Cinta Tulus Arka

Cinta Tulus Arka
7


__ADS_3

"Gua gak mau ada yang tahu selain kita berdua, lagian saat itu cuma kesalahankan".


"Lu berpikir begitu? gua sih enggak".


" Gua melakukan itu penuh dengan kesadaran atas dasar rasa suka".


***


"Arka?". Ucap Aya dengan tatapan tidak suka.


"Hm, Iyah-iyah". Ucap Arka pada akhirnya pasrah.


"Kita udah janji kan untuk enggak saling suka".


"Enggak, gua gak bisa janji kalau gua gak sayang sama lu Ay".


"Tapi...".


"Gua takut, suatu saat Gua bakalan nyesel gak nyatain rasa sayang gua sama lu". Ucap Arka memotong ucapan Aya.


"Tapi lu gak perlu khawatir, Gua cuma mau jujur dan lu tahu, lu gak harus jawab apalagi membalasnya kok". Ucap Arka lagi dengan wajah sendu.


"Arka apa lu gak bisa lihat, kalau gua juga sayang sama lu". Batin Aya.


"Ay, lu kenapa ? kok... malah bengong?".


"Hm Hah? apaan? , yaudahlah kita lupain masalah ini, dan jalanin hari-hari seperti biasanya, Oke?".


"Hm".


"Eh, weekend ini gua mau liburan".


"Kemana?". Tanya Arka berusaha mengembalikan mood.


"Tadinya sih mau ke pantai tapi...".


"Oke, gua bisa kok".


"Tapi gak jadi".


"Hah? kenapa?".


"Farel gak suka pantai". Ucap Aya dengan pelan.


"Farel? lu mau liburan bareng Farel?". Tanya Arka lagi tak percaya.


"Iyah, bukan Gua aja kok, tapi satu fakultas, tapi... kebetulan Farel ketua nya, jadi... dia bisa mutusin kemana liburannya deh".


"Hah, gitu". Ucap Arka kembali lesu.


"Lagian lu kan tahu Gua juga gak begitu suka pantai".


"Hm, dan lu tahu Gua sebaliknya". Ucap Arka dengan sinis.


"Mm... yaudah ah, Gua mau masuk dulu kamar, bye".Ucap Aya dengan acuh.


Kemudian Aya segera pergi membawa tas beserta buku-buku nya, sementara itu Arka masih tertegun di tempatnya, dan Aryo segera keluar dari persembunyiannya.


"Mas? Mas Aryo sejak kapan ada di sana?". Tanya Arka terkejut.


"Sejak tadi".


"Mm... Mas denger semuanya?".


"of course!".

__ADS_1


"Hehe..." Tawa Arka yang di buat-buat.


"Bisa-bisanya kamu cium Adik Mas, bukannya kamu udah nganggep Aya itu sebagai Adik kamu sendiri?".


"Heh, Awalnya sih begitu, tapi dari hari ke hari... aku mau lebih dari sekedar itu Mas, lagian kita gak sedarah, rasa sayang yang aku miliki untuk Aya gak bisa dikatakan sayang sebagai sahabat doang atau adik".


"Hm, tapi... kamu kan tahu, Aya itu gak pernah pacaran, dia selalu menjaga dirinya baik-baik, dia bercita-cita ingin memberi semua hal yang dia miliki hanya untuk laki-laki yang akan menjadi Ayah dari anaknya kelak".


"Hah? Iyah juga sih, itu artinya aku yang pertama dong?".


"Iyah, tapi tanpa persetujuan Aya". Ucap Aryo kemudian, dengan tatapan sinis.


"Hehe, Iyah juga sih".


"Kamu serius sayang sama Aya? sayang itu artiannya luas loh".


"Hm, aku sayang sama Aya melebihi aku sayang sama Ibu aku sendiri rasanya Mas, bahkan melebihi sayang Aku pada diriku sendiri".


"Hm".


"Sayang itu tumbuh dengan sendirinya tanpa aku sadari Mas, lebih tepatnya, pada saat Aya kena bully, pada saat itu Mas tahu sendiri... Aya gak mau keluar kamar"


"Hem.. dan kamu melakukan berbagai macam cara supaya Aya mau ketemu kamu, dan kamu ngebujuk dia untuk Percaya diri lagi, Mas ingat betul, maka dari itu Mas selalu bersyukur dan berterima kasih sama kamu".


"Heh, tapi kayanya cuma aku doang yang merasakan rasa sayang yang tulus dan begitu dalam, mungkinkah ini yang di namakan cinta? tapi sayangnya, lagi-lagi... Tidak dengan Aya". Ucap Arka dengan sendu.


"Hem, enggak Aya jauh lebih sayang dan cinta sama kamu Arka". Ucap Aryo dalam hatinya.


"Ehem... lagi ngobrolin apa sih? serius banget". Tanya Aya selesai berganti baju dengan pakaian yang lebih santai.


"Kepo?" Ucap Aryo.


"Ngomongin cewek". Celetuk Arka.


"Hah? Mas Aryo lagi jatuh cinta?". tanya Aya dengan penasaran.


"Udah ah Mas mau tidur siang dulu, mumpung lagi senggang".


"Hm".


"Arka, keluar yuk? Gua laperrr nih". Ucap Aya tanpa rasa bersalah, canggung atau sebagainya.


"Hah? Oke..."


Di sepanjang perjalanan Arka tidak banyak bicara, tidak seperti biasanya. Aya yang menyadari perubahan sikap Arka pun mencoba menghibur Arka, tapi entah harus bagaimana, yang ada di pikirannya saat ini hanyalah siapa wanita itu?


"Ar? btw cewek yang waktu kemarin malam datang ke rumah gua itu..." Belum sempat Aya bertanya Arka sudah lebih dulu menjawab.


"Namanya Dinda, temen sekelas".


"Heh? Ohh... kenapa gak lu pacarin aja".


"Heh, gua sukanya sama cewek lain, yaitu lu".


"Hah? Arka...". Ucap Aya dengan tatapan tajam ke arahnya.


"Gua ngerti kalau lu gak punya perasaan yang sama seperti apa yang Gua rasain, tapi lu gak berhak juga mutusin siapa yang harus Gua pacarin". Ucap Arka dengan tatapan gelap nan tajam.


"Heh? Iyah... udah sih, kalau lu gak mau, cuma ngomong gak mau doang apa susahnya sih". Ucap Aya kemudian memalingkan wajahnya.


"Ay? lu ngerti gak sih... gua itu...".


"Stop, sekali lagi lu ngomong Gua turun di sini juga". Ancam Aya.


"Oke". Kemudian Arka terdiam membisu sampai tiba di sebuah restoran.

__ADS_1


"Selamat Sore Kak? mau pesan apa?". Tanya pelayan itu dengan ramah.


"Hmm... ayam spesial cripsy pedes ukuran besarnya satu, sama minuman soda ukuran kecil satu dan air mineralnya satu". Ucap Arka.


"Baik, ada lagi?".


"Kalau aku...". Belum sempat Aya bicara Arka sudah lebih dulu menjawab.


"Enggak, itu aja". kemudian pelayan itu pun segera pergi, tanpa melirik ke arah Aya.


"Hah? lah gua belum pesan". Ucap Aya kemudian.


"Itu barusan udah gua pesan". Jawab Arka singkat, kemudian meraih Handphone yang ada di tas kecilnya.


"Hmm... lu sendiri gak makan?".


"Gak laper". Jawab Arka dengan cuek.


"HAH... Oke, kalau lu emang gak laper terus kenapa juga lu mau Gua ajak kesini?".


"Yah dari pada Gua liat lu jalan sama cowok lain, mendingan jalan sama Gua kan?". Jawab Arka dengan jujur dan to the point.


"Hmm". Sementara itu mata Aya mengerling ke arah yang berlawanan.


***


"Ini pesanannya, silahkan di nikmati, permisi".


"Iyah, makasih Kak". Jawab Aya dengan ramah kemudian meraih makanan yang di simpan di meja cukup jauh dari tempatnya duduk.


"Heh? ini... pesanan Mas nya". Ucap Pelayanan wanita itu dengan bingung.


"Heh, Iyah itu pesanan saya memang untuk dia kok, makasih". Jawab Arka tanpa berpaling dari layar handphonenya.


"Ohh... maaf mbak saya gak tahu". Jawabnya dengan wajah malu.


"Hehe... Iyah gak apa-apa".


"Silahkan dinikmati".


"Iyah makasih".


"Haha, malu banget tuh pasti si mbaknya, elu sih pake acara pesanin makanan Gua, jadi tuh mbaknya bingung, elu yang pesan lah Gua yang makan".


"Heh, lu yang salah kenapa juga duduknya jauh banget, Hah?". Iyah kebetulan mereka duduk di bangku dan kursi yang panjang dan keduanya duduk berjauhan.


"Hm... yah pengen aja". Jawab Aya, berbohong. Pasalnya setelah kejadian itu... atas pengakuan Arka terhadapnya, Aya berusaha menjaga jarak.


"Gua gak suka lu jadi jaga jarak sama Gua, cepat sini duduk sebelah Gua!". Ujar Arka menatap wajah Aya tajam.


"Hm, Iyah-iyah". Pada akhirnya Aya tidak bisa menolak akan keinginan Arka. Tapi... belum sempat Aya berpindah duduk, tiba-tiba datang seorang pria yang sama sekali tidak Arka harapkan.


"Ay? Hey ngapain disini?". Kemudian tatapan nya beralih kepada makanan dan Arka.


"Heh? Kak Farel kok bisa kebetulan ketemu disini sih?". Ucap Aya tak percaya.


"Hem, Iyah nih apa ini yang dinamakan jodoh kali yah? hehe...". Ucap Farel dengan tawa renyah di akhir kalimat.


"Heh? haha... Iyah kali yah". Jawab Aya kemudian, dan kembali duduk di posisi semula tapi kini di sebelahnya ada Farel.


Seketika itu juga aura wajah Arka berubah drastis, marah, kesal dan cemburu, bercampur menjadi satu.


Next?


__ADS_1


Maharani ibu Aya


__ADS_2