
Mereka berdua sudah sampai di basement, Mobil yang Arka ketahui sebagai mobil Farel sudah tidak ada di sana, itu artinya mereka sudah lebih dulu pulang.
***
"Arka, kamu dengarin aku ngomong gak sih?". Teriak Dinda kesal sudah di luar batasannya.
"Iyah, denger kok". Ucap Arka masih dengan santai, lantas segera masuk kedalam mobilnya, yang kemudian di susul oleh Dinda.
"Terus kenapa kamu gak respon, tadi itu ada cowok yang gangguin aku". Ucap Dinda penuh penekanan.
"Iyah terus aku harus gimana?". Bentak Arka. lalu segera menghidupkan mesin mobilnya.
"Yah paling enggak kamu marah dan khawatir bukannya diem aja seolah nggak peduli". Ucap Dinda tertunduk, mencoba menyembunyikan kesedihannya.
"Aku marah, tapi aku gak tahu harus berbuat apa". Ucap Arka yang kini lebih lembut dan melirik kesebelah Dinda.
"Hah, maaf yah aku kira...". Ucap Dinda kembali menegakkan kepalanya.
"Maka dari itu Aku mau anterin kamu pulang, habis itu kamu bersih-bersih dan tidur".
"Hm. Iyah"
***
Arka baru saja sampai di rumahnya pukul 23:00 WIB. Lampu kamar Aya terlihat masih terang, tanpa pikir panjang Arka segera mengetuk pintu rumah Aya dengan cukup kasar, tidak peduli jika tetangga yang lain akan terganggu oleh ulahnya.
"Ay, buka pintunya!". Teriak Arka. Kebetulan kedua orang tua Arka sedang keluar kota begitupun dengan Ibu Aya, sementara Kakak Aya biasanya pulang ke apartemennya jika sedang banyak kerjaan. Itu artinya Aya seorang diri di rumah.
"Ay, gua mau ngomong". Teriak Arka kembali.
"Please, buka pintunya". Tak berapa lama akhirnya Aya mengalah.
"Lu udah gila yah? berisik tahu, lu kira kompleks ini milik lu apa". Ucap Aya dengan kesal.
"Hm, makanya bukain dong pintunya dari tadi". Jawab Arka dengan santai, lalu berjalan masuk menuju sofa tanpa di persilahkan oleh pemiliknya.
"Mau ngomong apa sih? ini udah malem, gua mau tidur". Ucap Aya ketus.
"Hm, masih ngambek yah? Maaf deh". Iyah begitulah Arka yang tidak bisa marah terhadap Aya.
Tingkahnya di hadapan Aya selalu apa adanya, yang lemah lembut, seperti sikapnya terhadap Ibunya, tak pernah berani membentak sekalipun sudah sangat kesal pada puncaknya.
"To the point aja deh!". Ucap Aya kembali ketus, tanpa berniat untuk duduk.
"Iyah, duduk dulu sini". Ucap Arka masih dengan nada lembut dan sabar sembari menepuk sofa di sebelahnya.
"Enggak, lu mau ngomong apa? cepetan?!". Ucap Aya tidak sabaran.
__ADS_1
"Gua gak mau ngomong, kalau lu gak duduk". Ucap Arka. Lagi-lagi pada akhirnya Aya yang mengalah dan duduk cukup jauh dari Arka.
"Deketan sini, masa jauh banget sih kaya orang lagi musuhan". Ucap Arka sendu.
"Mau ngomong enggak, kalau enggak...". Belum sempat Aya menyelesaikan ucapannya, Aya terdiam atas sikap Arka yang tidak ia duga.
"Lu ngapain sih?!". Ucapnya dengan sewot.
"Bisa diem gak?!". Ucap Arka yang kini lebih tegas tidak ingin di bantah. Kemudian menenggelamkan wajahnya tepat di perut Aya.
"Gua bakalan diem, kalau lu gak bertindak sejauh ini". Ucap Aya sembari berusaha melepaskan diri dari kurungan Arka.
"Gua gak ngapa-ngapain, cuma mau tidur doang". Ucap Arka yang tidak begitu jelas, tapi masih dapat terdengar oleh Aya.
"Iyah, tapi gak tidur di atas p*h* Gua juga kali". Ucap Aya pasrah pada akhirnya.
***
10 menit berlalu
"Arka?".
"Hm".
"Gua ngantuk". Ucap Aya lesu.
"Heh?". Seketika Arka langsung bangun.
"Em, Gua mau tidak di kamar aja".
"Jadi lu ngusir Gua?".
"Hm, gak enak di lihat orang".
"Sejak kapan lu peduli sama omongan orang?". Ucap Arka ketus.
"Sejak sekarang, kita udah dewasa Arka, gak bisa kaya dulu lagi".
"Kenapa gak bisa? Karena lu udah punya Farel?!". Ucap Arka selidik.
"Heh? Gua sama Kak Farel gak ada hubungan apa-apa, cuma apa yang Gua bilang barusan memang benar adanya".
"Lu gak pacaran sama Farel?".
"Hah? Dia mana mau sama Gua". Ucap Aya merendah.
"Lu gak usah pura-pura bego deh, jelas-jelas Farel udah terang-terangan lagi deketin Lu".
__ADS_1
"Iyah, mungkin iyah, tapi itu bukan urusan Lu".
"Jelas itu jadi urusan Gua!".
"Hah? Sejak kapan itu jadi urusan Lu? Lu bukan siapa-siapa dalam hidup Gua, Lu cuma tetangga".
"Apa? cuma ? cuma tetangga Lu bilang? Jadi selama 15 tahun kita bertetangga,Lu gak punya kesan apapun sama Gua, Gua gak punya arti apapun buat Lu Ay?". Seketika wajah Arka berubah sendu.
"Iyah, Lu tetangga yang baik, temen yang cukup baik juga, tapi urusan percintaan Gua sama Kak Farel itu urusan kita berdua, Lu gak punya hak untuk ikut campur".
"Okay fine". Seketika Arka pergi meninggalkan Aya sendiri.
***
Sejak kejadian hari itu Arka dan Aya tidak seakrab dulu, Aya pun sudah tidak pernah lagi ikut sarapan pagi di rumah Arka. Persahabatan mereka menjadi ala kadarnya, meskipun di dalam lubuk hati Arka masih sangat mencintai Aya, tetapi Arka tidak ingin menjadi pria egois yang mementingkan kebahagiaan dirinya sendiri, sementara Aya tidak bahagia bersamanya.
Arka juga tidak pernah lagi bertanya perilah kedekatannya bersama Farel, yang pasti selama dua tahun terakhir ini, Farel tidak pernah absen untuk main ke rumah Aya setiap malam minggu.
Begitupun dengan Arka ia tidak pernah lagi menceritakan hal apapun kepada Aya, Sementara itu hubungannya bersama Dinda terjalin dengan baik hingga detik ini, meskipun seringkali Dinda yang mengalah akan sifat dan sikap Arka padanya yang terlalu cuek, acuh tak acuh.
Lima bulan yang lalu Dinda sempat membahas sikap Arka padanya yang terlalu cuek, tapi perdebatan itu berakhir Arka ingin melepaskan Dinda. Jelas Dinda tidak ingin hal itu terjadi, maka hingga detik ini Dinda selalu menuruti apapun itu keinginan Arka, asalkan mereka masih tetap bersama.
Hingga pada akhirnya hari kelulusan Arka tiba, tentu saja Arka berharap Aya akan hadir di hari spesialnya. Tapi lagi-lagi Aya tidak dapat memenuhi undangan Arka, dengan alasan di hari yang sama Farel juga wisuda.
Jangan bertanya bagaimana perasaan Arka, dia benar-benar kecewa, di hari bahagianya orang-orang berfoto bersama keluarga, kekasih atau sahabatnya. Ia meskipun dia tetap melakukan sesi pemotretan itu, akan tetapi rasanya tetap hampa tanpa kehadiran Aya.
Malam telah tiba saat Arka tengah berdiri di atas balkon kamarnya, tak sengaja ia melihat Aya yang baru saja pulang bersama dengan Farel, pemandangan itu seketika kembali membuat hatinya terluka, tak sampai disitu kalimat demi kalimat yang terucap oleh Farel untuk Aya berhasil membuat Arka meradang.
"Ay?".
"Hm".
"Makasih yah udah mau hadir di acara wisuda aku". Ucapnya sembari tersipu malu.
"Iya, sama-sama". Ucap Aya sembari berjalan menuju pintu rumah, yang di ikuti oleh Farel.
"Ay?".
"Hm".
"Aku mau ngomong sesuatu".
"Hah? ngomong aja". Ucap Aya acuh, tidak memperdulikan akan gelagat Farel.
"Ay?". Ucap Farel berhenti berjalan.
"Hm?". Ucap Aya sembari berbalik badan
__ADS_1
"Maukah kamu jadi pacarku?". Ucap Farel sembari berlutut.
Bersambung...