Cinta Sempurna

Cinta Sempurna
Bab 22


__ADS_3

Aku dan Tasya masih fokus dengan tugas kelompok yang dateline-nya besok pagi. Sesekali aku berkomunikasi dengan Diva by WA dan ngobrol dengan Tasya.


"Ini Boris sama Maron kemana sih? Ditunggu bukunya juga" gumam Tasya yang dari tadi uring-uringan.


"Entah deh, nggak ngabarin juga mereka" responku sembari mengendikkan bahu.


Tasya semakin gelisah, buku materi yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Aku tahu Tasya, orangnya sangat ontime jika menyangkut tugas kuliah. Lalu aku menghubungi mereka tapi nihil, satu pun tidak menjawab panggilan teleponku. Kucoba lagi tapi tetap sama. Aku menyerah. Sementara Tasya hanya menghembuskan nafas pasrah.


"Sya, Gue ke kantin dulu ya. Haus nih" pamitku sembari menitipkan laptop pada Tasya.


Tasya mengangguk,"Oke, tenang Fir. Laptop Loe aman di tangan Gue" ucap Tasya sembari nyengir kearahku.


"Thanks Syaa" ucapku dengan senyuman dan beranjak menuju ke kantin.


Kemudian Tasya melanjutkan mengetik tugas, "Duhh, ini Boris sama Maron kemana yaa??" gumam Tasya yang dari tadi tidak melihat kedatangan Boris dan Maron.


"Syaaaa..." ada yang memanggil Tasya


Tasya menoleh dan langsung mengomel"Ditungguin buku materinya..." Setelah dilihat siapa yang datang"Ohh, ternyata Loe Jul" respon Tasya sembari fokus pada laptopnya lagi.


"Ah iya Sya" balas Julian dengan memasang senyuman kecut,"sibuk amat, ngerjain apa?" tanya Julian memecahkan keheningan.


"Ohh, ini tugas kelompok kuliahnya Bu Rati" jawab Tasya yang masih fokus ke laptop.


"Lhah, ini laptop siapa?" tanya Julian sembari menunjuk laptop yang menganggur di depan mata.


"Ohh, itu punya Safira" jawab Tasya singkat.


Tampak Julian tersenyum penuh kemenangan, ide liciknya muncul saat melihat layar terdapat tampilan WA website dengan tulisan My Divandra ❤ dan ada tampilan MicrosoftWord yang berisi tugas kuliahnya.


"Nggak usah macem-macem sama laptop orang" tegur Tasya melirik tajam kearah Julian.


"Nggak kok, Gue mau edit tugas" ucap Julian berbohong dengan berpura-pura mencari flashdisk di dalam tasnya. Setelah itu menancapkan flashdisk agar terlihat seperti mengedit tugas sungguhan.


"Sebentar lagi hubungan Safira dan Divandra berakhir. Mari kita mainkan" ucap Julian dalam hati sembari tersenyum licik dan membuka WA website dan mulai mengetik pesan.


'Divandraaa, aku bosen pacaran sama kamu. Kita putussss!!!!'.


5 menit kemudian, ada balasan dari Divandra


'Sayang, kamu kenapa? Kok tiba2 minta putus??? Apa aku ada salah?'.


Julian mengumpat senyumnya, seakan dia mendapatkan mangsa baru."Seru juga pura-pura jadi Safira, dengan ini Divandra percaya bahwa Safira menginginkan putus. Dan setelah itu aku leluasa dekatin Safira" gumam Julian sepelan mungkin .


'Kan tadi aku sudah bilang, aku bosen pacaran sama kamu!!!!!!' Julian mengetik pesan seperti itu


'Yangg, bisa kita bicarakan baik-baik' balasan dari Divandra.

__ADS_1


'Nggak ada yang perlu kita bicarakan baik-baik. Dan aku sudah pikirkan baik-baik juga tentang hubungan kita. Lebih baik putus' Julian menjawab lagi.


Aku yang baru saja membeli beberapa minuman untukku, Tasya, Boris, Maron dan tak ketinggan Diva. Lama sekali, karena antreannya benar-benar panjang dan belum lagi akan mengerjakan tugas siang ini.


Saat aku menuju taman gazebo untuk kembali mengerjakan tugas, aku berpapasan dengan Diva dan Candra. Aku melihat ekspresi Diva aneh dan tidak biasanya cuek padaku.


Aku menghentikan langkah lalu menghadang Diva di depannya,"Sayang, are you oke??" tanyaku dengan hati-hati.


Diva masih terdiam lalu membuang muka saat melihatku. Deg!! Nggak biasanya Diva seperti ini. Hatiku mulai sakit.


"Yang, aku tadi beli minuman lebih di kantin. Ini buat kamu ya" ucapku sembari memberikan minuman tersebut untuk Diva.


Tapi yang ada, minuman tersebut ditumpahkan begitu saja. Aku dan Candra terkejut.


Aku menahan sakit hatiku dan menanyakan,"Kamu kenapa Sayang?" sembari memungut cup dan membersihkan minuman tersebut.


Diva tampak menahan emosi lalu mengeluarkan hp dari saku celananya dan memperlihatkan chat WA padaku,"Ini apa??" tanya Diva dengan nada ketus.


Aku mengambil hp Diva dan melihat chatt by WA. Terkejut karena WA tersebut seolah aku memutuskan hubungan dengan Diva, sementara dari tadi aku tidak memegang hp sama sekali.


"Aku tidak memegang hp dari tadi Yang" ucapku jujur dengan mata mulai berkaca-kaca.


"Lalu kalo nggak pegang hp, terus ini apa? Jelas-jelas ini chat dari Loe!" ucap Diva yang masih membentakku.


Hatiku semakin sakit, karena ini kali kedua aku dibentak oleh Diva."Taaa...pii aku dari tadi nggak pegang hp" jawabku terbata dan mulai menangis.


"Kenapa masih aja nyangkal sih?" jawab Diva ketus.


"Div, bukan seperti itu caranya, coba tanyakan baik-baik" Candra menegur Diva.


Hatiku sangat hancur melihat Diva se marah ini padaku. Padahal aku tidak melakukannya.


"Udahlah, kalo memang Loe minta putus. Dengan senang hati Gue lepasin Loe detik ini juga" ucap Diva tanpa melihatku sedikit pun.


Bahkan aku tidak diberi waktu untuk memberi penjelasan padanya.


"Kenapa kamu mutusin begitu saja" ucapku dengan suara serak,"aku nggak ngelakuin itu Sayang" lanjutku tidak terima sembari memegang lengannya.


Diva bahkan enggan melihatku,"Lepas!!!" ucap Diva ketus sembari menyingkirkan tanganku.


"Div, Loe gila ya! Mana mungkin Safira yang sesayang itu sama Loe ngelakuin seperti itu. Ini nggak beres" protes Candra.


Terdengar Candra memarahi Diva.


Diva tampak acuh lalu menjawab,"Gue udah lepasin dia. Silakan kalo Loe mau deketin dia. Gue nggak melarang Loe" sembari melangkah pergi meninggalkanku dan Candra.


"DIVANDRAAAAAA, AKU NGGAK NGELAKUIN ITU. AKU SAYANG KAMUUUUU" teriakku histeris.

__ADS_1


◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇


Semenjak kejadian beberapa hari yang lalu, rasanya masih seperti mimpi, pikiranku kosong dan kadang aku masih merindukannya. Hatiku sangat sakit saat menyadari bahwa aku benar-benar kehilangannya. Kemungkinan besar hpku di bajak oleh seseorang. Tapi siapa? Aku menanyakan Tasya juga tidak tahu, seingat Tasya laptop terakhir dipakai Julian. Aku menanyakan pada Julian malah menghindar dan menampik jika laptopku dipakainya. Apalagi Boris dan Maron, saat kejadian itu mereka sedang di perpustakaan. Tapi feeling ku mengatakan bahwa Julian pelakunya. Walau dia sama sekali tidak mau mengakui, aku mendesaknya supaya dia mengakui kesalahan. Tapi hasilnya nihil, Julian tetap tidak mengakuinya.


Aku tidak boleh rapuh. Aku harus bangkit, walau aku belum bisa move on dari Divandra.


"Udahlah Fir, jangan seperti ini terus. Gue khawatir sama Loe. Semakin kesini, Loe terlihat kurusan" ucap Tasya terdengar pilu.


"Iya lhoh, jangan sedih terus. Gue janji bakal cari pelaku yang bajak WA Loe itu" sambung Boris


"Harus kita selidiki!!! Siapa pelakunya, kalo ketemu Gue mau jeblosin dia ke penjara" ancam Maron.


Tanpa disadari, aku tidak sengaja melihat ekspresi wajah Julian berubah tegang ketika mendengar ancaman Maron.


Aku reflek terkejut lalu kualihkan tersenyum saat mereka mengatakan itu,"Makasih buat hiburannya. Mungkin butuh waktu untuk hatiku sembuh Guys" ucapku dengan suara pelan.


Tasya menangis sembari memelukku,"Gue, Maron dan Boris nggak mau lihat Loe seperti ini terus Fir. Loe pasti bisa melewati semua" ucap Tasya yang selalu menyupport ku.


"Gue nggak apa-apa Sya. Mungkin masih shock berada di fase seperti ini lagi, walau sakitnya lebih dari ini" jawabku sembari menyeka airmata Tasya.


"Semangat Safira, semoga kebenaran selalu berpihak pada Loe" support Boris juga.


"Iya Fir, jangan sedih ya. Ada kita disini" Maron memelukku.


Aku menangis saat Maron memelukku,"Terima kasih kalian. Gue nggak tau lagi harus gimana kalo nggak ada kalian. Gue sekarang rapuh dan sangat rapuh."


Memang butuh waktu untuk menerima semua, tapi hati kecilku masih mengharapkan Divandra.


◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇


Aku mencoba untuk chat Diva lagi, hasilnya nihil. Sudah beberapa chat tapi tidak satupun dia balas. Telepon pun di reject berkali-kali. Sebenci itu kah Divandra padaku? Bahkan aku merasa tidak membuat kesalahan padanya, tapi seakan Divandra selalu menghindariku terus.


"Aku harus gimana lagi" ucapku dengan perasaan frustasi dan hampir menyerah


Mama memelukku dan menenangkanku.


"Sudahlah Nak, tidak baik jika berlarut-larut seperti ini" ucap Mama sembari menenangkanku.


"Maa, tapi aku di fitnah. Aku nggak mungkin minta putus dari Diva" jawabku yang ternyata sudah mengeluarkan airmata.


"Apa kamu sudah selidiki siapa yang meng hack WA website kamu Nak?" tanya Papa.


Aku menggeleng,"Safira belum menemukannya Pa" jawabku dengan nada lemas.


"Mama dan Papa tidak akan pernah menyalahkan hubunganmu dengan Diva berakhir Fir. Coba di selidiki lagi siapa pelakunya" ucap Mama menenangkanku.


Papa menyetujui saran Mama.

__ADS_1


Jujur dari hati paling dalam, aku memang berharap Diva yang terakhir. Tapi setelah kejadian ini aku sudah pasrah dengan perasaanku walau aku masih menyimpan banyak ruang di hati untuk Diva.


◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇


__ADS_2