Cinta Tulus Arka

Cinta Tulus Arka
13


__ADS_3

Sore di hari Minggu, lebih tepatnya satu Minggu telah berlalu, aku dan teman-temanku sedang menunggu di kursi jemputan, ada juga yang ikut dengan Kakak senior.


Aku sendiri sudah diminta untuk pulang bersama Kak Farel, akan tetapi karena dia ketua pelaksana dia harus pulang paling akhir, untuk memastikan tidak ada peserta ataupun barang-barang yang tertinggal.


Walaupun sebenarnya aku sudah sangat lelah, tapi aku tak tega menolak tawaran Kak Farel. Aku sangat paham betul lelahnya 2x lipat jika dibandingkan denganku. Tapi bisa-bisanya dia masih berbaik hati dengan menawarkan tumpangan padaku.


Aku yang tidak mempunyai prasangka buruk apapun kepada Kak Farel akhinya mengiyakan penawarannya, dan tidak pernah terpikirkan jika Arka akan menjemputku.


Satu Minggu berlalu begitu cepat, ini pertama kalinya aku merasakan hal ini, biasanya aku akan uring-uringan tidak jelas, dan berusaha mencari cara agar Arka bisa menjemputku. entah kenapa kali ini justru aku merasa tenang tanpa Arka.


Apa jangan-jangan... Perasaan yang aku miliki bertahun-tahun lamanya terhadap Arka telah tergantikan oleh orang yang baru beberapa hari ini mengisi hariku.


Tak ingin munafik aku sempat tertarik oleh pesonanya, meskipun memang benar dia baik tidak hanya kepadaku saja, tapi rasa-rasanya dia menginginkan mengenalku lebih jauh. Apa penilaianku salah ? aku tidak tahu, yang pasti untuk saat ini, keberadaannya di sampingku berhasil membuat aku merasa nyaman dan aman.


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 17:30 tepat saat aku hendak ingin memasuki mobil milik Kak Farel, tiba-tiba saja mobil yang familiar berwarna kuning tiba, yang sengaja ia parkiran di depan mobil kita.


Arka hanya membuka jendela kaca pintu mobilnya tanpa berniat turun dari tempatnya, dan berucap seolah memerintah.


"Masuk?!". Ucapnya nyaris berteriak.


"Kamu udah ada janji, mau di jemput sama Arka?". Tanya Kak Farel dengan nada santai kearahku.


"Heh? enggak ada". Ucapku jujur apa adanya.


"Kalau gitu, kamu mau pulang bareng dia?". Tanyanya lagi masih dengan intonasi yang menentramkan.


"Heh? Aku...". Belum sempat aku menjawab, Arka kembali berteriak.


"Cepat masuk!". Sembari menyalakan klakson berulang-ulang.


"Aku pulang sama Kakak aja". Tanpa pikir panjang dan menoleh kearah Arka, Aku segera memasuki mobil milik Kak Farel.


Ke kesalan nampak jelas di wajah Arka saat itu, tapi aku tidak peduli.


***


Sesampainya di depan rumah, Kak Farel segera menurunkan barang bawaanku sampai di pintu rumah. Sementara itu, jelas Arka membuntuti kami, dan beberapa kali ia hampir menciptakan kecelakaan karena ingin menyalip tetapi tidak berhasil.


***


"Makasih yah Kak udah nganterin".


"Sama-sama".


Arka keluar mobil dengan wajah menahan amarah. Sementara itu Kak Farel sudah pamit pulang, dan menyerahkan semua barang bawaanku.


Di tengah-tengah perjalanan aku lihat mereka berpapasan dan saling berbicara sebentar, entah apa yang mereka ucapkan, aku tidak begitu peduli, aku terlalu lelah untuk menghadapi situasi saat ini.


"Ibu, Aya pulang...". Ucapnya dengan lesu, lantas menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, 2 detik berlalu tidak ada jawaban apapun.

__ADS_1


"Ibu?".


"Ibu lu gak ada di rumah". Ucap Arka lantas ikut merebahkan tubuhnya di sampingku.


"Kemana?".


"Makanya punya handphone itu di pake". Jawabnya dengan ketus.


"Heh, handphone aku mati gak ada tempat buat isi daya".


"Helo, sekarang zaman udah canggih, ada alat yang namanya power bank". Celetuk Arka dengan sinis.


"Power bank aku udah habis juga". Jawabku dengan santai.


"Masa? bukannya sengaja gak di nyalain supaya menikmati momen indah bersama Farel?". Tuduhnya terang-terangan.


"Maksud kamu apa sih?".


"Aku sering banget chat, telpon, vc, tapi susah banget, slow respon lagi".


"Aku lagi berkegiatan, bukan lagi liburan apalagi pacaran, jadi mohon di maklumi dong, gak setiap saat juga aku pegang handphone".


"Oh gitu, bukannya lagi menikmati kebersamaan kamu dan Farelkan?".


"Heh, percuma aku jelasin panjang lebar kalau kamu gak percaya sama aku". Ucap Aya mulai kesal dan hendak bangkit dari sofa.


"Aku mau istirahat cape banget, apalagi harus berdekatan sama kamu".


"Yakin mau istirahat ? bukannya mau tanya kabar ke Farel, kamu udah sampai atau belum?".


"Heh, kalau iyahpun memangnya kenapa? aku bukan pacar kamu".


"Heh? jadi Jawaban kamu apa?".


"Jawaban apa sih?".


"Jangan pura-pura bego deh". Ucap Arka kesal.


"Gak usah nunggu satu Minggu lagi, kalau kamu udah punya jawabannya sekarang!". Ucapnya lebih santai.


"Jawaban aku... Aku gak bisa jadi pacar kamu".


"Heh?. Oke, bye". ucapan yang keluar dari mulut Aya barusan berhasil membuat Arka lesu, seketika dunianya terasa runtuh. Arka segera pergi meninggalkan Aya seorang diri dengan langkah guntai.


***


Keesokan harinya entah kenapa Aya merasa bersalah atas ucapnya semalam terhadap Arka, Aya berniat meminta maaf saat pintu rumah Arka akan di ketuk, tiba-tiba saja pintu itu terbuka dan memperlihatkan keberadaan Arka bersama wanita yang tak asing lagi buatnya.


"Hai, mau masuk yah? silahkan". ucapnya ramah.

__ADS_1


"Em, Iyah".


"Siapa? Aya?"


"Em. Iyah, ini Aya Tante". Ucap Aya dengan raut wajah terkejut tidak dapat di sembunyikan.


"Ayo, masuk! Tante udah buatin sarapan buat kamu". Ucap Tante sumringah.


"Iyah, Tan". Ucapku, tapi arah bola mata tak ingin beranjak dari pria yang semalam sempat aku patahkan hatinya.


Ada rasa penyesalan dalam hatiku tak mampu kupungkiri tapi... mungkin ini jalan terbaik untuk ku juga Arka.


***


Satu Minggu berlalu kuperhatikan Arka jarang ada di rumahnya, terlebih aku dengar kini Arka sudah berpacaran dengan Dinda, bukan hal yang aneh memang kalau Arka punya pacar dia bisa jadi bucin. Tapi kali ini berbeda dia sama sekali tidak berbicara padaku meskipun kita sering tak sengaja berpapasan. Rupanya dia sudah tidak lagi membutuhkanku. Kini akupun sudah tidak lagi sering keluar masuk rumahnya.


"Ay?".


"Iyah? kenapa?". Tanyaku saat Kak Farel memanggil namaku.


"Ngelamunin apa sih?".


"Heh? enggak, aku gak ngelamunin apa-apa kok".


"Jangan bohong, keliatan kok".


"Eh, Mm... maaf yah, aku gak enak badan boleh pulang aja gak?". Ucapku lagi-lagi membuat Kak Farel lelah karena baru saja sampai bioskop aku sudah ingin pulang.


"Hm, tapi tiketnya udah di beli, filmnya lima menit lagi di mulai".


"Em gitu yah, tapi... aku". Belum sempat Aya berucap tiba-tiba suara perempuan dengan pasangannya datang menyapa Aya dan Farel.


"Eh, hey Ay? mau nonton juga?".


"Emm? Iyah".


"Sama dong". Ucap Dinda sumringah.


"Dapat nomor duduk berapa?".


"Em, nomor 53&54". Ucap Farel.


"Ohh ya, kita sebelahan dong".


"Hm". Gumam Aya tak memperdulikan kehadiran Aksa dan Dinda.


Sementara itu, sedari tadi tanpa Aya ketahui Aksa sudah membuntutinya.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2