
“Maaf Pak Aiden, apa saya sudah boleh kembali?”
“Pak Edwin sedang keluar dan aku butuh bantuanmu di sini.” Aiden melipat kedua tangannya di dada. “Apa kamu tidak nyaman berada di sini?”
“Eh, bukan begitu Pak. Tapi ….”
“Oke. Silahkan keluar!” Aiden memerintah tanpa menatap Cantika.
Cantika sulit untuk konsen dan fokus, dia khawatir kalau Aiden tersinggung dan marah seperti tadi. Namun, menjelang jam kerja berakhir Aiden menghubungi agar Cantika ke ruangannya.
“Duduk atau kamu ingin kita bicara dengan posisi begini?”
Aiden menatap Cantika yang masih berdiri di depan mejanya.
“Sudah lewat jam kerja jadi tidak masalah kalau yang kita bahas masalah pribadi.”
Cantika masih menyimak walaupun tidak tahu apa yang Aiden rencanakan.
“Aku tidak menemukanmu di sistem, ingatkan untuk aku menegur HRD tentang hal ini.”
“Baik, Pak.”
“No, bukan ini hal utamanya. Apa kamu tidak nyaman denganku karena sudah … bersuami?”
Cantika menghela nafasnya, “Saya belum menikah.”
Yes, batin Aiden. Mungkin jika tidak malu dengan Cantika rasanya dia ingin meraih tubuh wanita ke dalam pelukan dan bersorak kegirangan.
“Tunangan, kekasih atau mantan suami?”
__ADS_1
Cantika menggelengkan kepalanya.
“Oke, kamu boleh pergi. Pulang atau lembur dengan kegiatanmu,” titah Aiden.
“Maaf, ini maksudnya apa Pak?” Cantika tidak mengerti dengan maksud Aiden.
“Tidak ada maksud apapun, aku hanya ingin tahu saja.”
Cantika berdecak, “Ingin tahu?”
“Betul, aku harus mendengar sendiri dari calon masa depanku mengenai statusnya.” Aiden bersedekap menatap Cantika yang sedang berdiri.
“Masa depan? Aku bukannya terlalu percaya diri, tapi aku bukan masa depan anda, Pak. Yang pernah kita lalui hanya cerita masa kecil.”
“Aku sudah menunggu lama untuk saat ini, jadi jangan merusak suasana.”
Aiden terkekeh mendengar ucapan Cantika, wanita itu terlihat marah dan emosi.
“Aku menyukaimu memanggilku, Aiden. Aiden kamu lucu sekali, Aiden kamu kok cerdas, Aiden ….”
“Cukup,” cetus cantika karena Aiden malah mengejeknya dengan kalimat yang pernah diucapkan pada Aiden saat mereka kecil.
“Aku serius. Selama kamu bukan istri orang, tidak ada alasan untuk aku tidak memperjuangkanmu.”
Aiden beranjak dari kursinya.
“Tolong kondisikan mejaku, aku harus merayakan ini. Thanks sweetheart,” bisik Aiden saat melewati Cantika.
“What, aku bukan OG yang harus merapikan ruangannya.”
__ADS_1
...***...
“Aku tidak bisa bekerja bersama dia,” tunjuk Mai pada Rosa. Kedua wanita itu menghadap Irwan, sempat membuat keributan di hari pertama Rosa bukan sebagai bawahan Aiden dan Mai sebagai manager.
“Kalian membuatku sakit kepala,” keluh Irwan.
“Aku sudah mengajukan penggantian sekretaris, tapi kenapa masih ada wanita ini.”
“Mai, kamu di sini bekerja dan orangtuamu bukan pemilik perusahaan. Posisi yang ada bukan karena suka atau tidak suka tapi profesionalitas.”
“Tapi ….”
“Ada apa denganmu?” tanya Irwan.
Rosa sejak tadi hanya diam, saat ini tersenyum mendengar nasihat Irwan untuk Mai.
“Aku harap kalian tidak akur bukan karena urusan laki-laki.”
Rosa dan Mai terdiam, entah apa reaksi yang lain setelah mengetahui kalau semua memang karena Aiden.
“Apa aku benar?” tanya Irwan melihat kedua wanita itu tidak mengeluarkan pendapatnya.
Mai berhenti tepat di depan meja Rosa dan wanita itu mengekor langkah Mai setelah keluar dari ruangan Irwan.
“Jangan merasa menang, aku sudah bilang kamu tidak layak. Aiden mempercepat resignnya, karena wanita lain bukan kamu.”
Wanita lain, siapa wanita yang dia maksud.
Mai terkekeh, “Terkejut bukan? Wanita dari masa lalunya ada di kantor tempat Aiden saat ini bekerja. Mereka akan kembali dekat dan … kamu akan patah hati,” seloroh Mai dengan sengaja memprovokasi.
__ADS_1