Cinta Tulus Arka

Cinta Tulus Arka
16


__ADS_3

Arka tidak sanggup mendengar jawaban Aya atas pertanyaan yang di ungkapkan Farel. Ia lebih memilih pergi dengan kekecewaan yang tak berkesudahan.


***


Satu Minggu berlalu, semenjak acara kelulusan itu Aya tidak pernah sekalipun menampakkan batang hidungnya di hadapan Arka, begitupun sebaliknya, kini Arka lebih fokus mengejar karir nya di dunia intertaimen.


Tapi tak dapat di pungkiri apapun yang Arka lakukan itu semua semata-mata hanya untuk dilihat oleh Aya. Tapi semuanya terasa sia-sia. Karena sampai saat ini kedekatannya bersama Aya tidak pernah kembali.


Arka yang putus asa akhirnya mengambil jalan pintas, untuk meredakan emosi dan stress yang ia alami.


(Ay, kenapa sih lo menolak Gua? apa kurang Gua Ay?) Ucap Arka meracau di salah satu klub malam cukup terkenal.


"Arka?". Ucap seorang pria yang cukup dekat dengannya di lingkungan entertainment.


"Hm?".


"Sama siapa kesini? tumben, biasanya Gua ajak lu selalu nolak".


"Sendiri, Gua lagi ada masalah".


"Masalah apa?". Tanya pria itu penasaran.


"Heh, bukan masalah serius".


"Bohong, kalau gak serius, gak mungkin lu kesini?". Tebaknya yang tak di bantah apapun oleh Arka.


"Gua boleh ikut gabungkan?".


"Hm, silahkan".


"Mas, satu botol lagi?!". Ucapnya kepada bartender.


"Lu bisa cerita sama Gua?! sesama lelaki".


"Hm, thanks tapi untuk saat ini Gua masih bisa mengatasinya sendiri kok".


"Ok, kalau gitu".


"Lu sendiri sama siapa kesini? Lu udah cukup sering datang kesini Dre?".


"Gua tadi dateng sama temen Gua, tapi dia udah balik duluan sama pacarnya".


"Heh, temen apa temen? cewek?".


"Haha... Iyah temen baik Gua, tapi jujur Gua udah lama naksir dia, cuma dia gak pernah peka".


"Heh, saran Gua, lu jangan pernah mengakui perasaan lu, kalau gak mau bernasib sama seperti Gua". Ucap Arka sendu sembari meneguk minumannya, entah sudah gelas ke berapa.


"Hah? Oke".


***


Malam semakin larut Arka sudah meracau kemana-mana, Andrew yang melihat itu merasa iba, tapi rasanya tidak mungkin jika mengantar Arka pulang kerumahnya dalam keadaan seperti ini.


Akhirnya dia memberanikan diri membuka handphone milik Arka dan menekan panggilan bernama "Ay". Yang ada di pikiran Andrew saat itu mungkin itu nomor handphone kekasihnya.


***


"Halo? ini jam berapa? kira-kira dong kalau nelpon". Ucap Aya masih dengan mata tertutup.


"Sorry". Ucap Andrew merasa tidak enak.

__ADS_1


"Tunggu, ini siapa?". Segera Aya bangun dan melihat siapa yang meneleponnya malam-malam begini.


(Arka? tunggu tapi suaranya seperti bukan Arka?).


"Halo, sorry ini handphone Arka kan? Lu siapa?". Tanya Aya beruntun sedikit panik.


"Iyah, Gua temennya, Andrew".


"Arka nya mana?".


"Dia lagi... ".


"Dia lagi apa?". Tanya Aya tak sabaran.


"Hm, Gua bingung harus jelasin ke lo dari mana yang pasti".


"Ay, Gua sayang sama lo". Ucap Arka kembali meracau.


"Lu denger sendiri? dia terus-terusan manggil nama Lo, keadaannya memang gak begitu sadar, dia... m*b*k".


"Apa? gak mungkin... Arka yang Gua kenal bukan".


"Iyah, Gua tahu, ini memang pertama kalinya". Ucap Andrew mendahului.


"Heh, terus kalian di mana?".


"Gua gak tahu rumah Arka dimana? dan sepertinya itu bukan ide bagus bawa Arka pulang kerumahnya, jadi Gua bakalan bawa dia ke hotel".


"Oke, Lo sherlock aja, Gua ke sana sekarang juga".


"Oke".


***


Arka dan Andrew sudah tiba di salah satu hotel, saat Arka tengah di dudukan di kursi tunggu, dan Andrew sedang check-in, tak lama kemudian Aya pun datang.


"Arka? Arka lu denger Gua?". Ucap Aya panik.


"Hm, Ay? Gua sayang sama lo!". Ucapnya kembali meracau sedikit membuka kedua matanya namun tak lama ia kembali berbaring.


Di saat Andrew sudah mendapatkan kunci salah satu kamar hotel, Andrew segera mendekati wanita yang tengah menangkup kedua pipi Arka.


"Hm, sorry Lu Ay?". Tanya Andrew tidak percaya, sosok wanita yang Arka cintai ternyata...


"Sorry bukan maksud Gua".


"Lu gak perlu minta maaf, Gua ngerti kok, Gua tetangga sekaligus teman nya Arka sejak kecil".


"Mungkin... maksud Arka bilang sayang sama Gua... sayang sebagai sahabat dan adik". Ucap Aya.


"Heh? kayaknya sih engga, maksud Gua, rasa sayang yang di maksud Arka lebih dari itu". Ucap Andrew blak-blakan.


"Hm? entahlah... bisa tolong bantuin Gua bawa dia ke kamar yang udah lu booking?!".


"Oh, yeah...". Andrew tanpa banyak bertanya akhirnya memapah Arka yang tak sadarkan diri.


"Seberapa banyak yang dia minum sampai begini?". Tanya Aya dengan wajah kecewa.


"Hm, entahlah Gua gak sengaja ketemu dia, dia udah minum-minum asik sendiri".


"Oh yah, nama Gua Andrew kebetulan kita satu management".

__ADS_1


"Ayana". Ucap Aya acuh.


"Kalau gitu, Gua serahin dia sama lo, bukannya dia tetangga sekaligus temen lu dan... Gua balik dulu". Ucap Andrew berpamitan.


"Hm, thanks you".


***


Setelah Andrew pergi, Aya pun beranjak dari ke tertegunan nya, berusaha melepaskan sepatu yang masih menempel di kaki Arka yang jenjang.


Kemudian berusaha melepaskan jaket yang juga masih utuh menempel di tubuhnya. Dengan susah payah akhirnya semuanya sudah selesai.


(Kenapa sih Ar lo ngelakuin hal kek gini?) Ucap Aya berkaca-kaca tanda ia benar-benar kecewa.


***


Pagi harinya Arka terbangun dan mendapati Aya tengah tertidur di sampingnya, wanita yang membuatnya memilih jalan pintas untuk menenangkan diri.


"Ay?".


"Hm?". Ucap Aya sembari mengerjapkan kedua matanya.


"Udah sadar?". Tanya Aya memastikan.


"Kenapa tidur di sana?". Tanya Arka sedikit kecewa karena mendapati wanita yang dicintainya tertidur di kursi dan bertumpu di atas kasur, seperti menunggu orang yang tengah sakit.


"Lebih nyaman dan aman tentunya". Ucap Aya sarkas.


"Maksud kamu, aku berbahaya dan bakalan jahatin kamu?". Ucap Arka tak senang.


"Harusnya sih enggak, kalau lu anggap Gua sebagai sahabat, tapi siapa yang tahu kalau lu dalam keadaan gak sadar". Ucap Aya kembali menampar Arka dengan ucapannya yang kasar menurut Arka.


"Ay, harus berapa kali sih aku bilang?".


"Aku gak mau kalau kita cuma jadi temen atau sahabat, kita udah dewasa dan Gua mau...".


"Stop, Arka. Sampai kapanpun kita hanya akan jadi teman baik enggak bisa lebih".


"Gua gak mau". Ucap Arka kemudian bangkit dari tidurnya.


"Terserah Lo deh". Ucap Aya jengah dan hendak pergi mengambil tas selempangnya.


"kamu mau kemana?". Tanya Arka yang tidak di tanggapi apapun oleh Aya.


"Kamu udah sadar dan bisa pulang sendiri?!".


"Ay?!". Ucap Arka berlalu mendahului dan mencegah Aya untuk pergi.


"Please... jangan tinggalin Gua?!".


"Gua harus pergi, nyokap Gua pasti nyariin".


"Kalau gitu kita pulang bareng".


"Enggak, Arka. Gua bisa pulang sendiri".


"Baiklah, kalau kamu minta aku bertindak sejauh ini". Ucap Arka dengan mata gelap dan pandangannya yang melihat Aya seakan Menelan*angi.



Andrew Aditya Pratama

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2