Cinta Tulus Arka

Cinta Tulus Arka
17


__ADS_3

"Kita bukan anak kecil lagi Arka, lagi pula tidak seharusnya kita berada disini".Ucap Aya dengan tegas, meskipun dalam hatinya ia merasa takut, Arka yang ia kenal seolah pria asing yang baru ia temui.


"Aku gak bisa Ay".


"Aku gak bisa lihat kamu dengan pria lain".


"Kasih tahu aku, cara meluluhkan hati kamu". Ucap Arka putus asa, sembari berlutut di hadapan Aya.


"Arka? Bangun! ngapain sih?". Ucap Aya sembari meminta Arka untuk bangun.


"Kamu bahagia dengan Farel?". Ucap Arka yang tidak memperdulikan perintah Aya.


"Apa sih?".


"Sesulit itu membuka hati untuk ku?".


"Kamu ngomong apa sih?".


"Please! kasih aku kesempatan untuk mencintai kamu! dengan caraku".


"Aku gak butuh balasan cinta dari kamu".


"Tapi aku mohon, jangan larang aku untuk tidak mencintaimu!"


"Terserah kamu! Aku mau pulang". Ucap Aya dan berusaha meninggalkan Arka.


"Pulang sama aku?! atau aku gak akan bukain pintu". Ucap Arka telak tak dapat di bantah.


***


Di sepanjang perjalanan menuju rumah, Arka tak henti-hentinya memperhatikan Aya.


"Lihat ke depan". Perintahnya yang terlihat sibuk memainkan gadget nya.


"Gak mau, lagian aku kan lagi gak nyetir". Bantah Arka yang masih memperhatikan Aya.


"Ngomong-ngomong... semalam memangnya gak terjadi apa-apa?". Tanyanya penasaran.


"Hah? maksudnya?". Tanya Aya sembari mengerutkan kening.


"Iyah, semisal..." Belum sempat Arka menjelaskan, Aya sudah paham kemana arah pembicaraan Arka, dan segera membungkam mulutnya dengan telapak tangan kanannya.


"Apaan sih? yah gak ada lah". Ucap Aya spontan. Namun tingkah laku Aya saat ini membuat hati Arka menjadi hangat.


Kedua mata mereka beradu dan memancarkan pesona ketertarikan satu sama lain. Namun Aya adalah Aya yang tak ingin mengambil resiko tinggi, untuk mengakui mencintai pria yang ada di hadapannya saat ini.


Aya segera melepaskan tangannya dari mulut Arka.


"Kenapa dilepaskan? Aku suka kok". Ucap Arka menggoda.


"Apaan sih". Ucap Aya, sembari menyembunyikan pipinya yang saat ini tengah memanas.


"Hm, Mas sama Mbak ini pasangan atau" Tanya supir taxi online yang usianya di perkirakan di atas 40 tahun itu.


"Temen Pak". Jawab Aya cepat, sebelum Pak supir menyelesaikan ucapannya.


"Pacar". Jawab Arka. keduanya menjawab bersamaan namun berbeda jawaban.


"Hah? jadi yang benar yang mana?"


"Temen"


"Pacar". Keduanya kembali menjawab bersamaan dengan jawaban yang masih sama atas keinginannya.

__ADS_1


"Haha... teman tapi rasa pacar barangkali". Ucap Pak supir itu mengambil kesimpulan.


"Temen biasa kok Pak". Jawab Aya tak ingin mengalah. Sementara Arka tersenyum lebar atas jawaban Pak supir itu.


"Hmm... Baiklah". Pada akhirnya Pak supir mengiyakan keinginan Aya.


"Apa sih ngeliatin mulu?".


"Gak kenapa-kenapa".


"Mas dan Mbak nya lagi berantem yah?".


"Enggak". jawab Aya.


"Iyah". Jawab Arka, kembali bersamaan tapi berbeda jawaban. Kemudian keduanya sama-sama saling bertatapan.


"Pak Berhenti di depan". Pinta Aya.


"Mau kemana?". Tanya Arka karena ini masih cukup jauh untuk sampai ke perumahan mereka.


"Gua turun sini aja".


"Enggak-enggak! Pak jalan terus jangan di dengerin".


"Hah? Apaan sih Lo? Gua ada jadwal kuliah pagi, Dosennya kiler telat dikit otomatis nilai Gua C nanti".


"Enggak-enggak". Ucap Arka bersih kukuh sembari melipat kedua tangannya di depan dada.


"Gua serius!". Arka segera menatap wajah Aya dengan jarak yang cukup dekat, untuk memastikan Aya berbohong atau tidak.


"Apa?". Tantang Aya.


"Oke, tapi Gua ikut?!".


"Kenapa memangnya? penampilan Gua oke kok".


"Yakin?". Ucap Aya lagi memastikan.


"Gua tunggu Lu di mobil".


"Lah kita kan gak bawa mobil".


"Gampang".


"Pak, Maaf banget aku minta tolong aplikasinya di matiin aja, Aku bakalan bayar berapapun yang Bapak minta, kita sekarang belok kanan ke kampus Pacar saya!". Ucap Arka dengan sigap kepada supir itu.


Reaksi Aya benar-benar terkejut tapi ia tidak membantah sama-sekali, baginya yang terpenting nilainya terselamatkan.


"Iyah Baik Mas". Ucap Pak supir tak kalah sigap.


***


Mereka sudah sampai di parkiran kampus Aya. Aya hendak keluar dari dalam mobil, tapi lagi-lagi Arka menahan lengan Aya.


"Apa lagi? udah hampir telat ini". Gerutu Aya.


"Kiss dulu?!". Sembari menunjuk pipi sebelah kanannya.


"Hah? Kenya Lo belum sadar sepenuhnya? Saran Gua lebih baik lu balik?!". Ucap Aya tak memperdulikan Pak supir yang sedari tadi menyimpan kecurigaan kepadanya.


"Hmm, Gua tunggu sampai lu selesai, kita pulang bareng". Ucap Arka dan membiarkan Aya pergi.


***

__ADS_1


Waktu menunjukkan pukul 11:20 dan sampai detik itu juga belum terlihat tanda-tanda akan kehadiran Aya. Hampir saja Arka kehabisan kesabaran, ia nekad akan menyusul jika dalam 10 menit ke depan Aya tidak datang juga.


Aya segera menghampiri mobil yang di dalamnya terdapat Arka.


"Tok tok tok". Aya mengetuk kaca mobil itu.


"Masuk?!". Perintah Arka setelah sedikit membukakan kaca mobil itu.


Sebenarnya Aya enggan untuk masuk dan ikut pulang bersama Arka, tapi Aya tahu betul jika dia tidak mengikuti apa yang menjadi keinginan Arka sampai kapanpun Arka tidak akan pernah beranjak pergi.


"Gimana kuliahnya?". Tanya Arka dengan tatapan bersinar, kekesalannya berjam-jam menunggu Aya tidak menjadi masalah, setelah Aya yang di tunggunya, kini telah ada di sampingnya.


"Gak gimana-gimana". Ucap Aya acuh.


"Hmm, tapi gak telatkan?". Ucap Arka sembari memainkan rambut Aya.


"Enggak".


"Laper gak? kamu belum makan apa-apa loh dari tadi pagi". Ucap Arka sembari berhenti memainkan rambut Aya, dan beralih mengambil kantong plastik yang beberapa waktu lalu ia dapatkan di mini market terdekat.


"Apa itu?". Tanya Aya dengan wajah berbinar. Iyah jika sudah mengenai makanan. Jujur saja, Aya tidak akan pernah menolak. Iyah, harga diri Aya memang sebatas itu. Tapi itulah salah satu hal yang membuat Arka mencintai Aya.


Kesederhanaan dan keterbukaan tanpa jaim-jaim di didepannya yang membuat Arka merasa Aya berbeda dari wanita-wanita lain.


"Snack kesukaan kamu". Ucap Arka sembari membuka.


"Aaa?!" perintah Arka, kemudian tanpa bantahan apapun Aya segera membuka mulutnya, menerima makanan yang hendak Arka suapkan.


"Enak?". Tanyanya dengan tatapan penuh cinta. Aya cuma menganggukkan kepalanya sebagai jawaban "Iyah".


***


Setibanya di depan halaman rumah, Aya segera keluar dengan beberapa cemilan yang kini sudah beralih di tangannya.


Sementara Arka kini tengah membayar jasa Pak supir yang setia dan mau direpotkan olehnya sedari pagi hari yang cerah hingga kini awan mulai mendung.


"Pak ini". Arka memberikan sepuluh lembar uang kertas berwarna merah kepada Pak supir online yang diketahui bernama Dadang.


"Iyah Mas". Segera Pak Dadang menerima uang itu dan menghitungnya, hingga dua kali.


"Kenapa Pak? Kurang yah?". Ucap Arka, sembari merogoh kantong celananya.


"Oh enggak, justru saya heran, apa ini gak kebanyakan Mas?". Tanyanya dengan wajah bingung.


"Oh enggak, justru saya takut itu kurang".


"Enggak Mas, ini sudah lebih dari cukup".


"Oh yasudah kalau begitu, terima kasih banyak yah Pak, berkat bantuan Bapak saya dengan pacar saya sudah mulai berbaikan".


"Iyah Mas sama-sama semoga Mas dan Mbak nya bisa langgeng sampai menikah dan punya anak yang lucu-lucu".


"Aamiin".


***


Setelah Pak Dadang pulang, Arka hendak menyusul kepergian Aya beberapa menit yang lalu. Tapi belum sempat Arka beranjak pergi ke tujuannya, Farel tiba-tiba datang membawa buket bunga.


"Ngapain Lo datang kesini? Heh... bawa-bawa bunga segala, Asal Lo tahu, Aya gak suka bunga". Namun belum sempat Farel menjawab Aya sudah lebih dulu datang menyambut kedatangannya.


"Kak Farel, kapan datang? kenapa gak langsung masuk?". Ucap Aya dan berjalan menghampiri Farel, tanpa memperdulikan keberadaan Arka.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2