
Malam ini Aiden tidak bisa memejamkan mata, melihat wanita itu mengingatkannya kembali pada Cantika masa kecilnya. Dia berbaring miring lalu terlentang memandang langit-langit kamarnya dan kembali berbaring miring
“Hahh,” hela Aiden yang beranjak duduk. “Aiden, realistislah. Kemungkinan nama Cantika itu banyak dipakai dan …sayang, Bunda, wanita itu sudah menikah. Walaupun dia Cantika dari masa lalu, apa kamu ingin menjadi pebinor,” gumam Aiden.
Aiden kembali berbaring, dengan kedua tangan dilipat di belakang kepala.
“Rosa, sebaiknya aku fokus kepada Rosa saja.”
Setelah mensugesti dirinya, Aiden tidak langsung terlelap. Entah jam berapa dia akhirnya memejamkan mata, bahkan bangun pun terlambat.
“Kamu tidak sarapan?” tanya Ayu karena Aiden hanya menyeruput kopinya.
“Tidak, aku sudah terlambat.” Aiden pun pamit, Edwin juga sudah tidak terlihat bisa jadi dia Papanya sudah berangkat lebih awal.
Wajah Aiden terlihat tidak segar karena kurang tidur, saat dia melewati meja Rosa Aiden sempat menguap.
“Selamat pagi, Pak.”
“Hm. Jangan beri aku kopi dan tolong belikan aku sarapan.”
“Baik, Pak.”
Rosa ingin bertanya ada apa dengan Aiden tapi urung, apalagi saat dia masuk mengantarkan sarapan pria itu sedang bersandar memejamkan mata sambil memijat dahinya.
"Ini sarapannya pak."
"Hm."
Rosa sempat menoleh sebelum dia menutup pintu, Aiden masih tetap acuh.
Nanya kabar aku kek, tanya sudah makan atau belum kek. Sebel, batin Rosa.
"Si jutek ada?" tanya Pram saat Rosa baru sa menutup pintu.
"Jutek?"
"Bos kamu."
Rosa tertawa sambil mengangguk pelan.
...***...
Aiden semakin membuka dirinya, beberapa kali dia mengajak Rosa bertemu di luar jam kerja. Walaupun sikapnya masih sama, acuh. Bahkan Ayu mengundang Rosa untuk makan malam di rumah.
"Kapan kamu siap menggantikan papa?"
__ADS_1
Saat ini Aiden dan Edwin sedang berbincang di ruang keluarga. Rosa dan Ayu masih asyik di dapur menyiapkan cemilan.
"Belum siap, Pah."
"Kapan siap kalau kamu belum mulai. Pindahlah, tempati posisi yang kamu kuasai," tutur Edwin.
"Aduh ini yang ngobrol serius amat." Ayu datang bersama Rosa membawa buah potong dan cake.
"Mulailah bulan depan, ajukan resign dari sekarang," titah Edwin.
Siapa yang harus resign? Aku atau Pak Aiden, tapi kenapa?
"Hah siapa yang resign?" tanya Ayu. "Sekretaris kamu masih baru ‘kan? Apa dia resign juga?" tanya Ayu pada Edwin.
"Bukan, Papa minta Aiden segera pindah ke perusahaan. Dia tidak akan siap kalau tidak dimulai."
Pak Aiden mau resign, lalu bagaimana dengan hubungan kami. Baru juga mulai, bahkan dia belum menyatakan cinta.
"Ya sekalian dong, kita undang keluarga Rosa untuk bicara serius masalah kalian. Jadi saat Aiden pindah ke perusahaan Papa, sudah jelas dengan calon pendamping kamu. Nggak akan ada drama ulat bulu," tutur Ayu.
"Bagaimana Aiden?" tanya Edwin. Pria itu masih melihat keraguan dari sikap Aiden pada Rosa.
"Untuk pindah aku akan pikirkan lagi dan menyampaikan rencana ini pada atasanku tapi untuk hubunganku dengan Rosa biar kami mengenal dulu masih terlalu jauh kalau kita mengadakan pertemuan dua keluarga."
"Rosa, bagaimana denganmu?"
"A-aku ikut saran Pak Aiden saja."
"Pak Aiden? Kalau bukan di kantor jangan panggil Bapak," tegur Ayu. "Tapi Bunda dulu juga gitu, bahkan sudah menikah masih panggil Pak Edwin."
.
.
Berita rencana kemunduran Aiden termasuk resign sudah didengar oleh rekan kerjanya. Pak Irwan menyayangkan tapi mau bagaimana lagi, dia akhirnya setuju dengan syarat Aiden boleh pergi selama penggantinya belum siap.
Kandidat penggantinya adalah Mai. Akhir-akhir ini Mai kerap berada di ruangan Aiden, tentu saja untuk membiasakan dan mengarahkan pekerjaan Aiden yang akan dilimpahkan kepada wanita itu.
Ternyata kedekatan Aiden dan Mai membuat Rosa gusar dan cemburu. Seperti saat ini, ketika Mai sudah pergi dari ruangan Aiden. Rosa yang membawakan pesanan makan siang Aiden meletakan di meja dengan kasar dan wajah cemberut.
“Kamu kenapa?”
“Tidak pa-pa.”
“Loh, mau kemana?”
__ADS_1
Rosa mendengus kesal. tangannya sudah memegang handle pintu.
“Mau makan siang,” sahut wanita itu.
“Lalu ini apa?” Aiden menunjuk paper bag di hadapannya yang berisi dua porsi makan siang.
“Ya itu milik Pak Aiden.” Rosa mengerucutkan bibirnya.
“Kemarilah! Duduk,” titah Aiden yang cukup gemas dengan kelakukan Rosa.
“Ada apa?” tanya Aiden.
Rosa mendelik heran mendengar pernfaja Aiden. Bagaimana bisa pria itu merasa tidak bersalah dan bertanya ada apa.
“Rosa, aku tanya ada apa? Jelaskan, aku bukan cenayang yang bisa menebak apa isi kepalamu.”
“Pak Aiden sering bersama Mai, lama-lama Pak Aiden jatuh cinta dengannya.”
“Aku sedang berusaha jatuh cinta denganmu bukan dengan Mai,” sahut Aiden.
Benarkah apa yang dikatakan Aiden, apa isi kepalanya begitu menginginkanku?
“Makanlah!” Aiden membuka box miliknya sambil menatap Rosa yang bergerak perlahan membuka box dan melirik pada Aiden.
“Nggak usah mancing-mancing. Bibir kamu kondisikan,” ungkap Aiden membuat Rosa salah tingkah, bahkan dia menundukkan wajah yang sudah merona.
Terdengar dering ponsel, Aiden menatap layar yang menunjukkan nomor telepon kantor Edwin.
“Halo.”
“Selamat siang, dengan Pak Aiden.”
“Hm.”
“Saya sekretaris Pak Edwin, ingin menyampaikan agar Pak Aiden sore ini datang ke kantor.”
Aiden menghela nafasnya, lalu mengiyakan dan panggilan berakhir.
Sedangkan di tempat berbeda tepatnya di kantor Edwin.
“Cantika, sudah kamu hubungi Aiden?”
“Sudah Pak.”
“Ya sudah, pastikan berkas ini sampai ke tangan Aiden,” titah Edwin pada sekretarisnya yang baru.
__ADS_1