
“Ada model yang kamu inginkan?” tanya Aiden. Cantika masih memandang isi dari etalase di mana banyak cincin berbaris. Bahkan pramuniaga memberikan katalog di mana banyak contoh cincin pernikahan.
Bukan tidak ada yang disukai oleh Cantika tapi gadis itu masih mengingat keinginan Ibunya agar dibelikan perhiasan juga, sudah begitu mengenal dengan tabiat ibunya akan seperti apa ketika dia pulang tidak membelikan perhiasan untuk sang Ibu.
“Tidak ada yang cocok?” tanya Aiden lagi. “Cantika,” panggil Aiden dan berhasil menyadarkan lamunan dari gadis itu.
“Ehh, maaf aku tadi ….”
“Mbak, bisa tinggalkan kami!” titah Aiden.
Pramuniaga toko tersebut pun memberikan ruang dan waktu untuk pasangan itu. Aiden mengernyitkan dahinya dengan ulah Cantika.
“Maaf aku tidak fokus,” sahut Cantika dan tidak ingin Aiden marah.
“Ada apa?” tanya Aiden dengan posisi melipat kedua tangan di dada menatap Cantika yang menundukan pandangannya.
“Ibu tanya bagaimana setelah kita menikah. Tidak mungkin aku masih bekerja, kamu pasti tidak akan mengizinkan," ujar Cantika.
“Tentu saja, kamu hanya perlu fokus pada aku dan Naila. Kita akan tinggal di apartemen sebelum mendapatkan hunian yang lebih baik.”
“Kalau aku mencarikan tempat baru untuk Ibu dan asisten rumah tangga, sepertinya tabunganku tidak ….”
“Aku yang akan urus itu,” sela Aiden. “Ada lagi?”
Cantika menundukkan wajahnya. “Waktu tahu kita akan mencari cincin dan perhiasan, dia minta aku belikan untuknya juga,” ujar Cantika lirih.
“Oke, tidak masalah.”
“Tentu saja masalah. Aiden, harganya mahal dan pernikahan kita pasti perlu biaya besar. Bagaimana bisa ….”
“Bisa, tentu saja bisa. Aku sudah memiliki anggaran untuk pernikahan kita dan Papa akan menanggung beberapa item sebagai kado pernikahan. Sudahlah tidak usah pikirkan hal itu, kamu hanya perlu pikirkan kesiapan untuk menerima dan mencintaiku selamanya,” tutur Aiden.
Ketika tiba di rumah, “Wah, ini bagus sekali. Ada suratnya ‘kan?” tanya Ayana pada Cantika ketika terpesona dengan seperangkat perhiasan yang dibelikan oleh Aiden.
“Bu, berikutnya aku tidak mau mengereng pada Aiden seperti ini.”
“Kenapa, dia itu akan menjadi suamimu. Masa menyenangkan mertua saja tidak mau.”
__ADS_1
“Bukan tidak mau, tapi ini harganya mahal. Aku tidak ingin kita dicap sebagai keluarga materialistis. Aiden menyanggupi menyiapkan kediaman baru untuk Ibu tinggal termasuk menyiapkan asisten rumah tangga tapi aku tidak mau nanti ibu minta macam-macam. Kita sudah banyak dibantu Bu,” ungkap Cantika.
“Halah, baru begini saja kamu sudah pelit. Apa mau aku menolak pernikahan kalian dan aku minta Adi nikahi kamu,” pekik Ayana.
“Ibu ….”
Ibu Ayana membuat lembaran surat yang menyatakan jual beli perhiasan tersebut dan terbelalak melihat harganya.
“Wah, mahal juga ya. Kalau nanti Ibu butuh uang, bisa dijual,” ungkap wanita paruh baya itu sambil membawa kotak perhiasan miliknya dan masuk ke kamar.
Cantika hanya bisa menggelengkan kepala melihat ulah Ibunya. Wanita itu memang tidak ingin hidup susah bahkan hutang dengan Adi karena ingin hidup enak dan lagi-lagi Aiden yang membereskan urusannya.
“Semoga saja Ibu tidak membuat hubunganku dengan Aiden jadi renggang.”
“Bunda sudah pulang?” tanya Naila yang masih asyik di meja belajar sedang mewarnai tugas dari sekolahnya.
“Iya. Naila sudah selesai?”
“Belum.”
“Bunda mandi dulu ya, setelah beres kamu segera tidur,” titah Cantika.
Cantika menganggukkan kepalanya tanda setuju. “Tapi kalau tidak dibaca atau belum dibalas jangan marah, karena Om Aiden masih di jalan dan mungkin saja dia sudah lelah dan tertidur.”
...***...
“Bagaimana jeng kalau yang ini?” tunjuk Ayu pada contoh model kebaya dari sebuah katalog.
“Wah, ini juga bagus,” ujar Ayana. Saat ini keduanya sudah berada di sebuah butik akan memesan busana yang dikenakan saat Aiden dan Cantika akad nikah dan resepsi.
“Rancangannya saja, tap bahan dan warna bisa kita pilih yang lain,” usul Ayu.
“Saya manut aja, sepertinya pilihan jeng Ayu sangat bagus dan tidak diragukan lagi.”
“Jangan begitu dong, ini akan dipakai oleh kita bersama jadi harus sepakat bersama juga,” tutur Ayu.
Keduanya masih asyik dengan memilih rancangan dan bahan kain, setelah itu diukur untuk mendapatkan hasil jahitan yang sempurna.
__ADS_1
“Kalau untuk Aiden dan Cantika, apa pesan di sini juga?”
“Iya, sepertinya sudah kemarin mereka ke sini. Bagus deh, jadi meringankan tugas kita,” ujar Ayu. “Daftar undangan dari Jeng Ayana belum kami terima, segera dilist saja nanti akan saya serahkan ke WO yang mengurus undangan dan penyebaran.”
Ayana mengiyakan dan mengatakan kalau daftar undangan dari pihaknya akan dititip pada Cantika.
“Untuk yang lain akan datang sendiri untuk pengukuran. Setelah ini kita makan siang dulu lalu ke tempat pemesanan souvenir. Jeng Ayana masih mau temani saya ‘kan?”
“Oh, iya. Masa saya biarkan Jeng Ayu kerjakan semua sendiri.”
Cukup sore saat Ayana pulang ke rumah, Naila sedang menonton TV dan Cantika baru selesai menyajikan makanan untuk makan malam.
“Calon Ibu mertua kamu itu menyebalkan,” ujar Ibu Ayana.
“Menyebalkan bagaimana?” tanya Cantika sambil mengernyitkan dahinya.
“Kesana kemari temani dia untuk urus pernikahan kamu. Masa ibu hanya di kasih makan dan diantar doang.”
“Memang ibu mengharapkan apa?”
“Kasih apa kek, uang juga nggak masalah.”
Cantika menghela pelan, kemudian mengajak Naila untuk mandi.
“Mana kontak Aiden, Ibu minta.”
“Untuk apa?” tanya Cantika. Dia khawatir kalau Ibunya akan berulah ketika berhasil menghubungi Aiden.
“Untuk menghubungi masa untuk tukar giveaway,” sahut Ibu Ayana.
“Iya aku tahu Bu. Maksudnya untuk apa Ibu menghubungi Aiden.”
“Rahasia, dong.”
__ADS_1