadin menghalalkan segala cara? Dengan merusak hubungan orang lain" balas Diva sembari mencengkeram kerah baju Julian.
Nadin tampak ketakutan saat Diva akan meninju sang Kakak lagi.
"Gue yang menyuruh Julian untuk menghancurkan hubungan Loe dengan cewek Loe" Nadin mengakui dengan jujur,"Gue jealous saat Loe sangat mesra dengan cewek Loe Divandra. Gue suka Loe" Nadin melanjutkan ucapannya.
Diva langsung melepaskan cengkeraman kerah baju Julian, lalu menghadap kearah Nadin."Sebelumnya Gue terima kasih karena Loe suka Gue. Tapi Loe kenapa memaksakan diri untuk jatuh cinta pada seseorang yang sudah punya kekasih. Sampai melakukan seperti ini? Kan Gue udah nolak Loe berkali-kali" ucap Diva dengan tatapan sinis.
"Gue minta maaf Divandra, karena Gue hubungan Loe dengan Safira berakhir gini. Harusnya Gue memang sadar diri dari dulu" ucap Nadin penuh rasa menyesal.
"Sudah telat kalian meminta maaf sekarang. Hubungan Gue dan Safira sudah kandas!" Diva menjawab dengan nada ketus dan diselimuti rasa penyesalan,"PUAS KALIAN!!" teriak Diva.
Setelah berucap demikian, Diva langsung meninggalkan dua kakak beradik tersebut.
Dengan langkah gontai, Diva mengacak rambutnya dengan frustasi dan setelah itu berteriak" SAFIRAAAAA, MAAFIN GUEEE". Tanpa sadar, airmatanya tumpah di pipi."Gue harus cari Loe dimana Sayanggg. Maaf....." ucap Diva dengan nada lirih sembari menghubungi nomor Safira dan ternyata tidak bisa dihubungi.
Langkah Diva terhenti saat tidak sengaja menabrak seseorang.
"Tasyaaaa...." kejut Diva.
"Divandra, Loe kenapa??" balas Tasya tak kalah terkejutnya.
"Safira kemana? Nggak sama Loe?" tanya Diva dengan ekspresi panik.
Tasya menggeleng,"Safira lanjut kuliah ke Padang. Hari ini dia baru saja berangkat naik pesawat" cerita Tasya.
Diva sangat terkejut saat mendengar cerita Tasya,"Padang?? Kuliah??" Diva mencerna ucapan Tasya.
Tasya mengangguk,"Iya, tadi Gue baru saja dari bandara bersama Maron dan Boris juga."
Diva merasa lemas saat mendengar kabar tersebut, di dalam dadanya ada sejuta rasa penyesalan."Gue nyesel Sya. Udah menuduh, mengacuhkan, nggak percaya dan mutusin Safira" cerita Diva.
"Maksud Loe??" tanya Tasya dengan ekspresi bingung.
Diva akhirnya menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Tasya. Tampak ekspresi Tasya terlihat santai.
"Gue udah tau semuanya dari Maron, dia yang mendengar langsung percakapan kedua kakak adik itu" Tasya bercerita,"bahkan sudah menghajar Julian dan Nadin saat itu juga" lanjut Tasya.
Diva sangat terkejut mendengar cerita dari Tasya."Gue tadi juga baru saja menghajar Julian tanpa ampun, Gue nggak nyangka hubungan sama Safira kandas karna hasutan mereka. Harusnya Gue dengerin penjelasan Safira terlebih dahulu. Bukan malah ninggalin dan mengacuhkan dia." sesal Diva dengan suara lirih."apakah Gue masih pantas mendapatkan maaf dari Safira" lanjut Diva dengan ekspresi frustasi.
Tasya refleks mengusap pelan punggung Diva,"Coba gih mulai bicara baik-baik sama Safira, Gue yakin Safira mau" usul Tasya.
"Tapi Gue canggung udah lama nggak kontak dia" ucap Diva dengan pasrah"Oh ya Sya, Safira nitip pesan gitu nggak buat Gue??" tanya Diva.
"Pesan?" jawab Tasya sembari menyernyitkan dahi,"nggak juga tuh. Dia nggak pesen apa-apa sama Gue buat Loe" ucap Tasya melanjutkan.
Diva langsung mendengus kecewa,"Gue harus gimana lagi buat menebus kesalahan" ucap Diva tampak frustasi.
Tasya tersenyum, ternyata Divandra masih menyimpan rasa pada Safira. Terlihat dari ekspresinya.
"Gue yakin, Safira pasti akan maafin Loe suatu saat nanti" ucap Tasya dengan optimis.
Lalu Diva mengangguk,"Ya, Gue percaya. Tapi kali ini rasanya bener-bener menyesal. Nggak tau lagi hati Gue bawa kemana" cerita Diva.
"Move on memang butuh waktu. Nggak langsung secepatnya. Intinya kalo Safira jodoh Loe, akan kembali pada Loe. Gue sebagai temen kalian hanya bisa support saja yang terbaik" nasihat Tasya yang langsung mengena di hati Diva.
Diva mengangguk sekali lagi, "Btw, rencana Loe selanjutnya setelah wisuda apa Sya?" tanya Diva mengalihkan topik.
"Hmm, Gue sih inginnya lanjut S2 juga. Tapi kerja dulu lah baru lanjut kuliah lagi. Kalo Loe gimana?" Tasya menanyakan balik
"Lanjut profesi di kampus sini saja lah. Biar nggak jauh-jauh juga dari rumah" ucap Diva
"Sukses ya Divandra" doa Tasya.
"Aamiin, doa yang sama ya. Dan thanks juga udah dengerin curhatan Gue juga" ucap Diva tulus
__ADS_1
Tasya mengangguk, lalu mereka berpisah untuk kembali ke rumah masing-masing.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇