Cinta Untuk Aiden

Cinta Untuk Aiden
Cinta Aiden -Bab 20


__ADS_3

Rosa dan Ibunya terlihat sibuk, menyiapkan kehadiran orangtua Aiden.


“Kenapa dadakan begini, mana Cantika nggak bisa bantu,” keluh Ibu Rosa.


“Sudahlah Bu, apa adanya saja agar mereka tahu bagaimana kondisi kita. Aku tidak ingin terlalu mengada ada yang nantinya malah menyusahkan dan menyulitkan kita. Pak Aiden dan keluarganya bukan level kita,” tutur Rosa.


“Sudah tahu bukan level kamu, kenapa masih dekat bahkan sampai orang tuanya mau datang. Dasar aneh.”


Menjelang malam, ada dua mobil berhenti dan parkir tepat di depan kediaman Rosa. Edwin dan Ayu di sambut oleh Rosa dan Ibunya.


“Pak Aiden,” bisik Rosa sambil menarik tangan Aiden agar menjauh dan tidak langsung masuk ke dalam rumah. “Apa bapak yakin?”


“Maksudmu?”


“Pak Aiden yakin denganku, tidak akan menyesal atau berharap dengan wanita yang pernah ….”


“Yakin.”


“Tapi aku ….”


“Rosa,” panggil Ibu membuat Rosa bergegas menghampiri Ibunya diikuti oleh Aiden.


Kelima orang itu sudah berada di ruang tamu, Ibu Rosa terlihat gugup dan khawatir.


“Maaf kalau penyambutan kami hanya begini, seperti inilah kehidupan Rosa,” tutur Ibu.


Ayu yang tahu kekhawatiran orangtua Rosa, mengatakan tidak masalah.


“Saya mewakili keluarga bermaksud menyampaikan kalau putra saya Aiden, serius dengan putri Ibu,” ungkap Edwin yang cukup membuat Rosa dan Ibunya saling tatap.


“Aiden,” panggil Edwin.


“Iya Pah. Jadi begini Bu, dalam waktu dekat kami akan datang lagi untuk melamar Rosa.” Aiden mengatakan maksudnya to the point, membuat Ibu Rosa semakin bingung.


“A-aku tidak tahu harus mengatakan apa, tapi kalau nak Aiden melamar Rosa berarti kalian akan menikah?”


“Tentu saja, begitu,” sahut Aiden.


“Tapi Ibu belum memiliki dana yang cukup untuk pernikahan kalian,” keluh Ibu Rosa. “Tidak mungkin pernikahan kalian diadakan biasa saja, itu sama saja menghina keluarga Pak Edwin.”


“Ah, untuk hal itu. Kalian tidak usah risaukan,” ujar Edwin. “Akan ada orang yang mengurusnya.”


“Jadi, apa Ibu menerima Aiden?” tanya Ayu.


Ibu menatap Rosa dan Aiden bergantian. “Kalau saya bagaimana mereka saja, karena mereka yang menjalani. Hanya saja, nak Aiden harus paham kalau Rosa biasa hidup dalam kesederhanaan. Semoga saja hal ini tidak membuat masalah di kemudian hari,” tutur Ibu.


Pertemuan dua keluarga malam itu menjalin dan mengikat antara Rosa serta Aiden. Namun, masih ada kekhawatiran di hati Rosa, apalagi tatapan mata Aiden tidak memancarkan kebahagian dan cinta walaupun bibir pria itu selalu tersenyum.


Rosa hanya berharap kalau Aiden akan berubah dan benar-benar merasakan cinta kembali, bukan cinta pada masa lalunya tapi cinta untuk seorang Rosa.


...***...

__ADS_1


“Lo serius?” tanya Pram.


Saat ini  Aiden dan Pram berada di kelab malam. Setelah meninggalkan kediaman orangtua Rosa, Aiden malah menuju kelab dan menghubungi Pram.


“Menurut kamu?”


“Rosa? Lo mau melamar Rosa? Rasanya gue nggak percaya ya.”


Aiden meminta bartender mengisi kembali gelasnya.


“Wanita sekelas Mai aja lo tolak tapi ini Rosa. Ya gue akui dia cantik, bahkan mungkin masih peraw*n tapi …”


“Nggak usah menilai begitunya doang, aku sedang mencari istri bisa kamu bayangkan kalau aku menikah dengan Mai. Setiap hari kami akan berdebat, mulai dari urusan di meja makan bahkan sampai urusan ranjang. Aku butuh wanita yang bisa mengerti bukan mengatur.”


“Aiden,” ujar Pram yang menggeser kursinya semakin dekat dengan Aiden. “Setelah lo nikah dengan Rosa, Melody sudah boleh ….”


“Tidak, jangan coba-coba mendekatinya.”


Sedangkan di tempat berbeda, Cantika mendengar dari Edwin kalau malam ini dia akan mengantarkan Aiden menemui keluarga seorang gadis. Artinya Aiden sudah memutuskan tidak berharap akan cintanya lagi.


“Aku turut bahagia,” gumam Cantika.


Ponsel wanita itu berdering.


“Hai Ros, maaf aku tidak bisa hadir. Infonya terlalu mendadak,” ujar Cantika.


Terdengar kekehan di ujung telepon. “Tidak apa, tapi saat lamaran nanti kamu harus hadir.”


“Mbak Cantika, kamu baik-baik saja. Sepertinya ....”


“Kamu ingat pria yang pernah aku ceritakan?” tanya Cantika.


“Cinta monyetmu yang sekarang menjadi atasan kamu  juga?”


“Hm.”


“Ada apa dengannya? Apa masih mengobral cintanya?”


“Tidak malah dia sudah mendapatkan tambatan hatinya. Dia akan melamar seorang gadis,” tutur Cantika.


“Sepertinya aku mendengar penyesalan dan kecemburuan,” sela Rosa.


“Entahlah, awalnya aku senang dia tidak akan menggangguku lagi tapi ada rasa yang tidak biasa di …” Cantika menepuk dadanya.


“Mbak, sepertinya kamu memang masih menyimpan perasaan dengan pria itu.”


“Mungkin.”


Setelah panggilan berakhir, Cantika menghela nafasnya. Menepuk dadanya yang terasa sesak, atensinya teralihkan ketika mendengar Naila memanggilnya.


“Iya, sayang.”

__ADS_1


...***...


Beberapa hari ini Aiden akan disibukkan dengan menggantikan posisi Edwin karena pria itu sedang berada di luar kota. Bahkan hari ini Cantika menyusul bersama berapa orang tim lainnya. Aiden mencoba tidak terlalu peduli dengan kondisi Cantika, saat ini dia akan fokus hanya pada Rosa.


“Tolong panggilan Cantika, ini sangat penting.”


Aiden yang melewati resepsionis berhenti melangkah mendengar nama Cantika disebut. Dia menoleh dan melihat ada seorang pria yang sedang bicara dengan staf resepsionis.


“Maaf, Ibu Cantika sedang di luar kota.”


“Bisa berikan saya kontaknya?”


“Maaf Pak, saya tidak bisa berikan karena itu privasi.


“Tolong dibantu Mbak ….”


Aiden pun berjalan mendekat. “Maaf, anda mencari Cantika?” tanya Aiden. Entah untuk apa dia berurusan dengan pria yang mencari Cantika, padahal dia sudah meyakinkan diri tidak akan peduli.


“Iya, saya mencari Cantika. Tolong saya perlu bertemu dengannya.”


“Anda?” tanya Aiden.


“Saya Adi, ayah dari Naila.”


“Ahh, Naila.” Aiden menganggukkan kepalanya.


Pria itu mantan suaminya Cantika, kenapa mereka tidak bisa saling komunikasi, batin Aiden.


“Cantika sedang ada tugas ke luar kota. Jadi anda mantan suami Cantika?”


“Ah bukan,” jawab pria itu. “Aku Ayah dari Naila tapi bukan mantan suaminya.”


Shiittt, apa Cantika dan pria ini melahirkan Naila di luar pernikahan.


“Lalu untuk apa ingin menemui Cantika?”


Pria bernama Adi itu menghela nafasnya. “Saya ingin mengambil Naila dan menjadikan Cantika istri saya, ya walaupun istri kedua tapi tujuan saya membentuk keluarga sempurna untuk putri saya.”


“Putri kalian?”


“Bukan, Naila bukan putri Cantika. Ibunya Naila adalah kakak Cantika, setelah Naila lahir ditinggal ibunya. Anak itu dekat dengan Cantika, tapi aku malah dibenci,” tutur Adi.


Aiden yang tadinya mengajak bicara pria yang mencari Cantika, bahkan duduk berhadapan di sofa ruang tunggu. Mendadak emosi mendengar keinginan pria itu memperistri Cantik menjadi istri kedua.


“Sebaiknya anda pergi!”


Adi ikut berdiri. “Tapi saya ingin bertemu dengan Cantika.”


“Kalau Cantika enggan bertemu denganmu, berarti ada masalah dan jujur saja aku ingi sekali menendang wajah anda.”


“Apa maksudmu?”

__ADS_1


“Maksudku pergi dan jangan pernah menjejakan kaki di perusahaan ini,” pekik Aiden. 


__ADS_2