Cinta Tulus Arka

Cinta Tulus Arka
19


__ADS_3

Lima bulan berlalu.


Hari-hari berjalan dengan biasanya, Aya melanjutkan pendidikan akhirnya yang dalam beberapa bulan ke depan ia akan melakukan sidang skripsi.


Apa kabar Farel? Iyah, di awal dia berjanji hanya di tugaskan dua bulan, kemudian bulan pertama ia akan pulang untuk Aya. Tapi nyatanya hingga kini ia masih di tugaskan di Amsterdam, bulan pertama Farel memang pulang menemui Aya, itu pun tidak lebih dari satu pekan.


***


flashback empat bulan ke belakang


Hari yang di nanti-nanti nya telah tiba, pagi itu dengan rasa rindu yang menggebu sudah tak mampu Aya bendung lagi, dan Farel menepati janjinya untuk pulang.


Aya sudah merias dirinya sedemikian rupa, dengan sangat sempurna, meskipun itu hanya bagi dirinya. Dan tentu saja diet ketat satu minggu sebelumnya juga Aya lakukan. Meskipun lagi-lagi tidak membuahkan hasil apapun.


Siang itu Aya sudah berjanji akan menjemput sang kekasih Farel di Bandara. Karena akan memakan waktu lebih lama lagi baginya, jika harus menunggu kedatangan Farel dari Bandara kerumahnya. Rasanya sudah tak sabar.


Akan tetapi lain cerita dengan Arka, sejak pagi tadi wajahnya terlihat seperti benang kusut. Ia tak kunjung pergi ke tempat kerja, meskipun sudah beberapa kali di peringatkan oleh Asistennya melalui sambungan telepon.


"Ar? Lo kenapa? masih belum kenyang?". Tanya Aya heran.


"Heh? enggak... cuma".


"Cuma apa?".


"Gua males berangkat kerja". Ucapnya sembari memainkan ikat rambut Aya.


"Kenapa? ada masalah di tempat kerja? atau Lu lagi marahan sama Asisten Lu?".


"Enggak keduanya". Ucapnya singkat.


"Terus? kenapa?". Lama-lama kesabaran Aya habis juga menghadapi sikap Arka yang mudah bed mood.


"Gua mau ... nemenin Lu, hari ini lu jadi jemput Farel?".


"Hah? ngapain sih, gak bisa banget liat orang bahagia, Gua mau berduaan aja". Ucap Aya blak-blakkan.


"Enggak!". Ucapnya semakin bad mood.


"lah? terus mau lu apa sih?".


"Kita jemput Farel berdua". Meskipun sebenarnya Arka enggan bertemu Farel akan tetapi ia lebih tak mau Farel dan Aya hanya berduaan saja.


"Hah, terserah lu aja deh". Ucap Aya pasrah, sebab berdebat dengan Arka, sudah dapat di pastikan, dirinya tidak akan pernah menang.


"Yes". Ucapnya bersorak.

__ADS_1


***


Aya dan Arka sudah berada di bandara sejak satu jam yang lalu, meskipun sebenarnya Aya tahu kedatangan Farel pukul 13:12 WIB tapi ia tak ingin membuat Farel harus menunggu, takut-takut di perjalanan terkena macet.


Sejak kedatangan keduanya di bandara entah kenapa jantung Aya terasa berpacu dua kali lipat lebih cepat dari biasanya.


"Ay?".


"Hm?"


"Kenapa lu?".


"Hm, gapapa".


"yakin? dari tadi Gua perhatiin lu gelisah banget".


"Hehe ... Iyah".


"Dih norak".


"Apaan sih lu, sirik aja". Jawab Aya ketus.


"Ay?".


"Gimana kalau kedatangan Farel ini cuma buat putusin Lu Ay?". Tanya Arka takut-takut membuat Aya terluka, tapi jujur saja... hal itu yang di harapkannya saat ini.


"Hah? kok lu punya pikiran kek gitu?". Ucap Aya, seketika wajahnya berubah sendu.


"Iyah, mungkin aja kan, secara di luaran sana banyak cewek cantik dan...". Arka tak sampai hati untuk meneruskan ucapannya.


"Apa? di luaran sana banyak cewek cantik dan seksi maksud lu?". Ucap Aya menatap Arka intens.


"Em... Iyah, tapi buat Gua itu gak masalah, Lu gak perlu merubah apapun, Karena Gua cintai sama Lo, gak peduli seperti apa Lu". Ucap Arka yakin.


Dan di detik itu juga tiba-tiba Farel datang sedikit berlari kecil menghampiri Aya, kemudian memeluknya dari belakang.


Dan satu kalimat sederhana yang berhasil membuat Aya seketika lega.


"I Miss You". Ucap Farel berbisik di telinga Aya penuh dengan kelembutan. Itu artinya ke khawatiran Aya atas ucapan Arka baru saja di tepis oleh Farel tanpa ia ketahui.


Sementara itu Arka segera bangkit dari duduknya dan berjalan lebih dulu menuju mobil yang ia parkir di tempat yang cukup jauh.


Aya dan Farel saling melepas rindu tapi perkataan Arka beberapa waktu lalu berhasil membuat pikiran Aya terganggu.


Sebenarnya tak jarang Arka memberinya perhatian dan juga ucapan-ucapan cinta, yang ia bungkus dengan sedemikian rupa, sehingga Aya tak menyadarinya. Aya pikir selama ini Arka hanya bercanda atau mungkin khilaf sebab selama ini hubungannya dengan Dinda terlihat baik-baik saja.

__ADS_1


Meskipun seringkali saat Aku menggoda tidak bermalam mingguan, Arka sering mengelak tidak ada hubungan dengan Dinda. Tapi aku sangat yakin ucapannya itu bohong, mungkin ia tidak bermalam mingguan karena tak enak hati dengan ku yang sedang LDR.


Tak kusangka ucapan Arka selama ini serius dan seserius itu hingga ia berharap Farel memutuskanku detik ini.


Hari ini Arka terlihat sendu terlebih sendu di saat kehadiran Farel di tengah-tengah kami.


Arka tak banyak bicara seperti biasanya, ia hanya bersuara hanya jika Farel menanyainya sesuatu. Sementara Aku merasa menjadi wanita yang jahat dalam waktu bersamaan.


Aku dan Farel memilih duduk di bangku penumpang, rasanya belum puas melepas rindu yang membelenggu selama satu bulan yang lalu.


Sementara itu Arka dengan terpaksa harus menjadi supir untuk aku dan Farel.


Sejujurnya saat tidak ada Farel ku Akui, aku tidak begitu merasakan kesepian, sebab selalu ada Arka yang menemaniku kemanapun aku mau. Namun sekarang aku seolah sedang berselingkuh di depannya. Aku serasa menjadi wanita yang teramat jahat bukan?


Pun sebaliknya Aku merasa bersalah kepada Farel kekasihku, selama tidak ada dirinya di sampingku, ternyata tanpa kusadari aku sering menghabiskan waktuku bersama Arka tanpa sepengetahuan dirinya.


"Ay?" Ucap Farel menelisik wajahku yang sedari tadi terdiam membisu.


Sementara itu Arka tengah memperhatikanku di balik kaca dashboard.


"Hem?".


"Kamu sakit?". Tanyanya sembari memegangi puncak kepalaku.


"Heh? enggak ko". Ucapku buru-buru.


"Jangan bohong, kepala kamu anget tapi tangan kamu dingin". Ucapnya yang kini tangannya beralih memegangi tanganku.


"Iyah, sebenarnya aku grogi". Ucapku jujur apa adanya.


"Hah? grogi? kaya mau ketemu siap aja grogi?". Ucapnya lembut sembari mencubit pipiku dengan gemas. Dan aku sangat tahu di depan sana Arka tengah murka, berusaha sekuat tenaga untuk tidak bereaksi berlebihan. Aku sangat tahu begitu sulit menahan amarah, terlebih untuk Arka yang akhir-akhir ini terlihat sudah berkawan dengan dunia malam.


Entah kenapa disaat hatiku berbunga atas perlakuan lembut Farel yang aku rindukan, akan tetapi naluriku lebih condong merasa terluka atas apa yang saat ini Arka rasakan.


"Hm, aku gak apa-apa kok". Ucapku singkat tapi kedua mataku tak pernah beralih dari kaca dashboard itu.


"Sekarang kita mau kemana?". Ucap Arka akhirnya bersuara tanpa di minta, dengan nada suara yang di tekan berusaha senatural mungkin.


"Heh? ini mobil lu yah ? kalau lu gak keberatan, tolong anterin Gua ke apartemen". Ucapnya masih sopan padahal seingatku saat Farel akan pergi ia merasa was-was Arka akan merebutku darinya.


"Heh, Oke". Ucap Arka singkat.


"Kamu ikut aku ya sayang". Ucap Farel berbisik di telingaku yang nyaris tak terdengar, tapi aku sangat yakin Arka masih dapat mendengarnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2