
Urusan dengan Rosa memang sudah selesai, walaupun dengan sedikit drama. Paling tidak Aiden dan Rosa akhirnya paham kalau cinta memang tidak bisa dipaksa. Aiden tidak bisa memaksa menikah dengan Rosa hanya karena desakan orangtua dan Rosa juga tidak bisa memaksa hati Aiden bisa beralih kepadanya.
Meskipun begitu, Aiden tidak langsung mengejar Cantika. Pria itu kembali meyakinkan hatinya apa memang masih ada Cantika bersemayam di sana.
“Kak Aiden, jadi menikah nggak sih?” tanya Melody.
“Memang kenapa?” Bunda Ayu balas bertanya karena orang yang bersangkutan masih bungkam.
“Ya mau tau aja,” sahut Melody.
“Kenapa? Kamu mau menikah duluan. Ya sudah sana, kalau berani bilang sama Papa,” ancam Aiden.
“Idih, orang cuma tanya.”
Bukan tanpa alasan Aiden mengatakan hal itu pada Melody, karena dia tahu Pram mulai mendekati adiknya.
“Sudahlah, biarkan itu jadi urusan kakakmu. Kamu ikut Bunda ke dapur, sehebat-hebatnya perempuan harus bisa dan tahu urusan dapur,” ajak Bunda.
Hari ini weekend dan Aiden tidak ada rencana apapun. Bergabung dengan Bunda dan Adiknya malah ditanya masalah nikah, Aiden pun akhirnya kembali ke kamar. Berbaring di ranjang sambil memandang langit-langit kamar.
Tidak lama kemudian pria itu sudah rapi dengan setelan casualnya, sempat izin pada Ayu kalau akan ke mall membeli sesuatu. Melody yang ingin ikut, ditolak mentah-mentah oleh Aiden. Tidak terjebak macet, akhirnya Aiden sudah berbelok ke pelataran mall.
Pria itu berjalan di sepanjang koridor pertokoan. Atensinya beralih pada seorang wanita dan bocah perempuan yang sedang menangis, tampak Ibunya yang sulit menenangkan bocah itu.
“Cantika,” ujar Aiden.
“Cantika,” tegur Aiden. Cantika yang sedang berjongkok di depan bocah yang sedang menangis pun menoleh.
“Pak Aiden,” sahutnya.
“Ada apa?”
Cantika menghela nafasnya.
“Dia lihat anak yang membawa boneka yang sama dengan miliknya yang hilang,” tutur Cantika.
Aiden lalu berjongkok di depan bocah itu.
“Kamu ingin boneka itu?”
Bocah itu mengangguk.
“Berhenti menangis, Om akan ajak kamu cari bonekamu.”
Bocah yang bernama Naila itu menoleh pada Cantika.
“Jangan Pak Aiden, kami sudah mau pulang,” ujar Cantika dan membuat Naila kembali menunjukan wajah akan menangis.
“Sudahlah, ayo,” ajak Aiden mengulurkan tangannya pada Naila dan disambut oleh bocah itu tanpa bertanya pada Cantika.
Ternyata Aiden mengajak Naila dan Cantika menuju istana boneka. Di mana toko tersebut menjual dan menerima berbagai macam boneka.
“Kamu bisa cari boneka yang mirip dengan milikmu, kalau tidak ada kita bisa pesan kok.”
__ADS_1
Naila melonjak kegirangan lalu berlari mencari boneka yang sama dengan miliknya. Pria itu hanya berdiri mengawasi Naila bersama Cantika.
“Seharusnya Pak Aiden tidak ajak Naila ke sini, se waktu-waktu dia pasti minta ke sini lagi,” ujar Cantika.
“Kamu bisa ajak aku kalau Naila minta ke sini lagi.”
Cantika menoleh, ternyata pria di sampingnya memang keras kepala.
“Susah dapetin Ibunya, ya aku dekati anaknya dulu,” tutur Aiden tanpa menoleh ke arah Cantika.
Tidak lama Naila melonjak kegirangan dan berteriak, karena dia menemukan boneka yang sama dengan miliknya yang hilang.
“Ayo kita bayar,” ajak Aiden. “Ada lagi boneka lain yang kamu inginkan?”
“Tidak Om, kata Bunda aku tidak boleh akrab dengan orang asing.”
Aiden terkekeh mendengar celoteh Naila.
“Om bukan orang asing, tapi sedang berusaha mendapatkan hati Bunda kamu,” ujar Aiden lirih tapi masih bisa didengar.
“Maksudnya Om mau menikah dengan Bunda?”
“Nah ini, aku senang membahas ini,” ujar Aiden membuat Cantika mencebik. “Bagaimana Naila, apa kamu setuju kalau Om menikah dengan Bundamu?”
“Tentu saja, aku senang kalau Bunda juga senang.”
“Naila, ayo kita pulang!” Cantika sudah menggenggam tangan Naila.
“Ayo kita makan dulu,” ajak Aiden.
Naila menatap Bundanya, dia takut Cantika marah. Apalagi Cantika menggelengkan kepalanya tanda agar Naila tidak ikut Aiden.
“Ayolah Naila, hanya makan saja. Kamu tega buat dia kecewa?”
Cantika menatap Naila, bocah itu sudah cemberut dengan kedua mata berkaca-kaca.
“Ya sudah kita makan dulu, setelah itu pulang ya.”
Wajah Naila langsung berubah ceria, bocah itu melepas tangan Cantika dan meraih tangan Aiden.
“Ayo Om, kita makan dulu. Aku ingin makan ayam goreng,” ajak Naila.
Bukan hanya makan, tapi Aiden membelikan Naila es krim lalu mengantarkan kedua gadis itu pulang. Bahkan dalam perjalanan Naila mengoceh kalau dia senang pergi bersama dengan Aiden.
“Benarkah? Kalau begitu kapan-kapan kita pergi lagi ya,” ajak Aiden.
“Boleh ya Bun?” tanya Naila pada Cantika.
“Bunda belum tahu karena ….”
“Ayolah Cantika,” bujuk Aiden sambil fokus pada kemudi dan jalan di depan.
“Aku hanya takut Naila semakin manja dan mengandalkan kamu.”
__ADS_1
“Memang kenapa kalau Naila mengandalkanku. Aku siap menjadi Ayahnya.”
“Om mau jadi Ayah aku?” tanya Naila yang mendengar perdebatan Cantika dengan Aiden.
“Iya, boleh nggak?”
“Boleh, aku mau Om jadi Ayah aku. Teman-teman mengejekku katanya aku nggak punya Ayah, mereka pasti malu kalau aku bilang sudah punya Ayah,” tutur Naila.
Aiden teringat masa kecilnya, kebalikan dengan Naila, dia pernah diejek karena tidak punya Ibu sampai Ayu menikah dengan papanya dan berhasil menempati posisi di hati dan di rumahnya sebagai Bunda.
Pria itu berjongkok di hadapan Naila, menyematkan helaian rambut yang keluar dari ikatan dan menyelipkan ke belakang telinga.
“Om janji akan berusaha menjadi Ayah kamu, walaupun tidak mudah karena harus meluluhkan hati Bunda kamu juga,” ungkap Aiden. Naila menoleh, menatap Cantika yang juga sedang menatapnya.
“Aku ingin Om ini jadi Ayahku.”
Melihat situasi yang tidak kondusif, Aiden langsung meraih tubuh Naila dan menggendongnya lalu menggenggam tangan Cantika.
“Kita makan dulu, ayam goreng ‘kan?”
“Iya, sama es krim juga.”
Setelah makan sesuai permintaan Naila, Aiden mengantarkan Cantika dan Naila pulang. Akhirnya pria itu ada alasan untuk mendatangi tempat Cantika tinggal. Bukan hanya boneka tapi Aiden membelikan es krim dan ayam goreng untuk dibawa pulang.
“Langsung masukan lemari es, agar tidak meleleh,” ujar Aiden saat mengeluarkan box es krim dari bagasi dan memberikan pada Naila. Cantika menerima bucket berisi ayam goreng dan boneka milik Naila.
“Pak Aiden ….”
“Aku serius,” sahut Aiden. “Sebelumnya dan saat ini, hatiku masih milikmu.” Aiden mendekati Cantika yang masih terpaku, kini keduanya berhadapan.
“Kalau dengan cara baik-baik tidak berhasil, sepertinya aku harus sedikit memaksa,” bisik Aiden.
“Apa maksudmu?”
Aiden tersenyum kemudian mengasak kepala Cantika.
“Salam untuk Naila, aku pulang.”
Cantika memandang mobil yang membawa Aiden semakin menjauh.
Apa maksudnya dengan sedikit memaksa, batin Cantika.
“Hei, Cantika. Siapa yang mengantarmu pulang? Sepertinya dia orang kaya, mobilnya juga bagus,” ujar Ibu Cantika.
“Temanku Bu,” jawab Cantika, tidak mengatakan kalau Aiden adalah atasannya juga di kantor.
“Lebih kaya mana dengan Ayahnya Naila?”
Cantika sudah beranjak masuk, bahkan saat ini sedang melepas sandalnya. Menghela nafasnya mendengar pertanyaan Ibu yang selalu membandingkan orang dengan materi. Hal inilah yang membuat Cantika enggan membuka hatinya untuk pria, karena ulah Ibunya.
“Aku tak tahu Bu.”
__ADS_1