Cinta Tulus Arka

Cinta Tulus Arka
21


__ADS_3

"Halo? Ay kamu dimana?".


"Aku? aku gak tahu aku dimana".


"Maksudnya?".


"Aya, aman sama Gua". Teriak Arka.


"Heh? Ay? kamu dengar suara aku kan?".


"Hm, Iyah aku denger kok".


"Share lokasi sekarang juga aku ke sana". Ucap Farel dengan tergesa-gesa, dan segera mematikan sambungan telponnya.


"Ada apa nak Farel? Aya gak kenapa-kenapa kan?".


"Enggak, Aya baik-baik aja kok Tan, Tante gak perlu khawatir, Aya lagi sama Arka".


"Oh, Iyah syukurlah".


"Yaudah aku pamit dulu mau susul Aya yah Tante".


"Oh iya, kamu hati-hati yah?!".


"Iyah".


***


Menurut lokasi yang di kirimkan oleh Aya beberapa waktu lalu, saat ini Aya dan Arka tengah ada di sebuah Hotel Bintang Lima.


"Gua mau balik".


"Kenapa Gua bisa ada di sini?". Teriak Aya dengan panik sesaat setelah panggilan telepon dengan Farel terputus.


"Lu kenapa sih? biasa nya juga kita tidur bareng di rumah Gua lagi".Ucap Arka dengan santai.


"Hah? Itu dulu lagian kita cuma tidur biasa". Ucap Aya dengan cepat.


"Lah, memang nya sekarang kita lagi ngapain?" Ucap Arka menggoda sembari berjalan mendekati Aya.


"Hm, yah enggak ngapa-ngapain, STOP?!" Teriak Aya saat Arka mendekatkan wajahnya ke hadapannya.

__ADS_1


"Oke". Ucap Arka senyum smirk.


"Kenapa kita kesini?". Tanya Aya penasaran.


"Tadi lu pingsan".


"Hah, pingsan? masa sih?". Tanya nya beruntun dengan raut wajah curiga tak percaya akan apa yang dikatakan Arka barusan.


"Masa iya Gua bohong? buat apa juga".


"Hm, yaudah Gua mau balik".


"Hm yakin mau balik?".


"Yakinlah, kenapa juga gak yakin".


"Coba lu ngaca?! wajah lu itu pucat, dan rasain apa yang tubuh Lo butuhin". Ucap Arka terlihat sedih dan kecewa.


Iyah aku memang melakukan diet ketat dengan tidak makan nasi selama tiga hari ini, mungkin karena itu aku pingsan. Pikirku dan segera melihat wajahku sendiri di cermin.


"Ay, lu itu cantik enggak perlu merubah apapun". Ucap Arka sembari memelukku dari arah belakang.


"Terus kenapa lu diet sih? kalau Farel gak bisa terima kondisi lu dengan tubuh yang gemuk, Gua bisa terima Lo kok". Ucapnya yang kini sudah ada di hadapanku dengan posisi setengah badan berlutut.


"Pacar Gua itu Farel bukan Lu". Ucapku merasa jengah dengan perkataan Arka yang berulang-ulang kali meyakinkan aku untuk tidak perlu khawatir jika Farel akan meninggalkanku.


Tak lama kemudian sebuah bel pintu berbunyi. Aku sangat yakin itu pasti Farel.


"Udah lu duduk aja, biar Gua yang bukain". Ucap Arka terlihat pasrah.


Dan benar saja itu adalah Farel dengan rasa gelisah nya ia masuk kedalam tanpa permisi menghampiri Aya dan segera memeluknya.


"Kamu gak apa-apa kan?". Ucap Farel dengan nafas yang terdengar masih ngos-ngosan.


"Hm, masih pusing sedikit". Ucapku jujur.


"Yaudah baringan dulu jangan dulu banyak gerak".


"Hm, maaf yah?!". Ucapku dengan tulus.


"Maaf buat apa?". Ucapnya sembari melirikku setelah ia membantuku berbaring dan menyelimutiku.

__ADS_1


"Seharusnya aku gak sakit saat kamu pulang, kita jadi gak bisa kemana-mana deh". Ucapku sendu.


"Yaudah sih enggak apa-apa, aku yakin kamu juga gak mau hal ini terjadikan".


"Kenapa enggak di bawa ke rumah sakit sih?". Tanya Farel sesaat setelah Aya memejamkan matanya.


"Karena Gua gak bisa pergi ke rumah sakit, Karena Aya juga gak suka rumah sakit, tapi lu tenang aja Dokter pribadi keluarga Gua udah periksa keadaan Aya kok".


"Dan apa katanya?".


"Yah, dia cuma dehidrasi kurang gizi selama satu Minggu terakhir ini yang Gua tahu dia menjalankan diet ketat buat menyambut kedatangan Lo". Ucap Arka dengan santai tapi terkesan mengejek.


"Gua gak pernah minta dia untuk kurus, Gua sayang dia gak peduli bentuk tubuhnya yang gendut". Ucap Farel dengan lantang.


"Iyah, mungkin dia ingin terlihat cantik di depan Lo, Meskinya dia untuk amat sangat cantik tanpa harus merubah apapun yang saat ini ada di tubuhnya". Ucap Arka tak kalah lantang saat memuji Aya di depan Pacarnya langsung.


Farel jelas tahu Arka sangat mencintai Aya, tapi cinta Farel untuk Aya juga tak kalah besar, Farel mencintai Aya saat kali pertama ia melihat Aya berada di barisan Mahasiswa baru, yang saat itu tengah di jemur oleh teman-temannya di bawah terik nya matahari.


Keduanya sama-sama terdiam, suasana benar-benar hening, hanya sesekali terdengar dengkuran dari hembusan nafas Aya yang menandakan Aya benar-benar lelah.


***


Satu pekan sudah Farel berada di Indonesia, hari ini ia harus kembali ke Amsterdam dengan berat hati Aya harus merelakan Farel pergi.



Beruntung nya menjadi Aya di cintai dengan begitu tulus oleh dua lelaki tampan sekaligus, yang tidak pernah memandang Aya sebelah mata, bahkan ia selalu di perlakukan bak seorang Ratu.


Iyah meskipun hal itu tidak berlangsung lama hanya beberapa hari saja tapi setidaknya Aya pernah merasakan di cintai dan di perlakukan bak Ratu kan.


Flashback Off


***


Hari-hari terus berganti, tidak terasa hari yang di tunggu-tunggu nya esok akan ia lewati.


Hari Wisuda


Meskipun dengan berat hati Farel lelaki yang dicintainya tidak dapat hadir di acara istimewa bagi nya. Padahal sebelumnya Farel sudah berjanji akan selalu ada di hari-hari istimewa bagi Aya.


Padahal Farel sudah 6 bulan tidak pulang, Akan tetapi karena satu dan lain hal Farel membatalkan kepulangannya ke Indonesia. Tentu saja Aya merasa sedih dan kecewa tapi apa boleh buat.

__ADS_1


__ADS_2