Cinta Tulus Arka

Cinta Tulus Arka
12


__ADS_3

"Pagi?". Ucapnya dengan senyum merekah yang ia tunjukkan pada Ayana, sementara orang yang di tuju masih membisu di tempatnya.


"Pagi". Jawabnya dengan tanda tanya besar yang ada di benaknya. Sementara itu wajah Arka seketika berubah menjadi kesal dan berusaha menahan amarahnya.


"Ngapain sepagi ini kesini?". Tanya Arka dengan wajah malas.


"Jemput Aya". Jawabnya dengan santai sembari mengambil alih koper yang hendak akan Aya bawa ke perkemahan yang sudah terletak di bagasi mobil Arka.


"Hah? Gak...". Ucap Aya yang terkejut yang segera di potong oleh Farel.


"Semalamkan Kakak udah bilang mau jemput, dan kamu bilang iyah".


"Hah? Masa sih". Ucap Aya, yang kemudian refleks melihat raut wajah Arka.


"Yah, Iyah. Masa iyah Kakak bohong?".


"Emm, gitu yah?"


"Iyah siapa yang tahu". Sangkal Arka.


"Hm, gini aja deh, kalau kamu gak percaya, coba lihat panggilan terakhir handphone kamu siapa?".


"Ah, Iyah juga... sebentar aku lihat".


"Siapa?". Tanya Arka tidak sabar.


"Em... Kak Farel".


"Hem, yaudah tunggu apa lagi? nanti kesiangan?!". Ucap Farel sembari menyimpan koper Aya di bagasi mobilnya. Sementara itu Arka dengan wajah kesalnya segera menarik lengan Aya dengan sedikit kasar.


"Oh jadi gitu? kamu udah janjian tapi gak bilang-bilang sama Aku? Apa... karena ini juga semalam kamu gak bisa ngasih jawaban atas pernyataan perasaanku?". Tanya Arka beruntun. Yang di Jawab dengan gelengan kepala oleh Aya.


"Gak gitu, aku gak tahu kalau Kak Farel bakal jemput dan panggilan itu juga Aku bener-bener gak tahu". Jawab Aya dengan wajah paniknya.


"Yaudahlah sana pergi". Ucap Arka dan segera melepaskan lengan Aya.


"Tapi... aku bener-bener...".


"Ay, Ayok?! nanti telat". Ucap Farel.


"Sana?! udah di tungguin". Perintah Arka dengan sangat terpaksa merelakan Aya pergi bersama pria lain.


"Aku pergi dulu, nanti aku jelasin!". Ucap Aya dengan terburu-buru berjalan kearah kursi penumpang.


***


Sudah pukul 11 siang Aya belum juga memberi kabar apapun kepada Arka, Arka yang nekat tanpa pikir panjang segera menarik pedal gas menuju perkemahan Aya, selesai kuliah.


"Arka?" Teriak seorang wanita yang sudah tidak asing lagi di telinganya. Dengan sangat terpaksa Arka akhirnya berbalik melihat wanita yang terus menerus memanggil namanya.

__ADS_1


"Kenapa Din?".


"Mm... mau kemana? aku boleh nebeng gak?".


"Aku mau ke perkemahan, kayanya gak bisa deh gak searah soalnya".


"Heh? oh gitu yah... yaudah gak pa-pa".


"Yaudah duluan yah". Ucap Arka tanpa memperdulikan raut wajah Dinda yang terlihat kecewa.


***


Di perkemahan Aya dan temannya baru saja selesai memasang tenda. Sementara yang lain ada yang di tugaskan mencari kayu bakar atau air. Tiba-tiba saja Farel datang menghampiri Aya.


"Bisa gak pasang tendanya?". Tanya Farel basa-basi.


"Heh? Udah selesai kok".


"Wah cepet banget, kamu jago juga yah pasang tenda". Puji Farel.


"Eh... enggak juga, kan pasangnya bareng-bareng". Elak Aya.


"Em, gak usah merendah, tadi Kakak lihat sendiri kok, kamu yang paling mendominasi".


"Hehe... Iyah dulu aku sering berkemah, yah walaupun cuma di depan rumah, hehe". Ucap Aya malu-malu.


"Hah? ngapain?".


"Yah biar lebih dekat sama kamu".


"Dih... apaan sih". Seketika wajah Aya memerah.


"Cie... cie". Ucap teman Aya dan senior lebih tepatnya teman Farel. Dan akhirnya semuanya tertawa ada juga yang tengah tersenyum malu-malu, tapi di tempat lain Arka sedang mengepalkan tangannya menahan amarah akibat rasa cemburu.


"Ehem". Deheman Arka seketika merubah suasana. Lebih tepatnya heboh karena siapa yang tidak mengenal Arka dia yang berkecimpung di dunia Model ootd korea, Selebgram, juga Youtuber.


"Itukan Arka?"


"YouTuber itu kan?". Sahut temannya yang lain.


"Iyah, ngapain yah kesini?". Seketika wanita-wanita menggerombolinya. Ada yang minta berfoto ada juga yang hanya sekedar ingin bersalaman.


"Kak, minta foto dong".


"Ah, mau foto bareng". Ucap wanita super duper centil dan rempong.


"Aduh kok jadi kacau gini yah". Celetuk Farel yang entah sejak kapan memegangi tanganku.


Dan seketika itu juga aku kembali tersadar akan dimana seharusnya aku berada. Iyah Arka terlalu berkilau untuk di sandingkan denganku. Aku yang di ibaratkan hanya seonggok batu jalanan tidak lebih, akan terasa aneh jika bersanding dengan berlian yang berkilauan.

__ADS_1


"Ehem... malah ngelamun, gak mau ikutan juga minta foto, Heh?". Celetuk Farel, Menatapku.


"Ah... aku sudah bosan melihatnya setiap hari". Jawabku Jujur lantas pergi meninggalkan kerumunan yang di timbulkan oleh Arka.


***


Entah sudah berapa lama aku berada di sini, tepat di sebuah danau buatan yang tak jauh dari perkemahan, rasanya nyaman sekali, tapi kupikir aku seorang diri, ternyata Kak Farel sedang berdiri di sampingku, sembari terus menerus menatapku tak henti.


"Ehem, Kak Farel sejak kapan ada disini?". Tanyaku Awkward.


" Em, percayalah, aku sama sekali tidak mengikutimu". Ucapannya terhenti seakan ragu-ragu saat akan, kembali melanjutkan kalimatnya.


"Ehem. . . lalu?".


"Tapi, kamu yang menarik tanganku hingga sampai disini". Tuturnya pada akhirnya.


"Hah, Apa?". Aya pun segera melihat tangannya, Dan benar saja tanganku sedang memegangi tangan Farel.


"Em, Maaf". Refleks Aya pun segera melepaskan genggaman tangannya pada Farel.


"It's okay, aku sama sekali tidak keberatan". Ucapnya dengan senyum yang tak pernah pudar dari lekuk bibirnya.


"Em, kalau gitu... apa enggak sebaiknya kita kembali ke perkemahan?".


"Hm, sejujurnya aku masih betah berada disini, akan tetapi, kedatangan kita kesini bukan dalam rencana berkencan, maka mau tidak mau, kita memang harus kembali bersama yang lain". Tuturnya panjang kali lebar.


"Ehe? Iyah". Ucap Aya kembali awkward.


***


Pada akhirnya aku dan Kak Farel kembali ke tempat perkemahan, dengan tanganku yang kini di genggam olehnya.


Syukurlah saat aku kembali, keadaan perkemahan sudah kembali kondusif, meskipun tak sedikit yang kini fokus nya beralih, malah sibuk dengan smartphonenya masing-masing, untuk membuat status, atau sekedar membuat story baru yang menceritakan sehabis kedatangan Arka.


Mereka sebahagia itu saat bertemu Arka, apa kalian bisa bayangkan betapa bahagianya aku yang setiap hari dan sesuka hatiku bisa keluar masuk rumahnya.


Tapi rasanya kini aku tak tahu malu, yang menginginkan hubungan lebih dari pada itu. Apa aku salah? Apa aku benar-benar tidak pantas untuk selalu berada di dekatnya?


Entahlah... aku sendiri masih takut untuk mengakui bahwa aku juga memiliki rasa yang sama seperti yang Arka miliki. Bukan karena apa-apa, akan tetapi aku takut aku tidak sanggup berada di lingkungan Arka yang terlalu berkilau akan popularitas dan juga rich.


Sementara aku bukan anak orang kaya, bukan juga anak yang berprestasi tidak juga menarik atau cantik. Orang lain pasti akan beranggapan negatif terhadapku. Tidak kupungkiri aku memang introvert, tidak bisa membuka diri untuk sesuatu hal yang baru, aku terlalu penakut, mentalku lemah dan aku tidak ingin beranjak dari zona nyamanku. Dan itulah kelemahan-kelemahanku. Meskipun Arka tidak pernah mempermasalahkan kelemahanku itu, tapi lambat laun jika memang memilih untuk bersama dengannya hal itu pasti akan menjadi bahan olok-olokan orang lain. Dan aku sama sekali tidak menginginkan hal itu.


terjadi.


Maka... apa tidak sebaiknya aku pergi perlahan-lahan. Sebelum rasa cinta itu tumbuh lebih jauh.


bersambung...


Next?

__ADS_1


__ADS_2