Cinta Untuk Aiden

Cinta Untuk Aiden
Cinta Aiden - Part 26


__ADS_3

[Aku tunggu di ruangan] Aiden mengirimkan pesan pada Cantika.


Pria itu tahu kalau Edwin sedang bertemu klien di luar dan saat ini jam istirahat jadi tidak masaah kalaupun dia memanggil Cantika.


“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya Cantika. Selalu bersikap profesional ketika di kantor.


“Duduklah!” titah Aiden, dia sedang merampungkan tugasnya lalu menyimpan apa yang sedang dikerjakan dengan komputer.


Pria itu menghampiri Cantika yang sudah duduk di sofa tamu.


“Temani aku makan siang,” ujar Aiden sambil menunjuk dua pack menu makan siang yang sudah tersaji di meja sofa.


“Pak Aiden, aku ….”


“Tidak ada penolakan.” Aiden menyela ucapan Cantika, sudah pasti wanita itu akan menolak.


“HRD sudah menyiapkan sekretaris untuk Pak Aiden, saya harap kali ini tidak ditolak lagi,” ujar Cantika.


“Hm.”


Aiden fokus pada menu makan siangnya, kalau ditanya tentu saja dia ingin Cantika yang menjadi sekretarisnya. Menolak kandidat sebelumnya hanya alasan saja.


“Apa Naila ada menanyakan aku lagi?”


“Apa?”


“Naila. Dia tanya tentangku?”


Cantika menggelengkan kepalanya. Tidak ingin membuat hubungan Naila dan Aiden semakin dekat, wanita itu akhirnya berbohong. Tentu saja Naila menanyakan Aiden dan mengajak bertemu dengannya lagi.


Tanpa Cantika ketahui kalau Aiden memikirkan hal lain untuk mendapatkan Cantika, karena lewat Naila sepertinya tidak berhasil.


...***...


“Ini berkasnya Pak,” ujar seseorang yang saat ini duduk berhadapan dengan Aiden yang langsung memeriksa dokumen yang diserahkan untuknya.


“Hm. Setelah ini, temui yang mengisi rumah itu. Katakan kalau pemilik rumah sudah berpindah tangan dan kita naikan biaya sewa,” ujar Aiden.


“Baik Pak.”


Maaf Cantika, aku harus menggunakan cara licik untuk mendapatkanmu, batin Aiden.


Tidak lama kemudian, rapat manajemen yang dipimpin oleh Edwin pun dimulai. Aiden turut hadir, tidak terkecuali Cantika yang mana sebagai sekretaris Edwin. Sepertinya orang suruhan Aiden sudah mulai beraksi karena Cantika tampak gelisah, setelah keluar menerima panggilan telepon.


Aiden mengulum senyum, setelah ini dia akan menjadi pahlawan kesiangan untuk Cantika dan Naila. Berharap kedua perempuan beda usia itu akan menerima Aiden dan menggantungkan hidupnya pada Aiden.


Saat rapat selesai, Cantika langsung menjauh dan melakukan panggilan telepon. Aiden mengikuti Cantika dan mendengarkan pembicaraan wanita itu.

__ADS_1


“Baiknya bawa dulu ke rumah sakit, Bu. Nanti sore aku menyusul. Naila sudah pasti dirawat.”


….


“Masalah kontrakan, kita urus lain kali,” ujar Cantika lagi.


“Naila sakit,” gumam Aiden. Setelah panggilan berakhir, Cantika akan kembali ke meja kerjanya Aiden bergegas menghindar.


Ternyata di luar rencananya, Cantika tidak memperdulikan masalah rumah kontrakan yang sudah diatur oleh Aiden. Wanita itu lebih peduli dengan kondisi kesehatan Naila.


“Pak Aiden, perkenalkan ini sekretaris anda,” ujar staf HRD yang mengenalkan seorang wanita sebagai sekretaris pada Aiden.


Kebetulan Aiden sudah akan pulang, apalagi dia melihat Cantika sudah lewat ruangannya untuk pulang.


“Kamu atur saja, dia bisa mulai besok. Saya harus pergi,” ungkap Aiden lalu meninggalkan ruangannya. Mengikuti Cantika yang pulang menggunakan taksi dan menuju rumah sakit. Sampai di rumah sakit, ternyata Naila masih berada di UGD karena kamar rawat yang harganya terjangkau sudah penuh.


“Ibu nggak mungkin pilih kamar kelas satu, harga mahal,” keluh Ibu.


Cantika pun menemui dokter yang mengobservasi Naila.


“Sebaiknya cepat dipindahkan,” ujar Dokter, “Biar segera ada terapi dan tindakan untuk keluhan asmanya.”


“Tapi ….”


“Lakukan yang terbaik Dok, termasuk kamar rawat inapnya,” usul Aiden yang sudah berada di belakang Cantika.


“Oke, silahkan temui perawat untuk mengurus segala administrasinya.”


“Pak Aiden,” ujar Cantika mengejar Aiden.


“Kamu temani Naila, urusan kamar dan administrasi biar aku yang urus,” ungkap Aiden.


“Cantika, siapa dia?” tanya Ibu yang melihat Aiden menjauh.


Cantika tidak menjawab, dia  kembali ke UGD untuk menemani Naila yang akan dipindahkan untuk segera mendapatkan tindakan.


Malam harinya, Aiden ikut menunggu Naila di kamar perawatan.


“Pak Aiden, sebaiknya pulang saja,” pinta Cantika.


Aiden yang sedang menyeruput kopi menggunakan gelas plastik hanya menggelengkan kepalanya.


“Naila belum stabil, kamu dan Ibumu … aku khawatir kalau kalian butuh sesuatu.”


“Tapi ….”


“Sudahlah Cantika, biarkan Nak Aiden di sini,” ujar Ibu. “Kamu tinggal di mana? Apa pekerjaanmu nak?” cecar Ibu.

__ADS_1


Aiden mengatakan tempat tinggalnya juga pekerjaan sebagai keuangan tapi tidak menjelaskan kalau dia dan cantika berada dalam perusahaan yang sama.


“Owh, Ibu pikir pekerjaanmu hebat. Karena mobil kamu bagus dan berani menjamin perawatan Naila dengan kelas terbaik tapi masih hebat Ayahnya Naila. Dia punya tanah banyak, bahkan kebun kopi berhektar-hektar,” tutur Ibu Cantika. “Tapi Cantika bodoh, karena masih saja menolak pinangan dari pria itu.”


“Ibu,” tegur Cantika.


“Wah begitukah. Memang kenapa kamu menolak Ayahnya Naila?” tanya Aiden.


“Karena dia cinta dengan pria yang belum lama dia temui. Cinta monyetnya dulu,” ujar Ibu.


“Ibu ….”


“Owh, begitu," sahut Aiden sambil tersenyum lalu menatap Cantika yang saat ini serba salah.


Tiba-tiba Naila kejang, semua panik. Aiden segera menekan tombol darurat. Naila bahkan dipindahkan ke ruang PICU. Dokter menjelaskan kondisi dan tindakan yang harus segera diputuskan oleh keluarga, yang mana Cantika sama sekali tidak mengerti dan tidak tahu harus dari mana lagi mendapatkan biaya rumah sakit.


“Setujui tindakan Naila, aku yang akan menanggungnya.”


“Tidak, Pak Aiden sebaiknya pulang. Biar kami yang mengurus Naila, aku akan hubungi Ayah Naila. Bagaimanapun pria itu yang harus bertanggung jawab,” seru Cantika.


Aiden menghargai keputusan Cantika untuk tidak mengeluarkan biaya dan segera pulang. Cantika sudah menghubungi Ayah Naila dan menceritakan kondisi bocah itu.


Esok hari, Ayah Naila sudah tiba di rumah sakit.


“Naila bukan hanya asma, dokter bilang ada kebocoran jantung dan harus segera di operasi. Aku tidak ada biaya untuk membayar tindakan, jadi ….”


“Aku akan biayai semua,” ujar Ayah Naila memotong ucapan Ayah Naila. “Tapi kamu harus menikah denganku.”


“Apa? Naila itu anakmu Mas, kenapa harus ada syarat untuk menyelamatkan anakmu sendiri.” Cantika tidak habis pikir dengan jalan pikiran Ayah Naila.


“Aku sudah tawarkan sejak lama tapi kamu selalu menolak.”


“Sudahlah Cantika setujui saja. Ibu heran denganmu, mau diajak senang kok susah bener sih.”


“Senang apanya Bu? Aku akan dijadikan istri kedua bahkan ketiga atau keberapa. Bagaimana bisa aku senang di atas penderitaan para istrinya yang lain,” tutur Cantika.


“Terserah kamu, terima atau tidak. Keselamatan Naila ada di tanganmu,” ancam pria yang mana adalah Ayah Naila.


“Biar aku yang tanggung semua biaya kesehatan Naila. Walaupun kamu harus menikah, tentu saja denganku,” ungkap Aiden yang ternyata mendengarkan apa yang dibicarakan oleh ketiga orang itu.


“Aiden,” gumam Cantika.


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2