Cinta Sempurna

Cinta Sempurna
Bab 9


__ADS_3

Pagi ini, aku siap kembali ke sekolah. Tepatnya menginjak kelas XII.


Aku yang sudah siap keluar rumah, bertepatan juga dengan Diva datang menjemputku.


"Sudah siap berangkat Tuan Putri" ucap Diva penuh senyum.


"Sudah dong Sayang, siap semangat baru di kelas XII" semangatku.


Pagi ini, Diva segera menyalakan motornya dan aku seperti biasa siap membonceng.


Banyak hal yang aku dan Diva bicarakan selama perjalanan ke sekolah. Dan sekitar 30 menit kemudian sampai juga di sekolah.


"Firaaaaaaa...."sambut Fiki dan Falen dengan pelukan saat aku tiba di sekolah.


"Hayyy" balasku penuh senyum untuk mereka,"Fay belum datang ya?" tanyaku sembari mencari keberadaan Fay.


"Belum tuh, tumben jam segini belum dateng" ucap Fiki sembari melihat arlojinya,"kamu nggak bareng sama Diva berangkatnya?" tanya Fiki.


"Bareng dong. tadi sampe parkiran dipanggil Dimas, yasudah aku cariin kalian" aku menjelaskan.


"Fir, tau nggak? Kita berempat sekelas lagi sama Diva, Dimas dan Rio" cerita Falen.


"Wahhh, asyik nih...." responku senang


"Tenangg, Rangga beda kelas kok"cerita Fiki.


Aku mengucap syukur dalam hati, akhirnya nggak ada yang gangguin aku dan Fay di kelas.


"Yuk masuk, bentar lagi bel bunyi" ajak Falen


Aku dan Fiki mengangguk setuju. Tapi saat kami jalan menuju kelas baru, aku melihat Rangga dan Fay. Tampak Rangga sedang memaksa Fay.


"Eh Guys, itu Fay kan?" tanyaku sembari meyakinkan kedua temanku.


"Bener lhoh Fir, itu Fay...." Falen mengangguk.


"Ngapain dia sama Rangga?" tanya Fiki.


Aku dan kedua temanku segera menghampiri Fay yang sedang bersama Rangga. Samar-samar terdengar Rangga meminta balikan sementara Fay terlihat berkali-kali menolak.


"Hubungan kita bisa diperbaiki Fay" ucap Rangga berharap.


"Nggak! Sudah cukup yang kemarin. Dan satu lagi, aku sudah tidak ada rasa lagi sama kamu" tolak Fay dengan tegas.


"Plisss Fay, beri kesempatan sekali lagi" Rangga memohon.


"Aku bilang NGGAK ya NGGAK, kenapa maksa??" Fay berontak.


"Aku menyesal..." ucap Rangga.


Melihat kejadian tersebut, aku langsung menghampiri Fay. Falen dan Fiki menahanku, tapi aku tetap kekeuh untuk menghampiri Fay.


"Fay, ayo masuk kelas. Bentar lagi bel masuk bunyi" aku menarik tangan Fay


Wajah Fay terlihat lega karena aku datang mengajaknya masuk kelas.


"Ngapain lu ikut-ikutan" dengus Rangga kesal sembari mendorongku.


"Aku mau ngajakin Fay masuk kelas" ucapku singkat.


"Fir, udah yuk. Kita masuk kelas" bisik Fay sembari melerai.


Aku mengangguk dan mengacuhkan Rangga yang masih berdiri di depan kelasnya yang baru.


"Kamu masih ada tanggungan untuk bertemu denganku Safira Wijaya" ucap Rangga lantang.


Aku menulikan penderangan dan tidak menanggapi ucapan Rangga.


Kini aku dan ketiga temanku masuk di kelas bersamaan.


◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇


"Mana disini yang namanya Safira Wijaya...."


Suara Rangga menggelegar saat masuk kelas XII 4


Mendengar suara yang dikenal, Diva yang kebetulan sendirian di kelas langsung maju dan menghampiri Rangga.


"Kenapa cari cewek gue?" tanya Diva.


Mata Rangga melotot dan menantang,"Gue bukan cari Lo Nyet..." jawab Rangga meledek.


"Lo cari Fira sama dengan cari masalah sama Gue" Diva langsung mendorong bahu Rangga dengan kasar,"dan satu lagi, orangtua Gue kasih nama Divandra Ilyas. Bukan Nyet" ucap Diva mulai emosi.


"Ehh, selow dong bos mukanya" ledek Rangga.


Diva mulai emosi dan tangannya ingin meninju muka Rangga, tapi tidak jadi.


"Ahh, cemen...." ledek Rangga lagi.


"Sorry nih, tangan Gue anti ninju Loe. Tapi kalo Loe nantangin Gue, pasti kepalan bogem dari tangan Gue sudah mendarat ke wajah Loe" ucap Diva mulai mencengkeram lengan seragam Rangga,"mau sampai kapan Loe ganggu kehidupan kami? kalo sampe Fira kenapa-kenapa karna Loe. Gue akan habisin Loe" ancam Diva melepaskan cengkeramannya.


"Cuihhhh ..." Rangga meludahi Diva.


Belum sempat Diva meninju Rangga, aku yang melihat dari kejauhan langsung buru-buru menghampiri mereka. Tepat menampar Rangga yang kurang ajar sudah meludahi Diva.


"Rangga!!!" tegurku langsung saat melihat Rangga meludahi Diva,"belum puas menganggu kehidupan kami. Harusnya introspeksi diri lah, bukan malah menjadi seperti ini. Diva nggak salah apa-apa, kenapa kamu ludahin dia" aku membela Diva dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Rangga terdiam sembari memegangi pipinya. Tatapan sengitnya menusuk mataku.


Aku yang ingin membalas lagi, tapi ditahan Diva, si pelaku malah melarikan diri tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.


"Udah Yang, nggak usah urusin mantan brengsekmu itu" ucap Diva tampak menahan emosinya.

__ADS_1


Aku makin emosi saat melihat Diva dengan tegar mengelap ludah Rangga menggunakan tisu basah.


"Gimana aku nggak emosi kalo lihat orang yang aku sayang diludahin gini"marahku lalu menangis sembari memeluk Diva.


"Nggak apa-apa Sayang. Aku nyatanya masih baik-baik saja tanpa ada kurang sedikitpun" hibur Diva sembari menenangkanku.


"Aku khawatir kalo kamu di sakitin Rangga" ucapku masih sesenggukan.


"Kebalik dong, harusnya yang bilang gitu aku bukan kamu" senyum Diva,"aku sudah janji sama kamu dan kedua orangtuamu akan melindungimu dalam keadaan apapun" ucap Diva sungguh-sungguh.


"Terima kasih Sayang, kamu selalu ada di setiap semua kondisiku" aku berusaha tersenyum


"Sama-sama Sayang, manusia tidak ada yang sempurna. Pasti ada fase mereka terpuruk" kata Diva yang menyadarkanku bahwa roda pasti berputar.


Tangisanku berhenti tepat Fay, Falen dan Fiki kembali ke kelas.


"Nitip Fira sebentar ya, dia lagi shock" pinta Diva lalu berpamit menuju ke toilet.


Ketiganya mengangguk dan terlihat cemas saat melihatku habis menangis.


"Kamu kenapa Fir?" tanya Fiki sembari memelukku.


Aku yang masih sesenggukan menangis mulai bercerita kejadian tadi di kelas. Fay dan Falen juga menyimak.


"Wahhh, sudah keterlaluan mantan kalian Guys" geram Fiki sembari mengepalkan kedua tangannya,"ini sih sudah pelanggaran. Lapor Bu Nita saja" Fiki melanjutkan bicaranya.


"Iya Fir, lapor Bu Nita saja. Aku juga dari kemarin di gangguin sama dia. Ngemis-ngemis balikan" cerita Fay juga.


"Heran deh, stok cewek di sekolah kita kan banyak. Kenapa masih gangguin Fira dan Fay" ucap Falen kesal.


Sementara di kamar mandi, Diva sedang mencuci muka sampai berkali-berkali di wastafel toilet cowok, ternyata Rio melihat apa yang dilakukan Diva.


"Loe kenapa Div??" tanya Rio.


Diva menggelengkan kepala dan belum menjawab pertanyaan Rio.


"Kenapa sih? Dari tadi sebelum Gue masuk kamar mandi sampe udah selesai masih aja anteng di depan wastafel toilet?" Rio semakin penasaran.


Diva masih membasuh wajahnya sekali, lalu akhirnya menutup keran wastafel.


"Gue habis di ludahin sama Rangga" Diva akhirnya bercerita.


"Whatttt????" kejut Rio, "kenapa lagi tuh bocah?? Bikin masalah lagi??" lanjut Rio mencerca pertanyaan ke Diva.


"Nggak tau, tiba-tiba waktu kelas sepi dia dateng ke kelas kita nyariin Fira. Ya aku samperin lah, sempet mau Gue jotos itu orang tapi nggak jadi eh dia malah ngludahin Gue" cerita Diva lagi.


"Kebangetan Ranggaaaaa" geram Rio merasa tak terima,"besok Gue sama Dimas mau samperin ke kelasnya. Cari masalah dia sama kita" Rio terlihat emosi mendengar cerita dari Diva.


"Gue nggak ikut berantem deh, malas meladeni cowok banci kayak Rangga tuh" ucap Diva.


"Duhh Divandraaaa, Loe itu cowok. Pinter karate tingkat provinsi, jago berantem pulak" Rio gemas, "masa lawan satu orang itu aja nggak mau. Kita hadapi demi Loe, Fira dan juga Fay" Rio memberi support.


Diva terdiam saat Rio terlihat begitu emosi mendengar ceritanya. Disisi lain hatinya lega karena ada yang membelanya.


"Lhah iya juga Div, Gue urung deh buat keroyok cowok banci itu" balas Rio sembari merenungi ucapan Diva.


Sepulang sekolah, Diva mengajakku untuk berbicara empat mata di luar sekolah. "Aduhh, Diva kenapa yaa??"batinku cemas. Tapi aku tidak banyak bertanya, aku hanya menyetujui ajakannya. Karena sudah lama aku dan Diva tidak keluar berdua.


"Sayangg, kamu bikin masalah apa sama Rangga?" tanya Diva to the point.


"Masalah apa Yang, aku nggak bikin masalah apa-apa" aku menjawab jujur.


"Insiden aku di ludahin Rangga, berawal dia nyariin kamu. Karna aku sendirian di kelas ya aku samperin" cerita Diva.


Aku terkejut mendengar cerita Diva yang sebenarnya. Lalu mengingat-ingat saat bertemu Rangga, setelah ingat aku menceritakan kronologi yang sebenarnya terjadi. Diva mendengarkan ceritaku sampai selesai.


"Jadi memang itu murni kesalahan Rangga??"Diva menanyaiku.


"Iyalah Yang, aku maju juga karna ngajakin Fay masuk kelas" aku mengangguk.


"Aneh yaa" Diva berpikir keras,"yang cari masalah dia, yang kena serangan aku" cerita Diva ikut kesal.


Aku hanya membalas dengan mengendikkan bahu,"Sebelum kamu mau introgasi aku juga bakal cerita kok Yang" ucapku menenangkan Diva,"oya, besok planningku mau laporin Rangga ke Bu Nita" ceritaku lagi.


"Terima kasih Yang, kamu selalu jaga hati buatku" Diva akhirnya tersenyum,"aku dukung kamu Yang, selama itu positif dan tidak merugikan orang lain" Diva menyupport ku.


"Sama-sama Divandra. Kamu juga selalu jaga hati buatku" aku ikut tersenyum bahagia,"terima kasih juga karna kamu selalu support aku Yang. Besok temani aku lapor ke Bu Nita ya"


Diva mengangguk dan tersenyum. Aku merasa kepalaku dibelai dengan sayang. Beruntung sekali aku jadi pacarnya. Setelah membahas masalah di sekolah, kami menghabiskan waktu berdua sembari membahas masa depan.


◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇


Keesokan harinya di kelas.


"Gimana Fir, udah siap ngelaporin Rangga ke Bu Nita?" tanya Falen.


"Siap dong" senyumku sumringah.


"Aku temenin ya" ucap Fay.


Aku menggangguk,"Thank you Fay".


"Aku temani kamu lapor Bu Nita" sambung Diva padaku.


"Terima kasih Sayang" ucapku pada Diva.


"Masih pagi lho ini, jangan mulai deh" Falen memasang wajah sebal.


"Iya nih, yang single jadi panas telinganya" sambung Fay pura-pura cemberut.


Aku dan Diva menertawakan mereka.


"Pagi guys..."sapa Fiki yang barusaja datang tepat bel masuk berbunyi,"sorry...sorry... tadi ada tugas negara dadakan nih" ucap Fiki sambil terengah-engah.

__ADS_1


"Tumben telat, biasanya paling rajin kalo nyamperin Falen sama Fay" ucapku.


"Pantesan dari Subuh nggak ada kabar mau ngajakin berangkat bareng" sambung Falen.


Fiki membalas dengan melempar cengirannya dan menunjuk tanda V pada Falen dan Fay,"Panjang gaes, nanti jam istirahat aku cerita deh" janji Fiki sembari mengatur nafasnya dan minum air mineral.


"Istirahat mau ke ruang Bu Nita, mau laporin Rangga" ceritaku.


"Setuju Fir, dia memang layak dilaporkan saja. Biar di scors lagi" dukung Fiki.


"Memang, dia keterlaluan sekali" sambung Fay.


Jam istirahat tiba. Aku, Diva dan Fay menuju ke ruang BK, tempat Bu Nita ada di ruangan tersebut.


"Safira, Divandra, Faya...." kejut Bu Nita. melihat kami bertiga sudah duduk di kursi tamu ruangan beliau,"ada masalah apa?" tanya Bu Nita sembari menghampiri kami.


"Ini masalah Rangga, Bu" lapor Diva langsung.


"Kenapa dengan Rangga? Buat ulah sama kalian lagi?" tanya Bu Nita menyimak laporan Diva dengan serius.


Kami bertiga langsung mengangguk.


"Baik, coba ceritakan permasalahan kalian secara bergantian" pinta Bu Nita.


Kami mengangguk dan menceritakan secara bergantian tentang permasalahan yang menyangkut Rangga.


"Baik, kali ini Saya akan membuat surat peringatan untuk Rangga. Ini sudah keterlaluan menurut Saya" ucap Bu Nita bangkit dari kursi nya dan mencari format surat untuk memanggil Rangga.


"Apa sebaiknya dikeluarkan saja Bu dari sekolah" tanya Fay dengan ekspresi ketakutan


"Tenang Fay, ada aku sama Diva. Kamu aman" aku menenangkan Fay.


"Iya Fay, lagian dia itu pengecut. Satu orang tapi bikin masalah dimana-mana" angguk Diva juga.


Kulihat Fay mengeluarkan airmata haru,"makasih ya Fira dan Diva. Dulu kalian sering aku jahatin. Ternyata kalian membalas dengan kebaikan hati" ucap Fay mulai sesenggukan menangis.


"Its oke Fay, aku sudah melupakan kejadian itu" aku memeluk Fay yang tampak menyesali perbuatannya dulu.


Sementara Bu Nita tampak serius menyusun surat panggilan yang ditujukan kepada Rangga


Beberapa menit kemudian, surat sudah jadi. Surat itu dimasukkan kedalam amplop yang sudah ada stempel nama sekolah kami.


"Divandra, Ibu minta tolong ini surat diberikan ke orangtua Rangga" perintah Bu Nita sembari memberikan surat panggilan kepada Diva.


Diva mengangguk dan menerima surat tersebut,"Siap Bu, saya nanti berikan surat ke rumah Rangga" jawab Diva.


"Masih ingat kan rumahnya?" tanya Bu Nita memastikan.


"Masih Bu, Saya masih ingat" Diva mengangguk sekali lagi.


Setelah kami dari Ruang BK, segera berpamitan kepada Bu Nita dan menuju kelas.


"Mampus Lu Ranggaaa....." umpat Fay.


Sepulang sekolah, aku menemani Diva ke rumah Rangga untuk memberikan surat panggilan dari sekolah.


"Selamat siang Tante, Saya teman sekolahnya Rangga mau mengantarkan surat panggilan dari Sekolah" ucap Diva sembari memberikan surat tersebut pada ibu Rangga.


"Ohh, temennya Rangga ya" ucap Ibu Rangga saat membuka pintu rumah sembari menerima surat yang dikasihkan Diva.


Setelah Ibu Rangga menerima surat panggilan dari sekolah, tampak melihatku yang dari tadi menunggu Diva di luar rumah Rangga.


"Lhoh itu....." ucap ibu Rangga sembari mengingat wajahku.


Aku tersenyum dan terpaksa menyusul Diva yang masih ada di depan teras rumah Rangga. Aku menggangguk dan menyalami Ibu Rangga.


"Oh iya, kamu Safira kan mantan pacar Rangga" Ibu Rangga berseru demikian .


Aku hanya terpaksa tersenyum agar tidak sedikit canggung karena setelah putus aku benar-benar sudah lostcontact ke semua keluarga Rangga. ekspresi wajah Diva berubah sedikit cemburu.


"Sayang, bukannya kita harus cari buku" Diva mengalihkan pembicaraan sembari memecahkan keheningan siang ini.


"Oh iya, hari ini mau cari buku materi" balasku.


Kami langsung berpamitan, lalu aku mengatakan"Tante, jangan bilang kalo saya dan pacar saya yang mengantar surat peringatan dari sekolah itu. Tapi dari temannya yang lain saja".


"Iya, Tante janji" angguk ibu Rangga setuju.


Saat di jalan menuju toko buku, tak biasanya Diva hanya diam saja.


"Sayangg, kamu kenapa?" tanyaku memecah keheningan siang ini.


Sementara yang aku panggil tampak terkejut,"Kenapa Yang....." respon Diva.


"Dari tadi diam saja semenjak pulang dari rumah Rangga" aku menjelaskan,"kamu cemburu ya waktu Ibunya Rangga mengatakan itu tadi" aku melanjutkan.


"Nggaklah, lagian itu kan masa lalumu Yang" tampik Diva,"aku percaya sama kamu Yang" ucap Diva sembari tersenyum lewat spion motor.


Aku membalas senyumannya juga. "Terima kasih My Divandra" balasku sembari memeluknya dari belakang.


Kini motor berhenti ke toko buku, disana aku dan Diva mencari materi untuk mengerjakan tugas sore ini di rumah Diva. Kebetulan toko buku tersebut dekat dengan rumah Diva.


Sesampainya di rumah Diva, aku disambut hangat Ibunya.


"Ibuu" ucapku sembari memeluk dan mencium punggung tangannya,"sehat Bu?" tanyaku pada beliau.


"Alhamdulillah, Ibu sehat Nak" senyum Ibu Diva.


"Aku ganti baju dulu ya" ucap Diva sambil berjalan ke arah kamarnya.


Aku dan Ibu nya mengangguk. Sembari menunggu Diva ganti baju dan mengambil buku PR nya, aku dan Ibu Diva bercerita banyak hal.


Setelah menunggu Diva ganti baju dan mengambil buku PR, kami segera mengerjakan tugas dari sekolah.

__ADS_1


◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇


__ADS_2