
Malam ini. Aku, Mama dan Papa sedang makan malam di rumah. Seperti biasa, aku sebagai chef di rumah mempersiapkan menu beef teriyaki, tahu goreng dan ca brokoli.
"Wahh, chef Fira masaknya banyak sekali" ucap Papa sembari terpukau melihat hidangan di meja makan.
"Siapa dulu chef seniornya" balas Mama merasa bangga sembari melirikku.
"Iya dong Pa, Ma. Mumpung Fira belum sibuk belajar buat Ujian" responku kepada beliau sembari tersenyum.
"Oya, gimana kamu jadi masuk kuliah jurusan apa?" tanya Papa mulai antusias.
"Fira sih punya pandangan mau masuk jurusan Kesehatan aja Pa, Ma" jawabku.
"Wah, bagus tuh Fir. Mama mendukungmu masuk di jurusan itu. Atau saran Mama ambil jurusan Kesehatan Masyarakat"saran Mama sembari menyebutkan nama kampus yang diimpikan Diva.
"Wah, betul juga Fir. Pengabdian pada Masyarakat tuh" Papa langsung menyetujui saran Mama.
"Iya Ma, Pa. Nanti Fira pikir ulang" anggukku dengan tersenyum,"Fira mau ikut SMNPTN nantinya" sambungku.
"Selagi kamu masih mampu, lakukanlah Nak. Papa dan Mama hanya bisa menyupport mu dengan doa. Semoga cita-cita Fira terkabul" nasihat Papa sembari menyupportku.
"Aamiin....." aku dan Mama serentak mengamini doa Papa.
Dari sini, aku mulai terpacu untuk mengambil jurusan tersebut. Mulai dari kapan pendaftarannya hingga informasi tentang jurusan kesehatan serta tentang dunia kerja yang bersangkutan dengan kesehatan.
Di rumah Divandra. Terdiri dari Ibu, kedua Kakaknya, dan Divandra sendiri. Kak Dafi, Kak Viva, dan Diva.
"Eh bocil, cewek manis yang sering kamu bawa kesini itu pacarmu?" tanya Kak Viva,"punya cewek tapi nggak pernah dikenalin Kakak" Kak Viva menambahkan.
Diva langsung tersedak saat mendengar Kak Viva menanyakan perihal Fira.
Kak Viva langsung terpingkal-pingkal saat melihat wajah Diva memerah,"Salting sih salting Div, nggak usah pake tersedak juga dong" ucap Kak Viva.
"Va, kamu itu dari dulu sukanya godain adeknya mulu" tegur Ibu.
"Iya tuh Buk, Kak Viva jahil banget. Jadi cewek kok bar-bar, kalem dikit biar ada cowok yang lirik" balas Diva dengan nada kesal,"ogah! Aku nggak mau ngenalin cewekku ke kamu Kak, nanti ikutan bar-bar" ucap Diva.
"Ya gimana mau kalem. Di rumah bergaulnya sama Kak Dafi sama kamu cil. Yaelah, songong amat kamu cil" ucap Viva sembari mencium pipi Diva lalu berlari ke kamarnya.
"Vivaaaaaaaaaaa" teriak Diva sembari mengelap pipinya bekas ciuman dari Kak Viva
Sementara Ibu hanya tersenyum melihat anak keduanya menjahili si bungsu.
"Sabar Dek sama Kakak perempuanmu itu" ucap Kak Dafi terlihat geli,"oya, apa bener kamu udah punya cewek?" tanya Kak Dafi terlihat kepo.
Diva tersenyum dan mengangguk,"Sudah Kak, mau 1 tahun ini pacarannya" cerita Diva.
"Wihh, bocil hebat. Pacaran udah mau setahun aja" sambung Kak Viva muncul dari kamarnya
"Aku aja kalah, yang baru PDKT sama gebetan" cerita Kak Dafi sambil tertawa.
"Kenalin ke Ibu dong" pinta Ibu.
"Sabar Buk, nanti akan Dafi kenalkan sama Ibu dan adik-adik" ucap Dafi terlihat salah tingkah.
"Cuit...cuit... Abang Gue punya gebetan tapi nggak berani nembak" sorak Viva jahil.
__ADS_1
Kak Viva, Diva dan Ibu tertawa melihat wajah si kakak sulungnya sedang salah tingkah.
"Ini juga lagi usaha Va, PDKT sama yang ini susah-susah gampang" curhat Kak Dafi.
"Mau Gue bantu nggak Kak" ucap Viva sembari melempar ekspresi evil nya.
"Hmm, ini nih cewek. Kalo lagi ada maunya aja nawarin Kakaknya" cibir Kak Dafi.
Kak Viva membalas dengan melempar cengiran tanpa dosa kearah Kak Dafi. Diva tertawa melihat kelakuan kedua kakaknya.
"Cil, kamu jadi masuk kuliah jurusan Keperawatan?" tanya Kak Viva pada Diva.
"Jadi kok Kak, ini juga aku lagi ngumpulin informasi beasiswa buat masuk kuliah" jawab Diva sembari searching informasi perkuliahan.
"Kapan buka pendaftarannya dek?" tanya Kak Dafi.
"Di internet sih informasinya 3 hari lagi Kak" jawab Diva pada Kak Dafi.
"Untuk kuliahmu, nanti kakak biayain ya dek" ucap Kak Dafi serius.
"Tapi Diva pengen ambil beasiswa Kak, kan lumayan nanti gratis" ucap Diva sembari tersenyum.
"Yang penting kamu serius apa yang kamu tuju cil" sambung Kak Viva,"oya, kenapa kamu nggak pake sertifikat hasil lomba karate mu aja cil. Lumayan tuh, daftar kuliah dapet point prestasi" usul Kak Viva.
"Oh iya juga ya Kak, kenapa aku nggak kepikiran ikut tes pake hasil lomba" ucap Diva langsung menyetujui usulan Kak Viva.
"Iya Diva, kan pialamu juga banyak di rumah" sambung Ibu.
"Iya Bu, Diva akan mencoba masuk kuliah jalur beasiswa ber prestasi" angguk Diva mantab.
Divandra memantabkan hati untuk memilih jurusan kuliah yang ia cita-citakan.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇
'Mau ngomongin apa Yang?' tanyaku membalas pesannya.
Ternyata pesanku hanya dibaca saja. "Ishh, apaan sih Divandra. Nggak seru deh" gumamku kesal.
Sementara di bangku belakang tepat Diva duduk dibangku tersebut dari tadi menahan tawa dan senyumnya."Aniversarry 1 tahun aku kerjain Fira ahh" batin Diva sembari menahan tawanya karena berhasil membuat Fira badmood.
Dan benar saja, seharian di kelas Diva hanya mendiamkanku saja. Hatiku sampai bertanya"Apa ada yang salah dengan hubungan ini? Atau aku yang tak sengaja ngomongnya kasar?" aku memikirkan masalah ini seharian, sampai di kantin bersama ketiga temanku pikiranku kosong dan tanpa sadari aku ngalamun.
"Fir, kamu mau makan apa?" tanya Falen
Aku masih belum menggubris pertanyaannya Falen. Pertanyaan yang sama diajukan lagi dari Fay dan Fiki. Aku masih belum menyahut.
"Fir...." panggil Fay sekali lagi sembari menepuk pundakku.
Refleks aku terkejut dan membuat mereka hanya menggelengkan kepal.
"Apa? Kenapa?" tanyaku.
"Are you oke Fir?" tanya Fiki padaku.
"Nope...." jawabku lemas.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Fay dan Falen serentak.
Aku menghembuskan nafas panjang kemudian menceritakan yang terjadi hari ini di kelas.
"Diva bikin masalah lagi?" tanya Fiki.
Aku hanya merespon dengan anggukan lemas dan mereka serentak memelukku."Jangan merasa sendiri dong, kan masih ada kita juga" ucap Falen menenangkanku.
"Iya nih, jangan berkecil hati" sambung Fay.
Aku mengangguk pada mereka dan berusaha tersenyum. Bel masuk berbunyi tanda harus melanjutkan pelajaran lagi. Saat pelajaran berlangsung, kuusahakan untuk berkonsentrasi tapi ternyata tidak bisa. Masih terbayang sikap dingin Diva, hingga saat jam terakhir aku langsung berkemas untuk segera pulang ke rumah.
Aku yang akan keluar kelas, tanganku tertahan. "Lepassss!!" ucapku ketus.
Cengkeraman tangan Diva semakin kencang,"Aku nggak mau ngelepasin kamu" jawab Diva santai.
"Divandraaaa, apaan sih kamu?" responku semakin kesal.
"Ayo ikut aku" Diva menarik tanganku.
Akhirnya mau tidak mau aku mengikuti apa yang Diva inginkan. Bahkan di motorpun kami saling diam tanpa ada sepatah kata. Sesampai tempat yang Diva maksud, ada satu hal kejutan lagi. Mataku ditutup kain.
"Apaan sih Yangggg..." ucapku semakin kesal dengan kerjaan Diva kali ini.
"Diem deh, nanti juga tahu" balas Diva mengumpat senyumnya.
Diva menuntunku berjalan menuju tempat yang dia maksud. Sesampainya ditempat tersebut, samar-samar aku mendengar lagu Kau Auraku dari ADA Band. Diva membuka penutup mata
Aku terkejut saat melihat kejutan dari Diva bertuliskan" Happy Aniversarry Safira & Divandra 1st".
Ternyata Diva mempersiapkan kejutan di kafe bernuansa outdoor dengan ditemani lagu Ada Band berjudul Kau Auraku.
"Divaaa" ucapku terharu saat melihat tulisan tersebut, bahkan yang aku kira lupa bahwa hari ini aniversarry ternyata dia mempersiapkan kejutan semanis ini.
Diva hanya tersenyum jahil kemudian memelukku,"Happy Aniversarry My Safira..." bisik Diva padaku.
"Happy aniversarry too My Divandra" balasku sembari menghapus air mataku,"jadi tadi seharian di kelas kamu diemin aku karna ini?" aku melepaskan pelukan Diva.
Diva hanya nyengir sembari melempar tanda V kearahku,"Bercanda Sayanggg. Aku sengaja buat ini untuk surprise in kamu. Aku cuman mau bilang terima kasih karena kamu sudah jadi separuh pelengkapku, kamu buatku nyaman, kamu pencuri hatiku, kamu mau nerima banyak kekuranganku" ucap Diva dengan tatapan tajam .
"Terima kasih calon Ners ku, yang ngobatin aku jatuh pake plester sekaligus nyembuhin luka hatiku. Terima kasih untuk kesabaranmu terhadapku, terima kasih kamu sudah percaya kepadaku untuk hubungan ini" balasku yang ternyata tak bisa menahan air mata terharu siang ini, Diva langsung menghapus airmataku lalu mengecup keningku.
"Janji Divandra tidak akan pernah ninggalin atau ngecewain Princess Safira" janji Diva.
"Lebayy..." aku menampol gemas pipinya,"Aku percaya sama kamu kalo di tepati dan dipegang omonganmu" aku berucap sungguh-sungguh.
"Iya iyaa. Udah berusaha romantis, tetap aja kena omel. Heran deh" Diva bergumam pelan tapi aku tetap mendengarnya.
"Apa?? Coba ulangi lagi waktu bergumam ngomongnya apa?" aku meminta Diva mengulangi ucapannya.
Diva hanya membalas dengan menjulurkan lidah, kemudian memberi kode pada bibir untuk di cium.
"Nih, cium aja penutup mata yang tadi" ucapku melempar penutup mata kearah Diva sembari tertawa.
"Safiraaaaaaa" teriak Diva sembari mengejarku
__ADS_1
Aku semakin tertawa karena Diva gagal menangkapku.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇