Cinta Tulus Arka

Cinta Tulus Arka
20


__ADS_3

"Kamu ikut aku ya sayang?!". Ucap Farel, Aku tahu betul maksud dari ucapannya bukan bertanya, melainkan perintah.


Sejujurnya semenjak Aku dan Farel menyandang status kekasih satu kali pun kita belum pernah melakukan hubungan apapun.


First kiss yang tadinya aku jaga baik-baik untuk pria yang beruntung mendapatkan ku, berakhir di pelabuhan sahabatku.


Ada rasa kesal saat Arka mengambilnya, karena aku tahu betul, itu bukan first kiss untuk Arka, terlebih kesal lagi karena hal yang berharga untukku, di anggap remeh olehnya.


Tapi aku tidak yakin itu first kiss, sebab saat itu b***r Arka hanya menempel di b***r ku hitungan detik, yah mungkin satu menit.


Lamunanku terhenti di saat Arka akhirnya kembali bersuara untuk memprotes akan keinginan Farel.


"Gua bisa banget anterin lu ke apartemen, tapi Aya gak mungkin ikut masuk apartemen Lu, Aya harus balik sama Gua". Ucap Arka dengan suara khas baritonnya yang berat nan tegas.


"Heh? kenapa gak bisa?". Ucap Farel tertegun atas ucapan Arka, kemudian melirikku.


Sejujurnya aku sungguh-sungguh menyukai Farel, atas sikapnya yang dewasa dan juga pekerja keras, akan tetapi aku masih bingung akan perasaanku, benarkah aku mencintainya?


"Ay?" Lamunanku lagi-lagi terhenti, atas panggilan yang cukup keras dari Farel, karena untuk kesekian kalinya panggilannya aku abaikan.


"Heh?".


"Kamu kenapa?". Tanya Farel yang kini kembali melembut, sembari membelai pipiku.


"Aku inginnya juga masuk ke apartemen kamu, tapi... aku lagi banyak tugas, dan lagi kamu juga pasti capekkan?". Ucapku pada akhirnya, entah kenapa aku merasa harus menjaga perasaan Arka.


Meskipun aku tidak melihatnya, tapi aku sangat yakin, saat ini di bibirnya Arka tengah tersungging senyuman kemenangan, sesaat setelah aku berucap demikian.


"Ya udah gak apa-apa, kamu selesaikan dulu tugas kuliahnya, tapi nanti malam aku bolehkan main ke rumah?" Tanyanya dengan lembut, meskipun tak di pungkiri garis wajahnya terlihat sempat kecewa.


Aku hanya mengangguk sebagai persetujuan, yang kemudian Farel menangkup kedua pipiku. Detik berikutnya... kalian mungkin sudah tahu apa yang akan di lakukan Farel padaku. Iyah, Farel hendak mencium pipiku, tapi lagi-lagi hal itu di gagalkan oleh Arka.


"Sudah sampai, silahkan keluar!". Ucap Arka terus terang dengan ketus.


Belum sempat b***r itu mendarat di pipiku, Farel segera keluar mobil dengan tatapan tajam kearah Arka, Aku yang tidak ingin membuat Farel teramat kesal segera menyusulnya keluar.


"Maaf yah?!". Ungkap ku dengan tulus.


"Kok minta maaf? kamu gak punya salah apa-apa". Ucapnya sembari membuka bagasi mobil Arka, hendak mengeluarkan Satu koper kecil dan satu tas berukuran sedang.


"Oya, Aku bawa oleh-oleh buat kamu, tapi nanti malam saja yah? Sekalian oleh-oleh untuk mamah juga". Ucapnya dan kembali menurunkan pintu bagasi.


"Iyah". Ucapku tak bersemangat.


"Ya udah kamu pulang gih, Arka udah nungguin".


"Tunggu-tunggu, kamu ngusir aku?". Ucapku semakin kesal, hari yang aku tunggu-tunggu mengapa malah jadi menyebalkan, gerutu ku dalam hati.


"Heh? aku tidak mengusir mu, tapi bukannya kamu lagi banyak tugas?".

__ADS_1


[Tidak ada, Tentu saja tidak ada sama sekali, itu hanya alasan untuk menghindari pertengkaran di antara keduanya]


"Hm~"


"Ay, Ayo pulang". Teriak Arka dari dalam.


"Ay?" Ucap Farel dan menatapku dengan tatapan tanya.


"Iyah, Arka memang memanggilku dengan sebutan Ay, jauh sebelum aku mengenal kamu". Ucapku apa adanya.


"Oya? kupikir hanya aku seorang yang memanggil mu dengan sebutan Ay". Ucapnya lagi dengan raut wajah yang terlihat kesal.


"Hm. Yasudah, sana masuk?!".


"Hm~" Aku segera pergi begitupula dengan Farel yang beranjak pergi.


***


"Lu pikir gua supir? pindah ke depan". Perintah Arka.


"Lah? bukannya lu emang supir yah? tadi lu gak protes sama sekali". Ucapku kesal tapi juga menuruti apa yang di inginkan nya.


"Beda cerita dong Ay, apa mesti gua tunjukkin kalau gua sama lu...". Belum sempat Arka berucap, Aya sudah lebih dulu membekap mulut Arka.


Arka tidak memprotes apa yang tengah dilakukan Aya saat ini padanya, justru saat ini Arka merasa ingin seperti ini untuk beberapa lama kedepan.


"Sorry". Ucapnya kemudian.


"It's okay". Ungkap Arka santai dan segera menyalakan mesin mobil itu.


"Tapi lu gak sungguh-sungguh dengan ucapan Lu kan Ar?". Tanya Aya lagi, kali ini tatapan Aya seperti memohon agar Arka berkata apa yang ia inginkan.


Aya takut Farel mengetahui bahwa first kiss nya telah di ambil oleh Arka dan banyak hal-hal yang lainnya. Pandangan Aya jika hal itu di ketahui Farel, hal Itu akan menyakiti hati Farel. Terlihat dari bagaimana ia menanggapi ucapan Arka atas memanggil namaku dengan sebutan Ay. Farel terlihat tidak menyukainya.


"Tergantung". Ucap Arka.


"Tergantung apa?".


"Kalau lu janji gak akan pernah berduaan aja sama Farel, gua akan tutup mulut".


"Hah? lu gila yah?".


"Yah kenapa enggak?".


"Yah gak bisalah, gua sama Farel itu pacaran masa Iyah gua harus melibatkan terus lu dalam berbagai hal".


"Kenapa enggak?".


"ARKA?!". Teriak Aya mulai jengah atas sikap Arka yang posesif.

__ADS_1


"Lu itu cuma temen, kenapa sih lu bertindak posesif dan diktator banget, pacar gua itu Farel bukan Lu". Ucap Aya dengan tegas.


"Kenapa enggak? gua yang selalu ada buat lu Ay, apa semua itu kurang? gak ada artinya buat lu?".


"Terserah lu deh Ar, gua capek ngomong sama lu". Ucap Aya kemudian memalingkan wajahnya kearah samping, melihat jalanan yang mulai ramai oleh kendaraan lain yang hendak pulang.


***


Seperti yang telah di janjikan Farel ia akan berkunjung ke rumah Aya beserta oleh-oleh yang ia bawa.


"Malam Tante". Ucap Farel ramah kepada Ibu Aya.


"Malam, bagaimana perjalanannya pasti melelahkan?". Ucap Maharani lembut sembari mempersilahkan masuk.


"Iyah lumayan, oiya ini ada sedikit oleh-oleh untuk Tante, Aya dan Mas Aryo". Ucap Farel sembari menyerahkan beberapa bungkusan di dalam paper bag.


"Waduh makasih, padahal gak perlu repot-repot, Pake bawain oleh-oleh segala". Ucap Maharani sembari menerima.


"Gak repot kok Tan, oh iya Aya nya ada?".


"Ada, sebentar Tante panggil dulu, kamu duduk aja dulu sambil cicipi kue buatan Tante".


"Iyah Tante Makasih".


"Tunggu sebentar yah".


"Ay? Aya?". panggil Maharani sembari berjalan mendekati pintu kamar Aya.


"Ay? Nak Farel udah nungguin tuh".


"Aya? Ayana?". Ucap Maharani sembari mencari di dalam kamar namun yang di cari tidak ada. Maharani lantas segera turun dan hendak memberitahu Farel.


"Nak Farel?".


"Iyah Tante ? kenapa?".


"Aya gak ada di kamarnya".


"Hm? di kamar mandi mungkin?".


"Enggak ada juga, udah Tante cari gak ada". Ucap Maharani dengan mimik muka yang khawatir.


"Tante duduk dulu, jangan panik, biar aku coba hubungi dulu nomor handphonenya". Ucap Farel dengan tenang.


"Halo? Ay kamu dimana?".


"Aku? aku gak tahu aku dimana".


bersambung. . .

__ADS_1


__ADS_2