
"Ahhh... kenyang banget". Ucapku, kemudian sekilas melirik ke arah Arka.
"Loh, Lu gak Makan?". Tanyaku, karena makanan yang Arka miliki terlihat masih utuh.
"Enggak, udah kenyang". Matanya terlihat terus Menatapku.
"Hah? sejak kapan?". Tanyaku benar-benar merasa heran, sebab setahuku dia tidak makan apapun sedari tadi, di perjalanan pun aku yakin tidak, sebab tidak ada makanan.
"Aku sudah kenyang melihat kamu makan". Ucapnya kemudian mengusap sisa makanan yang tersisa di samping bibirku. Refleks aku menghindar dan segera membersihkan bibirku dengan kasar. Sementara itu, kulihat Arka tengah tersenyum sembari menjilat jemari tangan yang sebelumnya menyentuh bibirku.
"Aish ... Jorok". Ucapku padanya dengan tatapan jijik.
"Heh, tidak kok, sebab ini bekas kamu!". Ucapnya dengan santai kemudian melihat ke arah bibirku. Seketika itu juga aku bergidik ngeri, sepertinya ada sesuatu yang aneh dengan Arka, tidak biasanya dia begitu.
"Are you okay?". Tanyaku memastikan bahwa dia tidak sedang baik-baik saja.
"Heh, i'm okay". Ucapnya dengan senyum tulus, yang sedari tadi terus ia pamerkan. Sementara itu para pengunjung wanita yang lain terus memperhatikan Aksa dengan mata tak berkedip, namun sebagian orang terdengar tengah membicarakanku.
"Heh, jelas lu, gak lagi baik-baik aja". Ucapku, kemudian segera bangkit dan berjalan menuju mobil. Sementara itu Aksa ikut bangkit dari duduknya dengan panik, dan segera membayar makanan yang telah aku lahap tadi.
"Ay, tunggu!". Ucapnya dengan nada bicara yang cukup keras nyaris berteriak. Namun tidak sedikitpun aku pedulikan. Aku terus berjalan menjauh. Belum sampai aku ke mobil, gerak langkah Aksa berhasil menghentikanku.
"Ay?!". Ucapnya dengan nafas tersengal. Kemudian setengah badannya berjongkok, kedua telapak tangannya menyentuh lutut.
"Mau kemana?". Kini Nafasnya terdengar lebih stabil, kemudian kembali tegak berdiri.
"Pulang". Ucapku singkat, tanpa berniat menatapnya.
"Heh? Kita baru aja dateng". Ucapnya menatapku lekat. Tapi tak ku pedulikan.
"Ay, lihat Aku?". Perintahnya. Sebenarnya aku enggan untuk menatapnya, Aku tahu sikapku padanya terkesan ke kanak-kanakan. Tapi ini yang terbaik, aku tidak ingin memberikan dia kesempatan dan harapan, terlebih aku tidak suka wanita lain menatap Arka dengan begitu Agresif dan memandangku dengan negatif.
"Ohh, tenang aja, Gua bisa pulang sendiri kok". Ucapku kemudian kembali melangkah tanpa memperdulikan teriakan Aksa.
"Ay?".
"Gak gitu Maksudku".
"Ay?".
***
Arka yang tak mudah menyerah terus mengikutiku, tanpa berkata apa-apa, sesekali saat aku berbalik dan menatapnya tak suka, dia berpura-pura seolah sedang berdiri sendiri, sembari melihat pemandangan ke arah lain, namun setelah aku kembali berbalik, dia kembali menatapku dan mengikutiku.
"Aku cape!". Ucapku setengah berteriak, detik berikutnya Arka berjalan lebih cepat menghampiriku.
"Hm, kan udah aku bilang jangan pulang, untuk malam ini kita cari penginapan disekitar sini yah?!". Ucapnya sembari berjongkok melihat kedua kakiku, kemudian menengadahkan wajahnya meminta persetujuan.
"Hm, Kamar yang terpisah".
"Hm, okay".
"Gak boleh main ke kamar satu sama lain !".
"Oke".
"Gak boleh...". Ucapanku tertahan. Sebab Arka lebih dulu berucap.
"Hm, ada lagi?". Tatapan nya terlihat kesal.
__ADS_1
"Aku gak bawa baju ganti".
"Tenang aja, aku selalu bawa baju lebih kok di mobil". Ucapnya sembari menyunggingkan lekukan di bibirnya.
"Hm, aku gak bawa pembersih wajah juga, alat mandi dan...". Ucapanku terhenti saat aku sadar Arka terus menatapku dengan jengah.
"Hah... sehari aja, kamu gak perawan wajah, aku yakin gak akan bikin wajah kamu jadi jelek kok". Ucap Arka merayu.
"Hem... yaudah sih".
"Beneran mau?".
"Iyah, cepetan cari penginapan sebelum Gua berubah pikiran". Ucapku menggertak.
"Oke-oke". Ucap Arka bersemangat lantas segera berlari mencari penginapan terdekat.
Tapi semua penginapan sudah berpenghuni hanya tinggal satu kamar tapi kasurnya hanya ada satu dan tidak terlalu besar juga, Arka sempat berputus asa karena Aya tidak mungkin mau. Tapi... entah ada angin apa tiba-tiba Aya mau dan segera masuk ke dalam kamar.
"Asal lu tahu yah, kenapa Gua mau, yah karena Gua cape banget, dan cuaca di luar udah gelap juga".
"Lebih baik kita menginap disini, dan besok pagi kita pulang, dari pada kita maksa pulang malam ini takutnya terjadi sesuatu yang tidak di inginkan, gimana?".
"Iyah, Gua paham". Ucap Arka kesal, pasalnya Arka berharap Aya tidak menjelaskan apa-pun. Biarlah khayalan nya yang menerka-nerka.
Aya tanpa perduli dengan Arka, langsung berbaring di kasur, sementara Arka langsung membuka bajunya dan menaruhnya sembarang.
"Eh, Lu mau ngapain?". Ucap Aya setengah berteriak, Aya terkejut.
"Menurut Lu? yah mandilah". Ucapnya masih dengan raut wajah kesal, namun detik berikutnya Senyuman smirk terbit di kedua lekungan bibirnya.
"Emm.. katanya mau mandi? terus ngapain masih berdiri?". Jawab Aya yang beberapa detik lalu terlihat parno.
"Hah? Gua gak mikir apa-apa, STOP!". Teriak Aya lagi saat tubuh polos Arka hampir saja mendekati tubuhnya.
"Kenapa?"
"Yah, gak pantes ajalah".
"Oh gitu? BTW kiss yang waktu itu first kiss lu ya?".
"Hah? Yah Iyahlah, tapi gara-gara lu first kiss Gua ilang". Ucap Aya kesal, apalagi saat ia Kembali mengingat momen itu.
"Hehe... tapi entah kenapa, jujur Gua kok seneng yah".
"Hah? Aneh bet deh lu".
"Udah Ah Gua mau tidur, jangan ganggu".
"Hem, Iyah Gua juga mau mandi, gerah... apalagi saat lama-lama berduaan sama Lu".
"Hah? lu pikir lu aja, Gua juga". Lirih Aya setelah Arka pergi.
***
21:00
Arka dan Ayana kini sudah berbaring di ranjang yang sama, mereka berdua sama-sama kaku dan hanya menatap langit-langit ruangan, tanpa ada yang berani memulai percakapan lebih dulu.
"Ehem... Lu udah tidur?".
__ADS_1
"Heh? Belum".
"Gak tahu kenapa, Gua jadi gak ngantuk". Ucap Aya jujur.
"Hem, apalagi Gua, tadi abis mandi dan minum kopi".
"Ay?".
"Heh?"
"Kita maen yuk?!". Ucap Arka dan memberanikan diri, berbalik badan untuk melihat Aya.
"Hah? maen kemana?". Tanyanya penasaran.
"Kemana aja, yah kayanya sayang aja gitu kalau kita ngelewatin malam ini kalau cuma hanya tidur".
"Gimana kalau kita jalan di pesisir pantai?"
"Hah? enggak ah gua takut". Ucap Aya.
"Kan ada Gua?! mau yah?".
"Hah? tapi...".
"Udah, Ayokk?!" Ucap Arka bangkit dari tidurnya kemudian mengulurkan tangannya kepada Aya.
"Hem...". Akhirnya Aya mau ikut dan memegang uluran tangan Arka.
***
Kini mereka berdua tengah berjalan kaki di pesisir pantai, sesekali air laut menyentuh kaki mereka. Dan sedari tadi, tangan Arka tidak ingin lepas dari tangan Aya, barang sedetik pun.
"Arka?". Ucap Aya ragu-ragu berjalan di sampingnya namun posisinya agak belakang.
"Heh?". Ucap Arka berhenti sejenak kemudian menoleh kebelakang.
"Gua lupa belum bilang sama nyokap". Ucap Aya polos.
"Haha... dasar anak durhaka".
"Tapi, tenang aja, Gua gak bakal biarin lu di cap anak durhaka kok, gua udah bilang dan minta izin ke nyokap, dan Bang Aryo, terus ke nyokap bokap Gua". Ucap Arka dengan senyum tulus.
"Hah? kapan?".
"Saat masih di perjalanan, lu lagi tidur".
"Ohhh..."
"Ngomong-ngomong, ini kita lagi gak mau nyebrang kok? tapi kenapa ya tangannya gandengan terus?". Ucap Aya.
"Heh?". Seketika Arka berhenti kemudian melirik tangan yang dimaksud Aya.
"Kelihatannya cocok kok, kenapa sih? gak mau banget Gua pegang?".
"Cuma... mau bilang, ini tuh tangan berharga yang mesti Gua jaga untuk laki Gua suatu saat nanti".
"Hem? ya yaudah deh...". Dengan ragu Arka melepaskan tangan Aya.
"Beruntung yah laki yang bakal dapetin lu nanti". Seketika raut wajah Arka berubah sendu.
__ADS_1
Next?