
“SAH.”
Para saksi yang menyaksikan Aiden menjawab serangkaian kalimat sakral pun terjawab.
“Alhamdulillah.”
Setelah dibacakan doa dan penandatanganan dokumen pernikahan. Aiden menyematkan cincin pernikahannya pada jari manis istrinya. Ibu Ayana tercengang dengan mas kawin yang Aiden berikan bukan hanya seperangkat alat sholat dan perhiasan, tapi juga sebuah rumah di kawan elite bahkan satu unit mobil keluaran terbaru.
Kalau tidak sudah janji pada besannya, Ayana mungkin berencana ikut menikmati milik Cantika. Namun, dia sudah berjanji dan kebahagiaan Cantika akan menjadi prioritas daripada dia arus kembali hidup di rumah kontrakan.
“Ayo sungkem dulu.”
Aiden dan Cantika pun melakukan sungkeman pada Edwin, Ayu dan Ayana. Wejangan pernikahan keduanya dapatkan dan direspon dengan anggukan kepala. Ayu terlihat lebih emosional karena sejak tadi selalu menyusut air matanya. Bagaimana tidak, bocah jenius yang pernah dia asuh lalu menjadi anak sambungnya kini sudah dewasa bahkan akan menjalani biduk rumah tangga dengan wanita pilihannya.
“Sudah dong Bun, ini hari bahagia aku. Bunda harus bahagia juga, bukan malah menangis,” tutur Aiden sambil mengusap punggung Ayu.
“Ini juga Bunda menangis bahagia.”
“Sudah kamu berfoto dulu dengan Cantika, biar Bunda Papa yang urus,” titah Edwin.
Ayu mencebik kemudian memukul pelan lengan suaminya.
“Aiden sudah punya istri, ngapain juga dia masih lengket sama kamu,” tutur Edwin.
“Sama anak sendiri kok cemburu.”
Resepsi akan dilakukan nanti malam, Aiden dan Cantika menuju kamar pengantin mereka.
“Ini serius kita akan tidur di ranjang ini?” tanya Cantika sambil menatap ranjang pengantin mereka.
Aiden memeluk tubuh istrinya dari belakang, “Memang ada ranjang lain?”
Cantika merasa kegelian dengan ulah Aiden yang mulai memberikan ciuman di lehernya, bahkan sempat terkikik geli.
“Sayang aja, lihat kelopak-kelopak bunga ini!” tunjuk Cantika pada ranjang yang bertabur bunga mawar.
Aiden membalik tubuh Cantika dan kini mereka berhadapan, pria itu menatap lekat wajah istrinya. Menghela nafas lega akhirnya kesabaran hatinya membuahkan hasil karena berjodoh dengan cinta masa kecilnya.
“Terima kasih sudah menerima aku,” ujar Aiden.
“Terima kasih sudah sabar menunggu aku,” sahut Cantika.
__ADS_1
Keduanya tersenyum lalu wajah mereka semakin dekat dan dekat. Bahkan hidung mereka hampir bersentuhan lalu terdengar ketukan pintu yang membuat keduanya menjauh wajah.
“Aku lihat dulu siapa yang datang,” usul Cantika.
“Tidak, kamu tetap di sini. Biar aku saja.”
TErnyata Rosa dan Naila yang berdiri di depan pintu.
“Maaf, Naila ingin bertemu kalian. Kita sudah bujuk tapi ….”
“Tidak masalah, ayo Naila. Masuklah,” titah Aiden.
“Naila, nanti tante jemput lagi ya. Om Aiden dan Bunda akan bekerja lembur jadi kamu ikut tante saja,” tutur Rosa.
“Bukan Om Aiden tapi Papi Aiden. Hari ini bukannya pernikahan Papi dan Bunda, kenapa harus kerja lembur?”
Rosa dan Aiden saling tatap, tidak menduga keisengan Rosa bicara malah diseriusi oleh Nahla.
“Sudahlah, tidak usah pikirkan itu. Ayo masuk, Bunda ada di dalam,” ajak Aiden.
...***...
Sudah hampir empat jam Cantika dan Aiden berdiri menyambut tamu mereka. Cukup lelah tapi bahagia karena bisa menjadi raja dan ratu sehari. Dua sahabat Aiden pun hadir, siapa lagi kalau bukan Pram dan Mai.
“Selamat ya, semoga bahagia terus dan gue segera menyusul.” Pram memberi ucapan selamat dan mendoakan dirinya sendiri.
“Jangan macem-macem, Rosa sekarang kerabat gue juga,” ancam Aiden.
“Nggaklah, satu macam doang,”
Mai pun mendorong PRam agar segera melangkah karena dia pun ingin memberi salam dan mendoakan pasangan yang sedang berbahagia.
“Semoga hubungan kalian awet.” Mai memberi selamat dengan wajah yang senyum terpaksa.
Cantika menyadari kalau Mai mungkin sedang kecewa karena tidak berhasil mendapatkan Aiden, dia semakin mengeratkan pelukannya.
“Terima kasih ya sudah hadir,” sahut Cantika pada Mai.
Turun dari pelaminan, Pram menemui Rosa yang memang sudah menunggu dan interaksi mereka disaksikan oleh Cantika dan Aiden.
“Kayaknya kamu perlu hubungi keluarga Rosa segera, sebelum Pram main-main,” bisik Aiden.
__ADS_1
Pesta pun berakhir, Cantika dan Aiden sudah kembali berada di kamar. Bahkan keduanya sudah menanggalkan pakaian yang dikenakan sepanjang resepsi.
“Aku mandi dulu,” pamit Cantika yang sudah mengenakan bathrobe.
“Bareng aja ya,” goda Aiden membuat Cantika memikirkan hal lain. “Kenapa senyam-senyum? Pasti mikir yang macem-macem ya,” ejek Aiden.
“Nggaklah, enak aja.”
Setelah drama mandi bareng atau masing-masing, akhirnya pasangan itu sudah berada di ranjang dan akan melaksanakan ritual yang ditunggu-tunggu pasangan menikah. Tentu saja malam pertama dan penyatuan diri.
Aiden mengucapkan doa kebaikan untuk mereka dan dengan hati-hati serta penuh perasaan mulai menyentuh Cantika. Keduanya masih amatir tapi mengikuti insting yang sudah memburu membuat keduanya seakan terlena dan melayang menikmati surga dunia.
Cantika yang sempat memekik karena merasa sesuatu yang baru di tubuhnya hanya bisa pasrah ketika Aiden menggerakan tubuhnya dengan pelan.
“Aaahhh,” dessah Cantika karena sudah lebih dulu sampai pada pelepasannya.
Aiden semakin merasa bersemangat mendengar erangan dari istrinya. Nafas keduanya masih terengah ketika terdengar ketukan pintu membuat pasangan itu terdiam dan saling tatap.
“Siapa yang datang, ini ‘kan sudah malam?”
“Entahlah, aku lihat dulu.” Aiden beranjak dari ranjang dan memakai piyamanya, begitu pula dengan Cantika.
“Maaf lagi,” ujar Rosa yang datang membawa Naila. “Dia nangis,” ujar Rosa lagi.
Cantika yang sudah mengenakan piyama ikut bergabung.
“Ada apa?”
“Naila nangis dan ingin bertemu kalian?” jawab Rosa.
Naila pun akhirnya diperbolehkan masuk bahkan bocah itu sedang asyik menonton tv.
“Sepertinya kita akan sering diganggu oleh Naila, maaf ya," ujar Cantika.
Aiden dan Cantika gagal melakukan ritual malam itu malah bergabung dengan menonton tv dengan duduk mengapit Naila.
“Tenang saja, masih banyak waktu walaupun yaaaa, agak pusing juga. Sebaiknya kita terima tawaran Bunda untuk honeymoon tanpa Naila tentunya," tutur Aiden.
Cantika tersenyum dan menganggukan kepalanya. Semua berbahagia bukan hanya pasangan Cantika dan Aiden tapi dua keluarga mereka.
...## TAMAT ##...
__ADS_1