Cinta Terlarang Penjaga Gunung

Cinta Terlarang Penjaga Gunung
Bab 20


__ADS_3

Malam harinya Serin berencana untuk mengajak Jeha untuk nonton film horor bersama dengannya.


"Jeha ayo duduk di sebelahku!"Serin mengeser duduknya agak tengahan. Jeha langsung duduk di sebelahnya.


"Kamu mau nonton apa emang?" Tanya Jeha yang sudah melihat Serin membuka laptopnya.


"Film horor, sudah lama aku tidak menontonnya"


"Kamu tidak takut Serin?" Tanya Jeha tidak yakin.


"Aku ini gadis yang pemberani tau" ucap Serin sombong.


Serin mulai memutar film di laptopnya, tidak lupa ada cemilan yang menemaninya.


"Jeha ayo buka mulutmu" Serin menyuapi keripik kentang.


"Kamu mulai lagi"


"Iih benaran ini" kekeh Serin.


"Saya tidak bisa merasa lapar. Apa lagi makan" Jawab Jeha.


Serin menepuk jidatnya sendiri."lagi lagi aku lupa hal itu. Karena aku selalu menganggapmu nyata" Serin tanpa sadar hendak menyadarkan kepalanya pada Jeha. Namun ia malah bentur ujung ranjangnya.


BRUK!


"Aduh" Serin memegang kepalanya yang terbentur itu.


"Hahaha.. kamu menggemaskan! Lagi lagi Kamu lupa kalau saya itu tembus pandang" kata Jeha.


"Ish nyebelin banget" dengus Serin yang malu karena ketahuan ingin menyadarkan kepalanya di bahu Jeha.


"Katanya mau nonton?"


"Iya ini aku nonton!"


Serin menonton film horor tersebut dengan mode serius. Tiba tiba...


"AAAAAA!! Hantunya muncul nyeremin banget" teriak Serin menutup kedua matanya menggunakan tangannya.


"Katanya kamu gadis yang pemberani?" Tanya Jeha meledek.


"Aku tidak takut! Aku hanya kaget karena hantunya tiba-tiba muncul" Jawab Serin ngegas. Membuat Jeha hanya tersenyum melihatnya.


Serin pun melanjutkan nontonnya namun ada beberapa adegan yang sangat menyeramkan.


"AAAAAA!! Ini sangat seram. Aku tidak mau melanjutkannya" Serin langsung menutup laptop.


"Yaudah lebih kamu tidur saja!"


"Iya aku mau tidur saja. Bye bye"


Serin memutuskan untuk tidur, ia langsung menarik selimutnya membungkus seluruh tubuhnya. Namun saat ia hendak memejamkan matanya ia teringat akan adegan menyeramkan di film horor yang ia tonton tadi.


Sesekali Serin mengintip dari balik selimutnya memastikan apakah Jeha ada di kamarnya." Tidak dia, kemana?" Mata Serin melirik kesana-kesini.

__ADS_1


"JEHA!" Teriak Serin yang langsung membuka selimutnya.


"Hayo kenapa belum tidur?" Tanya Jeha yabg ternyata sedang duduk di meja riasnya.


"Jeha kamu jangan jauh jauh duduknya! Cepat sini duduk di sebelahku" Serin mengeser tubuhnya agak ke tengah.


Jeha pun beranjak mendekati Serin yang sedang terbaring tertidur, dan duduk di sebelahnya.


"Aku takut, tidak bisa tidur karena ke ingat film tadi"


"Tenang saja saya ada di sini. Tidak akan ada yang berani menganggu kamu"


Serin masih terbayang bayang adegan menyeramkan di film horor yang ia tonton itu.


"Kamu sangat lucu sekali. Kamu takut dengan film horor yang tadi, tapi kamu tidak takut denganku?"


"Kamu berbeda dengannya. Kamu itu hantu paling tampan" Jawab Serin tersenyum.


"Saya memang tampan dari lahir"


"Iya aja biar senang"


"Tidurlah aku akan menjagamu!"


Serin cepat cepat memejamkan matanya seolah sudah tertidur pulas. Namun ia masih khawatir jika Jeha meninggalkan lalu Serin membuka matanya sedikit memastikan kalau Jeha ada di sebelahnya.


"Serin tenang aja. Aku ada di sini kok" ucap Jeha yang mengetahui Serin meliriknya.


"Janji ya kamu tidak kelayapan malam ini"


"Ahhh... Lagi lagi aku baper" Serin langsung memejamkan matanya rapat rapat sembari menarik selimut menutupi wajahnya.


Jeha tertawa gemas melihat salah tingkah Serin. Rasanya ia sangat ingin memeluk Serin namun apa daya ia tidak bisa menyentuhnya.


"Kuharap kebahagiaan ini bertahan lama"


Ini benar benar gila tapi nyata, Serin benar benar menyadari perasaan terhadap Jeha. Kenapa ini sangat sulit? Kenapa kami harus berbeda? Haruskah aku kubur rasa di di dalam hatiku.


Satu bulan telah berlalu ini saatnya Serin kembali dari liburannya dan mulai melakukan aktivitas sebagai seorang idol K-Pop. Serin mempersiapkan barang barang yang akan ia bawa serta oleh oleh untuk teman temannya.


"Kamu mau kemana Serin?" Tanya Jeha melihat Serin mondar mandir.


"Aku akan kembali ke Seoul" ujar Serin yang sudah membawa tasnya.


"Ke Seoul? Apakah kamu akan kembali lagi ke sini?" Tanya Jeha dengan wajah khawatir.


Serin berpikir sejenak."mungkin tidak! Karena rumahku ada di Seoul."


"Itu berarti kamu akan meninggalkan saya" ujar Jeha lirih.


Serin yang sudah bersiap untuk pergi. Tidak mendengar apa yang Jeha katakan tadi, ia terlalu sibuk melihat ke arah layar handphonenya."haruskan aku membeli satu tiket pesawat lagi?" Tawaran Serin.


"Apa maksudmu Serin?" Tanya Jeha yang masih bingung.


Serin menatap sejenak kearah Jeha. "Apa kau tidak ingin ikut denganku?" Tanyanya.

__ADS_1


"Saya mau ikut!" Seru Jeha Senang.


"Tunggu! Bagaimana dengan wilayahmu? Jeha Sang Penjaga Gunung?" Ledek Serin tertawa.


"Masih banyak kok hantu hantu yang menjaga gunung itu. Jadi tidak masalah jika saya ikut denganmu" Jawab Jeha.


Di ajak ke Seoul dan tinggal bersama Serin disana seperti mendapatkan keuntungan besar bagi Jeha. Terlebih lagi ia bisa pulang ke kampung halamannya.


Kemudian Serin berpamitan pada bibi Marie yang sudah merawat di sini selama satu bulan. Setelah selesai berpamitan Serin segera meminta Pak Martin untuk mengantarkannya menuju bandara.


"Ayo Jeha" titah Serin sembari masuk kedalam mobilnya. Di ikuti oleh Jeha lalu duduk di sampingnya Serin.


Di dalam mobil seperti biasa Serin harus menggunakan topi hitam dan masker untuk menutupi wajahnya.


"Nona apa saya perlu ikut ke Seoul untuk mengawal nona Serin?" Tanya Pak Martin.


"Tidak usah pak, nanti di bandara Incheon aku di jemput sama Renjun. Karena kami berencana akan membuat kejutan besar" ujar Serin.


"Kejutan besar apa Serin?" Tanya Jeha penasaran.


Serin mengetik sebuah note di handphonenya lalu menunjukkan pada Jeha.


Note : Jeha kepo. Maaf ya aku nggak bisa bicara denganmu dulu, soalnya di sini ada pak Martin nanti aku di anggap gila ngomong sendiri.


"Saya mengerti"


Setelah menempuh perjalanan beberapa jam akhirnya Serin sampai di bandara ia langsung menuju pesawat bersama dengan mengikutinya.


Sepanjang perjalanan Serin merasa tidak sabar ingin segera sampai di apartemen mewahnya dan bertemu dengan teman temannya. Pasti mereka semua sudah sangat merindukan dirinya.


Akhirnya Serin sampai di bandara Incheon disana Serin melihat Renjun yang sedang menunggunya dan sudah ada beberapa media yang menemaninya.


"Oh iya Jeha kamu jangan jauh jauh dari aku ya. Takut hilang nanti soal bakalan banyak media yang meliput aku" ujar Serin khawatir.


"Tenang saja saya akan selalu berada di dekat kamu"


"Ah, itu Renjun!" Pekik Serin melihat Renjun melambaikan tangan.


Serin membalas lambaian nya. "RENJUN!!"


Serin berlarian kecil kearah Renjun lalu memeluknya dengan erat."Renjun aku sangat merindukanmu" ujarnya dengan senyuman.


Renjun membalas pelukan dari Serin lalu mengangkat tubuh Serin dan menatap wajah."aku lebih merindukanmu" ujar Renjun lalu menurunkan Serin dari pelukannya.


"Saya benar benar iri dengan Renjun! Bisa seperti itu dengan Serin" ujar Jeha yang lesu.


Tiba tiba Serin memundurkan langkahnya agar ia dekat dengan Jeha. Seolah olah Serin tau bagaimana perasaan Jeha saat melihat dirinya asik bercengkrama dengan Renjun. Pasti sangat sedih, lalu Serin melirik kearah Jeha ia tersenyum tipis seperti mengisyaratkan kalau dia dan Renjun hanya berteman seketika Jeha langsung menjadi semangat.


"Serin bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Renjun.


"Aku sangat sehat" Serin tertawa.


Sementara itu para reporter sibuk memotret kebersamaan Serin dan Renjun. Seolah olah mereka mendapatkan sebuah berita yang sangat besar.


"Ayo aku akan mengantarmu!" Renjun mengandeng tangan Serin menuju mobilnya.

__ADS_1


Tidak lupa Serin juga mengandeng tangan Jeha walaupun tebus panjang.


__ADS_2