Cinta Sempurna

Cinta Sempurna
Bab 19


__ADS_3

Kali kedua, jiwa dan batinku terguncang. Dulu waktu SMA setelah memergoki Fay dan Rangga berciuman di gudang sekolah, sempat tidak masuk sekolah selama 2 hari.


Kali ini, Julian yang membuatku seperti itu. Dia benar-benar memaksaku untuk jadi kekasihnya, aku tidak bisa. Karena dihatiku sudah ada nama Diva.


Sudah 3 hari ini aku absen tidak masuk kuliah, karena masih terngiang-ngiang ancaman Julian


"Aku takut...." tangisku lirih dalam kamar.


Terdengar suara rame-rame dibawah, membuatku langsung cepat-cepat menghapus airmata lalu cuci muka dan mengganti pakaianku agak tertutup. Yup, aku semenjak kuliah sudah memutuskan memakai jilbab.


Setelah rapi, aku turun dari kamar yang berada dilantai dua dan melihat di depan ada Diva, Tasya, Boris dan Maron.


Segera kubuka pintu rumah dan pagar untuk menyambut mereka.


"Hayy" sapaku pada mereka.


Mereka langsung memelukku dengan perasaan khawatir.


"Kangen tauk Fir" ungkap Tasya.


"Iyaaa ih, Mayang juga kangen sama Safira. Gimana kabarnya?" tanya Maron alias Mayang juga.


"Loe bener-bener deh Fir, bikin panik kita" ucap Boris sembari menggelengkan kepala.


"Safiraaa, kamu bener-bener yaa. Selalu bikin aku khawatir" omel Diva padaku.


Mereka terlihat panik tanpa ada kabar dariku, padahal aku sudah bilang sama Tasya kalo aku hanya tidak enak badan.


"Aku baik-baik aja Guys, kalian sehat kan?" tanyaku balik,"aku baik-baik aja kok Yang. Ini buktinya bisa menyambut kalian" balasku untuk Diva dengan senyuman.


Diva tampak lega, lalu memelukku lagi. "Aku khawatir sama kamu, Mama telepon aku cerita kalo kamu di kamar terus dan nggak pernah ada kabar kalo aku chatt. Gimana aku nggak panik" omel Diva sekali lagi.


"Maaf Sayang..." ucapku pada Diva, "maaf juga untuk Tasya, Boris dan Maron." ucapku juga pada mereka.


Lalu aku mulai menceritakan kejadian sebenarnya sembari menyuruh mereka masuk ke dalam rumah


"Oke, demi menebus semua kesalahanku. Aku masakin kalian ya" ucapku sembari menuju dapur


Memang beginilah, hanya bertiga di rumah dan sibuk dengan kegiatan masing-masing membuatku cepat bosan. Sampai sekarang, rumah ini selalu menjadi basecamp teman-teman.


"Loe, anak tunggal ya Fir?" tanya Tasya padaku.


Aku mengangguk,"Iya Sya. Gue anak tunggal. Ya memang begini ini. Tanpa pembantu dan akhirnya Gue bisa mandiri" ceritaku pada Tasya.


Sembari menunggu nasi matang, aku membuat tumis brokoli dan perkedel kentang kornet lalu bercerita pada Tasya tentang keluargaku. Tasya sesekali membantuku mencetak perkedel nya


Sementara di ruang tamu Diva menemani Boris dan Maron.


"So crazy bener deh. Gue lihat Divandra sama Safira vibe nya udah kayak orang menikah aja" ucap Maron yang diberi anggukan oleh Boris.


"Bener Bro, kalian itu pasangan yang Gue lihat udah cocok satu sama lain" lanjut Boris juga


"Kalian ini" ucap Diva terlihat salah. tingkah,"ya aku sama Safira masih kayak bocah. Tapi kita berusaha untuk saling melengkapi" ucap Diva melanjutkan.


Tak lama kemudian, masakan sudah siap. Tasya membantuku untuk memasak juga. Lalu menyantap makan siang ini bersama di meja makan.


"Hmm, enak Fir masakanmu" puji Tasya sembari menyendokkan makanannya.


"Bener lhoh, Mayang suka masakan Fira" ucap Maron juga.


"Wah iya lhoh enak, pantesan Diva kesengsem. Ternyata Fira memang calon istri idamannya Diva" sambung Boris yang membuat Diva tersedak saat menyendok makanannya kedua, terlihat wajahnya memerah sembari meminum airputih.


Sementara aku, langsung salah tingkah."Semua cewek atau wanita itu suatu saat akan menjadi istri idaman" ucapku merendah.


Tasya tersenyum geli saat mendapatiku dan Diva salah tingkah,"Kalian ini pasangan tergemas deh. Btw, kalian pacaran udah berapa taun sih?" tanya Tasya kepo.


"Hampir 3 tahun" jawabku dan Diva serentak


Lalu aku dan Diva saling pandang kemudian tertawa.


"Bisa kompak gitu jawabnya" ucap Maron,"berarti kalian pacaran sedari SMA?" tanya Maron.


Aku dan Diva lagi-lagi kompak mengangguk,"Iya, kami pacaran dari jaman SMA" jawabku malu-malu.

__ADS_1


"Awet ya" puji Tasya.


"Semoga hubungan kalian langgeng" doa Boris terdengar tulus.


"Aamiin..." jawabku dan Diva.


"Sya, Loe nggak mau apa ajakin Gue balikan gitu. Biar nggak keliatan jones amat" Boris melirik Tasya.


"Dihh, ngarep amat Gue ajakin balikan" cibir Tasya.


"Ciee, kalian dulu pacaran ya ternyata. Dari kapan?" ledekku gantian menggoda Tasya dan Boris.


"Dari SMP malah, Boris nya rese sih. Main lirik-lirik cewek lain. Trus Gue berdoa biar nggak ketemu Boris ehh ketemu lagi dibangku SMA dan sampai kuliah ini" cerita Tasya dengan ekspresi cemberut.


"Whattt????" kagetku, Diva dan Maron serentak.


"Berarti artinya Loe jodoh Gue Sya" ucap Boris sembari nyengir.


"Ogah, Gue ada calon gebetan tauk" ungkap Tasya.


"Siapa memang?" tanya Boris dengan ekspresi selidik.


"Ya rahasia dong, masa Gue kasih tau" balas Tasya sembari menjulurkan lidah kearah Boris


"Yasudahlah ya, kalo memang jodoh juga nggak bakal kemana kan?" sambung Maron.


Terlihat Tasya dan Boris salah tingkah, sepertinya mereka menyembunyikan perasaan masing-masing. Jodoh memang rahasia Illahi, yang mengerti masih suka atau nggak, ya mereka sendiri.


◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇


Pagi ini, aku sudah lebih tenang dan membaik dari 3 hari yang lalu. Dan semenjak kejadian itu, Diva selalu mengawalku. Jika di kelas, aku mempunyai 2 bodyguard Maron dan Boris. Tasya pun juga ikut mengawal. Alhamdulillah, aku masih diberi teman-teman yang baik dan super perhatian. Bagaimana dengan hubungan persahabatanku dengan trio F? Masih berlanjut, kadang kami menyempatkan waktu untuk videocall berempat.


Kami baru saja selesai kuliah, kebetulan jam selesainya bersamaan dengan jam kelasnya Diva


'Makan yuk, laper Yang 🤤. Ajak Tasya, Boris sama Maron sekalian ya' ajak Diva lewat chat WA.


'Siap Tuan, amanah akan segera saya laksanakan' jawabku di WA Diva.


Diva membalas dengan emoticon tertawa, lalu dibawahnya ada pesan lagi: Okee, aku tunggu di kantin. Nanti aku kenalkan teman-temanku.


'Kamu yaaa, bener2 minta di cium 😏' balas Diva lagi.


'😝😝😝.... mau di cium 😗🥰... tapi habis ijab yaaa 🤣🤣🤣🤣🤣🤣' jawabku menggoda Diva.


'Sayanggg, kamu jahat 😭😭' respon


Diva membuatku tertawa hingga Tasya menoleh kearahku.


"Apaan sih Fir, asyik banget. Pasti lagi chatting sama Ayang Diva ya" tebak Tasya.


Aku mengangguk dengan pipi sudah merona,"Ayo ke kantin. Aku sudah ditunggu sama Diva" ucapku bersemangat.


"Ciee ilee, Safira hatinya banyak kembangnya" goda Maron.


"Iya tuh, dari tadi dia senyum-senyum sendiri tauk" sambung Tasya padaku.


"Aku merasakan bersama Divandra seperti jatuh cinta berkali-kali. Makanya aku nggak bisa hidup tanpanya" ucapku benar-benar tidak bisa kehilangannya.


"Yaudah, ayo. Kita antarkan Princess Safira menemui Pangerannya di kantin" sambung Boris meledekku.


"Borisss ihhh" balasku dengan tersipu-sipu karena ledekannya.


Tampak Tasya, Boris dan Maron hanya menertawakan kesalahtingkahanku siang ini.


Sesampainya aku dan ketiga temanku di kantin, Diva langsung melambaikan tangan kearahku saat melihat kedatanganku.


Lalu Diva memperkenalkan temannya Candra dan dua temannya lagi dari beda jurusan bernama Bagas dan Aryo.


"Ohh ini yang pacar Divandra toh" ucap Candra dengan memperjelas suaranya.


"Sstt, pelanin suaranya Cand" respon Diva terlihat salah tingkah.


Aku juga tersenyum malu-malu. Tiba-tiba ada seorang cewek menghampiri kami dan berdiri disebelah kiri Diva sangat dekat.

__ADS_1


"Ohh ini saingan Gue" ucap Nadin dengan ketus sembari mendorong bahuku.


Aku hampir terjatuh tapi Diva menahannya,"It's oke Yang, ada aku disini" bisik Diva sembari memegangi tanganku.


Aku mengangguk.


"Astagaaaa, cantikan Gue kemana-mana lah. Cewek ini nggak ada tandingannya" ucap Nadin sembari melirikku sinis.


Tampak kesabaran Diva habis, lalu membalas ucapan Nadin"Kalo pun dia nggak cantik. Dia udah berhasil mencuri hatiku dan kami sudah mengantongi restu dari orangtua kami masing-masing. Mau apa Loe?".


Nadin terdiam saat Diva berkata demikian, ekspresinya kembali sinis kearahku.


"Jangan GR dulu Loe" ucap Nadin padaku,"Loe nggak pantes jadi pacar Divandra" Nadin melanjutkan ucapannya dengan kata-kata pedasnya.


Sementara aku, hanya menahan airmata yang mau tumpah di pipi."Jangan dengarin Nadin ngomong Yang" bisik Diva sembari mempererat genggaman tangannya padaku.


"Nadinn! Jaga omongan sampah Loe!!!" panggil Tasya terdengar emosi sembari menghampiri Nadin dan mendorongnya,"Memang kalo Loe ngatain Safira begitu bakal di lirik sama Divandra. Nggaklah, Divandra yang ada makin ilfil sam Loe " ungkap Tasya sembari memaki-maki Nadin.


"Loe itu apaan sih, ikut campur aja" balas Nadin sembari membalas mendorong Tasya,"dan bukan urusan Loe juga" cibir Nadin.


Sementara saat Julian melihat kericuhan di kantin, langsung menggabung ke sumber suara tersebut.


"Nadinnn, cukup!!!" teriak Julian yang membuat semua orang tertuju pada Julian.


"Abangggg, aku nggak suka lihat Divandra bawa ceweknya" ucap Nadin dengan merengek sembari menunjukku dan Diva.


Julian langsung melirikku dan Diva dengan tatapan sinis. Diva membalas dengan melirik Julian tidak suka.


"Apaan sih kamu ini? Ingin mempermalukan diri sendiri??" marah Julian sembari menarik tangan Nadin,"yasudah kalo Diva nggak pernah merespon kamu. Biarkan saja" ucap Julian .


"Hello Bang!!! Tolong ngaca dong. Loe aja ngejar-ngejar Safira juga nggak pernah di gubris" ledek Nadin tidak mau kalah.


Aku dan Diva terkejut lalu saling pandang.


"Yang, aku nggak ngerti tentang ini" bisik Diva padaku.


Aku mengangguk,"Aku juga tidak mengetahui tentang ini" jawabku dengan lidah mulai kaku dan badanku mulai panas dingin.


"Mereka kakak adik Guys, makanya sifat mereka sama. Arogan" cerita Boris pada kami


Aku dan Diva semakin terkejut.


"Pantesan kelakuan mereka beda tipis" cibir Diva.


"Aku jadi nggak nafsu makan Yang, kita makan di luar aja ya. Nggak usah di kantin" ucapku mulai ketakutan saat Julian melirikku tanpa berkedip lalu di balas dengan lirikkan tajam oleh Diva.


Diva dan Boris mengangguk setuju. Saat itu juga. Aku, Diva, Boris, Tasya, Maron, Candra dan kedua temannya makan siang di luar kampus. Kebetulan jam kuliah kami bersamaan tepat jam 4 sore.


"Iya, kita masih panjang nunggu kuliahnya" ucap Candra sembari melihat jam masih menunjukkan pukul setengah 2 siang.


Sesampainya kami di tempat makan yang Tasya sarankan, kami mulai melanjutkan cerita kembali.


"Diva...Fira... Gue minta maaf ya. Nggak tahu kalo bakal seperti ini" ucap Candra pada kami.


"Nggak apa Cand, Gue sama Fira juga baru tahu tentang hal ini" cerita Diva.


"Seriusan?" kejut Candra,"tapi memang mereka dari dulu ngincer kalian. Sorry Div, Gue nggak berani bilang karena pasti Elo milih jaga hati buat Safira" Candra menceritakan kejadian yang sesungguhnya.


Diva mengangguk mengerti.


"Sebaiknya kalian bener-bener jaga jarak aja sama mereka" sambung Aryo juga.


"Mereka dulunya satu sekolah sama kami. Ya karena sudah tahu dari lama, pasti sudah tau sifat mereka. Dari dulu tidak ada yang mau berteman dengan mereka" sambung Bagas juga.


"Bukannya Marinka dan Deby temenan deket sama Nadin?" tanya Diva.


Bagas mengangguk,"Iya, dulu. Sekarang pertemanan Nadin pecah bersama Marinka dan Deby, denger-dengernya gebetan mereka juga diembat sama Nadin" cerita Bagas.


Aku dan Diva merespon dengan manggut-manggut saja.


"Nggak apa-apa, kamu jangan takut ya" ucap Diva menenangkanku.


Aku mengangguk dan tersenyum kearah Diva,"Iya Yang, aku mencoba untuk tidak takut lagi" jawabku meyakinkan diri.

__ADS_1


Lalu kami melanjutkan makan siang sembari di sela-sela bercerita tentang banyak hal termasuk bertukar ilmu.


◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇


__ADS_2