
Selama bersama dengan Edwin mendiskusikan kemajuan perusahaan dan kondisi keuangan selama beberapa tahun terakhir, Aiden tidak fokus. Entah dia harus menangis, tertawa atau marah sudah menemukan Cantika.
Cantika, dia benar Cantika. Aku sudah menemukannya.
“Aiden, kamu dengar Papa?”
Aiden tersadar dari lamunannya.
“Dengar Pah, aku siap segera pindah ke sini setelah di sana ada gantiku. Papa tidak usah khawatir, aku akan belajar lebih giat.”
Edwin menghela nafasnya. Bukan hanya memikirkan Aiden yang harus siap menggantikan posisinya tapi juga memikirkan calon pendamping Aiden.
“Lalu hubunganmu dengan Rosa, bagaimana?”
Deg.
Di tengah buncahan rasa bahagia telah menemukan Cantika, dia teringat dengan Rosa. Lagi pula dia belum tahu status dan kondisi Cantika saat ini, bisa saja wanita itu adalah istri orang dan bagaimana jika Cantika sama sepertinya masih sendiri.
“Belum tahu Pah, kita lihat nanti. Aku dan Rosa belum memulai apapun.”
“Jangan begitu Aiden, wanita butuh kepastian jangan menggantung perasaan orang. Papa lihat Rosa memang menyukaimu,” ujar Edwin.
“Hm, tapi aku tidak menggantung perasaan siapapun.”
Edwin dan Aiden pun mengakhiri pertemuan, keduanya berjalan keluar dari ruangan dan melewati meja sekretaris Edwin sudah tidak ada Cantika di sana.
Bahkan aku belum mendapatkan kontaknya. Seharusnya tadi aku tanya alamat dan nomor ponselnya.
Ayah dan anak itu pulang dengan mobil terpisah dan Edwin sudah tiba lebih dulu. Saat mobil Edwin meninggalkan pelataran parkir, Aiden keluar dari mobil dan kembali ke perusahaan Papanya. Menuju ruang IT dan masih ada pekerja shift di sana.
Para pekerja tahu kalau Aiden adalah putra Edwin, dengan mudah Aiden bisa mendapatkan akses untuk masuk ke sistem perusahaan. Aiden mencari data tentang Cantika yang ternyata belum diupdate oleh bagian HRD.
.
.
“Maksud kamu ingin percepat resign?”
“Betul, Pak. Kalau harus menunggu penggantiku siap, rasanya terlalu lama,” tutur Aiden pada Irwan. Pria yang menjadi atasan kerjanya itu terlihat memijat dahi, walaupun pengganti Aiden adalah Mai dan sudah ada di tim marketing tapi kemampuan Mai tidak secakap Aiden.
“Kamu yakin Mai mampu?”
“Kalau itu bukan ranah saya, Pak," sahut Aiden.
Irwan pun akhirnya memanggil Mai, bertiga berbicara kelanjutan kondisi tim Marketing.
“Minggu depan?” tanya Mai sambil menoleh pada Aiden.
Aiden mengedikkan bahunya merasa tidak bersalah dengan keputusannya.
__ADS_1
“Bukannya bulan depan?” tanya Mai.
“Aiden ingin percepat,” seru Irwan.
Akhirnya mulai hari ini Mai bekerja di ruangan Aiden. Wanita itu sudah mulai melakukan pekerjaan Aiden. Tentu saja kedekatan keduanya membuat Rosa cemburu, sedangkan Aiden melakukan hal itu karena ingin segera bertemu Cantika. Dia memikirkan alasan untuk datang ke kantor Edwin tapi tidak ada ide terbersit.
“Hahh,” hela Aiden.
“Kamu dengar nggak sih yang aku sampaikan?” tanya Mai.
Aiden mengusap wajahnya.
“Aku sudah tidak fokus, makanya aku ingin segera pindah ke sana.”
“Memang ada apa di sana?” tanya Mai.
“Masa laluku yang bisa saja masa depanku,” sahut Aiden.
Mai yang masih duduk di depan meja Aiden melipat kedua tangan di dada menatap tajam pria dihadapannya.
“Kenapa aku menduga ini tentang wanita?”
“Untuk kali ini aku katakan kalau kamu cerdas.”
Rosa gundah gulana dengan informasi kalau minggu depan Aiden akan berpindah, artinya mereka tidak akan bertemu lebih sering.
“Kamu nggak mau pulang?” tanya Aiden saat melewati meja Rosa dan gadis itu masih duduk termenung di kursinya.
“Ayo, aku antar pulang.”
Rosa pun bergegas, dia akan manfaatkan momen itu untuk memastikan hubungan mereka. Rosa berjalan agak tergesa karena langkah lebar Aiden.
“Pak Aiden, ini langsung antar aku atau kemana dulu gitu?”
Aiden mengernyitkan dahi mendengar usulan Rosa. Sebenarnya dia ingin segera pulang, mencari ide agar Edwin memberikan kontak Cantika kepadanya.
“Kamu mau ke mana biar aku antar sampai lokasi?”
Aiden mengatakan hal itu masih dengan mode serius dan fokus pada kemudi. Rosa mencebik mendengar jawaban Aiden yang hanya bisa mengantarkan tapi tidak menemani.
“Jadi minggu depan kita tidak akan bertemu lagi dong,” gumam Rosa.
Aiden menoleh kemudian kembali fokus pada kemudi.
“Begitulah hidup, semuanya tidak pasti dan abadi. Tidak ada yang menduga masa depan akan seperti apa.”
“Hm, lalu kita … eh maksud aku, bagaimana dengan kita?” tanya Rosa lirih.
Aiden paham maksud Rosa, gadis ini butuh kejelasan dan kepastian.
__ADS_1
“Ros, aku sedang berusaha. Tidak mungkin aku bilang iya kita jalani hubungan ini sedangkan hatiku belum menerima. Kamu yang akan tersakiti kalau aku melakukan pilihan itu.”
Rosa memandang ke depan, sudah jelas posisinya di hati Aiden. Tak ada tempat untuknya. Sampai tiba di depan rumahnya, dia hanya diam.
“Rosa.” Aiden menahan tangan Rosa yang akan membuka pintu mobil. “Aku tidak pernah seperti ini dengan wanita manapun, ini adalah usahaku.”
Rosa dan Aiden masih saling tatap, tanpa diduga Aiden mendaratkan bibirnya pada kening Rosa lalu mengacak rambut gadis itu. Sebagai perempuan yang memiliki perasaan pada laki-laki dan sang lelaki memperlakukannya secara manis, tentu saja membuat detak jantung Rosa tidak karuan.
“A-aku turun, Pak Aiden mau ….”
“Mungkin lain kali,” sahut Aiden.
Gadis itu masih berdiri di depan pagar rumah menyaksikan kendaraan Aiden berpalahan menjauh.
“Cie yang diantar lagi.”
Rosa menoleh, “Eh, Mbak Cantika. Udah lama?” tanya Rosa.
“Hm, lumayan sih. Malah sempat lihat kalian saling diam terus ada yang mampir di kening dan ….
“Mbak,” tegur Rosa mendadak malu karena interaksi dengan Edwin disaksikan oleh sepupunya. “Eh, Naila mana?”
“Di rumah sama Ibu, aku tadi dari kantor langsung kemari.”
Rosa melihat perubahan aura wajah Cantika. Menduga ada sesuatu yang mengusik perasaan wanita itu.
“Ada apa? Mau cerita?”
Rosa dan Cantika duduk di kursi beranda rumah orangtua Rosa. Cantik menunduk sambil menautkan jemari dari dua tangannya. Jelas sekali kalau wanita itu terlihat gugup.
“Mbak, ada apa?”
“Aku bertemu dengan pria yang pernah menjadi cinta monyet kami,” ujar Cantika.
“Lalu, masalahnya apa?”
“Dia ternyata menungguku. Aku tidak menduga kalau kepergianku tanpa kabar saat itu cukup membuatnya terluka.”
“Maksudnya, pria itu masih mengharapkan Mbak Cantika?”
“Aku nggak tahu, kemarin kami bertemu hanya sepintas dan kedepannya kami akan sering bertemu karena dia akan bekerja di kantor yang sama.”
“Tunggu deh, aku belum paham. Yang menjadi kegundahan hati Mbak Cantika apa?”
“Gimana kalau dia masih mengharapkan aku, Ros.”
“Ya, kenapa? Berarti dia single, mbak juga single dan ….”
“Aku ada Naila dan Papanya Naila ingin segera meresmikan pernikahan kami. Ibu juga begitu,” tutur Cantika.
__ADS_1
Rosa menghela nafasnya, ternyata bukan hanya kisahnya yang pelik. Kisah hidup dan cinta dari Cantika tidak kalah ribet dari kisahnya dengan Aiden.