
Arka pulang ke rumah dengan wajah suram, belum lagi dengan pertanyaan-pertanyaan dari Ibunya yang terus menerus menanyakan Aya menambah ke kesalan Arka.
"Mom... please! jangan bahas-bahas lagi Aya, okay?!".
"Loh, kenapa? kamu berantem karena masalah apa sih sebenarnya?".
"Ada deh, gak bisa aku ceritain".
"Hem, Andai aja Anak Mom itu cewe pasti saat ini dia mau cerita tentang banyak hal sama Mom, enggak kaya kamu". Ucap Ibu Arka sinis.
"Yaudah Jadiin aja Aya anak Mom kalau mau nya gitu, gak usah peduliin Arka". Ucap Arka sembari berjalan menuju kamarnya.
"Arka? bukan gitu maksudnya Mom, tapi... Mom cuma mau kamu itu lebih terbuka?!". Ucap Anita Ibunya Arka setengah berteriak.
"Ada apa sih Inong". Tanya Adi Ayah dari Arka.
"Itu loh anak mu Mas, susah banget di bilangin, jangan berantem apalagi sama Aya".
"Apa ? Aya temen Ayah main catur?".
"Iyah Aya itu, Aya mana lagi dong". Ucap Anita ketus.
"Kok bisa ? seumur-umur Ayah baru denger Arka berantem sama Aya".
"Tahu deh, Mom juga bingung".
"Hah, yaudah nanti biar Ayah yang coba ngomong sama Arka ada apa sebenarnya".
"Janji?".
"Yes I Promise".
"Oke".
***
"Emang yah gak ada orang yang ngertiin gua selain Aya". Ucap Arka yang kemudian kembali murka Karena harus mengucapkan lagi nama "Aya".
Sementara itu seketika rencana jahat muncul di otak Arka, kalau Aya bisa jalan sama cowok lain kenapa gua enggak.
"Gua bisa jalan sama cewek manapun yang gua mau dan liat aja Ay kamu bakalan nyesel sia-sia in aku".Ucapnya dalam hati.
Sesegera mungkin Arka meraih Handphonenya dan menuliskan nama Dinda.
"Halo? Din lu sibuk gak?". Tanya Arka basa-basi.
"Halo, enggak kok enggak, kenapa?".
"Hm, ajakan lu tadi siang masih berlaku gak?".
"Hah? ajakan gua? Ohh yah masih dong".
"Oke, tapi seperti yang gua bilang... gua lagi males keluar, jadi...".
"Jadi?"
"lu bisa gak dateng ke rumah gua?".
"Apa?". Ucap Dinda terkejut.
"Iyah, itupun kalau lu mau dan gak keberatan yah, gua gak maksa kok".
"Mau kok mau". Ucap Dinda buru-buru.
"Oke, sekarang juga gua kirim alamatnya".
"Oke, See you". Ucap Dinda tidak dapat membohongi rasa kegirangannya.
__ADS_1
"Hati-hati yah!". Ucap Arka kemudian segera mematikan panggilannya.
Setelah Mematikan panggilan itu Arka segera mengirim alamat rumahnya kepada Dinda kemudian berpikir sejenak...
"Gimana caranya buat Aya keluar dari rumah yah?".
"Ahhh Iyah gua ada ide". Ucapnya bicara sendiri.
Jarak dari rumah Dinda ke rumah Arka memang sangat jauh tapi beruntungnya saat Arka menelepon tadi, Dinda sedang di dalam perjalanan hendak ingin nonton bioskop bersama sahabat-sahabatnya.
Alhasil nonton nya bisa lain kali tapi kesempatan untuk datang kerumah Arka amat sangat langka, maka Dinda segera putar arah ke alamat yang sudah Arka kirimkan beberapa menit yang lalu.
"Ahh, lama banget sih gimana kalau Aya udah keburu pergi sama tuh cowok atau ... ".
"Ting tong...".
"Sayang tolong bukain pintu dong?!". Teriak Ibu Aya.
"Hem, Iyah".
"Bentar yah Kak, aku buka dulu pintu". Ucap Aya berpamitan kepada Farel.
"Oke, santai aja".
"Sebentar". Ucap Aya setengah berteriak sebab Seseorang di luar sana terus menerus memencet bel dengan tidak sabaran.
"Iyah, sebentar".
"Malam? Arka nya ada?". Ucap Dinda dengan gigi putih nan rapi yang ia pamerkan.
"Heh? Arka". Sejenak Aya terdiam, melihat wanita yang ada di hadapannya saat ini dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Cantik". Ucap Aya setengah berbisik.
"Halo? Arka nya ada?". Ulang Dinda.
"Hem... Arka tinggal di rumah sebelah". Dan benar saja setelah Aya berkata demikian tak lama Arka keluar dari dalam rumahnya.
"Hai, Din rumah aku di sini". Yap... ini bukan kali pertama Arka melalukan hal seperti ini.
"Ups... sorry". Ucap Dinda kepada Aya.
"It's okay". Kemudian Aya segera menutup pintu rumahnya.
"Siapa Ay?". Tanya Ibu Aya.
"Hem, tamu ke rumah sebelah". Jawab Aya dengan malas.
"Ohh..."
Seketika Aya menjadi uring-uringan, hatinya bercampur aduk antara kesal, marah, sedih dan kecewa.
"Sudah berapa kali aku peringatkan Ay, jangan berharap dan bermimpi terlalu tinggi, kalau jatuh sakitkan?". Ucapnya pada dirinya sendiri.
"Ay? kamu kenapa?". Tanya Farel yang bingung dengan perubahan mood Aya.
"Heh, aku gak enak badan, Kakak bisa pulang aja gak?". Ucapnya dengan sendu.
"Hah? gak enak badan tiba-tiba gitu? mau ke dokter aja gak, biar aku anterin". Tawar Farel dengan panik.
"Enggak usah, aku udah biasa kok kaya gini, nanti juga baikan, cuma butuh istirahat yang cukup".
"Ohh gitu yah, yaudah deh kamu istirahat yah! aku pulang dulu". Ucap Farel.
"Hm, iyah". Ucap Aya sembari bangkit berdiri dari duduknya.
"Eh kamu gak usah anterin aku ke depan aku bisa sendiri, sebaiknya kamu masuk ke kamar, heh!!".
__ADS_1
"Oke, maaf yah Kak". Ucap Aya tak enak hati.
"It's okay, kamu gak perlu minta maaf".
"Mm, hati-hati yah?".
"Hmm". Farel pun segera pergi dan berpamitan kepada Ibu Aya.
Sementara itu Arka dan Dinda masih berada di halaman rumahnya, dengan kedua mata yang tak pernah lepas dari balik pintu rumah Aya.
Tak lama Farel keluar dari rumah Aya di antar oleh Karina Ibu dari Aya.
Seketika itu juga Arka panik, "Loh, kok Tante Karin yang keluar?". Ucap Arka tanpa ia sadari.
"Heh? maksudnya?". Tanya Dinda.
"Hah? enggak bukan apa-apa".
"Hati-hati yah Nak Farel". Ucap Tante Karin kepada cowok bernama Farel itu dengan senyuman ramah.
"Iyah Tante, Tante masuk aja udah malem, dingin". Ucap Farel dengan sopan.
"Modus". Ucap Arka nimbrung.
"Hah? apa nya yang modus?". Tanya lagi Dinda tak mengerti dengan ucapan Arka.
"Heh? bukan maksudku...". Belum sempat Arka beralibi kedua orang tua Arka keluar rumah.
"Arka kamu ngapain di luar?. Tanya Anita.
"Ehh... ada tamu, kenapa gak bilang?". Ucap Ayah Arka.
"Heh? kenapa gak di suruh masuk?!"Tanya Anita dan Adi beruntun, yang tak sempat Arka jawab.
"Halo, Tante, Om". Ucap Dinda ramah.
"Hai, namanya siapa?".
"Dinda Tante".
"Ohh, Dinda... Dinda siapanya Arka?". Tanya Anita to the point.
"Heh? Mmm...".
"Temen Mom". Jawab Arka mendahului.
"Ohh, temen gak lebih dari temen kaya kamu sama Aya kan?". Tanya Anita. Iyah Anita tahu betul bagaimana sikap Arka kepada Ayana, Meskipun mereka berstatus teman tapi... perhatian dan sayangnya kepada Aya melebihi rasa pacar.
"Hmm... untuk saat ini hanya temen biasa". Ucap Arka cuek.
"Oke, ayo masuk ?". Tawar Anita kepada Dinda.
"Iya, Makasih Tante".
Dinda segera masuk bersama Anita, sementara Arka masih di luar bersama Ayahnya.
"Arka, kamu itu anak laki, kalau suka bilang suka, kalau enggak yah bilang enggak, jangan mempermainkan hati wanita!". Ucap Adi kemudian berlalu pergi menyusul Anita kedalam rumah.
Bersambung...
*Note
Inong adalah sapaan untuk seorang Ibu, Mama. Dalam suku Batak.
Anita Sihombing dan Adipati Sihombing
__ADS_1