
Pagi harinya Aya sudah lebih tegar dari semalam, dan sudah siap menjalani hari ini.
Baru saja Aya keluar rumah, tiba-tiba Arka mendatanginya dengan raut wajah penasaran.
"Ay? lu baik-baik aja kan?".
"Heh? gua? ohh... of course, I'm fine". Ucapnya dengan santai
"Enggak". Ucap Arka mengelak.
"Heh? terserah lu dah". Ucap Aya pasrah.
Tak lama kemudian Farel datang di tengah-tengah perbincangan panas Aya dan Arka.
"Tin". Suara klakson Farel mengalihkan pandangan Aya dari Arka.
"Kak Farel?" Ucap Aya tak percaya.
Farel segera keluar dari mobilnya sembari tersenyum lebar.
"Pagi?".
"Kak Farel ngapain kesini?".
"Hm, yah mau jemput kamu". Ucap Farel santai.
"Hah? tapi kita kan enggak..."
"Enggak janjian? harus yah ?". Ucap Farel memotong pembicaraan Aya.
"Hm... enggak juga sih".
"Yaudah tunggu apa lagi".
"Tunggu! Aya mau berangkat sama gue!". Ucap Arka dengan cepat.
"Heh? Ohh... begitu?".
"Enggak kok, Ayo kak". Ucap Aya sembari berjalan lebih dulu menuju mobil Farel.
"Em.. sorry kayanya hari ini Aya berangkat sama gua". Ucap Farel kemudian berjalan menyusul Aya.
Arka tidak berbuat apa-apa, kini hanya ke kecewaan yang menyelimuti hatinya.
"Udah siap?". Tanya Farel pada Aya.
"Udah". Ucap Aya, tetapi pandangan nya tidak pernah lepas dari Arka.
"Kamu baik-baik aja?". Tanya Farel meyakinkan.
"Heh? ohh... of course, I'm fine". Ucap Aya dengan senyuman yang ia paksakan.
"Oke sekarang kita berangkat".
"Hm".
***
"Arka? kamu belum berangkat?". Tanya Anita dengan heran melihat Arka menuruni anak tangga.
"Enggak jadi, hari ini Arka gak ada kuliah kok".
"Loh, kok bisa? bukannya dari tadi pagi kamu udah berangkat".
"Enggak kok, tadi Arka cuma nyapa Aya doang".
"Hah? nyapa? maksudnya?".
"Aduh, Mom bisa gak sih jangan banyak nanya Arka lagi gak mood nih".
"Kamu juga sih, kenapa marahan sama Aya?". Tanya Anita dengan serius.
"Mom mau tahu banget kenapa kita berantem?".
"Iyah, barangkali Mom bisa kasih solusi". Ucapnya bersemangat.
"Heh, enggak deh... kalau Mom beneran penasaran tanya aja sama Aya". Ucap Arka sembari membawa cemilan.
"ARKA?!". Teriak Anita.
***
__ADS_1
14:30
Sebuah mobil terparkir dengan cantik di halaman rumah Aya. Sudah pasti itu Farel. Batin Arka.
Namun... siapa sangka ternyata itu Aryo Kakak Aya.
"Loh... tumben-tumbenan Mas Aryo udah pulang jam segini". Tanpa pikir panjang lagi, akhirnya Arka memutuskan untuk menyapa Aryo.
"Mas Aryo? tumben banget udah pulang ngantor!". Ucapnya basa-basi.
"Eh, Arka... gak kuliah?".
"Enggak lagi... dosen nya gak masuk". Ucap Arka dengan senyuman yang ia paksakan.
"Heh... jangan sering-sering bolos udah dapat nilai C baru aja ngerengek minta perbaikan". Ucap Aryo.
"Hehe... enggak kok, ini kali pertama aku bolos, aku bolos pun gara-gara Aya". Ucap Arka dengan santai.
"Hah? gara-gara Aya? kok bisa? kalian kan gak satu kampus".
"Iyah, maksudnya Aku tadinya mau nganterin Aya ke kampus abis itu aku ke kampus aku, eh dia malah di jemput sama cowok lain".
"Hem... ohh gitu apa hubungannya ya". Ucap Aryo masih tidak mengerti.
"Iyah... aku kan jadi males kuliah".
"Gitu? jadi gara-gara Aya gak mau di anterin kamu, kamu jadi males kuliah?".
"Iyah".
"Hah? oke... yaudah masuk yuk?". tawar Aryo kepada Arka.
"Iya Mas. Ohh Mas tahu gak, Aya lagi deket sama cowok".
"Tahu sih enggak, tapi untuk pertama kalinya kemarin malam memang ada tamu cowok selain kamu".
"Hem, Mas sebenarnya seneng atau enggak?". Tanya Arka dengan serius menunggu Jawaban Aryo.
"Heh? yah senang dong, Adik nya Mas ternyata udah gede yah".
"Iyah, termasuk kamu juga, kamu udah Mas anggap sebagai adik". Ucap Aryo menambahkan.
"Khawatir? Iyah... sedikit khawatir tapi Mas percaya kok sama Aya. Dia gak mungkin bertindak gegabah".
"Ohh, gitu yah". Ucap Arka dengan lesu...
"Padahal, aku harap Mas Aryo khawatir dan mempercayakan Aya hanya padaku". Ucap Arka dengan pelan tanpa ia sadari.
"Hah?"
"Heh, enggak bukan apa-apa".
"Mm, Mas emang belum pernah lihat cowok yang di bawa Aya sih, kemarin Mas nya lagi sibuk ngerjain berkas-berkas di kamar".
"Hah? Ohh.. gitu, pantesan".
"Pantesan apa?".
"Enggak, Mas". Tak lama kemudian Aya pulang dengan Ojol.
"Lah itu Aya". Ucap Aryo.
"Dek Kamu udah pulang?".
"Hm, udah Kakak sendiri tumben udah pulang".
"Iyah, kerjaan Kakak udah kelar".
"Tahu gitu, tadi aku meminta jemput sama Kakak". Ucap Aya sendu.
"Loh cowok yang tadi pagi jemput gak nganterin ? kenapa?" Tanya Aryo.
"Heh? Tahu dari mana Kakak?".
"Ehem... Aku minta minum yah Mas". Ucap Arka sembari berjalan menuju lemari es.
"Iyah, ambil aja".
"Pasti Arka yang ngadu, iya kan?".
"Iyah wajarlah Arka ngadu, dia kan udah anggap kamu sebagai adiknya".
__ADS_1
"Hah? adik? adik dari mana yang di perlakukan kek gini?".
"Maksudnya?".
"enggak-enggak, bukan apa-apa kok".
"Hm, kamu ada masalah sama Arka? kalau Iyah selesain dulu deh, Kakak mau masuk kamar dulu, oke".
"Hm.."
***
Tiba-tiba Arka datang dengan dua kaleng minuman di kedua tangannya.
yang satu dia simpan di meja, dan yang di genggamannya ia buka penutup nya kemudian memberikan nya kepada Aya.
Kali ini Aya tidak banyak bicara ia hanya menerima minuman yang telah di buka kan penutup nya oleh Arka.
Kemudahan Arka membuka penutup minuman untuk dirinya sendiri.
"Lu bolos kuliah?". Tanya Aya mengawali pembicaraan.
"Hm".
"Kenapa?".
"Heh, gak mood aja".
"Heh, Bisa gitu yah, orang pintar mah emang suka seenaknya".
"Maksudnya apa?".
"Lu kan tahu gua pengen banget masuk universitas lu, tapi... karena kemampuan otak gua yang terbatas gua gak bisa masuk".
"Sementara lu udah di permudah masuk tapi malah sia-siain".
"Hm, Apa gua pindah aja yah ke kampus lu!?". Ucap Arka ngasal.
"Hah? Awas aja sampai lu keluar dari kampus lu, gua gak mau kenal apalagi nyapa lu". Ucap Aya serius.
"Heh, Iyah-iya".
"Tapi seriusan deh gua gak betah banget di kampus, Karena gak ada lu". Ucap Arka serius.
"Hm, jadi ?".
"Heh, seenggaknya jangan abaikan gua di lingkungan rumah!".
"Sebagai imbalannya?". Ucap Aya dengan serius.
"Gua akan ikutin semua hal yang lu mau".
"Oke".
"Janji?". Tanya Arka tak kalah serius.
"Hm, Iyah Janji".
"Sebagai permintaan pertama, gua mau lu gak bertindak di luar batas".
"Heh? luar batas gimana maksudnya?".
"Iyah, kaya tempo hari, lu datang ke kamar gua dan...". Aya gak sanggup mengucapkan apa yang terjadi pada saat itu.
"Ohh, Kiss itu?". Ucap Arka dengan santai.
"Hem, suttt... berisik. Gak perlu lu sebutin juga kali". Ucap Aya.
"Hem, kenapa?".
"Gua gak mau ada yang tahu selain kita berdua, lagian saat itu kesalahankan". Ucap Aya bisik-bisik.
"Lu berpikir begitu? gua sih enggak".
"Gua melakukan itu penuh dengan kesadaran atas rasa suka". Ucap Arka serius.
Tanpa kedua nya sadari dari balik kursi yang mereka duduki, Aryo mendengar kan semua hal yang tengah mereka bincangkan.
Aryo Syahir Andreas
__ADS_1