
"Kamu kenapa sih dari tadi diem aja?". Tanya Dinda pada Arka. Bisa di bilang raga Arka memang bersama dengan Dinda tetap jiwanya ada bersama Aya.
"Enggak apa-apa". Jawabnya lesu.
"Kita foto yuk?". Arka diam saja, tidak menjawab ataupun menolak.
Beberapa jepretan berhasil Dinda dapatkan.
Dinda segera melihat hasil jepretan fotonya dan memilah milih foto mana yang terbaik untuk ia jadikan story atau status.
Sementara itu selesai berfoto, tiba-tiba saja tanpa Dinda sadari Arka tak sengaja melihat Aya dan Farel berjalan menuju lantai atas sepertinya hendak ingin menonton di bioskop.
"Din, Aku ke toilet bentar yah?". Ucap Arka terburu-buru tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari Aya.
"Mm, Iyah". Ucapnya memberi izin tapi pandangannya tak lepas dari layar handphonenya.
Segera Arka berjalan dengan terburu-buru mencari keberadaan Aya, yang terpaksa harus kehilangan jejak, dan benar saja dengan prediksinya, Aya sedang duduk menunggu di tempat yang sudah di sediakan, sementara Farel sedang mengantri hendak membeli tiket.
Dua wanita yang terlihat masih anak sekolahan tengah mengantri di depan Farel, tiba-tiba saja salah satunya pergi, dan dengan cepat Arka menarik pergelangan tangannya.
Karena banyak orang dan pergerakan Aksa yang terlalu cepat, wanita itu tidak sempat berteriak. Namun setelah berada di tempat yang cukup lenggang, akhirnya wanita itu siap untuk berteriak. Akan tetapi sebelum sempat hal itu terjadi, Arka sudah lebih dulu membuka maskernya, memperlihatkan wajah tampannya.
"Oppa? Ini Oppa Arka kan?". Tanyanya antusias sembari menutup mulutnya yang tertutup masker
"Sutttt... Iyah". Ucap Arka dengan cepat.
"Oppa, aku mau minta foto boleh gak?". Ucap wanita itu yang kebetulan salah satu dari fans Arka.
"Iyah boleh, tapi aku minta bantuan kamu!?". Ucap Arka to the point.
"Hm. Boleh, minta bantuan apa?". Jawab wanita itu penasaran.
"Hm. Tolong belikan aku tiket film untuk dua orang, sama persis dengan cowok yang pake baju kemeja cream itu, kalau bisa duduknya sebelahan".
"Oh oke". Tanpa basa basi akhirnya wanita itu segera mengantri tepat di belakang Farel.
Tak lama setelah Itu Kini giliran Farel yang membeli tiket dan setelahnya wanita yang Arka suruh.
"Gimana? udah?". Tanya Arka tak sabar
"Beres, ini Oppa tiket nya". Ucap wanita itu gembira sembari memberikan dua tiket yang sama persis dengan apa yang Arka pinta.
"Oke makasih, ini uang untuk ganti uang kamu barusan beli tiket, Arka mengeluarkan uang berwarna merah lima lembar". Dengan sumringah.
"Hah ini kebanyakan Oppa, harga satu tiketnya cuma 150". Ucap wanita itu jujur apa adanya.
"Gak apa-apa, itu buat kamu orang baik, bersedia aku reportin".
__ADS_1
"Makasih Oppa, aku terharu banget, tapi aku mau minta foto bareng bolehkan?".
"Iyah boleh dong". Ucap Arka ramah.
"Wah makasih". Ucap wanita itu gembira dan segera membuka aplikasi kamera di handphonenya. Tak ragu wanita itu segera membidik dirinya bersama Arka melalui kamera depan.
"Udah?".
"Udah, Makasih Oppa".
"Iyah, sama-sama".
"Eh, Oppa satu lagi".
"Hm, apa?".
"Boleh gak Instagram aku oppa follback?!". Dengan raut wajah memohon.
"Hm. Iyah foto yang barusan nanti Oppa kamu tag yah, nanti aku follback".
"Hah ? beneran Oppa?".
"Iyah". Ucap Arka ramah.
"Emm aku terharu, jadi pengen nangis".
"Heh, Eh... Aku pergi dulu yah, sekali lagi makasih yah". Ucap Arka sungguh-sungguh berterima kasih.
"Hah, mimpi apa gua semalem?". Ucapnya tanpa sadar.
"Woy abis dari mana sih Lo gua cariin juga". Sungut sahabatnya.
"Barusan gua abis ketemu malaikat".
"Hah? udah gila yah lu". Ledek temannya.
***
Setelah tiket yang sama dengan tiket yang akan Aya dan Farel tonton sudah di tangan, Arka segera kembali ke restoran dimana Dinda berada.
"Kamu dari mana aja sih?". Ucap Dinda cemberut.
"Tara... aku abis beli tiket, aku pengen nonton". Ucap Arka seolah-olah memberi kejutan.
"Apa? Ohh sweet banget sih kamu". Ucap Dinda dengan manja.
"Hm, yaudah film nya udah mau mulai, kita ke sana yuk?".
"Ayuk".
__ADS_1
"Bentar, aku bayar dulu". Ucap Arka terburu-buru.
"Hm".
***
Dinda, Aku, Aya, dan Farel kita duduk di tempat yang seharusnya hanya ada aku dan Aya.
Sepanjang film di putar arah mataku tak pernah berpaling dari wajah Aya. Aku yakin Aya tahu akan itu. Sesekali dia tak sengaja melihat ke arahku, yang tengah asik menatap lekat wajahnya.
Tak ada senyuman tergurat dari bibirnya, saat wajah kita berpapasan, begitu pula dengan aku. Sesekali Farel juga melihat wajah Aya, yang juga melihat wajahku yang telah memperhatikan Aya.
***
Dua jam berlalu begitu cepat, aku belum puas menatap indah wajah wanita yang aku cintai. Satu Minggu sudah berlalu setelah kejadian itu, aku dan Aya tidak saling sapa, aku lelah. Aku sudah tak sanggup hidup tanpanya. Sementara itu Aya dan Farel sudah beranjak dari tempat duduknya. Maninggalkan aku dan Dinda yang masih duduk di tempat semula.
Jalanan menuju pintu keluar dari bioskop memang cukup padat, makanya aku terbiasa menunggu sampai tidak terlalu berdesakan, tapi tidak kali ini, aku ingin segera keluar mengejar Aya.
"Sayang, habis ini kita mau kemana?". Tanya Dinda yang aku acuhkan. Kedua mataku tak ingin sedikipun berpaling dari keberadaan Aya, tanpaku sadari aku berjalan mengikutinya.
Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 21:30 cukup malam untuk Aya, akhirnya aku berinisiatif meraih pergelangan tangan Aya dan membawanya pergi menerobos kerumunan manusia-manusia yang tidak sabaran.
"Eh, ngapain?". Protes empu si pemilik pergelangan tangan itu.
"Pulang, udah malem". Ucapku dengan santai.
"Hah, Iyah aku memang mau pulang kok, tapi gak sama kamu". Ucapnya dengan santai.
"Sama siapa ? Farel? orang nya udah gak ada". Kulihat Aya tengah mencari akan keberadaan Farel yang terlihat masih mengantri berusaha untuk ke luar.
"Lagian kita kan tetanggaan, jadi apa salahnya kamu pulang sama aku". Ucapku meyakinkan.
"Iyah, enggak ada yang salah, tapi aku pergi dari rumah sama Kak Farel jadi...".
"Jadi aku harus tanggung jawab dengan mengantarkan Aya pulang kerumahnya dengan selamat tanpa kekurangan satu apapun". Ucap Farel nimbrung, dengan nafasnya yang sedikit terengah-engah.
"lagian kamu kan ada pacar, ngapain masih peduli sama aku". Ucap Aya sedikit kesal dengan tingkah laku Arka.
"kamu cemburu?". Tiba-tiba saja kalimat itu keluar dari mulutku, meskipun aku tahu jawabannya tidak.
"Heh? cemburu? kamu sehatkan?". Ucap Aya meledak lantas berlalu pergi dengan merangkul tangan Farel. Tak lama setelah itu Datanglah Dinda dengan kesal.
"Arka kamu kok ninggalin aku sih?"
"Hm, maaf tadi aku buru-buru mau ke toilet".
Setelah itu mereka berdua berjalan menuju pintu keluar, langkah kaki Arka yang jenjang seringkali meninggalkan Dinda jauh di belakang.
"Arka, kamu kenapa sih? dari tadi aku memanggil nama kamu, kamu terus tinggalin aku, Kamu tahu gak sih tadi itu ada cowok...".
__ADS_1
"Kita pulang". Ucap Arka tanpa memperdulikan ocehan dan kekesalan Dinda.
Bersambung...