
"Heh... apa yang barusan lu lakuin sama gua?".
"Gua serius suka sama lu Ay".
"Enggak, lu gak boleh suka sama gua".
"Tapi... Ay?"
"Enggak, gua gak mau denger kalimat apapun lagi dari lu, gua minta lu keluar?!". Ucap Aya tegas.
"Ay?".
"Gua minta lu keluar". Ucap Aya menjerit, hingga terdengar sampai lantai bawah.
***
"Heh? Ayana-Ayana... kenapa sih jerit-jerit gitu kaya anak kecil deh". Ucap Mamah nya Ayana, sembari berniat ingin mengantar minuman dan beberapa cemilan ke dalam kamarnya.
Namun belum sampai depan kamar Ayana, Mamah Ayana dan Arka sudah lebih dulu bertemu di tengah jalan.
"Eh nak Arka mau kemana? ini loh Tante udah buatin minuman dan ada beberapa cemilan".
"Gak usah Tante, Makasih udah buatin minuman, tapi... Arka pamit pulang dulu yah".
"Hah? loh kok bentar? udah ketemu Aya nya?".
"Heh, udah kok". Arka segera pergi meninggalkan Ibu dari Aya sendiri.
"Aya? nak Arka kenapa kok wajahnya kaya orang sedih, tapi juga marah?".
"Hik...hik.."
"Loh, kamu juga kenapa nangis?".
"Ibu... Aya mau sendiri dulu, Ibu keluar yah! jangan ganggu, apalagi dengan pertanyaan-pertanyaan Ibu".
"Heh? yaudah Ibu keluar tapi kamu gak apa-apa kan, heh?".
"Ibu keluar, cepetan!". Perintah Aya.
"Hm, iyah-iyah Ibu keluar".
***
Beberapa hari setelah kejadian hari itu Aya maupun Arka tidak pernah bertemu lagi, tidak sengaja berpapasan pun keduanya bungkam seolah tidak saling mengenal.
Kini tidak pernah ada lagi tawa Aya yang menghiasi hari-hari Arka, begitupun sebaliknya tidak pernah ada gombalan receh Arka menghiasi hari-hari Aya.
Sepi, kedua hati mereka kini sama-sama tengah kesepian, namun karena ke egoisan satu sama lain, tidak ada yang berani untuk memulai percakapan terlebih dahulu, alhasil keduanya kini tengah terluka tapi tak berdarah.
Entah sampai kapan siklus ini akan berlangsung, akan tetapi Arka yang mempunyai wajah rupawan tidak selamanya bisa aman-aman saja, setiap hari wanita silih berganti mendekatinya, bisa jadi saat imannya sedang lemah Arka akan mengiyakan ajakan wanita itu untuk berpacaran sekalipun ia tidak mencintainya bukan?
seperti saat ini, saat dimana Dinda tengah merayu untuk pergi bermalam mingguan.
"Arka".
"Hem, Iyah kenapa Din?"
"Malam ini kamu sibuk atau udah punya janji belum?".
"Mm... enggak, kenapa?".
__ADS_1
"Heh, aku mau ngajakin kamu keluar mau gak?".
"Hah? keluar ?".
"Iyah, mau yah?!".
"Heh, sorry yah Din kayanya gua gak bisa".
"Hah? kenapa, apa jangan-jangan kamu udah ada janji sama Pacar ya?". Tanya Dinda penasaran.
"Heh? gak... lagian gua gak punya pacar, tapi gua lagi males aja keluar malem". Jawab Arka jujur apa adanya tanpa ada yang di tutup-tutupi.
"Hah? masa sih lu gak punya pacar?". Tanya Dinda lagi, meskipun dalam hatinya ia tengah bergembira.
"Iyah, gua lagi mau fokus kuliah dulu".
"Ohh, gitu yah".
"Hm, yaudah gua duluan yah, bye!".
"Hem, Iyan hati-hati". Ucap Dinda sembari melambaikan tangannya dengan anggun.
Sementara itu... di kampus Aya sedang bersedih, meskipun bersedih tapi nafsu makan nya tidak pernah berkurang, malah berlebih.
"Ay?". Teriak Farel Kakak tingkatnya.
"Heh? hai Kak, ada apa?". Tanya Aya bingung sekaligus terkejut, sebab ini kali pertama ia di panggil oleh cowok selain Arka dengan panggilan "Ay" pula.
"Malam ini kamu ada acara gak? kalau enggak aku boleh main dong ke rumah kamu?". Tanyanya dengan pertanyaan beruntun.
"Heh? satu-satu dong Ka nanyanya?!". Ucap Aya dengan polos.
"Kamu ada acara gak malam ini?".
"Mm, enggak sih".
"Yes, aku boleh dong main ke rumah?".
"Heh? boleh sih tapi..."
"Oke, see you!". Ucap Farel dan segera pergi dari kantin.
"Hah?". Sementara itu Aya masih bingung dengan percakapannya barusan bersama Seniornya.
"Barusan gua... mimpi? ngelamun? ngehayal atau beneran sih?". Tanyanya pada dirinya sendiri.
***
Malam pun tiba tepat pukul delapan malam, Farel tiba di pekarangan rumah Aya, yang artinya sebelah rumah Arka.
Yah, Arka yang mendengar suara mobil berhenti tepat di pekarangan rumah Aya pun kepo dan segera mengintip siapa gerangan yang bertamu ke rumah Aya lewat jendela kamarnya.
"Cowok, siapa tuh?". Seketika itu juga, hati Arka terbakar api cemburu. bagaimana tidak, Arka yang berusaha mati-matian untuk tidak melirik wanita lain selain Aya, dan menolak semua wanita yang berusaha mendekatinya, namun berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan oleh Aya terhadap diri nya membuat Arka murka.
"Arka? mau kemana?". Tanya Ibunya.
"Mau ke rumah Aya!".
"Hah? Ahhh... syukurlah kamu udah baikkan?". Ucap Ibu Arka sembari menghempaskan nafas lega.
"Hem, belum sih, pokoknya Arka pergi dulu ya Mom!".
__ADS_1
"Apa? Hah... kok gitu sih, cepetan baikan dong! Mom kesepian tanpa Aya setiap pagi di meja makan". Keluh Ibu Arka.
"Iyah liat ntar deh". Ucap Arka sembari pergi.
***
Farel baru saja keluar dari mobilnya, hendak ingin membawa bingkisan dari kursi belakang, namun belum sempat ia ambil, Arka sudah lebih dulu menghampirinya dan bersandar di mobilnya.
"Ehem,... Mas siapa dan mau ke siap ya". Tanya Arka tanpa basa-basi.
"Heh? Ohh saya Farel, mau ketemu Aya, Mas sendiri siapa ya?". Tanya Farel bingung.
"Heh? Saya... saya Kakak nya Aya?". Ucap Arka dengan wajah kesal.
"Ohh, selamat malam Mas, Maaf saya gak tahu kalau Aya punya Kakak, laki-laki lagi". Ucap Farel sembari tersenyum lebar.
"Heh, it's okay..."
"Sekali lagi Maaf yah Mas?!". Ucap Farel dengan tulus.
Tak lama kemudian Aya keluar dari dalam rumahnya.
"Kak Farel? Ini beneran Kak Farel?". Tanya Aya tak percaya.
"Hehe... yah iyahlah... terus kalau bukan aku siapa ? hantu?". Ucap Farel dengan tawa di akhir kalimat.
"Hem, Iyah... yang pasti bukan itu sih, masa hantu secakep Kakak, Ehe". Ucap Aya malu-malu.
"Heh?". Ucap Farel terkejut.
"Apa? cakep? cakepan juga gua!". Ucap Arka sengaja di suarakan meskipun nyaris tak terdengar, tapi masih terdengar oleh Aya.
"Hehe... yaudah ayo masuk Kak?!". Ucap Aya kepada Farel.
"Ohh, Iyah, bentar aku ngambil dulu... ini?!". Sembari menyerahkan parsel buah-buahan dan beberapa kue kepada Aya.
"Wow, gak usah repot-repot padahal Kak". Ucap Aya tak enak hati.
"Enggak repot kok".
"Yaudah yuk masuk?!". Ucap Aya sembari melangkah masuk menuju rumahnya tanpa sedikitpun memperdulikan akan keberadaan Arka.
"Heh? Mas duluan aja?". Ucap Farel sopan kepada Arka.
"Heh? Mas ? Mas siapa?". Tanya Aya sembari kembali berbalik kebelakang".
"Yah, Kakak kamu". Ucap Farel polos.
"Heh, Aku memang punya Kakak cowok satu, tapi dia ada di dalem". Ucap Aya sembari kembali menarik tangan Farel.
"Hah?... lalu dia?".
"Dia cuma anak tetangga sebelah". Ucap Aya lagi.
Arka yang mendengar hal itu seketika mengepalkan tangan kirinya. Iyah siapa yang tidak kesal dan marah jika di perlakukan seperti itu oleh wanita yang kita cintai?
Farel Wichaksono
bersambung...
__ADS_1