
Hai, Namaku Arka Prasetya Sihombing, Aku asal Medan tapi semenjak kelas 2 SD aku harus pindah ke Jakarta karena Ayahku mulai merambah dunia bisnis yang lebar besar, hingga detik ini.
Awalnya aku tidak mau, karena harus meninggalkan semua hal yang sudah terlanjur aku senangi, tapi... saat aku pindah ke Jakarta dan bertemu dengan seorang wanita bertubuh gemuk berkulit putih yang menggemaskan, seketika itu hal yang pertama kali ada di benakku adalah wanita itu cantik nan imut.
Aku selalu di buat tertawa saat berada di dekatnya, dan aku akan marah jika pria lain mencoba menyakiti hatinya.
Sebenarnya aku sudah merasakan hal-hal yang aneh sejak lama, saat dimana dia hampir putus asa, saat dimana... dia mengurung diri dan tidak mau bertemu denganku, di saat itu aku benar-benar takut akan kehilangan dia.
Alih-alih menyatakan cinta, saat di bangku SMA aku malah meminta jangan sampai ada cinta di antara kita, Sebab aku takut akan kehilangannya.
Dia wanita biasa-biasa, tapi... hanya dia yang paling mengerti akan aku. Tanpanya hidupku benar-benar terasa hampa.
Dia adalah Ayana Friska Andreas, gadis manja, pemilik pipi tembem yang sangat menggemaskan.
Dia bisa menjadi adik yang super manja, bisa menjadi sahabat atau teman yang di ajak bicara, atau seorang kekasih pelipur lara, hatiku yang mudah terluka.
Walaupun memang agak sedikit menyebalkan, Iyah... Dia tidak hanya berhasil mengambil hatiku, tapi juga hati Ibu dan Ayahku.
Apa-apa Aya, beli baju untuk Aya, beli makanan untuk Aya, bahkan uang jajan sekali pun untuk Aya. Semenyebalkan itu.
***
Pagi yang cerah aku awali dengan sarapan gratis tentunya di rumah tetangga, hehe...
"Pagi Tante?". Ucapku dengan suara khas cempreng, hehe...
"Pagi sayang, ayo sarapan".
"Iyah Tante makasih, aku ke atas dulu yah, bangunin Arka".
"Iyah boleh, kalau susah di bangunin guyur aja yah". Canda Ibu Arka... Iyah sedekat itu lah pokoknya antara aku dan Ibunya Arka.
Kita sering menghabiskan waktu bersama, contoh nya ke salon, belanja bahan masakan ke pasar, dan liburan bareng keluar kota bahkan ke luar negeri.
***
"Arka... Arka?" Teriak Aya sembari menaiki anak tangga.
"Aish... masih pagi nih". Ucap Arka sembari menarik kembali selimutnya.
"Arka bangun, udah siang, lu gak kuliah?". Tanya Aya sembari menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh Arka.
Namun tanpa Aya duga, Arka menarik tangannya hingga Aya terjatuh di tempat tidur, tepat di hadapan Arka. Namun Arka masih menutup kedua matanya. Aya yang terkejut segera menahan nafas.
"Lu mau mati?". Ucap Arka, masih menutup mata.
"Heh? maksud lu?".
"Tarik nafas dan hembuskan". Perintah Arka.
"Heh, gimana gua mau narik nafas dan hembuskan, di depan gua itu wajah lu".
"Iyah gak apa-apa".
"Ogah, gua harus rebutan oksigen sama lu gitu? dan gua harus mencium aroma mulut lu yang masih bau jigong itu?". Ucap Aya dengan imajinasi nya yang tak sama dengan apa yang ia ucapkan barusan.
"Heh, kurang ngajar, mulut gua gak bau jigong yah". Pembelaan Arka, dengan tawa renyah.
"Ya udah minggir gua mau bangun".
"Dih, bangun-bangun aja kenapa lu?".
"Eh, gua udah pasti bangun dari tadi, andai aja tangan lu gak megangin tangan gua". Ucap Aya dengan kesal.
__ADS_1
"Heh?". Arka segera membuka kedua matanya dan melihat apa yang terjadi.
"Sorry, lu tahu sendiri barusan kedua mata gua tertutup". Ucap Arka sembari melepaskan tangan Aya dari tangannya.
Aya segera bangun dari tempat tidur dan pergi dari kamar Arka.
***
"Ohh, gawat untung aja Arka gak sadar kalau dari tadi pipi gua merah, dan jantung gua? berdegup gak karuan". Ucap Aya sembari bersandar di balik pintu kamar Arka.
Sementara itu Arka segera bangun dan mandi, lalu menyusul Aya kebawah untuk sarapan pagi.
"Pagi Mom?". Teriak Arka pada Ibunya, sembari menuruni anak tangga.
"Pagi sayang". Ucap Ibunya, yang sedang memakan sarapannya dengan Aya.
Arka mendekati Ibunya lalu mencium kedua pipi ibunya, hal itu sudah menjadi kebiasaan Arka setiap pagi.
"Ke gua enggak?". Ucap Aya bercanda.
"Heh? kan tadi udah". Jawab Arka ngasal.
"Apa?". Ucap Ibunya terkejut.
"Hah? enggak juga, kapan? lu ngarang".
"Tadi loh lu datang ke kamar gua". Ucap Arka meyakinkan sembari mengambil beberapa helai roti.
"Hah? apaan sih, enggak kok Tante Arka nih bercanda doang". Ucap Aya takut Ibu Arka menanggapi dengan serius.
"Iyah juga gak apa-apa kok". Ucap Ibu Arka dengan santai.
"Heh, tapi enggak kok sumpah deh". Ucap Aya meyakinkan Ibu Arka.
"Iyah sayang, Tante percaya sama kamu kok".
***
Sarapan pun selesai, Aya hendak berpamitan kepada Ibu Arka untuk pulang.
"Tante, makasih atas sarapannya yang selalu enak, tapi pagi ini enak bangettt". Ucap Aya tulus memuji.
"Sama-sama sayang".
"Mom, aku berangkat kuliah dulu yah?".
"Iyah, hati-hati yah sayang".
Aya dan Arka pun pergi beriringan.
"Ay, lu mau berangkat kuliah juga?".
"Pake nanya lagi, yah iyahlah". Ucap Aya sewot.
"Mau bareng gak?".
"Heh? lu sakit atau hilang ingatan, kampus kita itu beda".
"Iyah gua tahu, beda... dan beda arah pula, tapi gua bisa kok anterin lu dulu". Ucap Arka.
"Heh? ada apa nih? tumben-tumbenan".
"Heh gak ada apa-apa, yaudah kalau lu gak mau". Ucap Arka sembari melanjutkan langkah kakinya menuju mobil.
__ADS_1
"Hem... iyah-iyah gua mau". Ucap Aya pada akhirnya.
"Nah gitu dong dari tadi kek, cepet lu pulang bawa tas lu". Perintah Arka.
"Iyah-iyah, tungguin!".
***
Aya dan Arka pun berangkat menuju kampus Ayana.
"Sepi amat, bisa kali nyalain musik?!". ucap Aya hendak ingin memutar lagu di mobil Arka, namun belum sempat Aya menyalakan musik Arka lebih dulu melarangnya.
"Jangan deh, gua mau ngomong sesuatu penting".
"Heh, ohh... yaudah deh enggak". Ucap Aya sembari kembali duduk di posisi semula.
"Heh... lagian mau ngomong apaan sih? biasanya juga ngomong yah ngomong aja gak pernah minta izin".
"Ini penting banget, dan gua mau lu dengerin baik-baik".
"Heh... Iyah sok mau ngomong apaan?".
"Kayanya gua lagi suka deh sama seseorang".
"APA?".
"Yeh, biasa aja kali gak usah kaget gitu".
"Abisnya gua gak abis pikir. . . dan gimana gua gak kaget, lu baru putus dua minggu yang lalu, dan sekarang lu bilang... lu suka sama seseorang". Ucap Aya terkejut kemudian terdiam.
"Yah abis mau gimana lagi, gua gak bisa mengendalikan rasa ini".
"Hem.. tahu deh terserah lu aja". Walaupun sebenarnya Aya sedikit sedih dan kecewa, sebab saat Arka memiliki kekasih Waktu Arka bersamanya pasti akan berkurang seperti yang sudah-sudah.
"Menurut lu gimana?".
"Gimana apanya, lu minta pendapat gua gitu?".
"Yah iyahlah, ngapain juga gua ceritain sama lu kalau lu gak ngasih pendapat apa-apa".
"Gua capek ngasih pendapat ke lu, toh pada akhirnya lu gak pernah dengerin apa kata gua juga kan". Ucap Aya dengan nada kesal.
"Heh ? yah kali ini gua bakal dengerin apa pendapat lu deh".
"Hem, menurut gua lu jangan terburu-buru ngambil keputusan".
"Enggak kok gua gak terburu-buru".
"Hem, jangan dulu menyimpulkan kalau apa yang lu rasain saat ini itu cinta".
"Tapi gua rasa ini beneran cinta, Ay".
"Lu harus sabar dan ...".
"Gua udah sabar".
"Tuh kan, gua bilang juga apa, apapun yang gua ucapin pasti akan lu bantah, udah berhenti di depan?! gua turun di sini aja!!". Ucap Aya kesal.
"Heh, tapi gua udah lama nunggu untuk momen penting ini". Ucap Arka.
"Gua bilang berhenti". Ucap Aya dengan raut wajah yang seketika berubah.
bersambung...
__ADS_1
Ayana Friska Andreas