Cinta Untuk Aiden

Cinta Untuk Aiden
Cerita Aiden - Part 5


__ADS_3

Hampir dua minggu ini, semua berjalan aman dan damai. Tidak ada lagi pembahasan mengenai Melinda atau nama lainnya. apakah Edwin sudah menyerah dan menyerahkan sepenuhnya kepada Aiden atau  memang merencanakan sesuatu, entahlah Aiden pun tidak bisa menduga apa yang sedang Edwin rencanakan.


“Pak Aiden, Pak Edwin ada di line dua. Dia hubungi ponsel Bapak tapi tidak aktif,” ujar Rosa lewat sambungan telepon.


“Oke,” sahut Aiden lalu menekan salah satu tombol angka untuk berbicara dengan Papanya.


“Ha ….”


“Kenapa sulit sekali menghubungimu,” keluh Edwin bahkan belum selesai Aiden bicara.


“Sepertinya ponsel aku silent.”


“Malam ini jangan pulang terlambat, kita makan malam di rumah. Papa mengundang Indra dengan keluarganya,” seru Edwin.


“Oke,” sahut Aiden singkat.


Saat Rosa mengantarkan berkas yang harus ditandatangani oleh Aiden, pria itu menyampaikan agar mengingatkan dirinya agar pulang tepat waktu karena ada acara.


“Baik, Pak.”


Aiden sempat mengikuti rapat bersama Pak Irwan setelah makan siang termasuk diskusi kecil dengan timnya terkait progress iklan yang akan segera dimulai.


“Pak Aiden, sudah waktunya pulang,” ujar Rosa sambil berdiri di tengah pintu. “Agar tidak terjebak macet, mungkin Bapak bisa pulang sekarang,” saran gadis itu.


“Oke, terima kasih sudah mengingatkanku.”


Aiden merapikan meja kerjanya dan memastikan komputernya sudah off. Saat melewati Rosa, pria itu meminta sekretarisnya untuk tidak lembur.


“Eh, mau kemana?” tanya Pram yang melihat Aiden menunggu lift.


“Pulang.”


“Tumben,” sahut Pram. “Biasanya kalau belum isya belum kabur,” ejek pria itu.


Aiden berdecak sambil melirik sinis rekan kerjanya yang cukup kurang ajar, karena tidak segan mengejek dan mengerjai tanpa kenal waktu dan tempat.


“Kayaknya penting, sampai pulang tepat waktu.” Pram kembali bersuara.


“Hm, ini urusan masa depan.” Aiden menjawab dengan asal  lalu melangkah karena pintu lift sudah terbuka.

__ADS_1


“Gue ikut boleh nggak, mau ketemu sama adik lo.”  Aiden hanya menunjukan kepalan tangannya ke arah Pram sebelum pintu lift akhirnya tertutup.


Untung saja Aiden mengikuti saran dari Rosa, karena saat ini jalanan sudah cukup padat. Tidak bisa membayangkan jika dia pulang agak lambat, pastinya akan terlambat sampai di rumah. Selain jam sibuk saat ini kondisi sedang hujan.


Aiden memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil yang kemungkinan milik Om Indra, orang kepercayaan Edwin sejak mereka masih muda. Terdengar perbincangan saat Aiden sudah berada di beranda rumah.


“Nah, ini dia yang ditunggu,” ujar Indra saat melihat Aiden tiba.


“Apa kabar Om?” tanya Aiden sambil mengulurkan tangan, keduanya berjabat tangan.


“Kita langsung saja, sudah lapar juga. Ayo,” ajak Edwin pada Indra dan Aiden.


Pandangan Aiden tertuju pada sosok asing yang berada di ruang makan bersama Bunda dan Melody. Akhirnya dia menyadari kalau makan malam itu, lagi-lagi ada usaha dari orangtuanya mendekatkan Aiden dengan seorang wanita.


“Aiden, kenalkan dulu ini Leli keponakan Pak Indra,” ujar Ayu.


Gadis yang bernama Lely tersenyum memperlihatkan lesung pipinya, Aiden pun mengajak bersalaman dan keduanya saling mengucapkan nama. Melody sempat menggoda Aiden dengan menaik turunkan alisnya lalu berbisik.


“Yang ini mah, cocok kali?”


Aiden bergeming dengan pertanyaan Melody. Lagi-lagi pembahasan di meja makan membicarakan Aiden, bahkan sesekali pria itu harus mengelak karena mendapatkan ejekan dan candaan dari Indra. Sedangkan gadis yang bernama Lely selalu tersenyum melihat interaksi semua orang dan Aiden menyadari kalau Lely berkali-kali mencuri pandang ke arahnya.


“Ini urgent, ada yang harus aku urus,” ujar Indra. “Lely nanti kamu ….”


“Biar diantar Aiden,” sahut Edwin.


Aiden tidak menjawab iya atau tidak, membuat Lely langsung muram.


“Tidak masalah, aku bisa naik taksi. Paman sebaiknya segera pergi, jika memang ada yang darurat.”


Setelah kepergian Indra dan makan malam berakhir, Edwin dan Ayu membiarkan Aiden dan Lely bahkan Melody sudah kembali ke kamarnya.


Pasangan itu sudah berpindah ke ruang tamu. Dari luasnya kediaman Edwin, Aiden malah mengajak Lely duduk di sofa ruang tamu. Alih-alih mencari suasana romantis di gazebo atau beranda yang menghadap ke taman.


“Kamu kerja?”


“Hm, iya Mas,” jawab Lely. “Aku desainer busana wanita.”


“Lley, aku menduga Om Indra pergi hanya alasan karena tidak ada yang urgent.”

__ADS_1


“Maksudnya Paman Indra bohong? Lalu dia kemana, istrinya sudah pesan ke aku untuk memastikan Paman Indra pulang dan tidak mampir ke tempat aneh.


“Bukan, bukan begitu. Ini hanya alasan agar kita ada waktu untuk semakin mengenal.”


Leli bergeming mendengar penjelasan Aiden, tentu saja itu memang rencana orangtua mereka. Jika Aiden baru mengenal Lely tapi kebalikannya dengan gadis itu. Indra sudah menjelaskan kebiasaan Aiden ketika ada pertemuan seperti saat ini.


“Bagaimana menurutmu tentang diriku?” tanya Aiden, sepertinya dia juga harus berusaha untuk masa depannya dan fleksibel dengan keinginan orangtua.


“Hm, kamu memiliki semua yang wanita idamkan,” jawab gadis itu.


Aiden terkekeh, “Memang apa saja yang wanita idam-idamkan?”


“Hampir semua wanita menyukai pria tampan dan mapan dan dirimu memiliki semua itu.”


“Aku bekerja sebagai manager di perusahaan orang lain,” seru Aiden. “Mana mapan yang kamu maksud?”


“Ayolah Aiden, kamu putra Edwin Adiputra.”


“Ah, maksudmu karena aku putra dari seorang pengusaha itu bisa dikatakan mapan. Jangan salah, aku masih dua adik laki-laki jadi Papa tidak mungkin meninggalkan semua miliknya hanya untukku dan ….” Aiden menjeda penjelasannya dengan beranjak dari sofa di mana dia duduk dan berpindah ke samping Lely.


“Harta itu adalah titipan, dalam sekejap bisa saja akan berpindah menjadi milik orang lain.” Posisi duduk Aiden semakin rapat dengan tubuh Lely, bahkan wajah keduanya sudah sangat dekat.


“Kalau aku hanya berbekal pekerjaanku saja tanpa harta peninggalan Papa, apa kamu masih menganggapku menarik?”


Hembusan nafas Aiden terasa di wajah Lely Gadis itu tersenyum dengan pertanyaan Aiden.


“Oke, perusahaan milik Pak Edwin mungkin saja bisa berpindah tangan tapi konsep usaha beliau tidak mungkin hanya stuck di satu saja. Kalian pasti memiliki saham atau bisnis lain untuk masa depan anak dan cucu. Jadi seorang Aiden masih dengan kemapanannya dan aku wanita yang realistis kalau hidup itu butuh biaya dan mencari jodoh harus yang siap dengan rencana masa depan.”


Pandangan keduanya begitu menusuk dan dalam.


“Maksudmu, tidak perlu ada cinta dalam sebuah hubungan termasuk pernikahan?” Aiden semakin penasaran dengan konsep hidup wanita dihadapannya.


“Cinta akan menemukan jalan dan aku tidak percaya cinta pada pandangan pertama.”


Aiden semakin mendekatkan wajahnya dan mempertemukan bibir mereka. Awalnya Sofi hanya diam, tapi kemudian dia membalas dan kecup4n itu berubah menjadi pagutan.


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2