Cinta Sempurna

Cinta Sempurna
Bab 17


__ADS_3

Akhir-akhir ini sudah mulah mulai disibukkan dengan tugas, tugas, dan tugas. Sampai kadang lupa memberi kabar kepada Diva.


Telepon berdering dan ternyata telepon dari"My Divandra ❤". Segera kuangkat teleponnya.


      "Hy My Safira, sibuk banget sampe lupa sama aku" protes Diva langsung dari dalam telepon.


     "Maaf My Divandra, aku bener-bener pusing sama tugas kuliahku ini" ceritaku jujur,"aku tadi siang cari buku di perpustakaan juga langka. Di website pun sedikit materinya" lanjutku sembari menjelaskan.


    "Pusing gimana sih Yang? Ada yang bisa dibantu?" Diva menawarkan diri.


Aku langsung bercerita tentang tugas yang membuatku pusing, lalu Diva menjelaskan dengan detail tentang maksud tugas tersebut.


      "Kok kamu yang paham sih" aku tertawa saat Diva secara detail menjelaskan.


      "Ya gimana nggak paham, orang tiap hari materinya seperti itu" ucap Diva,"sebenarnya materi kita ini beda tipis Sayang, hanya saja jurusanmu dan jurusanku saja yang berbeda" Diva menerangkan.


Saat aku dan Diva sedang berdiskusi tentang tugas kuliah, tiba-tiba ada yang telepon masuk yang terlihat jelas siapa yang menelepon. Julian. Aku mereject panggilan teleponnya.


      "Halo Yang, kok diem kenapa?" tanya Diva.


    "Ah, nggak kok Yang, cuman ini ada yang telepon aku aja" ucapku merasa kesal karena Julian meneleponku.


    "Yasudah diangkat dulu teleponnya, siapa tau penting" ucap Diva mengizinkan.


      "Nggak penting Yang..." jawabku masih merasa kesal karena tak henti-hentinya Julian. menghubungi yang kuakhiri dengan mereject nya


        "Memang siapa sih yang telepon?" tanya Diva penasaran.


        "Julian Yang, dia sepertinya modus banget sama aku" aku bercerita jujur pada Diva.


         "Yasudah, nggak usah di gubris Yang. Biarin saja" jawab Diva terdengar cemburu.


         "Aku nggak pernah gubris setiap panggilan teleponnya Yang" aku menjelaskan,"jangan marah ya Yang. Aku nggak mau kamu salah paham" aku melanjutkan ceritaku.


       "Yang, sebenarnya di kelasku ada yang suka aku. Nggak aku gubris juga. Nadin namanya" cerita Diva membuatku terkejut.


       "Aku percaya sama kamu kok, bisa jaga hati buatku" aku meyakinkan Diva,"aku juga selalu jaga hati buat Divandra" aku melanjutkan ucapanku.


       "Terima kasih Sayang, kamu udah jaga hati baik-baik" balas Diva.

__ADS_1


        "Sama-sama Sayang. Mari kita perjuangkan cinta kita" aku menyemangati diriku sendiri dan juga Diva.


        "Iya Sayang, pasti itu. Apapun itu jangan tinggalin aku ya" pinta Diva.


       "Iya My Divandra, kita pasti bisa melewati semua" jawabku mencoba untuk tegar. Padahal di balik telepon, ada sedikit rasa cemburu saat Diva bercerita ada yang menyukainya di kelas.


                    ◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇


Sementara di tempat lain, tepat di rumah Julian dan Nadin.


     "Kenapa sih, Safira nggak pernah angkat teleponku" ucap Julian kesal.


      "Ya habis kamu muka tembok Bang, udah tau dia punya pacar di pepet mulu" gelak Nadin sembari meledek Julian.


     "Memang Diva pernah bales perasaanmu dek" ledek Julian bergantian,"Safira sama Diva...Diva itu kan pacaran" cerita Julian dengan ekspresi pilu.


Nadin langsung melempar bantal sofa untuk Julian, yang dilempar tertawa terpingkal-pingkal.


      "Salah sendiri ngledek, kamu aja gagal terus ngejar Diva" ucap Julian lagi.


       "Juliaaaaaannnnnnn" teriak Nadin kesal.


Tampak Nadin mencoba menghubungi Diva, tapi hasilnya juga sama. Di reject. Nadin semakin kesal dan melempar bantal sofa satu lagi yang mengenai meja belajarnya.


                        ◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇


Minggu ini, saatnya aku dan Diva ber quality time. Meluangkan waktu berdua mumpung part time Diva libur.


  Semenjak kita jujur satu sama lain tentang ada seseorang yang menyukai kita, aku dan Diva sepakat untuk meluangkan waktu berdua seperti Minggu siang ini.


       "Main ke timezone yuk Yang" ajakku saat tiba di Mall.


Diva mengangguk dan tersenyum. Lagi dan lagi Diva selalu mengIYAkan permintaanku. Permintaan apapun. Sebelum menuju Timezone dan lain-lain, aku dan Diva sengaja makan siang dulu. Kami mampir di resto bakso yang ter rekomendasi di Mall ini.


      "Hari ini. Khusus untuk Safira, mau karaoke, main di timezone, ke toko buku pun aku ACC atau coba photobox kita foto berdua" ucap Diva,"atau next time kita liburan di tempat alam. Aku ada referensi tempat yang bagus buat kamu Yang" kata Diva.


       "Terima kasih Sayang, kamu selalu manjain aku" ucapku tulus dengan ekspresi. tersenyum,"semenjak kuliah, kamu jadi hafal tempat-tempat wisata alam Yang?" tanyaku penuh curiga.


      "Ya gimana dong, Candra dan teman-temannya sering ngajakin aku kesana Yang" ucap Diva keceplosan lalu cepat-cepat menutup mulutnya.

__ADS_1


Aku melirik kearah Diva yang ternyata mendapat cengiran kuda dan tanda V darinya.


      "Hmm, pantesan nggak ada kabar seharian waktu itu. Yang ngaku nugas ke kafe hasilnya jalan-jalan ke wisata alam" ucapku sembari melipat kedua tanganku di depan dada.


Diva langsung membalas dengan melayangkan tanda V kearahku lagi,"Aku dipaksa mereka ikut Yang, sampe di grebek ke rumah" Diva menjelaskan dengan ekspresi cemberut


Aku tertawa melihat ekspresi Diva saat cemberut,"Ih, lucu amat deh wajah cowokku kalo lagi cemberut gini" ucapku sembari mencubit pipinya.


     "Aduhh Yang, sakit dong" balas Diva dengan mengaduh,"kalo aku nakal, dicium aja jangan di cubit" Diva melanjutkan sembari menunjuk ke bibirnya.


Aku menjewer telinganya pelan,"Tuh enak kan" ucapku kesal.


      "Bercanda Yang. Iya, iya. Nggak bahas gitu lagi" ucap Diva merasa bersalah,"Minta cium bibir aja pelit banget sih ini cewekku" gumam Diva pura-pura kesal.


Aku memelototinya,"Enak saja, hubungan kita belum halal kok kamu main cium bibir" protesku,"cowok kalo udah dikasih ciuman bibir ya nanti mintanya lebih dari itu" ucapku semakin sewot.


      "Ya habis gimana dong, cewekku ini kesini tambah cantik. Jadi makin cepet-cepet halalin kamu Yang" balas Diva sembari tersenyum nakal,"nanti setelah kita menikah jangan tunda momongan ya" pinta Diva.


Aku tersenyum geli,"Sabar My Divandra, kurang 2 tahun lagi kita lulus kuliah kok" ucapku,"aku nggak akan tunda momongan. Setelah menikah, terserah kamu mau tinggal dimana pun aku ikut" ucapku.


       "Kan masih lama Yang" balas Diva dengan ekspresi cemberut,"awas aja ya setelah kita ijab sama resepsi, aku habisin kamu di malam pertama" ancam Diva.


       "Nggak kok, kita pasti bisa melewati semua" aku memberi support pada Diva sembari berdoa dalam hati," nggak janji ya, bisa jadi waktu malam pertama aku lagi datang bulan" balasku dengan ekspresi tertawa puas meng skakmatt Diva


Lalu wajah Diva berubah menjadi cemberut, aku malah semakin menertawakan Diva.


Setelah itu kami bermain ke Timezone, photobox berdua, dan berakhir ke tempat karaoke. Tak lupa aku memposting foto kami berdua di sosmed.


Setelah seharian aku dan Diva meluangkan waktu berdua di Sabtu ini, kami memutuskan pulang.


    "Terima kasih Ayang Diva" ucapku dengan senyuman melebar.


Diva menggangguk dan tersenyum,"Sama-sama Sayang. Aku senang lihat kamu happy seharian ini" balas Diva.


     "Kan kamu yang selalu bikin aku happy" ucapku.


     "Aku akan berusaha membuatmu senang Sayang" janji Diva.


     "Terima kasih My Divandra. Yaudah yuk, kita pulang." ajakku,"Oya Yang, Papa sama Mama ngundang kamu makan malam di rumah" aku memberikan pesan pada Diva.

__ADS_1


Diva membalas dengan mengangguk lagi,"Iya, aku penuhi undangan makan malam kedua orangtuamu."


                        ◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇ 


__ADS_2