Cinta Tulus Arka

Cinta Tulus Arka
1


__ADS_3

Apa salahnya dengan tubuh berlapiskan lemak? aku tahu tubuhku tidak menarik, tapi bukan berarti aku harus di kucilkan bukan?


Bukan berarti... aku tidak pantas mendapatkan kehidupan dan kebahagiaan, atau mencintai dan di cintai.


Meskipun sebenarnya aku sudah kebal dengan berbagai macam hinaan, tapi bukan berarti aku tidak pernah merasakan yang namanya sakit hati dan frustasi.


Berbagai macam cara telah aku coba untuk menurunkan berat badan, tapi hingga detik ini semua cara nihil, alias tidak berhasil.


Mungkin karena aku tidak konsisten saat menjalani program diet itu, terlalu mudah menyerah hanya karena godaan bakwan jagung hangat yang tersaji di atas meja.


***


Sebenarnya aku bahagia dengan tubuhku yang berlemak ini, yah meskinya memang tidak enak di pandang, dan susah mendapatkan baju langsung jadi.


Alih-alih diet untuk alasan kesehatan, sebenarnya itu bohong, aku melakukan diet karena ingin dicintai oleh pria yang sudah lama aku sukai.


Apa hal itu salah?


Apa wanita gemuk sepertiku tidak berhak mencintai seorang pria, terlebih... untukku, pria itu teramat tampan, amat sangat tampan, itu faktanya. Tidak hanya menurutku saja.


Terbukti dengan kariernya yang bergelut di depan kamera, yah dia merupakan seorang Model OOTD Korea, Selebgram, juga Youtuber.


Iyah, dia adalah Arka Prasetya Sihombing, pria yang berhasil meluluhkan hatiku yang beku, siapa tak kenal dengan Arka?


Arka adalah pria baik-baik dengan latar belakang keluarga yang juga sangat baik, dia humoris, terkadang romantis, dia terkenal dengan kedermawanannya dan juga rendah hati.


Dia adalah sosok pria sempurna di semua pasang mata wanita, dia juga bukanlah pria pemilih, terbukti dengan dia yang mau berteman dengan ku.


Meskipun dengan banyaknya kekurangan yang kumiliki, terlihat jelas bahwa dia tidak pernah sedikitpun merasa malu berteman denganku, dia sosok pria sederhana meskipun harta keluarganya bergelimang dimana-mana.

__ADS_1


***


Aku dan Arka berteman sejak Sekolah Dasar (SD), saat dimana dia pindah sekolah di tempatku, dan juga menjadi tetanggaku hingga sekarang.


Iyah meskipun sebenarnya kita beda usia, Arka lebih tua satu tahun, dia lebih dulu lahir ketimbang aku.


Selama kita berteman sekalipun dia tidak pernah mengecewakan ku, justru dia selalu menjadi penguat, penolong, pelindung, dan penyemangat ku untuk terus bisa hidup hingga detik ini.


Hanya dialah, satu-satunya teman priaku yang tidak pernah memandang aku secara fisik, tidak pula menyakitiku dengan perkataan yang menyakitkan.


Banyak kejadian-kejadian yang tidak mampu aku lewati seorang diri saat remaja, saat-saat masa pubertas di bangku Sekolah menengah Pertama (SMP), andai saja tidak ada dia saat itu di sampingku, menemaniku di saat aku benar-benar merasa sendiri, mungkin saat ini namaku sudah tertulis di batu nisan.


Mungkin karena itu aku mulai mencintainya, mulai melihat dia sebagai seorang pria, bukan hanya sekedar teman pria.


Meskipun terkadang Arka suka bersikap seolah Kakak untukku, teman sudah pasti, yang lebih mengagetkan nya lagi dia bisa menjadi seorang Ayah untukku, yang memang tidak pernah aku memiliki sejak usiaku lima tahun, dia paket lengkap.


Aku merasa tidak bisa hidup tanpanya, alih-alih ingin menyatakan cinta, aku justru semakin takut pengakuanku justru akan menjadi sebuah derita.


Pasalnya kita mempunyai janji saat duduk di bangku SMA, kita tidak boleh saling suka. Aku takut dengan pengakuanku dia akan menjauhi diriku.


Maka hingga detik ini aku selalu memendam rasa itu, biarlah aku sengsara seorang diri, dari pada aku benar-benar akan kehilangan seseorang yang amat berarti dalam hidupku untuk selama-lamanya.


Iyah, kehidupanku dengan nya berbanding terbalik, aku yang sulit mendapatkan teman sementara dia amat sangat mudah mendapatkan teman laki-laki maupun perempuan.


Jangankan teman, kekasih sekalipun rasanya amat sangat mudah untuk ia dapatkan. tak jarang ia temui wanita yang menyatakan cinta kepadanya terlebih dahulu, atau mendapati wanita-wanita si pemberi hadiah-hadiah sederhana hingga luar biasa, perhatian-perhatian hingga hal-hal yang tidak masuk akal, hanya untuk mendapatkan perhatian dan cintanya Arka.


Aku tidak sampai begitu, meskipun aku akui, aku mencintainya. Bisa dikatakan aku wanita paling beruntung, beruntung bisa berteman dengan Arka sedekat ini.


Sedekat... saat ini, aku tengah berbaring di tempat tidurnya, sedekat saat ini... aku tengah sarapan buatan Ibunya, dan sedekat saat ini, aku tengah bermain catur bersama Ayahnya.

__ADS_1


Aku mengakui dan merasakannya sendiri, bahwa aku mendapatkan beberapa hal hak istimewa, yang dapat aku lakukan sementara wanita lain tidak, bahkan mantan pacar Arka sebelumnya tidak pernah mendapatkan hal-hal semacam ini.


Ahh, Iyah entah ini berita baik atau buruk, saat ini Arka sedang sendiri, di satu sisi aku bahagia karena bisa jadi akan ada kesempatan untukku, tapi di satu sisi akan semakin banyak saingan yang harus aku singkirkan.


Meskipun sebenarnya Arka memiliki tampang yang tampan, tapi jika sudah marah dia amat sangat menakutkan.


Oiya, Arka merupakan anak tunggal, dan Ayahnya merupakan pebisnis yang cukup terkenal, maka dari itu mau tidak mau kelak dia akan menjadi penerus atas segala hal yang saat ini tengah Ayahnya kelola.


Dan beruntungnya lagi, isi kepala Arka memang memadai, dia bisa masuk ke segala bidang yang dia kehendaki, intinya tidak seperti aku, yang serba tersendat kemanapun aku ingin berpijak.


Tak jarang Arka selalu membantu aku untuk bisa melakukan apa-apa yang aku mau, seperti beberapa tahun lalu...


Saat itu aku hampir setiap hari datang kerumahnya, belajar bersama Arka di dalam kamarnya hingga larut malam dengan beberapa buku-buku tebal hanya untuk bisa masuk ke universitas yang sama dengannya.


Namun sayangnya otak ku yang tidak seberapa ini... memang tidak dapat di ajak kompromi, aku tidak masuk di universitas yang Arka masuki.


Alhasil aku masuk ke universitas yang menerima aku yaitu salah satu universitas swasta nasional, ia memang tidak terlalu buruk, tapi hal yang membuat aku merasa buruk adalah... tidak dapat bertemu dengan Arka setiap hari, adalah siksaan paling menyakitkan.


padahal sewaktu SD, SMP, dan SMA kita selalu bersama. Iyah, walaupun Arka selalu lebih dulu pergi, meninggalkan aku sendiri satu tahun, tapi sekarang aku harus berpisah selama kurang lebih 4 tahun, rasanya berat... belum lagi aku harus mencari teman baru, yah minimal satu dari sekian banyak nya mahasiswa/i yang ada di universitas itu.


Andai saja ada Arka, mungkin aku tidak akan serisau saat ini, sebab aku tidak perlu mempunyai teman lain selain Arka.


Andai saja Aku satu universitas dengannya maka Aku tidak perlu bingung untuk pulang dan pergi.


Tapi sayangnya, Arka yang di ibaratkan Langit, sampai kapanpun memang tidak akan dapat aku hinggapi.



Arka Prasetya Sihombing

__ADS_1


__ADS_2