
Sederhana saja sarapan yang aku lahap, Iyah. Hanya semangkuk bubur ayam, tapi rasanya sangat luar biasa, aku sendiri merasa heran, sekilas penampilannya tidak ada yang istimewa sama persis seperti bubur ayam pada umumnya, tapi rasanya benar-benar berbeda, apa mungkin? ke istimewaan bukan terletak pada bubur ayamnya, melainkan pada seseorang yang berada di sampingku saat ini, Arka.
Ku tatap wajahnya yang berbinar-binar, entah apa yang membuatnya terus menerus tersenyum-senyum padahal tidak ada yang lucu.
Tetapi semakin aku tatap, dia semakin berlagak sok tampan, meskipun memang, Iyah. Dia tampan. terlalu tampan buatku.
"Lu kenapa dah?". Tanyaku dengan wajah tak bersahaja.
"Enggak pa-pa, kenapa memangnya?". Tanyanya, balik bertanya.
"Enggak, cuma hari ini Gua perhatiin lu bersikap agak aneh aja".
"Eh? Oh yah?".
"Mm".
"Oh, Makasih ya!".
"Dih? apaan dah, bilang makasih? makasih buat apa?"
"Makasih karena udah perhatian sama Gua". Ucapnya sembari senyum-senyum.
"Heh? Iyah...". Ucapku sembari kembali menelaah apa yang sudah kulakukan kepadanya.
"Udah sarapannya? kalau udah kita jalan-jalan yuk mumpung lagi di sini, Gua mau ajakin lu ke suatu tempat yang indah".
"Udah kok, tapi... perut Gua sakit, Gua mau balik ke kamar aja yah?!".
"Hah? perut lu sakit? kenapa? sebelah mana yang sakit?". Tanya Arka beruntun, wajah nya seketika langsung berubah panik.
"Iyah, ini udah biasa kok, Kayanya gua lagi ada tamu bulanan".
"Oh, terus apa lu mau balik aja atau kerumah sakit?".
"Apaan sih lebay, Gua gak apa-apa, cuma butuh istirahat aja. Dan agak sorean aja yah baliknya, Gua mau istirahat dulu di kamar gak apa-apakan?".
"Oh gitu, yaudah gua bantuin lu jalan yah?!". Ucapnya sembari siap siaga berada di sampingku.
"Gak perlu, yang sakit perut Gua, bukan kaki Gua". Ucapku bersih kekeuh tidak ingin di papah.
"Gitu yah?".
"Iyahhh..." Ucapku agak sebal dengan tingkahnya yang terlalu berlebihan.
"Hem..."
***
Sore harinya seperti yang sudah aku janjikan, akhinya kita berdua pulang, di sepanjang perjalanan Arka tak berhenti berbicara yang membuat aku tak bisa berkata-kata.
Salah satunya dia berbicara, ingin menjadikan aku sebagai Istri di masa depannya, dia berbicara dengan mata berbinar-binar, penuh kebahagiaan yang nyata tanpa sandiwara, serta senyum yang terus menerus merekah, tak pernah sedikitpun padam.
__ADS_1
Aku tidak menanggapi apapun, buatku itu terlalu mustahil, meskipun tidak sedikitpun aku pungkiri, bahwa aku juga berharap di masa depan, Arka menjadi Ayah untuk anak-anakku.
"Kenapa? kok diem aja?". Tanyanya berhasil mengembalikan ragaku yang sebelumnya tengah berkelana, entah kemana.
"Heh? gak pa-pa, cuma... kata-katamu... barusan, terdengar mustahil untukku".
"Heh? kenapa? aku sungguh-sungguh".
"Aku percaya, kamu sungguh-sungguh, hanya saja aku dan kamu terlalu jauh".
"Apanya yang jauh? Aku ini lagi ada di sebelahmu loh". Ucapnya dengan senyuman yang terus merekah.
"Hm, kasta dan...". Belum sempat aku berucap Arka tiba-tiba menepikan mobilnya dengan tiba-tiba ke samping.
"Aku tidak peduli, aku hanya ingin kamu, jika tidak denganmu, aku tidak akan pernah mau menikah!". Ucapnya dengan serius. Terlihat jelas bahwa ia tengah meredam amarah.
"Menikah tidak semudah itu Arka, lagi pula... memangnya aku mau?".
"Heh? Kamu...? apa baru saja kamu menolakku?". Ucapnya seketika berubah menjadi sendu.
"Cih... Sejak kapan, kamu terlalu percaya diri sekali Arka". Ucapku sembari tersenyum.
"Hey? Aku serius, kamu maukan menjadi istri dan ibu dari anak-anakku kelak?". Aku sama sekali tidak berniat untuk menjawab pertanyaannya.
Hanya senyum tulus yang mampu aku perlihatkan. Kuharap Arka mengerti, bahwa aku tidak akan pernah menolaknya tetapi juga tidak berani secara terang-terangan untuk mengiyakannya.
***
Kita sampai di pekarangan rumah Arka, cukup larut pukul 21:30, Aku hendak ingin keluar mobil, namun berhasil Arka cegah.
Aku diam beberapa menit begitu pula dengannya. Dia menatapku dengan lekat, di saat aku berusaha menghindari tatapannya.
"Tatap kedua mataku, please!". Ucapnya sedikit memohon. Dengan sangat terpaksa, akhirnya aku turuti juga keinginannya. Seketika dia kembali tersenyum, dan juga bertanya.
"Kamu mau kan jadi Istri aku?". Deg... Jelas aku mau Arka tapi aku tidak berani menjawab "Iyah".
"Aku mau istirahat, bolehkah aku turun ?!". Ucapku yang kembali mengabaikan pertanyaan nya, Begitupun dengan wajah Arka yang kembali sendu.
"Iyah atau Tidak?". Ucapnya sedikit menaikan satu oktaf.
"Harus banget aku jawab sekarang?". Ucapku pada akhirnya.
"Oke, aku kasih kamu waktu, berapa lama?". Ucapnya dengan nada yang kembali netral.
"Satu Bulan". Ucapku dengan santai.
"Apa? enggak itu terlalu lama". Ucapnya sembari mengerutkan keningnya.
"Hem, oke 3 minggu". Ucapku lagi.
"Masih terlalu lama".
__ADS_1
"Oke, tidak ada tawar menawar lagi 2 Minggu!". Ucapku yang tak ingin di bantah.
"Hm, baiklah meskipun buatku itu masih terlalu lama". Ucapnya lagi, namun detik berikutnya dia membuka kunci pintu mobilnya.
"Oke, sampai jumpa 2 Minggu lagi". Ucapku Kemudian berlalu pergi tanpa menoleh kembali kearahnya.
"Hem... I Love You!". Ucapnya setengah berteriak yang membuat aku seketika Kembali berbalik.
"Arka, Sutttt...". Ucapku dengan nada yang nyaris tak terdengar dengan isyarat menaruh telunjuk di atas bibirku sendiri. Aku tidak ingin orang rumah mendengar ucapan Arka barusan.
Namun orang yang baru saja mengucapkan kalimat itu justru malah tertawa senang sembari kembali menarik nafas dalam berniat akan kembali berucap hal yang sama.
"Ay, I Love You". Ucapnya kembali, tapi tidak sekeras tadi. Aku yang mendengar hal itu, hanya dapat bernafas lega. Untung saja Arka tidak senekat itu.
Lagi-lagi kuabaikan tingkah lakunya yang terlihat aneh bagiku, dan aku segera masuk kedalam rumah. Tapi... nyatanya aku tak mampu membohongi diri, aku tidak langsung masuk ke dalam kamar, melainkan mencoba mengintip apa yang akan dilakukan Arka setelahnya, dari balik kaca jendela yang terlihat gelap dari luar.
Kulihat Arka tidak beranjak dari tempatnya, ia malah merogoh Smartphone dari balik saku celananya. Entah apa yang ia lakukan, sembari senyum-senyum sendiri.
***
Pagi harinya aku melakukan apa yang memang sudah menjadi kewajibanku, bangun tidur dan segera bangkit untuk mandi.
Karena hari senin kegiatanku di kampus cukup banyak, sekaligus untuk persiapan nanti berkemah.
Meskipun segala keperluanku, sudah dari jauh-jauh hari memang sudah aku persiapkan, tetapi tetap saja aku kembali mengecek satu persatu, barangkali ada yang terlewat.
Setelah dirasa semua keperluanku lengkap, barulah aku ingin memesan taxi online, tapi belum sampai aku membuka aplikasinya, Arka sudah lebih dulu hadir di depan pintu kamarku.
"Arka? ngapain sepagi ini sudah di rumahku?". Tanyaku merasa aneh.
"Em, pagi juga" Ucapnya kemudian mengambil alih barang bawaanku.
"Eh, mau ngapain?". Tanyaku sedikit terkejut.
"Udah, kamu diem aja, ini beratkan". Ucapnya lalu berjalan lebih dulu.
Aku yang tak bisa berbuat apa-apa pun, mau tak mau mengikuti langkah kaki Arka menuju halaman rumah dan menaruh barang bawaanku di bagasi mobilnya.
"Wait?!". Cegahku.
"Kenapa?".
"Aku mau pergi berkemah".
"Hari ini biar aku anterin kamu ke perkemahannya yah?!".
"Heh, gak usah, aku bisa sendiri, lagian kamu juga harus kuliahkan?".
"Em, aku kuliah siang kok, masih sempet buat anterin kamu ke perkemahan". Ucapnya sedikit memaksa, kemudian kembali melanjutkan niat awalnya.
Namun tiba-tiba tanpa keduanya sangka, datang sebuah mobil berwarna putih yang tak asing bagi mereka.
__ADS_1
bersambung