
Oya, gimana kabar Fay setelah beberapa hari di tembak Rio? Fay masih bimbang dengan perasaannya, disamping itu takut akan dapat perlakuan yang sama seperti masa lalunya.
"Fiiirrr, gimana ini? Rio ngebet amat minta jawaban segera" Fay merengek padaku saat mendapat pesan dari Rio lagi.
"Ya kan yang tahu perasaanmu kamu sendiri" jawabku dengan ekspresi geli, "lagian mana tahu aku perasaanmu ke Rio" aku menambahkan.
Diva yang mendengar percakapan kami hanya tertawa,"Bentar deh bentar. Ini gimana sih ceritanya Rio bisa nembak kamu Fay?" tanya Diva penasaran,"lagian itu orang Gue investigasi juga nggak mau jawab. Heran dah" Diva melanjutkan ceritanya.
"Aku juga nggak tahu" Fay memulai cerita,"tiba-tiba saja gitu waktu aku, Fira, Falen sama Fiki lagi di kantin Rio mendatangiku dengan wajahnya malu-malu gitu sambil bilang'Fay...Gue suka sama Loe', ya otomatis satu kantin pada liatin ke arah kita dong terus pada nyorakin aku sama Rio..." cerita Fay terputus karena Diva langsung tertawa terpingkal-pingkal.
"Yaangg, dengerin sampai selesai dulu lah cerita Fay" tegurku pada Diva.
Diva masih saja tertawa, "Ya habis gimana Yang, cerita mereka lucu. Konyol. Nggak ada angin, nggak ada hujan tiba-tiba nembak. Mana mereka dikelas juga nggak pernah PDKT" ucap Diva masih merasa geli.
"Dilanjut nggak nih ceritanya. Katanya penasaran" Fay memasang muka cemberut.
"Udah, kamu cerita sama aku aja Fay. Cerita sama Diva bakal nggak jadi-jadi lagi" ucapku sembari melirik Diva yang ekspresinya berubah menjadi nyengir.
"Okee, sorry sorry... aku kebawa suasana waktu Fay cerita" ucap Diva yang langsung serius siap mendengarkan cerita Fay.
Wajah serius Diva bergantian membuat aku dan Fay tertawa,"Serius sih serius wajahnya. Tapi nggak usah tampang mau jadi wali nikah kali Div" ucap Fay.
"Iya Yang, wajah seriusmu malah kayak mau jadi wali nikah" aku setuju dengan ucapan Fay.
"Jadi cowok begini amat yaa, serba salah" ucap Diva langsung cemberut.
"Yee, gitu aja cemberut sih Yang" aku mencubit pipinya.
"Aduhh, sakit Yang. Aku bales cium nih" ucap Diva menggodaku.
Aku langsung melayangkan tisu bekas yang ada di depan untuk Diva,"jangan macem-macem kamu Yang."
"Ampun Yang ampun" balas Diva meminta maaf.
Fay tersenyum melihat tingkahku dan Diva seperti anak kecil,"Lihat kalian pacaran kayak lihat anak TK lagi berantem" komentar Fay.
"Kalo sudah mulai berantem, berarti Diva yang mulai dulu Fay" ceritaku sembari jahil melirik Diva tapi tertawa.
"Lhoh kok aku, nggak bisa gitu dong" protes Diva sembari pura-pura marah.
"Udah deh Yang, ekspresimu jangan gitu. Nggak pantes galak" balasku sembari menjulurkan lidah.
Melihat kejadian tersebut, Fay langsung menepok jidatnya sembari tertawa. Setelah itu Fay mulai menceritakan kejadian di kantin sampai tahap ini.
"Intinya, ikuti kata hatimu saja Fay. Kalo Rio suka kamu berarti sudah menerima masalalu dan kekuranganmu" aku meyakinkan hati Fay.
"Benar Fay, karena kalo suka sama seseorang udah satu paket. Kalo dia tulus sama kamu. Tapi kalo ada maunya beda lagi dong" sambung Diva menambahkan.
"Besok deh di kelas aku mau ngomong sama Rio" ucap Fay masih memikirkan jawaban untuk Rio.
"Jangan besok! Sekarang aja. Buruan telepon orangnya ajakin ketemu kamu kesini" saran Diva,"kalo teleponnya nggak diangkat, biar aku yang maju" ucap Diva.
"Tuh, aku sama Diva mendukung kalian lhoh" aku memberi semangat.
Fay tersenyum,"Thanks kalian, selalu mendukungku" ucap Fay tulus.
Tanpa pikir panjang, Fay langsung menelepon Rio. Tak lama kemudian telepon tersambung dan Fay me lound speaker teleponnya.
"Hal...lo Fay, bagaimana?" ucap Rio yang terdengar gugup.
"Oh eee, aku ganggu nggak?" tanya Fay berusaha santai walau terlihat gugup juga.
"Nggak, kamu nggak pernah ganggu" suara Rio terdengar senang,"Fay baik-baik kan disana?" Rio menanyakan kondisi Fay.
Fay kemudian terdiam cukup lama, mungkin sedang mengatur detak jantungnya sudah tak terkendalikan.
Melihat Fay terlihat salah tingkah, aku dan Diva menahan diri untuk tertawa.
"Rio, ini tentang perasaanku ke kamu" ucap Fay terdengar semakin gugup.
"Oya, gimana Fay?" Rio terdengar senang.
"Tapi boleh nggak aku nanya sesuatu sama kamu?" tanya Fay lagi.
"Tentu boleh lah, memang tanya tentang apa?" Rio menanyai Fay balik.
"Tentang perasaanmu ke aku. Boleh tahu itu awalnya gimana? Tapi kamu nggak main-main sama perasaanku?" tanya Fay memastikan,"dan satu lagi, seberapa penasarannya kamu sama aku?" Fay menyudahi pertanyaannya.
Rio terdengar sedang menghela nafas, untuk menutupi rasa grogi nya. "Oke Fay, jadi begini awal aku suka kamu" Rio memulai ceritanya," Aku dulu sering lihat kamu waktu masih sama Rangga, walau maaf(itu hasil nikung sahabatmu)jalan bareng, mantau nih dari jauh dari awal kamu bahagia sama Rangga sampai kamu di sia-siain. Semenjak kamu di sia-sia in Rangga, ada rasa dari hati ini ingin melindungi kamu, tapi kan belum bisa karena posisi kalian masih bersama. Saat kalian putus itu, aku punya peluang dong deketin kamu, tapi aku belum berani. Tapi rasa ke kamu juga belum sebesar kemarin yang langsung nembak kamu di kantin. Muncul lagi waktu kita liburan ke villa itu. Perasaanku ke kamu nggak main-main Fay, boleh kuulangi lagi...." Rio menerangkan kemudian terputus.
"Jadi selama ini?" tanya Fay memotong cerita Rio.
"Iya, Faya Kirana Nabila boleh kan aku jadi pacarmu?" Rio mengulangi ungkapan perasaannya.
Belum sempat Fay menjawab, aku menjawab"Faya Kirana Nabila. Anak siapa tuh?? Yang benar Faya Nabila Kaira Putri."
Rio terkejut saat mengetahui suara siapa itu,"Firaaa" kejut Rio dari dalam telepon.
"Ohhh, jadi gitu ceritanya ya. Menarik sekali untuk di bahas" Diva ikut bersuara dalam telepon Fay.
Rio semakin kaget,"Fay, kamu menjebakku?" ucap Rio terdengar emosi.
"Bukan begitu Rio, cuman menanyakan gimana ceritanya rasa itu muncul. Jujur, aku sempat bimbang" Fay menjelaskan.
"Cuman ingin memastikan perasaanmu kepada Fay" aku menjelaskan.
"Dan aku juga penasaran denganmu kenapa tiba-tiba nembak Fay" Diva ikut menjahili Rio.
"Aaaaaaaaaa ... gagal deh mau romantis sama Fay. Kalian udah berpasangan tetep aja gangguin aku sama Fay" protes Rio mulai kesal.
Sementara dari seberang telepon Fay, aku dan Diva menertawakan Rio.
"Gini Rio," ucapku mulai meluruskan,"kami support hubungan kalian, masalahnya Fay awalnya masih bimbang dengan perasaannya yang tiba-tiba kamu tembak di depan banyak orang. Kamu di tanyain Diva juga nggak mau cerita. Ya kalo seperti ini kan jelas, gimana Fay mau nerima nggak?" tanyaku sembari melirik Fay,"lagian Fay juga minta tolong aku dan Diva buat masalah ini. Kamu tuh pikirannya su'udzon mulu" aku menceramahi Rio habis-habisan.
Dengan malu-malu, Fay menggangguk"Aku terima kamu Rio."
"Apa? Terima apa nih?" Rio menjahili Fay.
"Terima kasih dan selamat sore" Fay menjawab dengan nada kesal.
Aku dan Diva tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban dari Fay.
"Yahhh Fay...." respon Rio terdengar kecewa.
"Ya terus gimana?" jawab Fay mengumpat senyumnya."Iya Mario Wahyu Adi, aku terima kamu jadi pacarku" jawab Fay mengulangi ucapannya.
"Yeeeeyyyyyy" teriak Rio dalam telepon.
"Cieeee kalo udah diterima cintanya, langsung jadian nggak nih" ledek Diva.
"Gimana Fay, langsung jadian atau penjajakan dulu" aku ikut meledek Fay juga.
"Ihh Fira sama Diva nih..." jawab Fay malu-malu.
__ADS_1
Aku dan Diva membalas dengan tertawa.
"Oyy oyy... kalian lagi dimana sih? Sharelock, Aku nyusul" pinta Rio.
"Minta sharelock Fay lah" jawab Diva.
"Iye, iye. Ini Gue WA Fay kok. Awas Lu Div, ntar ketemu. Gue jitak" ancam Rio.
"Emang Gue takut sama Loe. Justru Loe harusnya terima kasih sama Gue dan Fira" balas Diva meledek.
"Songong amat Loe Div" Rio mendengus kesal.
Terdengar suara Diva hanya membalas dengan tertawa.
"Yaudah, telepon aku matiin ya. Hati-hati di jalan yaa" ucap Fay pada Rio di telepon
Setelah telepon berakhir. Aku, Fay dan Diva tertawa serentak.
"Makasih ya Fir, Div. Nggak tau deh kalo nggak ada kalian" ucap Fay.
"Jangan lupa pajak jadian kalian berdua" tagih Diva.
"Divandraaa" tegurku lagi.
Diva melirikku dan tertawa,"Nggak lah Yang, aku cuman bercanda" balas Diva sembari melayangkan tanda V kearahku.
Aku langsung menggelengkan kepala kearah Diva. Fay lagi-lagi tertawa melihat pasangan kocak semacam aku dan Diva. Si Anak Tunggal vs Anak Bungsu.
◇◇◇◇◇◇◇◇
Tak terasa di kelas XII ini sudah mulai disibukkan dengan latihan-latihan soal dan latihan ujian
Belum lagi minggu depan sudah mulai mid semester
"Heran deh, kelas XII kan bebannya banyak. Masih aja ketemu mid semester" protes Falen.
"Iya nih, isi kepala rasanya mau meletus" sambung Fiki.
"Iya sih, tapi gimana lagi. Udah peraturan sekolah kita" ucapku pasrah sembari memandangi LKS yang masih kosong.
"Udah...udah... kita ini yaa, tinggal belajar aja. Baca materi, yang penting kan udah bayar sekolah juga" timpal Diva,"kita isi LKS bareng-bareng aja Yang di rumahmu" balas Diva untukku.
"Boleh, boleh...siang ini sepulang sekolah aja ya" aku langsung menyetujui.
Diva tersenyum dan mengangguk.
"Asyikkk, main ke rumah Firaa lagi" ucap Falen kegirangan.
"Fiiirr, masakin yang enak buat kita ya" request Fiki.
"Tenang, nanti aku masakin sesuatu untuk kalian semua" anggukku sembari tersenyum.
"Wahh, asyik di masakin chef Fira lagi" Fay tersenyum lebar.
"Siappp" anggukku semangat.
"Ternyata calon istriku pinter masak ya" bisik Diva padaku sepelan mungkin.
"Iya dong, biar nanti suamiku kelak bisa betah dirumah" balasku berbisik pada Diva.
Aku melihat wajah Diva memerah,"Lanjut di chatt saja ya Yang, aku malu" balas Diva masih berbisik.
"Okee Sayangku" anggukku dengan ekspresi geli.
Tampak Falen, Fay, Fiki, Rio dan Dimas mengacungkan telunjuk.
"Wahh, serunya kalian semua pada ikut" girangku.
Sepulang sekolah, aku mengajak semua rombongan untuk meramaikan rumahku. Yupp, aku mengajak teman-teman sekelasku ke rumah.
Sesampainya di rumah, aku melihat tetangga depanku sedang menggendong anak kecil sekitar umur 3 tahun.
"Tante Ratih" sapaku sembari mengangguk ke beliau.
Orang yang kupanggil Tante Ratih menoleh dan membalas sapaanku,"hay Fira. Sudah pulang sekolah ya".
"Iya Tan, mau sekalian belajar kelompok" ucapku.
Tiba-tiba anak Tante Ratih minta aku gendong"Unda, Aya mau digendong kakak Piya".
"Ehh, Kakak Piya mau belajar sama temen-temennya Nak. Jangan ganggu ya" ucap Tante Ratih.
"Sini kakak Piya gendong Aya" aku merentangkan tangan siap menggendong Aya.
"Ganggu belajar kamu dan temen-temenmu dong" Tante Ratih merasa tidak enak hati.
"Nggak kok Tan..."ucapku sembari menggendong Aya sebentar .
Belum sempat aku kenalkan ke teman-teman, Diva menghampiriku"Halo adek cantik" sapa Diva pada Aya.
"Unda, ini pacal kakak Piya" Aya menunjuk Diva dan melaporkan pada Tante Ratih.
Aku dan Diva tersipu malu.
"Ehehe... muka kakak Piya sama Kakak ini melah tuh" Aya menggodaku sembari tertawa lucu.
"Maaf ya Fir sama mas nya, Aya suka jahil" Tante Ratih mengucapkan maaf kepadaku.
"Tidak apa-apa kok Tan, Aya lucu" ucapku sembari menggelitik tubuh mungilnya.
Aya terlihat kegelian dan semakin imut ekspresinya.
"Kamu mau kenal sama kakak ini nggak" Diva menjulurkan tangan ke Aya.
Aya tampak melihat Diva sangat serius,"Kenapa Ya, sama kakaknya yang ini?" tanyaku pada Aya
Aya hanya tersenyum lucu, lalu bersembunyi di badan Bunda nya.
"Jadi mau kenalan nggak?" goda Diva lagi
Aya langsung mengangguk, lalu Diva berkata"Nama kakak Divandra atau Aya bisa panggil kakak Diva".
"Kakak Dipa..." Aya mengulangi.
Diva mengangguk dan tersenyum, tanpa sadari Aya membisikkan sesuatu pada Bunda nya" Unda, nama pacal Kakak Piya itu kayak nama anak cewek, hihihi" sembari menutup mulutnya yang terlihat deretan gigi-gigi mungilnya.
"Jangan gitu dong Nak, kakaknya malu tuh" ucap Tante Ratih.
Diva membalas dengan tersenyum.
Melihat aku dan Diva sedang bersama anak kecil, tampak teman-teman langsung menyusul kami. Mereka mencium punggung tangan Tante Ratih
"Ihh, lucunyaa" Fay tampak gemas melihat Aya dalam gendongan sang Bunda.
__ADS_1
"Hay, adik cantik. Namanya siapa?" tanya Falen.
"Gemess sekali..." Fiki tanpa ragu menowel pipi imutnya Aya.
"Div, jadi ini anakmu sama Fira ya?" bisik Dimas iseng yang dihadiahi tonjokan dari siku Diva.
"Gue tampol mulut Loe Dim" ucap Diva.
"Tau ini Dimas, mulut kagak bisa di rem apa ya" Rio melirik Dimas.
Dimas meringis pada Diva dan Rio tanpa dosa,"Bercanda Guys...bercanda" ucap Dimas.
"Teman kakak Piya banyak ya Ya" ucap Tante Ratih kepada anaknya.
"Wawww, banyak cekali Unda" balas Aya dengan ekspresi lucu yang membuat kami tertawa gemas melihat tingkahnya.
"Tante, ini Aya aku kembalikan" ucapku sembari menyerahkan Aya pada Bunda nya.
Aya langsung merengek menangis sembari berteriak"Mau sama kakak Piyaaaaa....".
"Kakak Piyaaaaa" tangis Aya.
Hatiku sedih saat Aya menangisiku, aku berusaha tersenyum ke Aya.
"Mainnya nanti lagi Sayang, kakak Piya mau belajar sama temen-temennya dulu" ucap Tante Ratih.
Setelah menangis agak lama, kulihat Aya menguap lebar sekali."Tuh kan, kamu disuruh tidur dari tadi nggak mau. Ngantuk deh sekarang" ucap Tante Ratih.
Lalu Tante Ratih berpamitan pada kami semua,"Dadah kakak-kakak, belajar yang rajin ya supaya cita-citanya tercapai. Aya pulang dulu mau bobok ciang".
Aku dan teman-teman melambaikan kearah Tante Ratih dan si kecil Aya. Setelah itu kami segera masuk ke dalam rumah untuk belajar kelompok.
Sebelum mulai belajar kelompok, aku sempat membuat spageti ayam untuk mereka. Aku mulai beraksi di dapur dengan dibantu Fiki dan Falen. Fay sedang berbincang dengan Rio, maklum pasangan baru.
Sekitar 20 menit kemudian, spageti ayam terhidang untuk semua teman-temanku termasuk Diva yang baru pertama kali mencoba masakanku.
"Aromanya harum, pasti enak nih" Diva menghirup aroma spageti ayam buatanku, Fiki dan Falen.
"Coba deh, pasti ketagihan" ucapku sembari melihat ekspresi Diva mengicip.
Diva dan teman-teman lainnya nampak mengicip spageti ayam nya. Mereka bak juri MasterChef. Sementara aku, Fiki dan Falen peserta nya, pasti ada rasa grogi karena pertama kalinya memasakkan mereka spageti ayam.
"Gila sih ini, enak banget Fir" respon Fay pertama kali.
"Iya Fir, bumbunya juga pas" angguk Rio menyetujui.
"Mantab banget, asal ada refilnya aja" celetuk Dimas yang diakhiri sorakan dari kami.
"Yee Dimas, kalo ada makanan nomer satu yaa" sewot Fiki sembari melirik Dimas.
Yang bersangkutan langsung tertawa tanpa dosa, kemudian iseng mengambil bagian di piring Diva.
"Apaan sih, porsi Gue tinggal dikit juga" protes Diva tidak terima.
Aku hanya tertawa melihat pemandangan Dimas mengambil jatah porsi Diva, lalu kembali ke dapur untuk menyetok spageti ayamnya lagi dan memberikannya kepada mereka di meja makan.
"Enak sekali Yang, kapan-kapan aku dibuatin ya buat aku bawa ke rumah" puji Diva yang membuatku tersipu malu.
"Iya Yang, pasti aku buatkan lagi" anggukku dengan senyuman.
"Cieee Diva sama Fira, romantisnya itu lho nggak ilang-ilang" ledek Dimas.
"Kenapa? Sini...sini... Gue suapin pake sendok sayur" Diva membalas Dimas.
"Jangan sendok sayur Div nanggung, langsung aja sekop pasir" timpal Rio dengan tertawa.
"Sialan Loe" dengus Dimas sembari melempar tisu untuk Rio.
Yang di lempar tisu hanya tertawa meledek.
"Dimassssss, kamu nggak boleh lempar-lempar tisu ke Rio-ku" protes Fay sembari melempar tisu balik ke arah Dimas .
"Cieeee, sekarang udah resmi jadian nih Fay dan Rio?" aku bersorak meledek Fay.
Fay langsung tersipu saat aku meledeknya,"Udah dong Fir, baru jalan 2 minggu ini" cerita Fay sembari melirik Rio.
Kulihat ekspresi wajah Rio langsung memerah malu,"Iya, nunggu jawaban Fay seminggu baru diterima" cerita Rio.
"Fay, aku kalo jadi kamu nggak usah sekalian dijawab. Biar Rio makin puyeng" gelak Falen yang ternyata membuat satu rumah pada tertawa.
"Yahhh, jangan dong. Udah nembak juga masa nggak dijawab" protes Rio.
"Tenang Beb, kan sudah aku terima kamu jadi pacarku" bela Fay untuk Rio.
Aku dan yang lain tampak menyoraki pasangan baru ini, hingga membuat Fay dan Rio tersipu malu.
"Jangan lupa berguru yang sudah senior yaaa" ucap Dimas melirikku dan Diva.
"Berguru apa? Sini kupelajarin kamu saja Dim" balas Diva.
"Dimas sirik itu Yang, liat kita pacaran di komen. Sekarang giliran Fay sama Rio pacaran di komporin mulu" responku tak mau kalah meledek Dimas.
"Buruan Dim, cari cewek di sekolah. Stoknya banyak lho" Rio bergantian mengompori Dimas.
"Iya lhoh, sepertinya di sekolah kita banyak temen-temen cewek" Diva menimbrung.
"Divandraaa" tegurku sembari melirik Diva.
"Nah Lho Div, mampus Loe. Kena tegur Fira" ucap Fiki sembari terkekeh.
"Nggak Yang, maksudnya diangkatan kita kan memang banyak temen-temen cewek daripada cowok" Diva langsung meluruskan maksud ucapannya.
Rio dan Dimas bergantian menertawakan Diva. Aku memelototi mereka yang membuat mereka semakin terpingkal-pingkal.
"Ohh, jadi ini ajaran kalian" aku menegur Dimas dan Rio," ngajarin Diva suruh liatin cewek-cewek cantik di sekolah. Coba sebutin siapa aja yang cantik di sekolah. Heran deh, Diva itu nggak mungkin macem-macem kalo kalian tidak ajarin yang macem-macem juga" cerocosku panjang lebar sembari melirik Diva sekali lagi yang ternyata mendapat balasan cengiran tanpa dosa.
"Nggaklah Yang, mana mungkin aku tertarik. Buktinya hatiku udah full sama namamu dan wajahmu. Jelas, aku nggak bakal macam-macam" Diva menjelaskan,"Dimas tuh yang sering nontoin video cewek-cewek sexy kadang sampe mata nggak berkedip" Diva berkata jujur.
"Astagfirullah aladzim Dimassss" semua berucap istigfar kecuali Falen dan melirik ke Dimas.
"Bener Loe Dim??" Rio mengintrogasi.
Dimas hanya nyengir sembari memberi tanda V kepada kami,"Itu dulu kok, sekarang udah aku hapus semua" akunya.
"Nah kan Yang, sekarang udah terbukti aku nggak terjerumus untuk liatin foto atau liatin temen-temen cewek" ucap Diva padaku.
"Iya, iya. Sekarang aku percaya. Mungkin semua punya masa lalu yang negatif, ambil hikmahnya saja" responku.
Diva mengangguk, lalu mengajak kami segera menyelesaikan LKS untuk persiapan UTS minggu depan. Sementara aku langsung membereskan piring-piring dan peralatan masak yang ada di dapur untuk segera dicuci.
Setelah semua beres, aku menyusul mereka mempersiapkan LKS yang akan dipelajari.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
__ADS_1