
Farel dan Aya segera berjalan melewati Arka yang masih terdiam. Hingga keduanya benar-benar pergi tak terlihat lagi. Dengan sangat terpaksa Arka akhirnya merendahkan harga dirinya, dengan mengikuti hendak kemana keduanya pergi.
Farel sudah duduk di sofa, menunggu Aya yang hendak mengambil minuman dan beberapa cemilan.
Tanpa diminta Arka ikut duduk di sofa single, meskipun ia tahu kehadirannya tidak di harapkan oleh keduanya.
Tak lama Aya datang dengan satu minuman berwarna orance dan beberapa toples mini ke hadapan Farel.
"Silahkan Kak di minum?!". Ucap Aya ramah kepada Farel. Dan mengacuhkan keberadaan Arka seolah-olah Arka tidak pernah ada.
"Minuman buat aku mana?". Tanya Arka, yang di acuhkan oleh keduanya, terutama oleh Aya.
"Iyah, makasih". Ucap Farel tak kalah ramah.
Arka yang kesal segera mengambil minuman yang hendak di sediakan untuk Farel. "Hmm, seger, makasih yah". Ucapnya kemudian dengan wajah tanpa dosa.
"Itu minuman buat Kak Farel, kenapa kamu minum?!". Ucap Aya kesal.
"Ohh sorry... tapi kayanya dia gak haus sih".
"Gak apa-apakan, Gua minum?". Tanya Arka basa-basi.
"Hmm, it's okay".
"Ya udahlah jangan ngambek gitu, dia bisa bikin minuman sendiri kok kalau emang haus". Ucap Arka pada Aya yang masih menatapnya dengan tatapan kesal.
"Heh". Aya menarik nafas berat sebagai tanggapan atas apa yang diucapkan Arka.
"Maaf yah Kak, Kalau haus ngambil aja, gak usah sungkan, anggap aja rumah sendiri". Ucap Aya kembali ramah kepada Farel.
"Iyah, gampanglah".
"Jadi gimana kerjaan Kakak hari ini? Lancarkan".
"Heh? Lancar kok, tapi ..."
"Tapi apa Kak?".
"Untuk beberapa bulan kedelapan Kakak di tugaskan ke luar negeri". Ucapnya sendu, sembari menatap wajah Aya ingin melihat reaksinya akan seperti apa.
"Hah? keluar negeri? kemana?". Tanya Aya beruntun.
"Amsterdam". Ucap Farel sembari memegang kedua tangan Aya.
"Harus banget pergi ke Belanda? dalam rangka apa?". Tanya Aya kini kedua matanya mulai berkaca-kaca.
"Jadi perusahaan tempat aku kerja, punya client di Belanda kebetulan aku bisa bahasa Belanda, bahasa Inggris juga".
"Hah? Kakak bisa bahasa Belanda? kok aku gak tahu".
"Iyah, aku belajar bahasa Belanda dari SMA karena Papah kandung Kakak berasal dari Belanda".
"Apa? maaf yah Kak, aku sebagai pacar gak pengertian banget, banyak hal yang gak aku tahu tentang Kakak". Ucapnya merasa bersalah.
"It's okay, lagi pula Kakak gak suka menceritakan segala hal yang bersifat pribadi, beruntungnya kamu bukan tipe wanita banyak nanya dan crewet, Kakak beruntung banget miliki kamu".
"Ehem". Secara tiba-tiba Aksa berdehem. Hatinya mulai merasa panas melihat adegan yang ia lihat secara langsung.
__ADS_1
"Aku juga". Balas Aya atas penuturan Farel.
"Kamu gak ke beratankan kalau kita harus LDR".Tanya Farel ragu-ragu.
"Hem? Kakak tahukan sebelumnya aku belum pernah pacaran, Kakak yang pertama". Ucap Aya dengan tulus dan apa adanya.
Mendengar penuturan Aya barusan hati Arka terasa tercabik-cabik. Arka benar-benar menyesal kenapa ia terlambat menyadari rasa cintanya kepada Aya.
"Aku belum pernah ngerasain LDR, kata orang sih rasanya berat, tapi kita gak pernah tahu kalau gak mencoba". Semburat senyuman dari Farel terbit.
"Makasih yah?! kamu selalu berpikiran berbeda dari wanita lain".
"Karena aku pacar Kakak". Ucap Aya dengan bangga dan segera di dekap oleh Farel kedalam pelukannya.
Tentu saja Arka yang melihat hal itu terdiam membeku seolah raganya melayang-layang di udara.
Tawa wanita yang dicintainya seketika menjadi luka bagi dirinya. Tapi entah kenapa, dilain sisi Arka merasa bersyukur, bahwa Aya memiliki pria yang benar-benar mencintainya.
Arka tahu betul saat ini dalam tawanya Aya menyimpan luka dan ketakutan. Meskipun sebenarnya itu berarti akan ada peluang besar bagi dirinya, untuk kembali mengambil hati Aya, tapi entah kenapa dirinya tidak sebahagia itu. Bodoh memang, ucapnya dalam hati.
Akan selalu ada dua sisi cerita dalam kehidupan, meskipun Arka tahu betul ia mampu mengambil perhatian Aya. Tapi ... rasa-rasanya Arka tidak sebrengsek itu, hal itu membuktikan bahwa cinta yang Arka miliki kepada Aya begitu besar.
Aku tak sanggup melihat kebahagiaannya, tetapi terlebih tak mampu melihatnya terluka.
Apa yang harus aku lakukan?
Haruskah aku menahan Farel untuk tetap berada di sisi Aya? atau membiarkannya pergi dan mengambil alih posisi Farel di hati Aya?
"Kakak Janji sami kamu akan pulang cepat".
"Berapa lama memangnya?".
"Hari-hari aku selama dua bulan kedelapan rasanya akan dua tahun tanpa kehadiran Kakak". Ucap Aya sendu, dan kembali memeluk Farel.
"Tenang aja kan masih ada Arka!". Ucap Farel dan segera melirik orang yang dimaksud.
"Hah? Ohh... Iyah, kan masih ada Gua?!". Ucap Arka dan segera melirik Aya.
"Iyah, tapi kan beda rasanya". Ucap Aya dan melepaskan pelukannya pada Farel.
"Kan sekarang udah modern, kita bisa tatap muka lewat aplikasi apapun itu".
"Iyah, tapi tetep aja rasanya beda".
"Oke, satu bulan aku bakalan pulang buat kamu".
"Hah? serius?". Tanya Aya terkejut tapi sumringah.
"Hmm". Dengan tiba-tiba Aya kembali memeluk Farel untuk yang kesekian kalinya di hadapan Arka.
***
Hari demi hari berjalan dengan seharusnya, setiap pagi di hari yang berbeda kegiatan Aya adalah mencakra tanggal demi tanggal.
"Pagi?". Ucap Arka pada Aya yang kini tengah sibuk membuat sarapan untuk dirinya.
"Pagi". Jawab Aya dengan datar.
__ADS_1
"Bikin sarapan apa?".
"Hm, buat pancakes".
"Hm, Not bad". Ucap Arka dan segera mengambil beberapa pancakes kedalam piring yang tersedia.
"Nyokap Lo kemana lagi?". Tanya Aya.
"Kenapa? Lo gak seneng gua numpang sarapan di rumah Lo?".
"Enggak, enggak gitu, cuma... Gua perhatiin semenjak Kak Farel pergi ke Amsterdam, setiap pagi Lo datang ke rumah Gua dengan alasan yang sama, kaya gak masuk akal aja".
"Emm, Gua gak modus hari pertama sampai hari ketiga Nyokap Gua emang gak ada".
"Terus hari ke empat sampai sekarang?".
"Gua gak mau nyusahin Nyokap Gua".
"Maksudnya?".
"Kasian Nyokap Gua kan udah berumur, biar dia gak perlu bangun pagi buat bikin sarapan untuk Gua, jadi Gua bilang setiap hari Aya bakalan buatin sarapan buat Gua".
"Hah? sejak kapan Gua bilang gitu".
"Iyah sekarang kan Lo udah tahu jadi setiap hari Gue bakalan datang kesini buat sarapan jadi Lo bikin sarapannya banyakan, Ok?!".
"Dihhh... siapa Lu ? Gua harus buatin Lo sarapan?".
"Tetangga yang baik, temen, sahabat dan calon Ayah buat anak Lo?!".
"Dih ngaco, ngomong apa sih Lo?. Ucap Aya kesal atas penuturan Arka yang terakhir.
"Hehe..."
"Ay?"
"Apa?"
"Liburan yuk?"
"Kemana?"
"Kemana aja yang Lu mau".
"Heh? tumben-tumbenan ada apa?"
"Enggak apa-apa".
"Yakin? bukannya lagi ada masalah sama Dinda, terus Lu mau kabur dari masalah, Kalau Iyah, jangan bawa-bawa Gua".
"Dih, enggak ada. Gua sama Dinda gak pacaran juga".
"Hah? masa?". Ledek Aya.
"Serius, gak percaya banget jadi orang".
__ADS_1
"Iya deh Iyah, percuma juga debat sama Lo". Ucap Aya dan pergi meninggalkan Arka sendiri.
Bersambung...