Cinta Tulus Arka

Cinta Tulus Arka
3


__ADS_3

"Lu punya telinga gak sih? gua bilang berhenti!". Ucap Aya dengan nada yang sedikit membentak.


"Gua denger gak budeg". Jawab Arka masih dengan santai.


"Yah terus kenapa lu gak berhenti?!". Tanya Aya kesal.


"Emangnya lu pernah liat gua turunin cewe di jalan, Hah? apa lagi itu lu". Jawab Arka dingin.


Iyah, Arka selalu seperti itu, sekalipun dia benci atau kesel ke satu cewe yang ada di dalam mobilnya, Arka tidak pernah menurunkan cewek itu di pinggir jalan. Arka selalu tanggung jawab atas apa yang ia perbuat, atas apa yang telah menjadi keputusannya. Apalagi orang itu berkaitan dengan Aya, sekalipun mereka bertengkar hebat, Arka selalu mengalah dan mengedepankan ke babagiaan Aya.


Mereka berdua akhirnya saling diam, sibuk dengan pemikirannya masing-masing.


"Udah disini aja". Ucap Aya. Kali ini Aksa menuruti keinginan Aya, Karena memang sudah di depan gerbang masuk kampus Aya.


Dan saat Aya hendak ingin turun, tiba-tiba kalimat yang mustahil Arka ucapkan akhirnya terucapkan... "Ay, gua suka sama lu?".


"Udah gila lu?". Aya tidak menanggapi lebih lanjut, apa yang barusan Arka ucapkan, kemudian Aya segera turun dari mobil.


Andai aja apa yang Arka barusan ucapkan beneran, batin Aya, pasti saat ini dialah wanita yang paling bahagia.


Arka melihat Aya pergi perlahan semakin menjauh dan tak terlihat lagi.


Saat ini Arka benar-benar kecewa dan patah hati, namun ia tak bisa berbuat banyak hal, selain menunggu kondisi Aya membaik dan kembali menyatakan perasaannya.


***


Arka baru saja tiba di kampusnya, dan tiba-tiba Dinda berjalan menghampirinya.


"Halo, Arka?"


"Heh, Hai". Jawab Arka acuh.


"Lu kenapa? lesu banget".


"Heh? bukan apa-apa kok".


"Ohh, mau cerita?".


"Hah? enggak, makasih". Lalu Arka berjalan menuju kelas. Dan di susul oleh Dinda tepat berada di belakangnya.


"Gak apa-apa lagi, kalau lu butuh temen untuk cerita gua siap kok". Tutur Dinda tanpa menyerah.


Kemudian Arka berbalik. "Oke, thanks, tapi untuk saat ini gua gak butuh temen untuk cerita, tapi butuh banget ketenangan, so... gua mau belajar". Ucap Arka tegas. yang mengartikan untuk Dinda diam jangan mengajaknya bicara.


"Heh, oke". Dinda langsung mencelos.


***


Jam kuliah selesai, Arka hendak ingin langsung pulang atau menjemput Ayana tapi lagi-lagi Dinda menghadang langkahnya.


"Arka? tunggu!".


"Hm, apa?".


"Gua boleh nebeng gak? sampai depan aja, kebetulan gua gak bawa mobil".


"Hm, boleh... tapi sampai depan aja yah?!".


"Ok, thanks". Ucap Dinda ceria, dan tanpa basa-basi ia segera duduk di samping Arka.


Di sepanjang perjalanan Arka benar-benar tidak ada mood untuk cerita apapun kepada Dinda, tapi... Dinda terus menerus nyerocos cerita hal-hal yang sama sekali tidak membuat Arka terkesan padanya.


"Hm, sorry yah gua berisik". Ucap Dinda baru menyadari akan tatapan Arka yang jengah.


"Heh? enggak kok... cuma gua gak paham aja sama apa yang barusan lu omongin".

__ADS_1


"Heh, Iyah gak apa-apa kok, lu mau dengerin aja gua udah seneng". Ucap Dinda.


"Hm, btw kita kemana nih?".


"Heh? Oh... gua turun sini aja, gua bisa naik taxi dari sini".


"Gapapa gua anterin aja sekalian, udah tanggung lu ada di dalem mobil gua".


"Hah? gapapa nih, rumah gua jauh loh". Ucap Dinda terkejut.


"Iyah gak apa-apa".


"Makasih sebelumnya...".


"Hm, cuma gua gak tahu jalannya lu arahin ya!".


"Ohh, oke". Bibirnya seketika senyum merekah.


***


"Aish... sebel ini semua gara-gara Arka, kenapa sih dia mesti banget bercanda Pake bawa-bawa perasaan".


Iyah sedari tadi, Aya tidak fokus akan mata kuliah nya, gara-gara memikirkan kalimat terakhir yang Arka lontarkan mengenai perasaannya.


Aya merasa Arka sungguh-sungguh, tidak sedang bercanda, tapi mana mungkin Arka bicara begitu terlebih kepada dirinya yang... jauh... dari kata wanita ideal Arka.


"Setahuku Arka suka wanita tinggi, putih, dewasa, gak cerewet dan smart. Lah gua? heh... jauh banget". Ucapnya dalam hati.


***


16:30


Arka baru saja tiba di rumahnya, dengan basah kuyup.


"Arka, kamu baru pulang? abis dari mana aja, Heh? Aya nungguin kamu tuh".


"Iyah".


"Dimana?".


"Di atas, di teras atau balkon kali".


"Oh, yasudah Arka mandi dulu yah Mom".


"Hem, cepetan keringkan rambut nanti masuk angin atau flu kamu".


"Hmm..". Arka pun segera masuk ke dalam kamarnya, dan mendapati Aya sedang tidur di kasurnya.


"Heh... bisa-bisanya lu tidur di rumah dan kamar gua". Ucap Arka sembari tersenyum.


Setelah selesai mandi dan berganti baju, Arka segera ingin menemui Ayana tapi... saat ia tiba di depan kasur dengan handuk kecil yang masih bertengger di lehernya, Aya sudah tidak ada di sana. Arka pun segera berlari keluar kamar...


"Mom, Aya kemana?".


"Heh? Aya baru aja pulang, emang nya kamu gak liat atau ngobrol dulu?".


"Enggak Mom, yasudah aku susul Aya ke rumah nya yah". Ucapnya sembari melepaskan handuk di atas sofa.


"Ehh, tunggu-tunggu... kamu berantem sama Aya?".


"Enggak kok, cuma salah paham aja".


"Hem, yasudah sana selesaikan ke salah pahaman nya, tapi dengan baik-baik yah?!".


"Heh, Iyah".

__ADS_1


"Eh, rambut kamu masih basah belum di keringkan?". Tanya Ibunya dengan khawatir Arka akan Flu. Sebab Tubuh Arka rentan terserang flu kalau rambutnya basah.


"Iyah, nanti aja deh". Ucap Arka tidak memperdulikan ucapan Ibunya.


***


Ayana maupun Arka sudah terbiasa keluar masuk rumah satu sama lain, tapi Arka lebih sopan untuk masuk ataupun keluar dari rumah Aya.


"Sore Tante, Aya nya ada?".


"Eh nak Arka ayo masuk! Ada kok, bukanya baru aja pulang dari rumahnya kamu?".


"Hehe... Iyah tapi aku gak ketemu".


"Oh gitu, yasudah masuk aja paling di kamar nya".


"Iya, makasih Tante".


"Iyah, nanti suruh Aya turun bawain cemilan yah".


"Heh? gak usah Tante, gak apa-apa jangan repot-repot!".


"Gak apa-apa, Aya juga sering habisin makanan yang ada di rumah kamu kan?! aduh maaf yah, padahal Tante sering marahin Aya, supaya gak sering-sering makan di rumah kamu loh".


"Iyah gak apa-apa Tante, justru mamah Arka seneng jadi ada temen katanya, yasudah Arka ke atas dulu yah Tan".


"Ohh, Iyah".


"Ay? Aya? Ay lu masih marah sama gua?". Ucap Aksa sembari membuka pintu di ketukan ketiga kalinya karena tidak ada respon apapun.


"Ay, gua minta maaf". Ucap Arka sungguh-sungguh.


"Maaf untuk apa?". Tanya Aya masih acuh


"Karena gua gak dengerin apa kata lu".


"Ehe, terus maaf untuk apa lagi".


"Hmm, udah itu aja kok, gua gak bikin kesalahan apapun lagi". Jawab Aksa dengan santai.


"Ihh... apaan, terus atas ucapan terakhir lu? lu gak merasa bersalah gitu?".


"Ucapan terakhir? Mm... saat gua bilang... gua suka sama lu? apa itu kesalahan? menurut gua enggak". Ucap Arka panjang lebar tanpa dosa.


"Gak salah? lu ingat atas apa yang lu minta sama gua saat kita SMA? satu sama lain gak ada yang boleh nyatain cinta atau suka".


"Hem, Iyah gua inget dan hari ini gua udah ngelanggar aturan itu, so... lu mau ngehukum gua gitu?".


"Arka... ayolah bercandaan lu gak asik tau gak". Ucap Aya yang kini bangun dari rebah nya.


"Siapa yang bercanda?". Ucap Arka tanpa ekspresi.


"Lu serius?


"Iya, gua serius".


"Heh... enggak, lu gak pernah serius soal hati atau cinta". Elak Aya.


"Mau bukti?".


"Apa? apa yang bisa lu buktiin ke gua kalau lu serius?".


"Cup". Dan... Satu kecupan berhasil mendarat di bibir Aya. Seketika itu Aya terdiam terpaku atas apa yang Arka lakukan pada dirinya.


Bersambung...

__ADS_1



Dinda Latisya


__ADS_2