Cinta Tulus Arka

Cinta Tulus Arka
10


__ADS_3

Waktu terus berputar, sayup-sayup kedua mata Aya kini sudah mulai mengantuk.


"Arka? tungguin...". Ucapnya berusaha mengejar langkah kaki Arka yang jenjang.


"Iyah... ini Gua tungguin!".


"Balik ke penginapan yuk? gua cape nih, udah ngantuk juga". Pinta Aya sedikit memohon.


"Heh? Yaudah Ayuk".


Sesampainya di penginapan Aya segera membersihkan diri lantas berbaring di tempat tidur. Sedangkan Arka ia tengah duduk di sofa, sembari asik memainkan gawainya, entah apa yang tengah ia lakukan, jujur saja Aya sedikit penasaran tetapi ia memiliki untuk mengalihkan diri, berusaha untuk tidak peduli.


"Arka gua gak bisa tidur kalau lampunya nyala". Ucap Aya, yang mengisyaratkan untuk Arka segera mengakhiri aktifitasnya. Arka yang memahami apa yang dimaksud Aya, segera mematikan lampu tanpa berkata apapun.


Cukup lama Aya menunggu, apakah Arka akan ikut tidur di sampingnya atau tidak, namun Arka tak kunjung juga datang, Setelah dapat dipastikan Arka tidak akan ikut tidur dan berbaring disampingnya, Barulah Aya merasa lega, kemudian Aya berusaha memejamkan kedua matanya, dan tertidurlah ia dengan sangat nyenyak.


***


Sudah di pastikan Aya telah terlelap tidur, akhirnya Arka memberanikan diri untuk mendekat, dan duduk di samping Aya. Melihat wajahnya yang cabi dengan jarak yang cukup dekat, suara dengkuran halus mulai keluar dari mulutnya, entah kenapa di telinga Arka hal itu seakan irama yang unik dan asik, seketika ia tertawa geli sendiri.


"Manis". Ucapnya setengah berbisik.


kemudian ia mengeluarkan smartphonenya dari dalam kantung celananya, tidak ada niatan apa-apa, hanya ingin mengabadikan momen langka ini, untuk ia kenang kembali nanti.


Satu jepretan ia arahkan kepada Aya yang tengah terlelap tidur.



Jepretan kedua, ia memakai kamera depan dan membidik dirinya bersama Aya.


Kemudian ia membuat sebuah video yang berdurasi 10 menit, hal pertama yang ia lakukan adalah menyebutkan hari, tanggal, bulan serta tahun, tempat dan menceritakan hal apa yang terjadi secara singkat.


"Hai?". Ucapnya kearah kamera sembari menunjukkan senyum manisnya yang menggoda.


"Sabtu, 17 September 2015, sekarang kita sedang ada di sebuah penginapan di dekat Pulau Tidung. Aya udah tidur, kasian dia kecapean abis jalan kaki di sekitar pesisir pantai". Ucapnya setengah berbisik takut Aya akan terusik.

__ADS_1


"Jujur Gua senang banget... akhirnya, setelah sekian lama kita bisa liburan bareng hanya berdua". Sesekali Arka mengarahkan kamera ke arah Aya, sembari sebelah tangannya yang lain menyentuh rambut Aya dengan lembut.


"Yaudah Gua mau bersih-bersih dan ikut Aya tidur, bye!". Ucapnya sembari memberikan senyuman smirk sebelum benar-benar mematikan kamera handphonenya.


***


Hati Arka benar-benar baik, dia sama sekali tidak pernah memandang seseorang dari fisiknya, baginya Aya adalah wanita tercantik setelah Ibunya, dan wanita terbaik yang pernah ia temui. Tapi... sayangnya Ketakutan Aya yang berlebihan, menghalangi penyatuan keduanya.


***


Aya mulai terusik oleh cahaya matahari yang masuk melelalui celah-celah tirai. Ditambah lagi ada sesuatu yang terasa berat menindih perutnya, dan juga hembusan nafas hangat yang begitu terasa di ceruk lehernya.


Seketika ia segera membuka kedua matanya yang terasa berat, arah pandang langsung tertuju pada tangan kekar yang melingkar di perutnya, tangan yang tak asing lagi bagi Aya, sudah dapat di pastikan itu adalah tangan milik Arka.


Dan benar saja sesaat setelah ia berusaha untuk berbalik ia menemukan wajah Arka dalam jarak yang begitu dekat dengan dirinya. Mata lelaki itu masih terpejam, dengan nafas yang teratur, tak pernah Aya sangka bahwa lelaki yang setiap harinya selalu bersikap konyol di depannya itu, bisa terlihat sangat lugu. Tak pernah Aya pungkiri, meskipun memang dalam berbagai kesempatan ia selalu terlihat tampan nan menggoda.


Iyah, pemandangan ini memang bukanlah kali pertama untuk Aya lihat, tetapi menghabiskan sepanjang malam bersama, mungkin ini pertama kalinya. Seketika perasaan hangat menyeruak dalam hatinya, melebihi yang bisa dibayangkannya. Tak menyangka Aksa akan tidur satu ranjang bersamanya, sembari memeluknya dengan begitu posesif serta mesra.


Meskipun mungkin Arka melakukannya dengan tidak sengaja, entah kenapa Aya tetap merasa berbunga. Entah perasaan apa yang hinggap dalam hatinya, meskipun ia menolak dalam kata, tapi hati dan tindakannya tidak dapat berbohong, bahwa ia bahagia dan berharap selamanya bisa seperti ini.


"Heh? tampan? tidak bagiku". Elakku dan segera bangkit dari tempat tidur, berusaha menyembunyikan wajahnya yang sudah pasti memerah.


"Eh? mau kemana?". Tanya Arka, kemudian dengan cepat bangun dan terduduk sembari menarik tanganku.


"Mau ke kamar mandi, kenapa? mau ikut?". Ucapku dengan maksud yang tidak sebenarnya.


"Ikut!". Jawabnya dengan manja.


"Dih, ogah". Ucapku, berusaha melepaskan diri dari cekalan Arka. Setelah berhasil meloloskan diri Aku segera pergi setengah berlari menuju kamar mandi.


Kututup pintu setengah membanting, kemudian bersandar di balik pintu kamar mandi dan berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran kotor yang tiba-tiba saja terlintas di benakku.


***


Satu jam berlalu...

__ADS_1


"Ay? cepetan kenapa, mau berapa lama lagi di dalam?". Teriak Arka untuk kesekian kalinya, pasalnya aku sungguh tidak berani menunjukkan batang hidungku di depannya.


"Ay? masa mau seharian di dalam kamar mandi sih?". Ucapnya lagi, yang masih ku hiraukan.


"Ay? kalau kamu gak mau keluar, aku tinggalin nih, aku mau pergi keluar cari sarapan ?!". Gertak Arka, pasalnya kalau udah denger makanan Aku sangat yakin, Aya gak bisa nolak. Pikir Arka.


Tetapi prediksinya kali ini salah, sebab setelah lima menit berlalu, masih belum ada jawaban apapun dari Aya.


"Dih... emangnya gua anak kecil apa, di iming-imingi makanan doang langsung berubah pikiran". Jawab Aya dalam hatinya.


"Hem, Makan bubur Ayam enak kali yah dengan view pantai, ditambah udara segar... semeliwir angin dan desiran ombak".


"Aish... Sial kenapa harus ngomongin makanan sih? disaat perutku memang sudah terasa lapar". Ucap Aya kesal dalam hatinya kembali menjawab.


"Terus minum nya es kelapa muda, yakin gak mau ikut?". Tawar Arka untuk yang terakhir kali, sebab ia benar-benar sudah menyerah jika kali ini Aya masih bersih kukuh tidak ingin keluar dari kamar mandi.


Dan dengan terpaksa akhirnya Aya memberanikan diri keluar dari kamar mandi, hanya menggunakan bathrobes saja.


"Akhirnya Aya keluar juga dengan wajah yang kembali memerah dan ekspresinya sangat lucu". Sementara itu Arka sendiri, terus menerus senyum-senyum sendiri, sesaat setelah Aya keluar dari kamar mandi, sembari masih duduk-duduk santai di atas tempat tidur.


"Aish... Mandi sana?! dan berhenti menggodaku". Ucapku setengah berteriak.


"Hehe... oke-oke". Ucapnya sembari menyibakkan selimut yang sebelumnya masih menutupi setengah dari tubuhnya.


"Tapi kalau kamu masih kepengen menatap wajahku yang tampan ini, boleh kok?!". Ucapnya lagi sembari menatapku dengan tatapan menyebalkan.


"Ohhh... No". Teriakku. kemudian Arka masuk kedalam kamar mandi dengan tawanya yang menggelegar.


"Aish... kenapa sih dia harus bangun di saat yang tidak tepat". Gerutuku.


25 menit kemudian...


Setelah Aku dan Arka siap dengan pakaian yang tersedia serta aku yang berusaha memakai make-up tipis alakadarnya, Aku dan Arka pun segera pergi keluar mencari sarapan.


Next?

__ADS_1


__ADS_2