Cinta Sempurna

Cinta Sempurna
Bab 18


__ADS_3

Kedua orangtuaku menyambut Diva di ruang tamu, Diva segera menyalami mereka dengan hormat. Papaku membalas dengan memeluk Diva.


        "Om Hasan...Tante Mira..." sapa Diva penuh senyum sembari mencium punggung tangan Mama Papa dengan hormat.


Kemudian Papaku langsung menyuruh Diva untuk segera duduk di meja makan. Dengan malu-malu Diva mengikutiku dari belakang.


Menu malam ini ada sop kimlo, udang cabe garam, tempe goreng tepung, dan buah jeruk. 


     "Ayo sini Diva, mari kita makan" ajak Mamaku.


     "Iya Tante.." angguk Diva malu-malu sembari mengambil nasi yang telah di siapkan di meja makan,"sini, sekalian aku ambilkan juga ya nasimu" ucap Diva padaku sembari mengambil piring kosong di depanku dan mengambilkan nasi 


Kedua orangtuaku tampak terkejut melihat pemandangan langka ini, sementara aku benar-benar salah tingkah karena perlakuan Diva sangat manis.


      "Ayo Nak, makan yang banyak. Kalo kurang tambah ya" ucap Papaku sembari mengambil lauk tempe goreng tepung.


      "Iya Om..." angguk Diva lagi sembari menyendok makanannya lagi.


Lalu kami mulai hening dan hanya alat makan saja yang bersuara.


      "Oh iya, kalian sudah berapa lama berpacaran?" tanya Papaku pada kami sembari memecahkan keheningan di ruang makan.


     "Mau jalan 3 tahun Pa" jawabku malu-malu.


Diva mengangguk malu-malu juga.


     "Begini.." ucap Papaku mulai berbicara,"Kami sebagai Orangtua, tidak melarang Safira berpacaran dengan Divandra. Bahkan kami mendukung karena selama ini Divandra membawa pengaruh Safira ke jalur yang positif. Kalian kan 2 tahun lagi sudah mau lulus kuliah, jangan main-main dalam berpacaran ya. Bawalah hubungan kalian ke dalam hubungan yang serius, Papa dan Mama hanya bisa mendukung kalian, karena pilihan ada pada kalian. Dan untuk Divandra, jangan pernah sedikit pun menyakiti Safira. Dia satu-satunya putri kami. Dari kecil sampai saat ini, Safira kami beri kasih sayang secara penuh. Sayangi Safira dengan sepenuh hatimu ya Divandra " nasihat Papa sembari memberi pesan pada Diva.


Diva mengangguk,"Iya Om. Diva janji sama Om Hasan dan Tante Mira untuk menjaga dan melindungi Safira dengan sungguh-sungguh" ucap Diva dengan mantab.


    "Diva, Mama percaya dengan ucapanmu. Mama lihat kamu memang tidak main-main saat menjalani hubungan ini" sambung Mamaku menyetujui ucapan Papaku.


    "Terima kasih Om...Tante, sudah memberi Diva lampu hijau dalam hubungan kami. Saya dan Safira akan berjuang bersama" ucap Diva penuh senyum untuk kedua orangtuaku lalu menoleh kearahku untuk tersenyum sembari memegangi tanganku.


    "Mama.....Papa..... Fira percaya penuh pada Diva, Diva sudah memberikan semuanya pada Fira. Kebaikan, ketulusan, cinta yang nggak pernah pudar, dan selalu apa adanya" ucapku meyakinkan Mama dan Papa.


Lalu aku bangkit dari kursi sebelah Diva, dan memeluk kedua orangtuaku."Ma...Pa... terima kasih untuk support hubungan Fira dengan Diva, Fira janji akan selalu bahagia bersama Diva" ucapku yang tanpa sadari mengeluarkan airmata haru.


Sementara, di dalam hati Diva tampak lega karena orangtua Safira memberi lampu hijau atas hubungan ini.


                        ◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇


    "Ihhh, kenapa sih mereka semakin nempel aja" geram Nadin saat melihat postingan Safira dengan Divandra di sosmed.


     "Loe yang dudul" sewot Marinka sembari menoyor kepala Nadin,"mereka kan memang pasangan serasi. Ya kalo memang Divandra nggak merespon Lu bagus dong, dia berarti jaga hati banget ceweknya. Loe nya aja yang ngarepnya ketinggian kayak tiang listrik"  lanjut Marinka menceramahi Nadin.


     "Hooh..." sambung Deby yang sepemikiran dengan Marinka,"orang kalo udah punya pacar pasti hubungannya di jaga baik-baik. Nah Loe mau jadi pelakor? Divandra sedikitpun tidak pernah merespon perasaan Loe Din, come on. Move on" sindir Deby.


    "Gue akan membuat mereka bertengkar hebat. Lihat saja nanti permainannya" ucap Nadin dengan tatapan sinis.


      "Heran Gue, nggak Julian...nggak Nadin, gilanya sama" ucap Deby kesal sembari meninggalkan Nadin seorang diri, Marinka menyusul Deby.


   Sementara dari jauh, ada seseorang yang merekam percakapan itu."Nadin!!! Loe keterlaluan. Tunggu aja pembalasan dari Gue. Nggak Julian...nggak Nadin... sama-sama nggak beres orangnya" geram seseorang itu sembari mengakhiri rekaman tersebut.


      "Tasyaaa..." panggilku yang membuat seseorang itu terkejut.


       "Astaga Safiraaaa, Loe ngagetin Gue" balas Tasya yang sedang mengatur detak jantungnya.


      "He..he...Sorry Sya," balasku dengan nyengir sembari melempar tanda V kearah Tasya Gue liat Loe lagi serius ngrekam sesuatu. Apaan sih?"tanyaku kepo.


      "Adaaaa deh, mau tau aja" ucap Tasya dengan menjulurkan lidahnya sembari berlari


Aku mengejar Tasya, dan berakhir menabrak" Juliannn" kejutku sembari menghentikan langkah,"sorry" balasku untuk Julian. Dan Julian terlihat salah tingkah, aku mengabaikan ekspresinya kemudian melanjutkan mengejar Tasya hingga depan ruangan kuliah.


     "Loe nggak apa-apa kan Fir?" tanya Tasya merasa bersalah.


Aku mengangguk,"It's oke Sya. Gue nggak apa-apa kok" jawabku sembari tersenyum.


      "Hay Ladies...Ladies..." sapa Mayang eh Maron pada kami.


Aku dan Tasya saling pandang lalu tertawa.


       "Hay..." sapaku.


       "Hay Maron" sapa Tasya juga.


       "Mayang dong panggilnya. Kalo Maron pas kelas aja" sewot Maron sembari mencolek dagu Tasya. 


       "Ihh Maron...."sewot Tasya sembari menepuk lengan kekar Maron alias Mayang.

__ADS_1


Aku masih tertawa karena melihat penampilan manusia jadi-jadian ini selalu tampil modis dengan warna yang senada.


      "Gilak...Gilakk.... kenapa Gue jadi minder gini liat penampilan Loe yang selalu pas gitu" ucapku yang masih tertawa dan merekamnya lalu kukirim pada Diva.


       "Iya Fir, Gue juga agak insecure kalo liat OOTD Maron eh Mayang maksudnya bisa matching" ucap Tasya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


      "Nih, Gue kasih tau caranya" ucap Mayang yang langsung memperlihatkan sosmed yang membuatnya sangat fashionable.


Aku dan Tasya hanya menggelengkan kepala karena heran melihat tingkah teman satu kelas ini.


       "Hallo Fira...Tasya...." sapa Boris pada kami,"Halo Maron..." sapa Boris pada Maron alias Mayang.


      "Ihh, kalo di luar manggilnya Mayang dong Brownies Sayanggg" balas Mayang alias Maron sembari mencolek pipi Boris.


Boris langsung menepis tangan Mayang alias Maron"Weyy, nama Gue BORIS bukan Brownies" sewot Boris.


     "Tapi kamu kan cowok item manis kayak brownies" ucap Mayang alias Maron genit sembari mencolek dagu Boris lagi, lalu berlari.


     "Maroooooooonnnnn, jijik tau nggak" teriak Boris mengejar Maron.


Aku dan Tasya tertawa terpingkal-pingkal melihat Maron menggoda Boris.


Sementara di kelas tempat Diva sedang menunggu dosen, Diva tertawa melihat video yang dikirim oleh Safira, kekasihnya.


     "Apaan sih Div?" Candra menyenggol lengannya.


     "Ini lho Cand, cewek Gue ngirim video lucu. Temennya ada yang kemayu gini, padahal cowok. Style nya kalah sama Fira dan temennya" cerita Diva yang masih saja tertawa sembari melihatkan videonya pada Candra.


Candra juga ikut tertawa saat melihat video tersebut.


Nadin yang duduk di belakang Diva dan Candra tampak panas hatinya, rasanya ingin merebut hp Diva dan mengirim pesan pada Safira untuk jangan mengganggu Diva. Tapi gagal karena dosen pengampu sudah masuk terlebih dahulu.


Mendapati itu, Deby dan Marinka terkikik geli.


    "Rasain Loe..." umpat Deby yang terdengar oleh Nadin.


Nadin melirik Deby dengan sinis, tapi Deby hanya membalas dengan menjulurkan lidah.


   "Udah, ngapain ngurusin cewek gila kayak dia" bisik Marinka menyindir Nadin.


Fyi. Nadin, Marinka, dan Deby berteman akrab dari jaman SMA. Mereka sangat dekat. Tapi setelah Nadin mendekati gebetan Marinka dan Deby, mereka langsung memusuhi Nadin. Bahkan setelah tahu Nadin berencana menghancurkan hubungan Diva dengan Fira. Marinka dan Deby semakin memusuhinya. Lalu fokus kuliah yang kebetulan pagi ini 3 SKS.


     "Fir, pulang kuliah Gue anter ya" ucap Julian menghampiriku.


    "Nggak, Gue pulang sama cowok Gue" tolakku.


     "Pliss, sekali aja" pinta Julian memohon.


Aku menghembuskan nafas dengan kasar,"sabar Fir...sabar...." batinku.


Terdengar Julian semakin memaksaku sembari menarik tanganku. Aku mendorongnya dan menarik dari genggaman tangan Julian.


     "Mau Loe apa sih?" tanyaku ketus pada Julian.


    "Gue mau Loe jadi pacar Gue" jawab Julian.


     "Gue nggak bisa" tolakku yang terus-terusan menghindari Julian.


      "Tapi Gue mau jadi pacar Loe" ucap Julian memaksa sembari memegang tanganku.


      "Loe ngerti bahasa Indonesia TIDAK kan?" bentakku,"Ya tapi Gue nolak Loe. Nggak usah maksa kalo Gue nggak mau, karena ada hati yang Gue jaga" jawabku ketus.


Tasya menghampiriku dan Julian" Berhenti Julian!!!!!!" teriak Tasya,"Safira punya hak untuk menolak Loe karena dia sudah punya kekasih. Sadar diri napa sih" ucap Tasya sembari mendorong Julian.


"Woyyyy ....." bentak Maron dengan suara lantang pada Julian, lalu Maron segera menghampiri Julian dengan berubah menjadi centil."Abang Ganteng, kalo Loe masih gangguin Safira, nanti Mayang cium nih" ucap Maron alias Mayang dengan ekspresi mengerutkan mulutnya dan siap mencium Julian.


Sementara, batinku tergoncang teringat dulu waktu SMA Rangga memaksaku untuk balikan. Tanpa pikir panjang aku langsung menghubungi Diva, tapi dia tidak mengangkat teleponku. Kutelepon lagi hasilnya nihil. Aku ketakutan dan bersembunyi di balik badan Boris.


    "Udah Fir, nggak apa-apa. Julian paling takut sama Maron alias Mayang. Kamu yang tenang ya" ucap Boris menenangkanku.


Aku mengangguk dengan perasaan yang semakin takut, disisi lain Diva tidak mengangkat teleponku


Aku melihat Julian langsung mundur dan lari terbirit-birit karena Maron alias Mayang menggodanya.


       "Loe nggak bakal Gue lepas Safiraaa..." ancam Julian langsung keluar ruangan.


Melihatku dengan kondisi shock, Tasya langsung memelukku"Tenang Fir. Aku, Boris dan Maron akan selalu melindungimu" ucap Tasya menenangkanku sembari memelukku.


Di ruangan berbeda, saat Diva dan semua teman-teman seangkatannya selesai kuliah. Tampak Nadin langsung mendekati Diva dan menyatakan perasaannya,"Diva, Gue ingin jadi pacar Loe" ungkapnya.

__ADS_1


    " Nggak...." jawab Diva singkat sembari membereskan buku-buku kuliahnya dan memasukkan dalam tasnya.


     "Tapi Gue suka sama Loe" ucap Nadin sembari mendekati Diva.


Tubuh mereka saling berdekatan, lalu Diva mendorong Nadin"Tapi Gue nggak suka Loe!!!!" jawab Diva tegas.


     "Divaaa, ayolah kita pacaran" ucap Nadin dengan merengek.


Rengekan Nadin tidak dihiraukan Diva, bahkan Diva fokus mengecek hp nya dan ternyata mendapat 10 panggilan tak terjawab dari Safira. Diva langsung menelepon Safira, tapi hpnya di rebut Nadin hingga terjatuh.


     "Loe..." tunjuk Diva ke Nadin,"Gue nolak Loe karena ada hati yang Gue jaga. Kenapa Loe maksa" marah Diva lalu mengambil hpnya yang terjatuh.


    "Dan satu lagi, Gue samasekali nggak simpatik sama Loe" ucap Diva sembari mendorong Nadin dan membawa tasnya kemudian keluar ruangan. Nadin mengejar Diva tapi di tahan Marinka dan Deby.


    "Harusnya Loe, tau diri dan sadar diri!! Dasar cewek murahan!" maki Marinka.


    "Heran Gue, harga diri Loe jatuh demi cowok yang nggak suka Loe. Muka mau taruh mana??" sambung Deby.


    "Kalian!!!!!" tunjuk Nadin dengan ekspresi murka.


    "Apa??" tantang Deby tidak takut,"Loe itu serakah. Semua cowok disini mau di gebet. Dan ini kali ketiganya Loe gebet cowok ORANG lagi dan berakhir penolakan" ungkap Deby sembari tertawa


Marinka ikut menertawakan Nadin.


     "Yaudah kalo Loe Loe pada nggak mau bantuin Gue. Gue akan dapatkan sendiri tanpa bantuan kalian" ucap Nadin kesal.


    "Uwww" sahut Marinka,"Yakin Loe bisa hidup tanpa bantuan kita-kita" ucap Marinka meledek.


    "Biarin aja lah dia, suatu saat dia akan menanggung malunya" ajak Deby pada Marinka, lalu meninggalkan Nadin seorang diri.


                    ◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇


Diva menghubungi Fira sekali lagi, telepon itu akhirnya tersambung."Hallo...." balas Fira dari dalam telepon dengan suara lemas.


      "Sayang, kamu dimana?" tanya Diva dengan nada panik.


     "Aku di balkon lantai 2 Yang. Sama Tasya, Boris dan Maron" jawab Fira dengan suara pelan.


     "Oke, aku kesana. Kamu jangan kemana-mana" pinta Diva.


Sesampainya di balkon lantai 2, Diva terkejut melihat Fira sedang shock. Terlihat wajahnya penuh airmata dan kerudungnya sangat berantakan.


       "Safira kenapa?" tanya Diva terlihat panik dan khawatir,"ayo bantu aku bawa Safira ke klinik fakultas" pinta Diva pada Boris, Maron dan Tasya.


Mereka mengangguk, lalu membantu Diva memapah Safira ke klinik fakultas yang letaknya di lantai bawah kampus.


Sesampainya ke klinik, Diva dengan cekatan membuka kotak P3K dan memberi obat gosok pada Safira. Melihat pemandangan itu, mereka terkejut sekaligus kagum.


        "Kamu tiduran aja Yang, aku disini sama temen-temenmu" bisik Diva pada Safira yang mulai memejamkan matanya.


        "Kasian dia, sepertinya terlihat shock sekali" ucap Tasya dengan ekspresi sedih.


Diva mengangguk," Dia begitu Guys kalo dapat perlakuan kasar dari seseorang" Diva menjelaskan,"kenapa Safira seperti itu?" tanya Diva penasaran.


Tampak Boris, Maron dan Tasya saling pandang dan menyikut satu sama lain. Lalu...


        "Safira habis menolak Julian, tapi Julian memaksa ingin menjadi pacarnya" Boris memberanikan bersuara.


Duarrr! Jantung Diva seakan meledak mendengar penjelasan dari Boris.


        "Ati-ati Loe Bro, Julian itu cowok arogan yang ingin dapetin semuanya. Termasuk memaksa Safira ingin jadi pacarnya" Maron mengingatkan


Diva mengangguk mengerti,"Iya, makasih ya kalian udah mau nemenin Safira sampe Gue datang" ucap Diva tulus dan tersenyum pada Maron, Boris dan Tasya.


      "Gue Divandra, atau kalian-kalian bisa panggil Gue Diva" Diva memperkenalkan diri pada Boris, Maron dan Tasya dengan menjabat tangan mereka satu persatu.


     "Tasya..." balas Tasya membalas jabatan tangan Diva.


     "Hay Bro, Gue Boris" balas Boris dengan senyuman melebar dan memjabat tangan Diva juga.


       "Maron" ucap Maron juga memperkenalkan diri juga pada Diva,"tapi kadang kalo Diva ketemu Gue di luar kampus bisa manggil Mayang. Okee" lanjut Maron alias Mayang mulai centil.


     "Loe nggak usah genit, dia cowoknya Fira. Dan Loe cowok Maronnnnnnnn" dengus Tasya melirik sinis kearah Maron.


Maron langsung diam lalu berubah menjadi normal lagi.


Boris dan Diva menertawakan Maron. 


                       ◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇

__ADS_1


__ADS_2