
Beberapa hari setelah bertemu dengan Divandra di parkiran mobil yang letaknya di depan gedung Rumah Sakit, aku pindah memarkir mobil di belakang gedung Rumah Sakit.
"Mati-matian move on, kenapa ketemu lagi sih" dengusku sebal sembari memarkir mobil di belakang gedung.
Setelah turun dari mobil, aku segera berjalan menuju gedung depan Rumah Sakit untuk absensi masuk lalu masuk ruangan.
Seperti biasa, kerjaan sudah mengantre di depan mata." Semangat Safiraaaa" ucapku menyemangati diri sendiri dan mulai bekerja.
Sesekali aku memantau apotek dan mengecek stok obat untuk nantinya akan dilaporkan Sora dan Pipit pada bagian pemasok obat.
Saat jam makan siang, Sora dan Pipit mengajakku makan di kantin seperti kemarin, tapi aku menolak karena hari ini ingin membawa bekal dari rumah.
"Sorry ya, next time kita makan bareng lagi" ucapku merasa tidak enak hati.
"Oke deh Mbak, kami ke kantin dulu ya" pamit Sora dan Pipit sembari berlalu.
Hatiku langsung lega karena mereka tidak banyak tanya. Semenjak bertemu Divandra di parkiran beberapa hari yang lalu, aku memilih untuk menghindarinya. Bukan tanpa sebab, aku melakukan ini untuk menata hatiku kembali.
Tapi nahas sekali, saat pulangku malam pukul 21.00 dan hendak absensi finger. Aku melihat Divandra yang mengantre absensi juga tepat di depanku, tampak belakang dengan postur punggung lebar dan rambut khasnya tebal rapi. Menahan sikap supaya tidak salah tingkah dan degupan jantung sangat susah.
"Semoga dia tidak melihatku" gumamku sepelan mungkin.
Tapi ternyata Divandra melirikku, aku berpura-pura tidak melihatnya. Langsung saja Divandra pergi dari tempat absensi.
Aku bernafas lega, karena keringat dingin sudah membanjiri seluruh tubuhku. Setelah itu aku segera bergegas ke parkiran mobil yang ada di belakang gedung Rumah Sakit.
Sesampainya disana, aku terkejut saat mendengar seseorang berkata,"Safiraaaa... mau sampai kapan kamu terus-terusan menghindariku?"
Ternyata Divandra ada di belakangku, aku menoleh padanya sembari melihat ekspresi sedihnya.
Hatiku sakit saat melihat ekspresi wajah Divandra sedih, tapi disisi lain hatiku belum siap bertemu dengannya.
"Aku mau pulang!! Dan aku sudah capek!" jawabku dengan nada ketus dan sambil berlalu.
Tapi tanganku ditahan Divandra, ingin menepis pun susah. Tangannya sangat kuat saat mencengkeram tanganku.
"Aku menyesal Fir" ungkap Divandra,"aku ingin meminta maaf atas segala ucapan dan kesalahanku" lanjutnya dengan ekspresi mata berkaca-kaca.
Aku menahan diri untuk tidak menangis,"Aku sudah memaafkanmu jauh-jauh hari setelah pertengkaran itu, tapi aku tidak bisa menolerir ucapan ketusmu itu Divandra!" ucapku tanpa sadar meneteskan air mata,"orang yang selama ini aku percaya ternyata tidak mempercayaiku, aku tidak diberi kesempatan bicara dan kamu menghindar. Dan orang yang aku kira tidak menyakitiku, ternyata ucapannya lebih tajam dari pisau!! Siapa disini yang memilih untuk menghindar!! Dan kamu pernah mikir gimana rasanya jadi aku setelah pertengkaran itu? Bahkan saat itu kamu sungguhan mutusin aku. Padahal aku tidak pernah memutuskan hubungan kita sama sekali" marahku tak tertahankan pada Diva.
Luka yang sudah lama mengering di gores lagi oleh Divandra. Itulah kenapa alasanku tidak siap bertemu dengannya. Hatiku perih saat ini.
"Maaf Fir, aku minta maaf. Tidak mendengarkan penjelasanmu dulu. Aku sudah mendengar ungkapan langsung dari Julian dan Nadin setelah melihat videonya" ucap Diva sembari memelukku, aku semakin menangis.
"Kalo waktu bisa diputar kembali, aku ingin mendengarkan penjelasanmu. Bukan dari Julian dan Nadin. Aku saat itu merasa capek sekali dengan tugas yang menumpuk dan baru saja pulang dari Distro" ungkap Diva jujur,"Aku sayang kamu Safira" bisik Diva padaku.
Aku mendorong tubuh Diva hingga pelukannya terlepas,"Aku butuh waktu Div, tapi bukan sekarang!" jawabku tegas sembari meninggalkan Diva di parkiran mobil seorang diri.
Aku segera masuk ke dalam mobil untuk menenangkan diri."Aku juga sayang kamu Divandra" ucapku sembari menangis,"hanya saja saat ini belum siap bertemu denganmu."
Sekitar 15 menit aku masih terdiam dalam mobil. Tak mungkin juga hatiku kacau sambil menyetir.
Sebelum pulang ke rumah, aku mampir dulu ke cafe dekat Rumah Sakit."Aku nggak ingin melihat kedua orangtuaku cemas karena kondisiku sedang tidak baik-baik saja" gumamku sembari memesan hot chocolate dan churos.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Pagi ini, aku izin tidak masuk kerja. Karena ingin menata hati lagi, setelah kemarin malam Diva mengobrak-abrik hatiku lagi. Rasanya campur aduk dan entah kenapa aku merasa hatiku memang belum melupakannya 100%.
Aku memutar lagu ADA Band dengan Judul Akal Sehat"Dulu ku mencintaimu, terasa bahagia....Namun kau hilang tanpa jejak membuat bertanya, apa salah diriku....Hapus memori itu, tak semudah dibayangkan....Bagai hantu di siang malam, mendera batinku. Bayang dirimu...begitu merasuk kalbu."
Saat bagian reff, aku ikut menyanyikan liriknya" Akal sehatku berhenti kala menatap indah matamu....Hingga, melempuhkan jiwa.... Kau mencuri perhatian dan sayangku....Takkan kupungkiri semua."
Lagu yang baru saja aku putar, langsung teringat memori saat aku dan Diva berada di fase bertengkar-putus-bertemu kembali di Rumah Sakit yang sama dengan perasaan yang ternyata masih menyimpan sejuta rasa di hati.
Aku memang melihat matanya saat meminta maaf, Diva sepertinya menyesali perbuatannya."Jujur, aku memang tidak bisa melupakanmu Divandra. Tapi hatiku sakit saat mengenang pertengkaran kita, kamu mutusin aku dan kamu tidak mempercayaiku" ucapku dengan nada lirih.
Butuh 2 hari istirahat di rumah dan meng upgrade semua perasaanku. Tapi Tuhan merancangnya dengan sengaja untuk mempertemukanku lagi dengan Divandra. Walau aku belum siap.
Semenjak kejadian itu, hatiku sudah mulai membaik walau rasanya masih enggan bertemu dengan Divandra lagi.
Tapi takdir seakan berpihak pada Divandra, aku yang sudah menghindar beberapa kali. Akhirnya malah bertemu dan bertemu lagi.
Kali ketiga. Saat aku akan mengirim pesanan obat untuk pasien Ners Meka. Malah bertemu Divandra. Akhirnya aku menitipkan obat tersebut kepadanya. Tanpa banyak basa-basi aku langsung kembali ke ruangan lagi.
__ADS_1
Kali keempat. Hari itu saat aku selesai rapat dengan beberapa pimpinan pihak Rumah Sakit, aku yang hendak kembali ke ruangan. Tidak sengaja bertabrakan dengannya, karena aku membawa setumpuk berkas kerjaan. Dengan cekatan, Diva membantuku membawakan berkas tersebut dan mengikutiku sampai ruangan apotek.
Kali kelima. Saat aku, Pipit dan Sora ke kantin untuk makan siang, aku yang sedang memesan ke Mbok Inah penjual lontong pecel langgananku. Tampak di sampingku, Diva juga memesan menu yang sama dan duduk disebelahku.
Kali keenam. Kami bertemu lagi saat ingin melakukan absensi fingerprint. Diva tersenyum saat melihatku, lalu mendahulukanku untuk melakukan absensi. Aku membalas senyumnya dengan senyuman kaku dan tanpa disadari jantungku berdegub sangat-sangat kencang. Entah kenapa, rasa benciku perlahan menghilang dan digantikan oleh rasa salah tingkah.
Kali ketujuh, tiba-tiba Diva datang ke ruanganku sembari membawakan makanan kesukaanku. Sontak satu ruangan menyoraki kami. Lagi dan lagi aku merasakan salah tingkah karena ulah Diva.
Kali kedelapan, kesembilan dan kesepuluh sampai kali ke 30 berturut-turut aku bertemu dengan Divandra, entah kenapa rasanya kembali jatuh cinta lagi padanya. Perasaanku kembali saat awal-awal jatuh cinta padanya sewaktu SMA dulu.
"Ada waktu luang nggak?" tanya Diva saat berpapasan denganku di lorong Rumah Sakit.
"Hmm" aku memikirkan jadwal seharian ini,"sore sampai malam ini aku free" jawabku yang memang sedang free dengan kerjaan.
"Jalan yuk..." ajak Diva tiba-tiba.
Tanpa pikir panjang, aku meng'iya'kan ajakan Diva,"Oke, nanti sore ya setelah aku menyelesaikan beberapa racikan obat " ucapku dengan mengangguk.
Diva langsung tersenyum merekah,"Iya. Nanti aku tunggu kamu di depan ruangan apotek saja" ucap Diva terlihat gugup.
Aku tersenyum dan mengangguk sekali lagi,"Makasih..." aku menjawab dengan perasaan salah tingkah juga.
Diva tersenyum geli melihat tingkahku kali ini,"Kamu masih seperti Safira yang kukenal" bisik Diva yang membuat detak jantungku berdebar kencang.
'Sial!! Tingkahku seperti ABG yang baru saja mengenal cinta. Kenapa kamu selalu bisa mencuri hatiku lagi Divandraaaa' batinku mulai salah tingkah dan pipiku sudah merasakan panas.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Malam ini, setelah aku menyelesaikan meracik beberapa pesanan obat dan mengganti baju santai. Aku dan Diva bergegas untuk pergi ke tempat yang Diva maksud. Aku lihat juga penampilan Divandra malam ini sangat-sangat sempurna. Semakin tampan dan terlihat lebih dewasa. Dengan memakai kaos abu-abu dengan dibalut jaket jens warna hitam yang sukses membuat degup jantungku berdebar 3x lipat dari biasanya.
"Kenapa sih kamu nggak pacaran sama yang lain aja" tanyaku pada Diva saat kami sedang berada di Kafe bernuansa romantis, letaknya tengah perkotaan.
"Nggak ada yang sepertimu Fir" jawab Diva jujur,"aku nggak bisa melupakanmu dan aku merasa bersalah padamu" ungkapnya lagi.
Aku menghela nafas panjang, perih dihati ternyata masih ada. Yaa, aku juga tidak bisa melupakan Divandra.
"Aku kira juga kamu berjodoh dengan orang Padang" ucap Diva lagi sembari tersenyum kecut padaku.
"Aku belum bisa menerima orang baru setelah kita putus" ungkapku jujur juga.
"Apaan sih Div...." balasku sembari memalingkan wajah untuk menutupi rasa salah tingkah malam ini.
Diva tersenyum, lalu meraih tanganku kemudian dia genggam."Aku tau, semarah-marahnya kamu nggak mungkin bisa untuk melupakan aku kan?" ucap Diva yang sukses membuat jantungku semakin berdebar,"aku merasakan hal yang sama Safira. Bahkan selama kita putus, aku masih saja kepikiran kamu dan satu lagi hatiku nggak tau mau dibawa kemana saat hubungan kita berakhir" Diva melanjutkan ucapannya.
Aku melihat cinta dimata Divandra. Teduh, hangat, dan tidak main-main dengan ucapannya.
"A..." ucapku tertahan karena telunjuk tangan kiri Diva membungkamku.
"Sudahlah, saatnya kita menata masa depan bersama. Aku tidak ingin mengajakmu untuk berpacaran lagi seperti saat kita masih SMA dulu" ucap Diva lagi.
"Maksudnya?" tanyaku masih tak paham maksud Divandra.
"Aku ingin, kamu jadi yang terakhir dalam hidupku Safira. Maukah kamu menghabiskan sisa hidup bersamaku Safira Wijaya" ucap Diva sembari mengeluarkan cincin dari kotak merah yang entah kapan ia mempersiapkannya.
"Diii..vandra" kejutku dengan terbata,"kamu melamarku di hari ulangtahunku??" ucapku yang masih spechleess dengan ucapan Divandra.
Diva mengangguk dan tersenyum,"Safira Wijaya... will you marry me??" Divandra mengulangi ucapannya.
"Yess Divandra Ilyas, i will" jawabku sembari mengangguk dan menangis terharu.
Divandra langsung menyematkan cincin ke jemari manisku dan memelukku,"Terima kasih Safira. Kamu sudah memberiku kesempatan kedua bahkan sampai terakhir. Aku janji akan membahagiakanmu selamanya" bisik Divandra padaku,"Happy birthday Safira. Semoga kita bahagia selamanya yaa" ucap Diva lagi lalu mengecup keningku.
"Janji jangan di depanku saja. Buktikan pada kedua orangtuaku" ucapku,"Terima kasih Sayang. Aamiin" aku melanjutkan ucapanku dan tak bisa membendung rasa bahagia malam ini.
Tampak wajah Divandra langsung merona.
Divandra melepaskan pelukannya, lalu dia menjawab" Oke. besok malam aku mengajak Kak Dafi, Kak Ria, Kak Viva dan Ibu menemui kedua orangtuamu" angguk Diva dengan tersenyum.
"Aku percaya, pasti kamu akan menepati janjimu dulu" ucapku penuh senyum malam ini.
Diva tampak tersenyum bahagia."Terima kasih Safira, kamu selalu memberiku kepercayaan penuh walau aku pernah membalasnya dengan rasa sakit yang tak terkira" ucap Divandra memelukku lagi.
Aku mengangguk dan tersenyum,"Aku sudah melupakan pertengkaran kita dan memaafkanmu Divandra. Aku mau mengulang kisah cinta kita lagi" ucapku membalas pelukkan hangatnya,"aku sayang kamu Divandra" bisikku pelan nyaris tak terdengar oleh Diva.
__ADS_1
Saking bahagianya, cincin pemberian Divandra aku foto dengan merentangkan tangan dan memperbesar arah cincin cantik itu dengan posisi aku masih dalam pelukannya. Setelah itu, aku upload di beranda sosmed Instagram ku sembari memberi caption"i said yes @divaily 💍🥰".
Tak butuh waktu lama, feed IG-ku langsung rame oleh komentar @mariow: akhirnya pasangan senior Gue menuju halal 🥳 @fayaputri: ehmm, ada yg balikan sama mantan nih 🤭...ciee ciee 😗😗 congrats Fira & Diva 🥰 ... hbd Firaa 🥳@falentinaagust: kado ultah nih yee 🥰🥰 congrats ya both 😗, @fikinisa: couple goals favoritku 🥰. Bener kan Gue bilang apa, jodoh nggak kemana 😆😆. Happy birthday Firr 🥳, @dimasssss: finally. Diva gercep amat yak 🤭. @chandraari: katanyaaa putusss, kok??? 😏...@tasyarani : weyyy, dilarang balikan sama mantan!!! 🤣😤... tapi kalian terlalu sweet untuk dipisahkan 😍..btw, happy birthday Safira 🥳 @maronbian : ihh, mau dong di semat cincin juga sama Ayang Diva 😗😗😗.... but, congrats duo kesayangan Mayang 😍, @borisseta: pemandangan apa ini 😏.. congrats yaa kalian, lancar sampe H 🤲, @bagasrio: lhoh, lhoh.. katanya putus. Ini kok? 😱, @aryowicak : duhh, mataku sakit liat pemandangan ini 🙈 .
Aku dan Diva tertawa membaca komentar dari teman-teman dekat kami. 'Aku berharap kebahagiaan ini tidak akan pernah berakhir' doaku dalam hati.
"Bimbing aku jadi lebih baik ya Sayang" ucapku pada Diva.
Diva mengangguk dan tersenyum,"Baik Calon Istriku. Insya Allah aku siap jadi Imam mu. Kita sama-sama belajar Sayang" balas Diva sembari mengusap pucuk jilbabku.
Aku tersenyum yang ternyata pipiku sudah memanas karena tersipu mendengar ucapan Diva ehm Calon Suami.
Dan benar saja, malam hari berikutnya Divandra datang kerumah bersama ketiga kakaknya dan sang ibu meminta izin kepada kedua orangtuaku untuk meminangku menjadi istrinya.
Dengan senang hati, Papa dan Mama langsung merestui niat baik itu. Lalu merencanakan hari bahagia kami. Safira & Divandra.
Seminggu setelah acara lamaran pribadi dan ulang tahunku. Lamaran resmi di gelar, tak lupa aku mengundang gank 3F ku dan Tasya. Tak lupa juga mengundang Dimas, Rio, Boris, dan Maron. Diva mengundang sahabat terbaiknya semasa kuliah. Candra, Bagas dan Aryo.
Setelah acara lamaran resmi yang dihadiri keluarga dan sahabat. Langsung membahas rencana pernikahan, ternyata Diva memilih tanggal ulangtahunnya sebagai tanggal hari pernikahan kami.
Selang 5 bulan kemudian, hubungan kami resmi sebagai suami istri.
"Cieeee, yang akhirnya balikkan. Selamat menempuh hidup baru ya Fira dan Divandra" ledek Tasya padaku sembari menyalamiku dan Diva.
"Kapan hubunganmu dan Boris diresmikan" ledekku bergantian.
"Tuh Boris, sudah dikode" goda Diva pada Boris juga.
Kulihat Tasya dan Boris sudah memakai cincin tunangan."Setelah acara wisuda S2 Tasya. Doakan kami ya" ucap Boris dengan senyuman.
"Aamiin, semoga lancar sampai hari H ya" doaku pada Boris dan Tasya.
Sementara Fay datang dengan perut yang sudah membesar, dibelakang Fay ada Rio. Fyi. Fay dan Rio menikah sudah 4 tahun yang lalu saat aku masih di Padang dan posisi belum boleh pulang. Akhirnya mereka sedang menanti momongan setelah 4 tahun menikah.
"Akhirnyaaaa, Gue bisa datang ke nikahan kalian. Selamat yaa Fira dan Diva" ucap Rio sembari memeluk Diva dan menyalamiku.
Diva tertawa,"Nah Loe yang pasangan junior udah mau punya junior aja. Makasih ya udah dateng"
Tampak Rio berbisik sesuatu pada kami,"Semoga kalian lekas nular segera dapet momongan ya."
Aku dan Diva tertawa salah tingkah,"Aamiin."
"Firaaa, cantik banget sih" peluk Fay padaku.
"Ihh, bumil ku juga cantik kok. Makin cantik malah. Lancar ya sampe persalinannya" ucapku sembari mengelus perut Fay.
Dibelakang ada Falen, Fiki, dan Dimas dengan pasangan masing-masing untuk menyalamiku.
"Ini lho Yang, sahabatku dari SMA yang suaminya juga temen SMP SMA ku" ucap Fiki pada suaminya lalu menyalamiku dan Diva.
Falen dan tunangannya juga datang menyalamiku dan Diva. Dimas dengan istrinya juga melakukan hal yang sama. Dibelakang barisan mereka, ada teman sejawat kami dari Rumah Sakit juga memberi selamat padaku dan Diva.
Bahagia. Karena aku dan Diva telah mewujudkan impian kami dari SMA. Hidup bersama.
"Istriku cantik sekali" bisik Diva padaku.
Aku tersipu saat Diva yang telah menjadi suamiku membisikkan gombalan seperti itu.
"Sayang, aku ingin punya 4 anak. Nanti malam langsung gas ya" bisik Diva mulai nakal.
"Kamu lupa Yang, aku masih menstruasi hari ke 2" bisikku balik.
"Yaangggg" Diva langsung melirik sebal.
Aku tertawa pelan dengan penuh kemenangan,"Puasa 5 hari dulu yaa Yang" jawabku masih merasa geli.
"Nggak apa deh, nanti malam sudah tidur sama kamu" ucap Diva sembari mengecup pipiku.
Aku tersenyum dengan pipi yang semakin merona,"Terima kasih, kamu sudah menghalalkan hubungan kita." ucapku dengan mata berkaca-kaca.
Diva mengangguk dan tersenyum padaku.
Aku sadar, cinta yang sempurna memang datang pada tepat waktu. Seperti pertemuanku dengan Divandra kembali. Sempat merajut cinta sekian lama tapi berakhir sebuah fitnahan. Lalu kembali memulai dari awal. Walau sempat menghindar terus-menerus kalau yang namanya jodoh pasti bertemu.
__ADS_1
Doaku terkabul saat mendapatkan Pria tampan, romantis, iseng sekaligus penyayang seperti Papa. Divandra Ilyas, kamulah orangnya.
♡THE END♡