Cinta Untuk Aiden

Cinta Untuk Aiden
Cinta Aiden - Part 15


__ADS_3

Aiden tiba bersama Edwin, walaupun datang dengan kendaraan masing-masing.


“Selamat pagi Pak Edwin, Pak Aiden,” sapa Cantika.


“Pagi Cantika,” sahut Edwin.


“Hm,” ujar Aiden.


Cantika menghela nafasnya ketika Aiden sudah ikut masuk bersama Edwin.


“Kenapa aku nggak nyaman begini ya,” gumam Cantika.


Wanita itu menuju pantry membuatkan minum untuk Edwin sesuai permintaan dan dia lakukan setiap pagi.


“Brifieng pagi ini sudah kamu kondisikan?” tanya Edwin saat Cantika membawakan teh hangat untuk Edwin.


“Sudah Pak.”


Cantika mendengarkan arahan tugas dari Edwin, sedangkan Aiden yang duduk di sofa tamu memperhatikan Cantika membuat wanita itu tidak nyaman karena berada dalam pandangan Aiden.


“Paham, Pak. Saya permisi dulu.”


Edwin dan Aiden sudah berada di ruang rapat, di mana Edwin akan mengenalkan Aiden sebagai manager keuangan. Yang sebelumnya menjabat di mutasi ke kantor cabang di luar kota.


“Selamat pagi semuanya, tujuan kita berkumpul karena sudah ada tim baru mulai hari ini yaitu Aiden. Seperti yang kalian ketahui kalau Aiden adalah putra saya, tapi jangan khawatir karena saya akan profesional memperlakukan Aiden.”


Aiden memberikan kata sambutan sambil mencuri pandang pada Cantika yang menunduk ketika Aiden dengan sengaja memandangnya.


“Kita akan bicarakan hal teknis dan yang lainnya saat rapat divisi,” tutur Edwin menutup pertemuan.


“Cantika, antarkan Aiden ke ruangannya. Kami belum dapatkan kandidat sekretaris jadi bekerjalah sendiri dan Cantika akan bantu jika kamu butuh dokumen atau masuk ke sistem,” tutur Edwin.


Deg.


Kenapa harus aku, ck sepertinya dia akan bertanya macam-macam, batin Cantika.


“Mari saya antar, Pak.”


Aiden tidak menjawab, Cantika berjalan  mendahului Aiden. Tentu saja membuat pria itu berdehem dan menegur Cantika.


“Kamu sengaja menggodaku atau bagaimana?”


“Maksudnya?”


“Jangan berjalan didepanku, apalagi bagian tubuhmu ada yang bergerak seakan menggodaku.”


“Ma-af Pak Aiden, bukan begitu maksud saya.”


Ah, kenapa malah begini. Bikin malu saja.

__ADS_1


Cantika membuka pintu sebuah ruangan dan mempersilahkan Aiden untuk masuk.


“Bagaimana Pak, apa ada yang kurang atau tidak cocok?"


“Hm, sementara ini sudah cukup.” Aiden masih berdiri menatap sekeliling ruangannya, memang lebih besar ruang ini dibandingkan ruang kerja di perusahaan sebelumnya.


“Kalau begitu, saya ….”


“Tunggu!”


Cantika bergeming, dengan pikiran yang macam-macam dibenaknya. Pria ini Aiden dan sepertinya pria itu sudah menantikan benar momen ini.


“Sudah lupakah kamu denganku?” tanya Aiden yang berjalan menghampiri Cantika. Kini mereka berdiri berhadapan, tinggi Cantika hampir sama dengan Aiden karena wanita itu mengenakan heels.


“Pak Aiden, sepertinya kita tidak usah membicarakan masa lalu karena ….”


“Tidak bisa,” sela Aiden. “Kamu pergi tanpa kabar bahkan sulit dihubungi.”


“Pak Aiden, saat itu kita masih anak-anak dan keluargaku dalam kondisi terdesak. Aku harus ikut ke mana mereka pergi,” tutur Cantika.


“Lalu kenapa ponselmu?”


“Karena Ibu menjual ponselku dan aku melupakan kartu chip kontak selulerku,” ungkap Cantika.


Aiden mengusap kasar wajahnya, beberapa tahun ke belakang dia sangat menginginkan momen ini di mana dia bisa menemukan wanita yang berhasil mengunci hatinya.


“Untuk apa?”


“Hanya berikan kepadaku,” pinta Aiden”


Cantika memberikan ponselnya dengan ragu-ragu. Entah apa yang diinginkan Aiden dengan ponselnya. Aiden melakukan panggilan darurat dari ponsel Cantika ke ponselnya sendiri. Setelah tersambung kemudian mengakhiri dan mengembalikan ponsel itu.


“Simpan kontak ku,” titah Aiden kemudian menyimpan kontak Cantika di ponselnya.


“Aku berharap kamu yang menjadi sekretarisku, biar Pak Edwin dapat yang baru,” ungkap Aiden sambil berlalu menuju meja kerjanya.


“Maaf Pak, itu di luar kewenangan saya.”


“Aku tahu, pergilah. Kelamaan di sini nanti yang lain curiga, walaupun aku senang kamu ada di sini.” Aiden berkata sambil fokus pada layar komputernya. “Setiap pagi, pastikan ada kopi dan air mineral. Mungkin satu jam lagi aku akan panggil kamu untuk mengajariku masuk ke sistem.”


Aiden bersandar sambil menatap Cantika.


“Anda akan ditemani oleh ….”


“Nope, kamu yang akan mengajariku.”


“Tapi ….”


“Pergilah.”

__ADS_1


Cantika menghela nafasnya, ternyata yang disampaikan Edwin kalau Aiden menyebalkan itu benar. Belum ada setengah hari menghadapi pria itu, rasanya Cantika ingin memaki di depan wajah baby facenya Aiden.


“Gila, aku bisa gila,” gumam Cantika setelah keluar dari ruang kerja Aiden menuju meja kerjanya.


...***...


Ternyata Edwin melibatkan Aiden pada rapat manajemen, selain membiarkan Aiden mempelajari tugasnya juga memahami jabatan Edwin yang nantinya akan digantikan olehnya. Cantika lega karena dia tidak harus dekat dengan pria itu.


Ternyata kelegaannya tidak berlangsung lama. Saat makan siang, Edwin ada janji dengan klien di luar kantor dan Aiden menghubunginya agar segera datang.


“Mbak Cantika baik-baik saja?” tanya seorang OB melihat Cantika membenamkan wajahnya pada tangan yang dilipat di atas meja.


“Huft, tidak aku sedang tidak baik.”


Wanita itu menghentakan kakinya sebelum melangkah menuju ruangan Aiden.


“Kamu terlambat.”


“Maaf Pak, tapi ada pekerjaan saya yang sedang menunggu.”


“Pesankan makan siang dan minta di antar ke sini,” titah Aiden tanpa menatap Cantika.


“Baik, saya akan minta OB untuk ….”


“Pesan dari sini, sekalian untukmu. Aku bisa makan apa saja selama tidak terlalu pedas,” ungkap Aiden.


“Baik Pak, tapi saya bisa makan di meja saya.”


“Aku bukan menawarkan tapi memberikan perintah.”


Rasanya Cantika ingin melemparkan ponsel yang sedang dia genggam ke kening Aiden. Apakah pria itu pikir dirinya bekerja hanya untuk mengasuh bayi dewass sepertinya. Wanita itu menarik nafas sebelum dia melakukan apa yang diperintahkan oleh Aiden.


Aiden mengulum senyum melihat Cantika yang kesal karena ulahnya.


“Saya sudah pesan, apa saya boleh kembali?”


Alih-alih menjawab, Aiden malah berdiri dan meminta Cantika membuka sistem di komputernya sedangkan pria itu memilih duduk di sofa tamu.


“Setelah makan siang, ajarkan aku. Kalau aku tertidur, bangunkan saat makan siang sudah siap.”


Kau pikir aku pelayanmu, batin Cantika.


“Cantika, kau dengar aku!”


“Ah, iya pak.”


Tentu saja aku dengar, karena aku punya telinga. Justru aku meragukan kamu punya hati, bikin emosi jiwa aja.


                                                                                      

__ADS_1


__ADS_2