
5 tahun berlalu....
Aku sudah menyelesaikan kuliah S2 ku di Padang dan sempat bekerja disana juga. Saatnya kembali ke tanah kelahiranku lagi.
Aku senang, karena banyak pengalaman dan pelajaran disana. Walau ada rasa kesepian karena lingkungan tempat tinggalku di sana sedikit penghuni kosnya.
Dan ada kejadian tak terduga, yakni Divandra sering mengunjungi rumah guna bertemu kedua orangtuaku dan minta maaf atas kesalahpahamannya selama ini atau hanya sekedar bertemu dengan kedua orangtuaku. Sesekali menemani Papa atau Mama saat kegiatan di kantor mereka.
Sementara kisahku dan Divandra benar-benar sudah berakhir. Divandra berkali-kali mengirim permintaan maafnya padaku, tapi masih aku acuhkan. Walau memang hubungan kami di fitnah, tapi perlakuan dan ucapan kasar Diva masih belum aku terima lebih lagi dia tidak mempercayaiku dan akhirnya hubungan kami berakhir begitu saja. Sesakit ini kah hubunganku dengan Divandra? Lebih sakit saat mengetahui Rangga dan Fay berselingkuh. Disisi lain aku juga belum siap menerima orang pengganti Divandra.
Sempat bekerja selama dua tahun di Kota Padang, akhirnya aku resign dan memutuskan kembali ke tanah kelahiran untuk mencari pekerjaan sesuai dengan jurusanku. Kini saatnya aku mengejar karirku lagi di tempat asal. Seminggu setelah aku resign, akhirnya diterima kerja di Rumah Sakit ternama walau tergolong masih baru dan jabatanku sebagai pengelola apoteker bagian apotek rumah sakit tersebut.
"Selamat menjabat sebagai pengelola apoteker bagian ruangan Melati ini ya Mbak Safira. Semoga bisa menjalankan amanah" ucap Pak Waskita dengan ramah menyambutku di hari pertama kerja.
"Aamiin Pak, terima kasih atas kesempatan yang diberikan untuk Saya. Mohon arahan dan masukannya Pak" jawabku penuh senyum.
"Sama-sama Mbak Safira. Pasti Saya akan beri arahan dan masukannya Mbak" ucap Pak Waskita lagi dengan senyuman merekah.
Beliau Manager bagian ruangan apotek, setelah acara penyambutanku pagi ini ditempat kerja. Aku mulai berkenalan dengan teman-teman yang lain.
Mereka menyambutku dengan ramah.
"Selamat bergabung di ruangan Melati Mbak Safira. Aku Pipit" sambut Pipit menyalamiku.
"Rena..." ucap Rena menyalamiku juga.
"Salam kenal juga ya. Kalian bisa panggil saya Fira saja. Mohon kerjasamanya ya" balasku dengan senyuman pada mereka.
Mereka langsung tersenyum menyambutku dengan ramah.
Di ruangan ini ada sembilan orang. Dua diantaranya aku dan Pak Waskita. Ketujuh staff ku terdiri dari Pipit, Mbak Rena, Sora, Tama, Mas Aril, Mbak Sofi dan Mas Sony.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Sudah setahun lamanya aku kerja disini, tepat di akhir tahun membuat laporan tentang akreditasi apotek.
"Setelah ini, kita diskusikan tentang pengadaan obat untuk tahun depan yang lebih sering dicari masyarakat. Terlebihnya obat flu, batuk dan demam. Karena di musim ini sudah mulai banyak berdatangan pasien dengan gejala yang sama" aku memberi informasi di sela-sela kesibukan kami di ruangan.
"Baik Mbak, nanti Saya koordinasi dengan PT. Medician Pharma. Yang biasa pemasok untuk di apotek sini" ucap Sora.
"Oh iya Mbak, untuk stok obat-obat yang sudah tak layak konsumsi. Nanti Saya pilah-pilah lagi. Karena ternyata beberapa obat yang expaid nya minggu depan" ucap Mas Aril sembari mengecek stok obat-obatan di lemari penyimpanan.
"Baik, nanti di pilah-pilah dulu dan jangan lupa tempatnya dipisah juga" saranku dengan anggukan, lalu melanjutkan lagi pekerjaanku.
Saat jam istirahat tiba, Sora dan Pipit mengajakku ke kantin Rumah Sakit yang berada di lantai 3. Kebetulan saat jam istirahat makan siang ini, hanya kami sisa bertiga. Biasanya kami makan di kantin sebelah ruangan apotek, tapi karena ingin merasakan suasana yang berbeda. Maka memutuskan untuk makan di kantin lantai 3
"Nggak biasanya kantin di lantai 3 ini rame sekali" aku membuka pembicaraan sembari menunggu pesanan datang.
"Oh iya ya Mbak Fir, biasanya disini sepi" sahut Pipit.
"Sepertinya disini banyak stand makanan yang baru, makanya rame" sambung Sora.
"Nah, iya juga Ra. Tapi lumayan juga kalo kesini. Karena lift nya lagi di renovasi juga" jawabku sambil tertawa.
"Nah tuh, siapa yang ingin punya badan body goals, kita nggak perlu nge gym segala. Cukup naik turun tangga ke lantai 3" gelak Pipit.
Sora juga ikut tertawa,"Mbak Fira sama Mbak Pipit nih. Ada-ada saja. Percuma dong tiap hari naik turun tangga tapi malemnya junkfood" imbuh Sora yang membuatku dan Pipit semakin tertawa.
Yahh, beginilah kami jika bertemu. Jika sudah se frekuensi akan keluar aslinya.
Umur kami juga tidak beda jauh, aku jika bergabung dengan Sora dan Pipit terlihat seperti anak pertama dengan dua adik. Sementara jika bersama Mbak Rena, Mbak Sofi, Mas Aril, dan Mas Sony seperti adik mereka. Jika dengan Mas Tama, kami seumuran. Tapi kami jarang tegur sapa.
Dan siapa bilang jadi atasan ditakuti para staff nya, justru mereka sepertinya nyaman berteman denganku.
"Mbak Fir, boleh tanya sesuatu?" tanya Sora tiba-tiba.
"Apa tuh?" responku sembari menyendok lontong pecel.
__ADS_1
"Mbak Fir udah punya calon belum sih?" tanya Sora terlihat kepo.
Aku tersedak saat Sora menanyakan hal sensitif padaku, lalu meminum air putih yang kubawa dari ruangan.
"Hus, pertanyaanmu bikin Mbak Fir tersedak" sambung Pipit sembari menyenggol lengan Sora.
"Eh, sorry Mbak. Nggak tau kalo jawaban Mbak Fir begitu" ucap Sora merasa bersalah.
"Its oke Pit..Ra... memang takdirnya begitu" ucapku sembari berusaha tersenyum dan bayangan Divandra muncul lagi dibenakku,"dulu hampir pernah. Sekarang sudah putus" jawabku jujur.
Lalu aku menceritakan kisah alasan aku dan Diva putus secara detail sama mereka.
Sebenarnya aku sudah lama move on dari Divandra, hanya saja akhir-akhir ini sering kepikiran. Entah sampai kapan perasaan ini menyiksa terus.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Beberapa hari setelah kesibukanku mempersiapkan akreditasi Rumah Sakit, meeting bulanan dan memikirkan rencana kinerja tahun depan membuatku lupa akan mee time dan quality time bersama Mama dan Papa.
Seperti malam ini, aku kembali menjajah dapur lagi setelah beberapa bulan sibuk dengan kerjaan di apotek. "Masak apa yaa??" gumamku sembari mengecek bahan makanan di kulkas.
Setelah beberapa menit aku menemukan ide. Malam ini sembari menunggu kedua orangtuaku pulang, aku memasak sapo tahu seafood dan ayam goreng yang kebetulan ada ayam bumbu di kulkas
Tak butuh waktu lama, masakanku jadi. Tepat kedua orangtuaku pulang.
"Hmm, masak apa Chef?" ucap Mama sembari menghirup aroma sapo tahu seafood yang baru saja matang.
"Tau saja, kami kelaparan nih" gelak Papa sembari mengambil piring.
"Yang pasti kesukaan Mama dan Papa dong. Special Fira masakin untuk kalian" jawabku penuh senyum.
"Ayo makan, tunggu apalagi. Sapo tahu nya sudah memanggil" ucap Mama dengan tertawa.
Kami mulai makan bersama di meja makan sembari bercerita tentang kegiatan hari ini
Ada rasa rindu saat makan di meja makan seperti suasana seperti ini, belum lagi aku sempat kehilangan moment selama 5 tahun saat aku melanjutkan S2 ku dulu dan sempat bekerja disana.
"Iya Pa, lumayan banyak" jawabku dengan anggukan,"setahun kerja disana langsung akreditasi Rumah Sakit" ceritaku pada kedua orangtuaku.
"Kamu hebat Nak, Mama selalu bangga apa yang telah kamu raih. Semoga apa yang Safira cita-citakan terwujud" ucap Mama sembari mendoakanku.
"Iya, Papa juga bangga sama apa yang kamu gapai sampai sekarang" angguk Papa menyetujui ucapan Mama.
"Aamiin, terima kasih Ma..Pa... temani Safira sampai sukses dan sampai selamanya ya" ucapku sembari menyeka airmata.
Mama dan Papa mengangguk dengan senyuman
"Kami sebagai orangtua inginnya seperti itu. Tapi nggak ada yang tahu umur kami sampai kapan" ucap Papa.
Tanpa terasa ucapan Papa membuat airmataku keluar,"Jangan ngomong gitu lah Pa." protesku,"nanti Papa sama Mama harus temani aku sampai punya suami dan anak. Sampai mereka sudah gede juga" ucapku mulai manja.
"Ngomong-ngomong tentang pasangan, kamu sudah ada calon?" tanya Mama mulai iseng,"atau nunggu Divandra datang kesini buat nglamar kamu?" goda Mama lagi.
Saat Mama menyebutkan nama Divandra lagi, hatiku mulai salah tingkah tapi belum bisa memaafkan sepenuhnya.
"Kenapa tidak CLBK aja sih sama Divandra. Sepertinya dia menyayangimu. Mama dan Papa sudah mengetahui masalah kalian saat kamu masih di luar jawa itu. Dia benar-benar menyesali atas semua ucapan dan apa yang perbuat" cerita Mama.
Papa mengangguk menyetujui ucapan Mama,"Padahal Papa juga sudah cocok juga dengannya. Dia itu anak yang sopan dan tidak macam-macam, sering Papa ajak ke Kampus tempat Papa mengajar" sambung Papa dengan ekspresi pura-pura sedih.
Tanpa disadari, hatiku berdegup kencang saat Mama dan Papa bercerita tentang Divandra. "Safira butuh waktu untuk menata hati lagi Ma.. Pa...." ucapku jujur," dan Safira belum siap untuk menerima seseorang baru lagi" aku melajutkan ceritaku.
"Baiklah Nak, Mama dan Papa tidak bisa memaksakan keputusanmu. Tapi kamu harus ikuti kata hatimu. Semua ada padamu Sayang" ucap Mama dengan senyuman sesekali mengusap punggung tanganku yang mengisyaratkan 'Semua Akan Baik-Baik Saja.'
Aku mengangguk,"Terima kasih Ma...Pa...Sudah support keputusan Safira hingga saat ini" ucapku dengan tersenyum.
Aku menghela nafas panjang, ada masanya hati juga butuh istirahat untuk merasakan jatuh cinta lagi. Tapi ini tidak, seakan hati menolak menerima seseorang yang baru.
Setelah makan malam, aku membereskan meja makan dan alat masak di dapur. Setelah itu menuju tangga untuk masuk kamar. Sementara Papa dan Mama sedang membahas sesuatu sembari menonton televisi.
__ADS_1
Lagi-lagi aku merenungi ucapan Mama dan Papa,"Sepertinya mereka ingin sekali aku berjodoh dengan Divandra" gumamku sembari duduk di meja kerja. Rasanya kepalaku berat saat membahas asmara kali ini, lagi-lagi teringat pertengkaran kami di kampus membuatku menitikkan airmata."Sampai kapan aku teringat kamu terus Divandra. Sudah cukup ucapan ketusmu menyayat-nyayat hatiku. Bukannya kamu sudah tidak percaya aku lagi hingga memutuskan hubungan kita" ucapku mulai menangis. Menangis dalam diam sembari menahan rasa sakit hati.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Pagi-pagi saat aku akan absensi masuk kerja terdengar "Ners Diva ganteng juga yaa" ucap teman Ners wanita berkerudung merah maroon.
"Iya lhoh, ganteng cool gitu keliatannya" respon teman yang ada sebelahnya.
Deg!! "Diva kerja disini juga?" batinku mulai lemas saat mendengar percakapan mereka,"ahh, mana mungkin dia kerja disini" tampikku dalam hati sembari berjalan menuju ruangan apotek.
"Tuhan..kali ini saja, jangan pertemukanku dengannya dulu. Aku tidak siap" doaku dalam hati.
Setelah mendengar kedua orang yang menggunakan seragam ners, aku langsung acuh sembari masuk ke ruangan kemudian menyalakan CPU kantor.
"Pagi Mbak Firrr...." sapa Sora saat baru saja datang.
"Hay Ra, selamat pagi juga" balasku penuh senyum.
Tampak dibelakang ada Pipit dan juga Tama yang datangnya bersamaan lagi.
"Cieee, barengan mulu nih datengnya. Janjian yaa" ledek Sora dengan ekspresi geli.
Aku hanya tertawa saat Sora meledek Pipit dan Tama. Kulihat ekspresi Pipit berubah menjadi salah tingkah. Tapi ekspresi Tama biasa saja.
"Gitu amat ekspresimu Tam, ntar jatuh cinta beneran sama Pipit lhoh" ledek Mas Aril.
"Iya tuh, ati-ati lho ya" sambung Mbak Rena ikut meledek.
Langsung yang lainnya ikutan meledek Pipit dan Tama.
"Kebiasaan ya kalian-kalian ini" responku dengan ekspresi geli.
Tama tampak mendengus kesal. Yahh, kulihat Tama berbeda dengan yang lainnya. Satu ruangan bisa diajakin bercanda termasuk Pak Waskita. Tapi tidak untuk Tama yang menurutku tidak cocok di lingkungan sini.
"Guys, hari ini kalian tidak perlu jajan di kantin ya. Aku udah order mini tumpeng untuk seruangan" ucap Mbak Sofi dengan suara keras hingga ke ruanganku dan Pak Waskita.
"Asyikkk, makan-makan nih" heboh Mas Sony.
"Alhamdulillah, rejeki tanggal tua" timpal Pipit dengan tertawa.
Satu ruangan ikut tertawa.
"Dalam rangka apa Sof?" tanya Pak Waskita ikut menimbrung.
"Mbak Sofi ulangtahun Pak" timpal Mbak Rena sembari teriak dan mendapatkan senggolan dari siku Mbak Sofi.
Lalu kami di ruangan menyanyikan lagu ulang tahun untuk Mbak Sofi, tampak Mbak Sofi langsung terharu mendapatkan nyanyian ulang tahun di pagi ini.
"Mbak Sofiii, selamat ulang tahun yaaa" ucapku pertama kali sembari memeluknya.
"Wahhh, terima kasih dedek sayang" balas Mbak Sofi membalas pelukanku.
Sementara disusul ucapan dari yang lainnya untuk Mbak Sofi.
Tak terasa sudah waktunya pulang, jam menunjukkan pukul 17.00. Aku segera bergegas menuju parkiran mobil dan segera pulang. Tapi langkahku terhenti saat ada yang memanggilku dengan suara yang tak asing" Saaa..firaaaa" panggil seseorang tersebut.
Aku menoleh dan terkejut saat tahu siapa yang memanggil,"Divandraaa" aku refleks menyebutkan nama Diva yang ada di parkiran mobil juga.
"Tuhan, aku tidak siap bertemu dengannya" batinku mulai kacau saat memasuki mobil dan jantungku langsung berdebar kencang.
Saat Divandra mendekati arah parkiran mobilku, aku segera menyalakan mobil dan langsung tancap gas.
"Sorry Div, aku nggak siap bertemu denganmu" ucapku lirih dan tanpa sadar airmataku tumpah lagi.
Sementara Diva tersenyum saat tidak sengaja bertemu seseorang yang ingin ditemuinya, tapi dia kecewa saat orang tersebut memutuskan untuk menghindarinya.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
__ADS_1